Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Teka-Teki
Pintu panel kayu rahasia di balik lemari pakaian baru saja bergeser menutup rapat. Begitu Carson melangkah masuk ke dalam apartemen Nezha, atmosfer yang menyesakkan sejak di ruang interogasi tadi seolah ikut berpindah tempat.
Nezha langsung berbalik, menghadang langkah Carson yang hendak berjalan menuju dapur. Sepasang matanya yang sembab kini dipenuhi oleh rasa frustrasi yang meluap-luap.
"Kenapa kamu melakukan itu, Carson?" cecar Nezha, suaranya bergetar menahan desakan emosi. "Kenapa kamu melimpahkan semua hukumannya ke dirimu sendiri?"
Carson menghentikan langkahnya. Ia menatap Nezha dengan sepasang mata datarnya yang sayu, namun ekspresi wajahnya tetap sekaku biasanya. "Itu memang sesuatu yang harus aku lakukan, Nezha."
"Tapi itu tidak adil!" bantah Nezha, melangkah satu tapak lebih dekat, menatap rahang Carson yang bengkak. "Kamu melakukan semua itu untuk menolongku! Aku yang ceroboh karena menginjak tali sepatuku sendiri. Jadi, seharusnya hukuman kerja paksa itu kita tanggung bersama. Aku bisa mengajukan banding!"
"Tidak perlu, Nezha," potong Carson, suaranya mendadak turun satu oktav, terdengar berat dan tak terbantahkan.
"Carson, membersihkan filter udara bawah tanah selama tiga jam setiap malam itu berbahaya! Tubuhmu bahkan belum pulih sepenuhnya!" suara Nezha naik, matanya kembali berkaca-kaca karena rasa bersalah yang mengimpit dadanya.
Carson mengembuskan napas panjang. Ia melangkah maju, meraih kedua pundak Nezha dengan perlahan. Tatapan matanya yang datar melunak saat menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu.
"Justru karena itu, Nezha," ucap Carson pelan namun tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu turun ke ruang filter bawah tanah yang pengap dan penuh polusi itu. Kamu sedang hamil, Nezha. Berada di lingkungan seperti itu bisa membahayakan janin di dalam kandunganmu. Jadi, biar aku yang menanggungnya. Titik."
Nezha seketika bungkam. Kata 'hamil' yang diucapkan Carson bagai batu besar yang menyumbat tenggorokannya. Ia menunduk, menatap lantai beton apartemen sambil meremas ujung bajunya sendiri. Rasa bersalahnya tidak berkurang, namun ia tahu, Carson benar. Di dunia yang kejam ini, keselamatan calon anak mereka adalah prioritas di atas segalanya.
Melihat Nezha yang akhirnya tenang, Carson perlahan melepaskan tangannya dari pundak Nezha. Ia berjalan ke arah sofa, merebahkan tubuhnya yang linu dengan perlahan. Ia tidak ingin perdebatan ini berlanjut dan membuat Nezha semakin merasa bersalah.
"Sudahlah, yang sudah terjadi biarkan berlalu," kata Carson, sengaja mengalihkan arah pembicaraan. "Ada hal lain yang jauh lebih mendesak untuk kita pikirkan sekarang."
Nezha menghapus sudut matanya yang basah, lalu berjalan mendekat dan duduk di ujung sofa, di dekat kaki Carson. "Soal apa?"
"Bylla," jawab Carson pendek. Matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. "Kamu tidak merasa ada yang janggal dengan sikapnya tadi?"
Nezha terdiam sejenak, mengingat kembali detik-detik menegangkan sebelum alarm berbunyi. "Ah benar, tadi... saat alarm berbunyi, aku melihat Bylla hanya berdiri diam di ujung persimpangan jalan. Tapi, tatapannya sangat aneh ketika melihat ke arah kita."
"Benar," sahut Carson, memposisikan dirinya sedikit menyamping agar bisa menatap Nezha. "Tatapannya sangat aneh. Bukan tatapan seorang pengawas keamanan yang menemukan pelanggar hukum. Ada riak emosi lain di matanya yang tidak bisa kubaca."
"Sebenarnya..." Nezha menggigit bibir bawahnya, ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Aku sudah merasa aneh padanya belakangan ini. Kamu ingat waktu kita berada di dalam lift beberapa minggu lalu? Waktu dia baru awal-awal pindah ke apartemen ini?"
Carson mengangguk kecil. "Saat kita sedang bertukar kode lewat ujung sepatu itu?"
"Iya. Waktu itu, begitu pintu lift terbuka, Bylla menatap ujung sepatu kita bergantian dengan pandangan yang... sama persis dengan tatapannya tadi siang. Seperti dia sedang menyadari sesuatu," ungkap Nezha. "Ditambah, waktu aku sakit kemarin dan dia mengantarku pulang sampai ke kamar. Dia bersikap sangat baik, bahkan menyiapkan minum juga suplemen untukku. Tapi, gerak-geriknya sangat aneh. Dia bahkan sempat membuka lemari pakaianku. Jantungku hampir copot hari itu."
Carson langsung menegakkan posisi duduknya, mengabaikan rasa nyeri di punggungnya. "Dia memeriksa lemarimu?"
"Hanya mengambil pakaian ganti untukku, tidak lebih," jawab Nezha cepat, menenangkan Carson. "Tapi ada satu hal lagi. Waktu aku membantu Bylla pindahan, aku melihat dia menyembunyikan sebuah kardus mencurigakan. Kardus itu dilakban rapi, bahkan disegel. Ketika aku hendak membukanya, dia langsung melarang sambil berteriak."
Carson menyipitkan mata. Otaknya langsung bekerja memetakan segala kemungkinan. "Tetangga baru yang terlalu ramah, menyimpan kardus misterius, bekerja di divisi keamanan, dan selalu muncul di saat-saat krusial kita... Dia bukan warga sipil biasa, Nezha."
"Tapi kalau dia memang mata-mata pemerintah yang ditugaskan untuk mengawasi kita, kenapa tadi dia justru membantu kita?" tanya Nezha bingung, menyuarakan teka-teki yang sejak tadi berputar di kepalanya.
"Itu dia yang belum kutemukan jawabannya," gumam Carson, mengetuk-ngetuk jarinya di lengan sofa. "Bisa jadi dia sengaja menolong untuk mendapatkan kepercayaan dari kita, sebelum akhirnya menjatuhkan kita sekaligus saat buktinya sudah lengkap. Kita harus ekstra waspada padanya."
Nezha mengangguk setuju. Namun, menyebut nama Bylla mendadak mengingatkan Nezha pada satu kejadian lain di depan lift kemarin sore.
"Oh ya, Carson," panggil Nezha lagi. "Ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Kemarin sore, saat aku dan Bylla mau masuk lift, pria berjas lab yang mengantarmu pulang kemarin keluar dari dalam lift. Ketika melihat pria itu, Bylla langsung terpaku. Dia bahkan melihat punggung pria itu sampai jauh dengan ekspresi yang sangat aneh. Siapa dia sebenarnya, Carson?"
Carson tertegun mendengar cerita Nezha. "Pria berjas lab? Itu Avnan. Dia rekan kerjaku dalam proyek bioteknologi militer yang aku ceritakan kemarin."
"Avnan?" Nezha mengulang nama itu. "Apa Bylla mengenal pria itu?"
"Aku tidak tahu," jawab Carson, guratan cemas kini tercetak di dahinya. "Sejauh yang kutahu, dia hanya seseorang yang hobi mengoceh. Dia orang yang baik, dia yang merawatku saat aku terluka karena disiksa di ruang interogasi sektor militer waktu itu. Tapi kalau Bylla, seorang pengawas keamanan mengenalinya, artinya ada benang merah di antara mereka yang tidak kita ketahui."
Carson menarik napas pendek, merapatkan jaketnya. "Aku akan mencoba menyelidiki latar belakang Avnan. Dan kamu, Nezha... awasi Bylla dari dekat. Jangan biarkan dia memergoki hal sekecil apa pun lagi tentang kita."
Nezha mengangguk, meletakkan tangannya di atas tangan Carson yang terasa dingin. "Iya. Kita harus cari tahu apa sebenarnya alasan Bylla menolong kita tadi siang. Apakah dia musuh... atau sesuatu yang lain."
Di tengah ketidakpastian akan sesuatu yang tidak mereka ketahui, sepasang kekasih itu hanya bisa saling menggenggam. Tidak menyadari bahwa rahasia besar di balik dinding apartemen tepat di lantai bawah apartemen mereka, justru dipicu oleh sesuatu yang jauh di luar dugaan mereka berdua.
i ini panglima berbuat baik