NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Api Pertama Alkemis

Feng Bai Hu keluar dari Aula Alkimia dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya.

Di tangan kirinya, ia menggenggam sebuah kitab tua pemberian Tetua Guo Rong. Sampulnya sudah menguning, sudut-sudutnya tampak aus, dan beberapa bagian benangnya mulai longgar. Jika dilihat sekilas, kitab itu mungkin tidak tampak berharga. Bahkan di pasar loak, belum tentu ada orang yang mau membayarnya mahal.

Namun Bai Hu tidak memandangnya seperti itu.

Ia memeluk kitab tersebut dengan hati-hati, seolah sedang membawa sekantong batu roh.

Lebih tepatnya, sesuatu yang bisa menghasilkan banyak batu roh di masa depan.

Di kantong penyimpanannya, beberapa Pil Penguat Tulang bagian miliknya tersimpan rapi dalam botol giok. Tetua Guo telah berulang kali memperingatkannya agar pil itu tidak dijual. Bai Hu sebenarnya masih merasa sedikit sakit hati. Bagi seorang pedagang, melihat barang bernilai tinggi tetapi tidak boleh dijual adalah penderitaan yang sulit dijelaskan.

Namun ucapan Tetua Guo tidak sepenuhnya salah.

Jika tubuhnya kuat, ia bisa pergi lebih jauh. Jika kultivasinya naik, ia bisa mencari tanaman spiritual sendiri. Jika ia tidak mudah dirampok, keuntungannya akan lebih aman.

Setelah menghitung dari berbagai sisi, Bai Hu akhirnya mengakui bahwa memakai pil untuk dirinya sendiri mungkin bukan kerugian.

Itu adalah investasi jangka panjang.

Dan selama sesuatu disebut investasi, hatinya bisa sedikit lebih tenang.

“Pil tidak dijual. Kitab dipelajari. Kultivasi tetap dua jam sehari,” gumam Bai Hu sambil berjalan melewati halaman dalam keluarga Feng. “Kalau semuanya berjalan lancar, dalam beberapa bulan aku bisa menghemat biaya pemurnian pil. Kalau bisa membuat pil sendiri, bagian untuk alkemis tidak perlu dibagi. Kalau tidak perlu dibagi…”

Langkahnya berhenti.

Matanya perlahan berbinar.

“Bukankah itu berarti keuntungan naik empat puluh persen?”

Senyum lebar langsung muncul di wajahnya.

Beberapa murid keluarga yang sedang berlatih di halaman melihat ekspresi itu dan tanpa sadar saling menjauh. Mereka sudah mulai memahami satu hal: ketika Tuan Muda Bai Hu tersenyum seperti itu, biasanya ada seseorang yang akan kehilangan uang.

Namun Bai Hu sama sekali tidak peduli pada tatapan orang lain. Ia mempercepat langkah menuju kediamannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak pergi ke pasar setelah urusan selesai. Bahkan keinginan untuk mengecek harga Buah Roh Hijau pun berhasil ia tahan.

Kitab di tangannya terasa jauh lebih penting.

Sesampainya di rumah, Liu Mei Lan sedang duduk di paviliun kecil sambil menyulam. Angin siang bertiup lembut, menggoyangkan tirai bambu di sampingnya. Ketika melihat Bai Hu datang dengan langkah terburu-buru namun wajah penuh semangat, ia mengangkat kepala dan tersenyum.

“Kau sudah kembali dari Aula Alkimia?”

Bai Hu mengangguk cepat. “Sudah, Bu.”

“Apa semuanya berjalan baik?”

“Lebih dari baik.” Bai Hu duduk di kursi batu di hadapan ibunya, lalu meletakkan kitab tua itu dengan sangat hati-hati. “Tetua Guo memberiku kitab pengenalan tanaman spiritual. Gratis.”

Liu Mei Lan tersenyum geli. “Bagian yang membuatmu paling senang adalah kitabnya, atau karena gratis?”

Bai Hu terdiam sejenak.

Pertanyaan itu sulit.

Ia menatap kitab tersebut, lalu menatap ibunya. Setelah berpikir cukup serius, ia menjawab, “Dua-duanya penting. Tapi kalau kitab bagus dan gratis, nilainya menjadi dua kali lipat.”

Liu Mei Lan tertawa pelan. Ia tidak mengejek. Justru ada kelembutan di matanya. Dalam beberapa hari terakhir, ia melihat perubahan kecil pada putra bungsunya. Bai Hu masih sama mata duitannya, masih sama suka menghitung untung rugi, masih sama bisa membuat orang dewasa sakit kepala. Namun di balik semua itu, anak itu mulai menemukan sesuatu yang membuatnya mau berusaha.

Bagi seorang ibu, perubahan sekecil itu cukup untuk membuat hati terasa hangat.

“Kalau begitu pelajarilah baik-baik,” ucap Liu Mei Lan. “Ilmu yang diberikan dengan tulus harus dihargai.”

Bai Hu mengangguk. Kali ini wajahnya tidak main-main. “Aku tahu, Bu. Tetua Guo memang sering membuat orang sakit kepala, tapi kitab ini benar-benar berharga.”

Liu Mei Lan menatapnya dengan alis terangkat.

Bai Hu baru sadar ucapannya aneh, lalu cepat-cepat menambahkan, “Maksudku, aku yang membuat Tetua Guo sakit kepala. Bukan sebaliknya.”

“Setidaknya kau sadar.”

Bai Hu menggaruk pipinya sambil tertawa kecil. Setelah itu ia membawa kitab tersebut ke kamarnya. Tidak seperti biasanya, ia tidak langsung mencari makanan, tidak tidur siang, dan tidak menghitung uang. Ia duduk di meja kayu dekat jendela, membuka halaman pertama kitab itu, lalu mulai membaca.

Halaman pertama berisi penjelasan mengenai Rumput Roh Hijau, tanaman tingkat rendah yang sering digunakan dalam pil pemulihan energi. Bai Hu sudah sering melihat tanaman itu di pasar, tetapi baru sekarang ia memperhatikan detailnya dengan benar. Bentuk daunnya panjang dan tipis. Ujungnya sedikit melengkung. Jika dipanen terlalu muda, khasiatnya hanya setengah. Jika disimpan di tempat lembap, energi spiritualnya menghilang dalam tujuh hari.

Bai Hu membaca perlahan.

Lalu membaca ulang.

Matanya semakin lama semakin tajam.

“Jadi begitu…”

Ia mengambil papan catatan, lalu menulis beberapa hal penting.

Rumput Roh Hijau. Daun terlalu pucat berarti kualitas rendah. Akar kemerahan berarti terlalu lama disimpan. Harga pantas turun tiga puluh persen.

Tangannya berhenti.

Senyumnya perlahan muncul.

“Pantas saja Paman Wu sering mencampur tanaman lama dengan yang baru. Hm. Besok aku harus menawar lebih rendah.”

Ia melanjutkan membaca.

Halaman kedua.

Daun Embun Putih.

Halaman ketiga.

Akar Darah Kecil.

Halaman keempat.

Bunga Api Merah.

Waktu berlalu tanpa terasa. Sinar matahari yang semula terang perlahan bergeser menjadi jingga. Di luar kamar, suara para pelayan yang menyiapkan makan malam mulai terdengar. Namun Bai Hu tetap duduk di tempatnya, tenggelam dalam halaman demi halaman.

Yang membuatnya terkejut adalah betapa menariknya kitab itu.

Awalnya ia membaca karena ingin menghemat biaya dan mencegah dirinya ditipu pedagang. Namun semakin lama, ia mulai menyadari bahwa setiap tanaman memiliki cerita sendiri. Ada yang harus dipanen sebelum matahari terbit. Ada yang hanya tumbuh di tanah bekas sambaran petir. Ada yang tampak layu tetapi justru berada pada masa terbaiknya. Ada pula yang terlihat indah namun beracun jika salah diolah.

Dunia tanaman spiritual ternyata jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan.

Dan setiap informasi di dalamnya memiliki nilai.

Bukan hanya nilai uang.

Tetapi nilai keselamatan, kesempatan, dan keputusan.

Malam itu, Bai Hu membaca sampai matanya mulai berat. Ketika akhirnya ia menutup kitab, ia menyadari bahwa ia telah menghafal hampir seluruh isi halaman yang dibacanya. Ia mencoba mengingat kembali bentuk Rumput Roh Hijau, ciri Daun Embun Putih, dan cara menyimpan Akar Darah Kecil.

Semuanya muncul jelas di kepalanya.

Seolah halaman kitab itu masih terbuka di depan mata.

Bai Hu terdiam.

Lalu tersenyum puas.

“Sepertinya aku memang cocok belajar hal yang menghasilkan uang.”

Tiga hari berikutnya berlalu dengan ritme yang tidak pernah terjadi dalam hidup Bai Hu sebelumnya.

Pagi hari, ia berkultivasi selama dua jam. Tidak kurang, tidak lebih. Ia bahkan membuat tanda di papan kayu untuk memastikan waktunya tepat. Setelah itu ia sarapan dengan porsi lebih banyak dari biasanya, sambil beralasan bahwa kultivasi menghabiskan tenaga dan tenaga harus diganti agar fondasi tidak rusak.

Siang hari, ia tetap pergi ke pasar. Namun kali ini caranya melihat pasar mulai berubah. Dahulu ia hanya memperhatikan harga. Sekarang ia memperhatikan kualitas. Ia bisa melihat daun yang mulai kehilangan warna, akar yang disimpan terlalu lama, atau jamur roh yang dipetik sebelum waktunya. Beberapa pedagang tua mulai merasa tidak nyaman ketika Bai Hu berdiri terlalu lama di depan lapak mereka.

Sore hari, ia kembali ke kamar dan membaca kitab tanaman spiritual.

Malam hari, ia mengulang hafalannya.

Liu Mei Lan beberapa kali memperhatikan dari luar jendela. Ia tidak masuk mengganggu. Ia hanya berdiri sebentar, melihat putranya duduk dengan wajah serius di bawah cahaya lampu minyak. Ada rasa bangga yang diam-diam tumbuh di dadanya.

Anak itu masih Bai Hu yang sama.

Namun perlahan, ia mulai berubah.

Pada hari ketiga, setelah menyelesaikan kultivasi pagi dan sarapan, Bai Hu berangkat menuju Aula Alkimia sesuai janji Tetua Guo Rong.

Langit cerah. Angin membawa aroma tanah basah dari taman keluarga. Di sepanjang jalan, beberapa murid keluarga masih berlatih seperti biasa. Kali ini Bai Hu tidak terlalu memperhatikan mereka. Pikirannya dipenuhi berbagai nama tanaman yang ia hafal selama tiga hari terakhir.

Ketika tiba di Aula Alkimia, murid senior yang dulu mengantarnya langsung menyambut.

“Tuan Muda Bai Hu, Guru sudah menunggu.”

Bai Hu mengangguk dan mengikuti murid itu masuk. Namun kali ini mereka tidak menuju ruang pemurnian yang sama. Mereka melewati lorong lain, lebih panjang dan lebih sejuk. Aroma tanaman spiritual semakin kuat. Setelah beberapa saat, mereka berhenti di depan pintu kayu besar yang dijaga dua murid alkimia.

Pintu dibuka.

Bai Hu melangkah masuk.

Dan seketika ia berhenti.

Ruangan di hadapannya sangat luas. Rak-rak tinggi berdiri berjajar dari lantai hingga hampir menyentuh langit-langit. Di setiap rak, terdapat kotak kayu, kantong kain, botol giok, dan ikatan tanaman kering yang diberi label kecil. Aroma ratusan jenis tanaman bercampur menjadi satu, begitu pekat hingga membuat kepala sedikit pusing.

Tetua Guo Rong berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangan di belakang punggung.

“Selamat datang di gudang tanaman Aula Alkimia,” ucapnya.

Bai Hu memandang sekeliling dengan mata membesar.

“Semua ini… tanaman spiritual?”

“Sebagian. Ada juga akar obat biasa, mineral pendukung, serbuk tulang monster, dan bahan tambahan lain.”

Bai Hu menelan ludah.

Di matanya, ruangan itu bukan gudang.

Itu adalah lautan harta.

Tetua Guo menoleh dan menatapnya tajam. “Kalau kau ingin belajar alkimia, lupakan dulu tungku. Lupakan api. Lupakan pil. Mulai hari ini, kau harus belajar mengenali bahan. Seorang alkemis yang tidak mengenal bahan tidak berbeda dengan orang buta yang membawa obor.”

Bai Hu mengangguk perlahan. Kali ini ia tidak membantah.

Tetua Guo mengambil satu tanaman kering dari rak terdekat dan melemparkannya kepada Bai Hu.

“Namanya?”

Bai Hu menangkapnya dengan hati-hati. Ia mengamati bentuk daun, warna batang, dan aroma samar yang keluar dari akarnya.

“Daun Embun Putih. Tapi kualitasnya tidak terlalu baik. Ujung daunnya menguning, berarti disimpan lebih dari dua bulan. Khasiatnya mungkin turun sekitar dua puluh persen.”

Gerakan Tetua Guo terhenti.

Ia menatap Bai Hu cukup lama.

“Kau sudah membaca kitab itu?”

“Sudah.”

“Berapa halaman?”

“Sekitar tujuh puluh.”

Tetua Guo menyipitkan mata. “Dan kau mengingatnya?”

Bai Hu tampak bingung dengan pertanyaan itu. “Kalau sudah dibaca, bukankah memang harus diingat?”

Beberapa murid alkimia yang berdiri di dekat pintu saling berpandangan.

Tetua Guo terdiam, lalu tiba-tiba tertawa pelan. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa seseorang yang baru saja menemukan batu giok mentah di tumpukan kerikil.

“Bagus,” katanya. “Sangat bagus.”

Bai Hu tersenyum bangga, tetapi kebanggaan itu tidak bertahan lama karena Tetua Guo segera menunjuk seluruh rak di ruangan itu.

“Kalau begitu, dalam satu bulan, hafalkan semua bahan tingkat rendah di gudang ini. Nama, ciri, kualitas, cara penyimpanan, dan kesalahan umum yang sering dilakukan pedagang.”

Senyum Bai Hu membeku.

Ia menatap rak-rak tinggi yang jumlahnya begitu banyak.

“Semuanya?”

“Semuanya.”

“Dalam satu bulan?”

“Dalam satu bulan.”

Bai Hu terdiam cukup lama. Wajahnya tampak seperti seseorang yang baru saja mendengar harga barang naik sepuluh kali lipat.

Tetua Guo mengangkat alis. “Takut?”

Bai Hu menarik napas dalam-dalam.

Lalu matanya perlahan berbinar.

“Tidak. Aku hanya sedang berpikir…”

“Tentang apa?”

Bai Hu menyentuh salah satu kotak kayu di rak terdekat, lalu tersenyum lebar.

“Kalau aku hafal semua bahan di ruangan ini, bukankah nanti tidak akan ada pedagang obat yang bisa menipuku lagi?”

Tetua Guo memejamkan mata.

Tangannya naik memijat pelipis.

Ia seharusnya sudah menduga.

Bocah ini bahkan ketika berdiri di depan pintu alkimia, tetap memandang ilmu sebagai cara untuk menghindari kerugian.

Namun anehnya, Tetua Guo tidak marah.

Justru sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Mulailah dari rak pertama,” katanya sambil berbalik pergi. “Dan ingat, Bai Hu. Tanaman bukan hanya barang dagangan. Jika kau ingin menjadi alkemis, kau harus belajar menghormati setiap bahan.”

Bai Hu menatap punggung Tetua Guo, lalu kembali memandang tanaman di tangannya.

Untuk beberapa saat, ia tidak bercanda.

Daun Embun Putih yang kering itu terasa ringan. Murah jika kualitasnya rendah, lebih mahal jika disimpan dengan baik. Namun setelah membaca kitab dan mendengar ucapan Tetua Guo, Bai Hu mulai memahami bahwa nilainya bukan hanya terletak pada harga jual.

Tanaman ini bisa menjadi pil.

Pil bisa memperkuat tubuh seseorang.

Tubuh yang kuat bisa menyelamatkan hidup.

Dan hidup seseorang…

Mungkin tidak bisa dihitung semudah batu roh.

Bai Hu menunduk, lalu menyimpan Daun Embun Putih itu kembali dengan lebih hati-hati dari sebelumnya.

“Baiklah,” gumamnya pelan. “Aku akan mulai dari rak pertama.”

Di luar gudang, Tetua Guo yang belum pergi terlalu jauh mendengar gumaman itu. Wajah tuanya melembut sejenak.

Mungkin jalan bocah ini masih sangat panjang.

Mungkin alasannya belajar masih penuh hitungan untung rugi.

Namun selama ia mau belajar menghargai nilai sebuah benda, suatu hari nanti ia mungkin akan memahami bahwa alkimia bukan hanya tentang pil.

Melainkan tentang kehidupan yang disimpan dalam setiap bahan.

Dan hari itu, tanpa suara besar, tanpa cahaya surgawi, tanpa sorak-sorai keluarga, Feng Bai Hu mengambil langkah pertamanya di jalan alkimia.

Langkah kecil.

Namun sangat penting.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!