NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13.

Arista menatap ke arah Hanif putra keempatnya. Dia sudah ambil keputusan, dan dia merasa ini yang terbaik.

Arista menghubungi seseorang, tak ingin berkutat dalam kesedihan. Sekuat apa pun bertahan hasilnya tetap sama.

" Tenang ya, nak. Ibu udah menyiapkan semuanya. Maafin ibu." Arista membelai lembut bayi mungilnya.

Seolah mengerti apa yang di ucapkan ibunya , Hanif tersenyum.Jemarinya menggenggam erat jemari Arista.

Arista mencium kening putranya dengan gemas. Saat ini hatinya merasa plong, sakit hati, sedih, seakan menguap begitu saja.

Arista sudah menyiapkan hati dan semua kemungkinan yang akan dia hadapi ke depannya.

Triiingg...

Satu notif masuk ke hpnya. Arista tersenyum, pucuk di tiba. Sejatinya dia tadi berniat mau menghubunginya.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Anisa bersiap. Restu sejak siang tadi belum bisa di hubungi.

(Mas...sore ini jadi ke rumah mbak Arista kan?) . Pesan yang Anisa kirim ceklist dia abu-abu. Menandakan hpnya sudah di aktifkan. Anisa menghela nafas panjang.

Tring..

( Mas masih terjebak macet, sayang. Kamu berangkat dulu nggak apa-apa, ya? Mas langsung pulang ke rumah mbak Arista) bala Restu

( Ya...mas. Aku berangkat). Anisa menarik nafas kecewa.

(Hati-hati,sayang. Nanti kalau udah sampe kabari mas, ya..)

(Oke). Anisa dengan hati yang malas membalas pesan suaminya.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

" Assalamualaikum, Bu."

" Waalaikumsalam. Kalian udah pulang, kenapa menjelang sore baru pada pulang." tanya Arista menyambut ke tiga putranya yang baru pulang.

" Maaf, Bu. Tadi mas Dirga dan mas Dimas lama karena nungguin aku. Ada tugas tambahan dari wali kelas, jadi pulangnya lama. Terus tadi pas pulang jalanan macet." kata Dityan menjelaskan.

"Ya..sudah. Sekarang kalian langsung mandi aja, ingat jangan pegang adek Hanif dulu." pesan Arista.

" Siap..Bu." ke tiga putranya menjawab kompak.

" Dirga.." panggil Arista.

" Ya..Bu." Dirga menghentikan langkahnya.

"Duduk dulu sebentar. Ada yang mau ibu tanyakan."

Dirga mengangguk menurut.

" Duduk sini, nak."

Dirga menggeser duduknya ke samping Arista.

" Bagaimana kuliah kamu hari ini?."

" Hari ini cuma ada 2 kelas, Bu. Jadi agak santai. Ada apa Bu, apa adek Hanif sakit?." tanya Dirga.

" Apa yang ayah bilang tadi pagi." tanya Arista.

Dirga menghela nafas, sepertinya dia tahu arah pembicaraan ibunya.

" Sama seperti yang di bilang ke ibu. Saat ini kan hanya kalimat itu yang selalu ayah keluarkan." kata Dirga datar.

" Ibu minta pendapatmu, nak.Sebagai anak tertua ibu sangat mengharap saran dan pendapat darimu."

"Dirga terserah ibu aja. Apa pun keputusan ibu, Dirga dukung. Kalau menurut ibu demi kebaikan semua. Dirga akan tetap mendukung ibu." kata Dirga sambil menggenggam tangan Arista.

" Terima kasih, nak.Kalian adalah kekuatan untuk ibu." Arista berkaca-kaca.

"Kami akan selalu ada untuk ibu."

Arista mengangguk dan mengusap air matanya.

" Assalamualaikum."

' Waalaikumsalam. Tante Anisa." ucap Dirga sambil berdiri menyambut tantenya.

Tak lama sebuah mobil memasuki halaman. Restu turun dengan bingkisan di tangan kanannya. Dia tersenyum.

Anisa berusaha membalas senyum senormal mungkin.

"Assalamualaikum." Restu memberi salam

" Waalaikumsalam." semua yang berada di sana kompak menjawab.

" Om Restu tumben ke sini." kata Dirga.

" Bisa aja kamu, Dir." kata Restu sambil menyerahkan bingkisan yang dia bawa.

" Wahh...pizza, makasih om." kata Dirga menyimpan bungkusan pizza ke dalam.

" Motornya di mana, mas." tanya Anisa. Pagi tadi Restu berangkat menggunakan motor, kenapa sekarang datang menggunakan mobil.

" Motor ada di kantor, tadi mas di minta antar barang, jadi sekalian minta ijin sama bos pinjam mobil sekalian."

Anisa mengangguk , dan berusaha untuk percaya yang di ucapkan suaminya.

" Ayoo...masuk. Kebetulan tadi mbak masak banyak. Sekalian kita makan bareng." Arista mengajak adik dan iparnya.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Pram berulang kali mengecek hpnya. Berharap ada balasan dari istrinya , Arista. Tapi sampai dia bosan melihat hp, tak satu pun notif pesan masuk dari Arista.

Karena kesal Pram melempar hpnya ke kasur.

(Bagaimana kalau Arista akhirnya tetap mempertahankan anak itu . Apa aku harus tetap di sini).

Pram mulai bimbang dan khawatir. Apalagi dia menyangka kalau Dirga sudah mendengar semua isi pembicaraan dengan ibunya, Rahmi.

Pram tak ingin kehilangan semuanya..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!