Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Hari yang paling dinantikan oleh dunia korporasi tanah air akhirnya tiba. Di luar dinding Katedral bergaya neogotik yang megah di pusat ibu kota, ratusan jurnalis dari berbagai media nasional dan internasional telah membentuk barikade ketat sejak pukul lima subuh. Kilatan lampu kilat kamera saling menyambar tanpa henti, menciptakan efek visual yang pening saat iring-iringan mobil mewah Roll-Royce hitam milik keluarga Maheswara perlahan memasuki pelataran gereja yang dijaga ketat oleh puluhan personel keamanan internal berpakaian safari.
Ribuan tamu undangan mulai dari jajaran menteri kabinet, taipan bisnis papan atas, diplomat asing, hingga kalangan sosialita elite telah memadati bangku-bangku kayu ek di dalam katedral yang megah. Aroma bunga lili putih murni dan melati pesisir yang diimpor khusus menyeruak di udara, berpadu dengan alunan musik organ pipa yang menggema agung di bawah langit-langit kubah gereja yang menjulang tinggi.
Media meliput dari berbagai sudut, mengunci setiap detail pergerakan yang terjadi malam itu melalui lensa-lensa kamera berteknologi tinggi. Ini bukan sekadar pernikahan; ini adalah parade kekuatan finansial yang sedang dipertontonkan kepada dunia.
Di ruang transit utama, Alyssa berdiri menatap pantulan dirinya untuk terakhir kali. Gaun pengantin sutra putih gading berpotongan itu melekat sempurna di tubuhnya yang ramping. Ribuan payet mutiara murni yang dijahit dengan tangan di atas kain brokat prancis berkilau lembut setiap kali ia bergerak, menciptakan ilusi kemegahan yang tiada tara. Dari luar, ia adalah definisi sempurna dari seorang pengantin wanita yang paling beruntung di dunia.
Namun, di balik riasan wajahnya yang tanpa cela, Alyssa merasa seperti seorang terpidana mati yang sedang menghitung langkah menuju panggung eksekusi. Tidak ada binar kebahagiaan di matanya, hanya ada keteguhan taktis yang tersisa.
Pintu ruang transit terbuka, dan Alvaro Regantara Maheswara melangkah masuk. Pria berumur 28 tahun itu tampak seperti pangeran dari dunia bisnis yang keluar dari halaman majalah finansial global. Setelan tuksedo hitam tiga potong buatan Savile Row, dipadukan dengan kemeja putih kaku dan dasi kupu-kupu hitam, menegaskan postur tubuhnya yang tegap dan atletis. Wajahnya yang rupawan dipahat dengan garis rahang yang tegas, memancarkan pesona maskulin yang begitu kuat namun sekaligus mengintimidasi.
Alvaro berhenti tepat tiga langkah di belakang Alyssa, menatap punggung terbuka wanita itu dari pantulan cermin besar.
"Waktunya tiba," ucap Alvaro, suaranya bariton merendah, sedingin es yang membeku di puncak gunung. Tidak ada pujian, tidak ada kekaguman. Hanya sebuah instruksi kerja yang kaku. "Pintu gereja akan dibuka dalam dua menit. Begitu kita melangkah keluar, pastikan kamu menggandeng lenganku dengan erat. Jangan tunjukkan keraguan sedikit pun di hadapan Mahendra dan Arsen."
Alyssa membalikkan tubuhnya perlahan, membiarkan kain gaunnya yang berat menyapu lantai marmer. Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Alvaro yang hitam pekat dan kosong.
"Saya tahu tugas saya, Tuan Alvaro," sahut Alyssa, nadanya tenang namun setajam silet. "Saya akan memastikan sandiwara ini terlihat begitu nyata hingga Anda sendiri mungkin akan mempercayainya."
Alvaro hanya menipiskan bibirnya, lalu menekuk lengan kirinya, memberikan ruang bagi Alyssa untuk menyandarkan jemarinya yang sedingin es di atas kain tuksedonya. Sentuhan itu kembali mengirimkan sinyal perang dingin yang pekat di antara mereka.
Ketika pintu ganda Katedral yang besar perlahan terbuka, alian musik bergema memenuhi ruangan, memicu ribuan pasang mata untuk langsung berbalik menatap ke arah pintu masuk. Sorotan lampu dan kilatan kamera dari area media privat di balkon gereja seketika menyambar sosok mereka berdua.
Di bawah tatapan memuja dan penuh selidik dari ribuan tamu, Alvaro dan Alyssa melangkah berdampingan di atas karpet merah beludru menuju altar pernikahan. Alvaro berjalan dengan langkah tegap berwibawa, sementara Alyssa bergerak dengan keanggunan seorang putri yang terlatih, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat manis di wajahnya sebuah senyuman palsu yang dirancang khusus untuk memuaskan publikasi.
Namun, di balik kemewahan estetika abad ini, di bawah dekorasi bunga senilai miliaran rupiah dan altar suci yang agung, tidak ada cinta yang bersemi di antara mereka. Tidak ada getaran asmara, tidak ada janji suci yang tulus dari lubuk hati. Yang ada di altar itu hanyalah dua orang asing yang terikat oleh sebuah kewajiban korporasi dan kontrak bisnis yang dingin. Pernikahan ini adalah segel hukum yang mengunci persetujuan di atas kertas, sebuah medan pertempuran baru yang kini telah resmi dibuka di hadapan seluruh dunia.
...****************...
Langkah kaki mereka terasa begitu selaras, namun jarak emosional di antara keduanya terasa bermil-mil jauhnya. Alyssa memandang lurus ke depan, ke arah altar tempat pendeta paruh baya sudah menunggu dengan Alkitab terbuka di tangannya. Di barisan kursi terdepan sebelah kanan, ia bisa melihat ayahnya, Pradipta, duduk dengan gurat wajah yang tampak jauh lebih tenang dari beberapa hari lalu sebuah ketenangan yang dibeli mahal dengan harga diri putri tunggalnya.
Di sisi kiri, Mahendra Maheswara berdiri tegak dengan setelan formalnya, menatap mereka dengan senyum kepuasan seorang penguasa yang berhasil mengamankan aset pentingnya. Tepat di samping Mahendra, Arsen Maheswara berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada tongkat jalannya. Sepasang mata Arsen menyipit, memancarkan kilat ketidaksukaan yang pekat di balik senyum ramah palsu yang ia pamerkan pada kamera media.
Alvaro membawa Alyssa menaiki anak tangga altar. Kain gaun Alyssa yang panjang diatur dengan taktis oleh para pengiring pengantin agar membentang sempurna di atas lantai marmer suci.
Ketika musik organ pipa perlahan meredup, keheningan yang sakral dan mencekam seketika menguasai ruang Katedral yang luas itu. Hanya suara dengung halus dari ratusan kamera media yang tertahan di area pembatas yang terdengar di latar belakang.
"Alvaro Regantara Maheswara, dan Alyssa Carissa Pradipta," suara bariton pendeta bergema melalui pengeras suara, berwibawa dan penuh penekanan. "Hari ini, di hadapan Tuhan dan para saksi yang hadir, kalian berdua datang untuk mengikatkan diri dalam janji suci pernikahan..."
Alyssa meraskan jemarinya yang berada di atas lipatan lengan tuksedo Alvaro sedikit menegang. Ia bisa merasakan otot lengan pria berumur 28 tahun itu mengeras, sebuah reaksi fisik yang membuktikan bahwa sekeras apa pun Alvaro berakting sebagai batu karang, momen ini tetap memberikan tekanan psikologis tersendiri baginya.
Pendeta beralih menatap Alvaro. "Alvaro Regantara Maheswara, bersandarkan pada ketulusan hatimu, maukah engkau menerima Alyssa Carissa Pradipta sebagai istrimu, mendampinginya dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, dan berjanji untuk setia kepadanya selama hayat dikandung badan?"
Alvaro tidak langsung menjawab. Ia menjeda selama dua detik, sebuah jeda yang bagi publik mungkin dianggap sebagai bentuk kemantapan hati yang khidmat, namun bagi Alyssa, itu adalah bentuk penolakan batin yang diredam paksa.
Alvaro memutar tubuhnya menghadap Alyssa, menatap lurus ke dalam sepasang mata jeli di balik kerudung pengantin transparan itu. Manik mata elangnya begitu gelap, kosong, dan sedingin es.
"Ya, saya bersedia," ucap Alvaro, suaranya terdengar begitu mantap, berat, dan bergema penuh keyakinan palsu di dalam ruangan.
Pendeta kemudian beralih menatap Alyssa. "Alyssa Carissa Pradipta, bersandarkan pada ketulusan hatimu, maukah engkau menerima Alvaro Regantara Maheswara sebagai suamimu..."
Pertanyaan itu terus mengalir, namun di dalam kepala Alyssa, suara pendeta mendadak terdengar samar, teredam oleh gemuruh amarah dan kalkulasi taktis yang bergolak di benaknya. Ia menatap garis rahang tegas pria di hadapannya. Pria ini adalah suaminya mulai detik ini seorang pria yang beberapa jam lalu melempar daftar aturan kejam yang menguliti harga dirinya.
Sifat berani Alyssa mengambil alih seluruh kesadarannya. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya di balik gaun pengantin sutra yang berat, lalu menyunggingkan senyuman paling menawan yang bisa ia ciptakan di hadapan kilatan kamera jurnalis.
"Ya, saya bersedia," jawab Alyssa, suaranya terdengar jernih, tenang, tanpa ada satu pun getaran keraguan di dalamnya.
"Dengan ini, atas nama otoritas yang diberikan kepada saya, saya menyatakan kalian berdua resmi sebagai sepasang suami istri. Apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia."
Mendengar kalimat penutup itu, ulu hati Alyssa terasa seperti diremas. Segel hukum dan agama telah resmi diketuk. Di atas altar pernikahan abad ini yang dipenuhi kemewahan tanpa batas, mereka berdua telah resmi terikat dalam ikatan fiktif yang legal. Sandiwara publik mereka telah sukses besar di babak pertama, namun perang dingin yang sesungguhnya di dalam rumah tangga kontrak mereka baru saja mengunci targetnya tanpa ada jalan untuk kembali.
...****************...
"Silakan pasangkan cincin sebagai simbol ikatan yang tidak terputus," ucap pendeta dengan nada khidmat, memecah keheningan yang sempat merayap di antara mereka.
Rendra melangkah maju dengan langkah tegap, membawakan sebuah bantal beludru biru dongker tempat dua buah cincin platinum terbaring. Alvaro mengambil cincin dengan potongan yang berkilau tajam di bawah lampu kristal Katedral.
Pria berumur 28 tahun itu meraih tangan kanan Alyssa. Sentuhan kulit mereka di atas altar terasa begitu kontras; tangan Alvaro terasa hangat dan kokoh, sementara jemari Alyssa sedingin es. Dengan gerakan yang lambat dan presisi demi kebutuhan dokumentasi media, Alvaro menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Alyssa. Sepasang mata elangnya mengunci pandangan Alyssa, menyampaikan pesan bisu yang amat dingin: Sekarang, kamu adalah milikku di atas kertas.
Alyssa tidak gentar. Sifat bajanya membuat ia ganti mengambil cincin platinum polos yang berdesain maskulin dan minimalis dari atas bantal beludru. Ia meraih jemari tangan Alvaro, lalu mendorong cincin itu masuk ke jari manis sang suami dengan mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun. Tatapan jeli Alyssa membalas intimidasi Alvaro dengan kilat perlawanan yang sama tajamnya.
"Sekarang, Anda boleh mencium pengantin wanita," lanjut pendeta, memberikan instruksi terakhir untuk menutup prosesi sakral tersebut.
Sorotan lampu kilat dari area media privat semakin menggila, puluhan lensa kamera berfokus penuh pada wajah kedua mempelai. Ini adalah momen puncak yang ditunggu-tunggu oleh publik untuk mengonfirmasi keaslian romansa mereka.
Alvaro mengikis jarak di antara mereka, melangkah maju hingga aroma parfum maskulinnya yang mahal menguasai indra penciuman Alyssa. Tangan kanannya bergerak naik, jemarinya yang panjang menyentuh pinggiran kerudung pengantin transparan Alyssa, lalu menyibaknya ke belakang dengan gerakan yang sangat anggun. Wajah cantik Alyssa yang dihias dengan ketegasan tanpa cela kini terekspos sepenuhnya di hadapan Alvaro.
Alvaro menundukkan kepalanya perlahan. Alyssa bisa merasakan embusan napas hangat pria itu di permukaan kulit wajahnya yang tegang. Alih-alih mendaratkan kecupan di bibir layaknya pasangan yang saling mencinta, Alvaro dengan sangat taktis memiringkan wajahnya sedikit, menempelkan bibir dinginnya di atas kening Alyssa selama beberapa detik.
Kecupan itu terasa kaku, formal, dan sepenuhnya mekanis. Namun, di posisi yang begitu dekat itu, Alvaro berbisik dengan suara baritonnya yang teramat rendah, hanya bisa didengar oleh Alyssa di antara riuhnya jepretan kamera.
"Akting yang bagus, Nyonya Maheswara. Pertunjukan pertama kita sukses besar."
Alyssa mempertahankan senyuman menawannya yang palsu, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Alvaro yang kosong saat pria itu menjauhkan kembali wajahnya. "Terima kasih, Tuan Alvaro. Ini baru permulaan dari neraka yang Anda ciptakan sendiri."
Gemuruh tepuk tangan dari ribuan tamu undangan seketika pecah, menggema di bawah langit-langit kubah Katedral yang megah seiring dengan alunan musik organ pipa yang kembali menggelegar riuh. Alvaro memutar tubuhnya menghadap ke arah para tamu, lalu menekuk lengan kirinya. Alyssa dengan keanggunan yang terlatih segera menyandarkan jemarinya di sana, menggandeng erat lengan sang suami yang baru saja meresmikan status kontrak mereka.
Sembari melangkah turun dari anak tangga altar menuju pintu keluar di bawah hujan kelopak bunga mawar putih dari para pengiring, Alyssa melirik ke arah barisan kursi keluarga. Di sana, Arsen Maheswara sedang bertepuk tangan dengan senyuman miring yang sarat akan intrik berbahaya.
Pernikahan abad ini telah resmi diketuk. Di atas altar yang suci, mereka berdua telah berhasil menipu mata dunia dengan kemegahan fiktif. Namun, di balik riuhnya pesta perayaan yang akan segera menyusul, roda takdir telah mengunci mereka di bawah satu atap yang sama memulai babak pertama dari pernikahan tanpa cinta yang siap menguji batas ketahanan ego dan waras mereka berdua.