Pernikahan lima tahun yang sia-sia, Liana Varella adalah seorang anak yang menjadi pembayaran utang ayahnya. Diusianya yang menginjak sembilan belas tahun, seharusnya dia melanjutkan kuliahnya, namun kini dia terikat oleh pernikahan yang hancur.
Suaminya, Alistair Sterling yang menjanjikan cinta hingga mati. Kini membawa seorang wanita lain dari keluarga konglomerat, hanya dalam waktu tiga tahun pernikahan. Dengan mudahnya dia membawa wanita lain ke rumah tangga mereka.
Hanya karena satu alasan, Liana dikira "Mandul" oleh keluarga Sterling hingga dihina, dan di abaikan keluarga besar itu. Di ambang ujung jurang, seseorang muncul dihidup Liana, dan berkata.
"Mengapa Tidak Bercerai?"
Liana tertegun, lalu berpikir keras hingga akhirnya dia sadar. Selama ini untuk apa dia bertahan jika suaminya menganggap dia tidak ada?
Penasaran? Ayo baca selengkapnya! Bahasa campuran, baku dan non baku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arssya Assyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C013: Berita & Studio Mewah
...Selamat Baca...
Keesokan paginya, sinar matahari pagi masuk melewati celah jendela, menyinari kamar tidur yang luas dan mewah itu.
Udara pagi terasa sangat segar, namun di luar sana, di seluruh penjuru kota Auronia, satu nama besar sedang menjadi pembicaraan utama di mana-mana.
Berita mengenai resmi bercerainya Alistair Sterling dan Liana Varella telah meledak di seluruh lini media dan jejaring sosial sejak detik pengumuman resmi dari pengadilan keluar kemarin sore.
Di dunia yang terhubung secara cepat seperti sekarang, nama besar keluarga Sterling selalu jadi sorotan, dan peristiwa besar apa pun yang menimpa mereka pasti langsung menjadi konsumsi publik.
Di aplikasi berita dan jejaring sosial populer semacam NewsA atau platform diskusi seperti Y, berita ini langsung menduduki puncak daftar topik yang paling banyak dibicarakan,
Dengan jutaan orang yang ikut berkomentar, menyukai, dan membagikan ulang informasi tersebut.
📢 TRENDING TOPIC: #PERCERAIAN_ALISTAIR_STERLING_LIANA_VARELLA
Kanal Berita Utama: "Keluarga Besar Sterling Konfirmasi Resmi Bercerai! Ikatan Pernikahan yang Berlangsung Selama 5 Tahun Akhirnya Putus di Pengadilan Negeri Pusat."
Artikel Berita:
"Sumber terpercaya mengonfirmasi bahwa kemarin pagi telah berlangsung sidang tertutup perceraian antara Tuan Alistair Sterling, pewaris utama kelompok usaha Sterling, dengan istrinya saat itu, Nona Liana Varella.
Proses berjalan lancar dan keputusan hakim telah menyatakan sah bercerai. Keluarga besar Sterling terlihat hadir lengkap, namun terlihat dingin dan enggan memberikan keterangan lebih lanjut.
Nona Liana Varella diketahui tidak menuntut harta gono-gini sepeser pun, hanya meminta kebebasan dirinya.
Publik kini bertanya-tanya, apa alasan sebenarnya di balik berakhirnya pernikahan yang duluan dianggap serasi itu?"
Kolom Komentar & Diskusi (Ribuan tanggapan):
Pengguna 1: "Akhirnya bercerai juga! Dari dulu aku sudah dengar kabar pernikahan mereka tidak bahagia.
Katanya sih Nona Liana ini dianggap tidak berguna karena tidak bisa memberi keturunan, makin jelas kan sekarang?" 🔁 12.400 | ❤️ 8.900
Pengguna 2: "Wah, kasihan sekali Nona Liana. Lima tahun mengabdi, tapi akhirnya dibuang begitu saja.
Padahal kan dulu dia putri bangsawan dari Virlan yang sangat cantik dan berpendidikan tinggi.
Keluarga Sterling itu memang terkenal kaku dan sombong, nggak heran sih." 🔁 9.200 | ❤️ 14.100
Pengguna 3: "Kalian ingat nggak? Sekarang Alistair kan punya wanita simpanan yang udah hamil besar banget, siapa namanya... Seraphina itu lho!
Pasti karena dia mau nikah sama yang baru makanya buang yang lama. Dasar lelaki!" 🔁 18.700 | ❤️ 21.300
Pengguna 4: "Aneh ya, katanya Nona Liana nggak berguna, tapi pas cerai dia nggak minta apa-apa sama sekali. Berarti dia bukan perempuan matre.
Malah aku jadi penasaran, sebenarnya siapa yang rugi di sini? Yang dibuang atau yang membuang?" 🔁 24.500 | ❤️ 32.800
Pengguna 5: "Lupakan saja, nanti juga hilang dari berita. Wanita yang sudah dibuang keluarga Sterling mana ada masa depan cerah? Paling hidupnya bakal suram saja sekarang." 🔁 3.100 | ❤️ 1.200
Pembahasan itu terus berlanjut, ada yang bersimpati, ada yang menghakimi sembarangan, ada yang menebak-nebak alasan di balik layar.
Di kediaman-kediaman mewah keluarga Sterling, berita ini justru diterima dengan rasa lega sekaligus rasa malu karena nama mereka jadi bahan perbincangan ramai.
Seraphina yang sedang duduk santai di teras rumahnya tersenyum puas saat membaca komentar-komentar yang merendahkan Liana,
Sementara Margaret dan Beatrice justru kesal karena ada banyak sekali warganet yang membela Liana dan menyebut keluarga mereka kejam.
Namun, jauh from hiruk-pikuk itu, di kediaman Alexander yang tenang dan damai, Liana justru membaca berita-berita itu dengan senyum santai.
Ia tidak merasa tersinggung sedikit pun. Kata-kata kasar atau tebakan asal-asalan orang asing di layar ponsel itu sama sekali tidak menyentuh hatinya.
Bagi Liana, berita ini hanyalah tanda sah bahwa bab kelam hidupnya sudah benar-benar ditutup.
Alexander berdiri di sampingnya, ikut melirik sekilas layar ponsel wanita itu. Wajahnya sedikit dingin membaca komentar-komentar jahat yang ditulis orang-orang yang tidak paham apa-apa, namun ia segera beralih menatap Liana dengan lembut.
"Kau tidak apa-apa membaca semua itu?" tanyanya pelan, tangannya terulur menyentuh kepala Liana dengan penuh kasih sayang.
Liana menggeleng pelan, lalu meletakkan ponselnya ke meja seolah benda itu tidak penting. "Tidak apa-apa, Alex. Biarkan saja mereka bicara apa saja."
"Mereka hanya melihat kulit luarnya saja, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Anggap saja... ini adalah pengumuman resmi kepada seluruh dunia, bahwa aku sudah bebas sepenuhnya."
Alexander tersenyum lega melihat ketenangan wanita itu. "Baguslah. Biarkan mereka bicara sekarang. Nanti, saat waktunya tiba,"
"Kau akan membuat mereka semua terdiam dengan mulut ternganga melihat siapa dirimu yang sesungguhnya."
Ia kemudian beralih berdiri tegak, tatapannya berubah menjadi serius namun penuh antusias.
"Pagi ini aku harus ke kantor sebentar untuk memantau beberapa hal, tapi siang nanti... tepat pukul satu siang, aku akan kembali menjemputmu."
"Bersiaplah, karena aku akan membawamu ke satu tempat khusus. Tempat di mana kau bisa mewujudkan semua keinginanmu."
Mata Liana berbinar cerah. Ia langsung paham kemana arah pembicaraan ini. "Apakah... sudah siap?"
"Sudah sejak lama kusiapkan, dan kemarin aku baru saja memastikan semuanya selesai sempurna. Sekarang... itu milikmu sepenuhnya." Alexander mengedipkan sebelah matanya sekilas, lalu beranjak bersiap berangkat bekerja.
***
Tepat pukul satu siang, mobil mewah Alexander sudah kembali terparkir di halaman rumah.
Liana yang sudah bersiap dengan pakaian sederhana namun tetap berkelas—kemeja putih polos dipadukan dengan rok selutut berwarna krem—segera berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil.
Perjalanan berlangsung singkat, menuju ke kawasan pusat bisnis kota, tidak jauh dari gedung perkantoran utama milik perusahaan Alexander.
Mobil itu akhirnya memasuki sebuah gedung modern berarsitektur indah yang berdiri megah di tengah kota.
Bangunan ini tampak mewah namun tertutup rapat, khusus diperuntukkan bagi keperluan pribadi dan proyek-proyek eksklusif milik keluarga Sterling.
"Di sini?" tanya Liana sedikit terkejut, mengira mereka akan pergi ke tempat yang jauh lebih terpencil.
Alexander mengangguk sambil berjalan beriringan dengannya masuk ke lantai tertinggi bangunan itu. "Di sini. Tepat di atas kantorku. Jadi kapan pun kau berkarya, aku ada di bawah sana bekerja, dan kapan pun aku rindu,"
"Aku bisa naik ke sini melihatmu tanpa harus diketahui banyak orang. Tempat ini privat, aman, dan hanya kita berdua yang punya akses ke sini."
Pintu besar berwarna perak terbuka perlahan, dan saat Liana melangkah masuk, napasnya seakan tertahan sejenak.
Di hadapannya terbentang sebuah ruangan yang sangat luas, mewah, dan dirancang dengan selera seni yang sangat tinggi.
Lantai satu adalah arsitektur rangkaian kuno, mewah dan indah, seperti zaman abad pertengahan, dinding dindingnya di ukir dengan indah dan bernuansa kuno.
Ada sebuah kantor disana, yang jelas itu adalah kantor Alexander. Dulu selama menunggu 5 tahun, Alexander selalu berada di kantor pusatnya.
Kini ia akan berada di sebuah gedung tak jauh dari kantor pusatnya, kantor yang dekat dengan studio milik Liana. Bahkan hanya berbeda lantai saja.
Naik ke lantai dua, ada lukisan lukisan antik, dan beberapa barang berharga di masa lalu. Dan saat masuk sebuah ruangan, itu bukan sekadar ruangan biasa, melainkan sebuah studio musik kelas dunia yang lengkap.
Ruangan itu kedap suara sempurna, dengan pencahayaan lembut yang membuat suasana terasa hangat namun fokus.
Berbagai alat musik tersusun rapi di sudut-sudut ruangan: ada piano besar berwarna hitam mengkilap, berbagai jenis gitar, alat musik tiup,
Hingga alat musik tradisional khas Virlan yang bentuknya indah dan langka, lengkap dengan deretan peralatan rekaman canggih yang jarang dimiliki orang biasa.
Segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menciptakan nada, mengatur irama, hingga merekam suara dengan kualitas terbaik ada di sini, tersedia sepenuhnya.
"Ini..." Liana menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca terharu.
Ia berjalan perlahan menyusuri ruangan itu, menyentuh permukaan piano, lalu melihat panel-panel kontrol yang canggih di meja besar di tengah ruangan.
"Semuanya lengkap... Alex, ini terlalu mewah untukku..."
Alexander tertawa pelan, berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya. "Tidak ada yang terlalu mewah untukmu. Ini baru permulaan, Liana. Tempat ini sudah menjadi milikmu."
"Kau bisa datang kapan saja, pergi kapan saja, menciptakan apa saja yang kau inginkan di sini. Tidak ada aturan, tidak ada larangan. Di sini, kau adalah penguasa tunggal."
Ia kemudian menunjuk ke arah meja kecil di dekat jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota.
Di sana sudah tersedia laptop canggih dan sebuah tablet yang terlihat persis seperti perangkat yang biasa Liana gunakan.
"Aku ingat kau pernah bilang... kau menyimpan banyak hal di dalam alat-alat itu. Kau punya banyak nada dan lirik yang belum pernah didengar siapa pun."
"Bagaimana? Sekarang waktunya... maukah kau menunjukkan kepadaku... apa saja yang sudah kau buat selama ini?"
Pandangan Alexander sangat lembut, namun ada rasa penasaran dan harapan yang begitu besar di sana.
Liana menarik napas panjang, mengumpulkan keberaniannya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena gembira dan rasa gugup yang indah.
Ia berjalan mendekati piano besar itu, lalu duduk di kursi empuk di depannya. Jemarinya yang lentik menyentuh tuts-tuts putih dan hitam itu, menimbulkan nada jernih yang bergema indah di seluruh ruangan.