NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13. Hukuman Seratus Ember

Fajar belum sepenuhnya pecah di ufuk timur Trowulan ketika suara talu beruntun dari bumbung bambu raksasa memecah kesunyian kompleks barak pelatihan Barat. Suara itu begitu nyaring dan konstan, memaksa tiga puluh tidur sembilan penghuni barak nomor empat meloncat dari amben mereka dalam kondisi setengah sadar. Udara pagi terasa sangat menusuk tulang, berselimut kabut tipis yang turun dari lereng gunung, namun tidak ada waktu untuk sekadar mengeluh atau merapatkan kain selimut rumbia yang kasar.

"Cepat keluar, kalian semua pemalas!" teriak suara melengking seorang bintara instruktur dari luar pintu barak. "Siapa pun yang belum berdiri di atas garis lapangan dalam hitungan lima puluh pulsa nadi, jatah makan paginya akan dipotong setengah!"

Mada melangkah keluar di barisan tengah, sengaja membiarkan ikatan kain kelat bahunya tampak agak longgar dan rambut panjangnya sedikit berantakan demi menjaga penyamaran sebagai pemuda desa yang belum terbiasa dengan kedisiplinan militer pusat. Di lapangan liat yang masih basah oleh embun, dua ratus prajurit Tamtama baru telah berbaris membentuk sepuluh banjar besar. Di depan mereka, Senopati Kudamerta berdiri tegak di atas panggung kayu, didampingi oleh beberapa perwira menengah berpakaian zirah kulit lengkap.

Sepasang mata elang jenderal sepuh itu kembali menyapu barisan, menakar mentalitas para benih baru setelah melewati malam pertama mereka. Mada menundukkan pandangannya, mengatur detak jantungnya agar tetap berada di ritme manusia biasa, menahan seluruh pendaran energi emas Batara Niti Mandala di titik terdalam sukmanya.

"Malam pertama telah berlalu, dan saya mendengar beberapa dari kalian sudah merasa menjadi pahlawan karena berhasil memukul mundur beberapa prajurit lama yang mabuk," ucap Senopati Kudamerta, suaranya yang berat mengalir datar namun mengandung tekanan batin yang membuat Ragajaya dan Lembu Sora di barisan depan langsung menegakkan punggung mereka dengan wajah sedikit memucat. "Di dalam militer Majapahit, perkelahian liar di dalam barak hunian adalah bentuk pelanggaran disiplin besi. Siapa pun yang terlibat, baik yang memulai maupun yang membalas, harus menerima pembersihan urat raga sebelum diperkenankan memegang senjata latihan kembali!"

Jenderal sepuh itu mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada seorang bintara bertubuh raksasa di sampingnya.

"Barak hunian nomor empat! Karena kelalaian kalian dalam menjaga ketertiban malam, seluruh anggota kelompok kalian dijatuhi hukuman seratus ember air fajar! Tugas kalian adalah mengisi seluruh gentong penyimpanan air di kompleks kandang kuda dan dapur utama Barat sebelum matahari naik setinggi satu penggalah! Bintara, laksanakan!"

Mendengar keputusan tersebut, desah keluhan pelan langsung terdengar dari beberapa pemuda desa di barak nomor empat, namun satu bentakan keras dari bintara instruktur membuat mereka segera mengatupkan mulut rapat-rapat. Ragajaya mengepalkan tinjunya dengan gusar, merasa bahwa tindakan membela dirinya semalam justru berbuah hukuman yang memalukan di depan seluruh angkatan baru.

Mada bersama anggota barak nomor empat segera digiring menuju ke area sumur dalam yang terletak di bagian utara barak. Di sana, ratusan ember kayu jati berkepala tali tampar telah disiapkan. Jarak antara sumur utama menuju ke kompleks kandang kuda di ujung selatan bukanlah jarak yang dekat; mereka harus melewati jalan setapak berbatu yang menanjak sejauh hampir dua ratus depa dengan memikul dua ember penuh air di kanan dan kiri bahu mereka.

"Cepat ambil pikulan kalian!" bentak instruktur penjaga sumur. "Setiap ember yang tumpah sebelum tiba di gentong tujuan tidak akan dihitung, dan kalian harus mengulangnya dari awal!"

Mada melangkah maju dengan gerakan yang sengaja dibuat agak lamban, mengambil sebuah bilah bambu pikulan yang agak melengkung dan dua ember kayu yang cukup besar. Ketika ia menurunkan ember ke dalam sumur dan menariknya kembali ke atas, ia sengaja membuat napasnya terdengar agak berat. Namun, begitu bambu pikulan itu mendarat di atas bahu jangkungnya, batin Mada langsung menakar bobot total beban tersebut. Dua ember penuh air fajar ini memiliki berat sekitar empat puluh kati, sebuah beban yang sangat berarti bagi pemuda biasa, namun bagi struktur otot alami Mada yang telah ditempa oleh gada besi purba di Hutan Tarik, beban ini hampir tidak terasa sama sekali.

(Seratus ember untuk empat puluh orang berarti setiap orang harus menyelesaikan setidaknya dua hingga tiga kali perjalanan bolak-balik tanpa henti. Ini adalah ujian yang bagus untuk melihat daya tahan urat kaki para prajurit baru, sekaligus kesempatan terbaik bagiku untuk menguras waktu tanpa perlu terlihat menonjol.)

Mada mulai berjalan di barisan belakang, mengambil posisi di belakang Jaka Wulung yang tampak melangkah dengan kokoh karena kekuatan fisik padepokannya yang kasar. Di barisan paling depan, Ragajaya memimpin dengan langkah yang sangat cepat dan agresif. Pemuda pesisir itu tampaknya ingin membuktikan kepada para instruktur bahwa hukuman fisik ini tidak mampu menggoyahkan harga dirinya. Ia meledakkan hawa murni aliran airnya setipis mungkin di sekitar urat kakinya, membuat langkahnya terlihat sangat ringan dan cepat saat menaiki jalan setapak berbatu yang menanjak.

"Lihat Ragajaya," bisik Lembu Sora yang berjalan di samping Jaka Wulung dengan tubuh yang sudah mulai dibanjiri keringat. "Dia bahkan bisa berjalan secepat itu meskipun memikul beban penuh. Dia benar-benar monster kecil dari pesisir."

Mada hanya diam mendengarkan, melangkah dengan ritme yang sangat konstan dan teratur. Setiap kali kakinya yang telanjang menginjak batuan tajam, ia sengaja membuat tubuh jangkungnya agak terhuyung sedikit ke kiri atau ke kanan, memberikan kesan bahwa ia sedang berjuang keras untuk menjaga keseimbangan agar air di dalam embernya tidak tumpah. Namun, dengan menggunakan mata sakral Niti Sastra level dua yang diaktifkan seujung kuku, Mada sebenarnya sedang membaca seluruh titik tumpu batuan di depannya, memilih jalur yang paling tidak membuang energi otot alaminya.

Perjalanan pertama berhasil diselesaikan. Air dituangkan ke dalam gentong raksasa di kandang kuda yang baunya sangat menyengat oleh kotoran hewan. Tanpa membuang waktu, mereka harus segera berlari kembali menuju sumur untuk mengambil putaran kedua.

Memasuki putaran kedua, realitas dari hukuman seratus ember mulai mengikis kekuatan para pemuda barak nomor empat. Udara pagi yang dingin kini telah berubah menjadi gerah, bercampur dengan uap keringat yang membanjiri tubuh mereka. Beberapa pemuda desa bertubuh kurus mulai mengalami kram otot; langkah kaki mereka gemetar parah, dan air di dalam ember mereka berkali-kali tumpah membasahi celana katun kasar mereka, memaksa mereka menerima umpatan keras dari para bintara instruktur yang mengawasi di sepanjang jalur setapak.

Bahkan Ragajaya yang berada di barisan depan kini mulai merasakan akibat dari kesombongannya sendiri. Karena terlalu banyak membakar hawa murni airnya di putaran pertama demi terlihat mengesankan, sirkulasi energinya kini mulai mengalami titik jenuh yang prematur. Napasnya mulai terdengar memburu, dan pendaran riak kebiruan di pergelangan kakinya perlahan memudar, digantikan oleh ketegangan otot yang kaku.

Di sisi lain, Senopati Kudamerta ternyata tidak kembali ke ruangannya setelah membubarkan barisan. Jenderal sepuh itu berdiri di balik naungan menara pengawas tengah, melipat kedua tangannya di depan dada sambil terus mengunci fokus pandangan matanya pada pergerakan nomor nol empat puluh tujuh. Sebagai seorang ahli taktik ulung, Kudamerta tidak melihat keindahan gerakan luar, melainkan konsistensi ritme tubuh.

"Menarik sekali..." bisik Senopati Kudamerta, jemarinya mengusap dagunya yang berjanggut putih. (Anak-anak muda yang lain, termasuk si anak pesisir Ragajaya itu, langkah kaki mereka semakin melambat dan tidak beraturan seiring bertambahnya putaran. Bahu mereka miring, dan tarikan napas mereka kacau. Namun pemuda jangkung dari Hutan Tarik itu... lihat cara tumitnya menyentuh tanah. Dari putaran pertama hingga putaran ketiga ini, jejak kedalaman amblasnya telapak kakinya di atas tanah liat yang basah selalu sama persis. Tarikan napasnya disengaja terdengar memburu, namun denyut nadi di lehernya tetap bergerak dalam ketukan yang sangat stabil. Dia sedang membohongi seluruh instrukturku.)

Kudamerta menoleh ke arah seorang bintara kepercayaannya yang berdiri di bawah tangga menara. "Bintara, pergi ke ruang catatan sipil militer sekarang. Periksa kembali seluruh dokumen perkamen mengenai asal-usul pendaftaran pemuda bernama Mada dari Hutan Tarik. Saya ingin tahu siapa kepala desa yang memberikan cap rekomendasi untuknya, dan periksa apakah ada catatan mengenai keberadaan mantan perwira tua Majapahit yang hidup mengasingkan diri di dalam hutan tersebut dalam dua puluh tahun terakhir."

"Siap, Senopati!" jawab bintara tersebut sambil menjura hormat lalu segera melesat pergi meninggalkan menara pengawas dengan langkah cepat.

Sementara itu, di jalur tanjakan menuju dapur utama Barat, Mada baru saja menyelesaikan putaran ketiganya. Di depannya, Lembu Sora mendadak kehilangan keseimbangan karena kakinya tersandung sebuah batu bulat. Tubuh gemuknya terhuyung ke depan, dan bambu pikulannya hampir patah saat kedua ember penuh airnya meluncur jatuh ke tanah, menumpahkan seluruh isinya dalam sekejap.

"Sialan!" umpat Lembu Sora sambil terduduk di atas tanah, memegangi lutut kanannya yang lecet dan memar. Ia tampak sudah hampir kehabisan seluruh tenaganya dan tidak mampu lagi untuk bangkit memikul beban kembali.

Mada yang berada di belakangnya segera menurunkan pikulannya sendiri dengan gerakan yang dibuat terengah-engah hebat. Ia melangkah mendekati Lembu Sora, menampilkan wajah polosnya yang penuh dengan rasa khawatir seorang rekan sebarak.

"Tuan Lembu Sora, Anda tidak apa-apa?" tanya Mada dengan suara yang sengaja dibuat agak serak karena lelah. Ia mengulurkan tangan kanannya, membantu menarik tubuh berat Lembu Sora untuk berdiri kembali. Saat telapak tangan Mada menyentuh pergelangan tangan Lembu Sora, ia secara tersembunyi menyalurkan secuil getaran energi batin fisik alami untuk menekan titik saraf kram di bawah lutut pemuda tersebut, membuat rasa nyeri yang mengunci kaki Lembu Sora mendadak mereda dalam hitungan detik.

"Ah... terima kasih, Mada," ucap Lembu Sora sambil mengerjapkan matanya, merasa heran mengapa rasa sakit di lututnya bisa hilang dengan begitu cepat. Ia menatap Mada dengan pandangan yang sedikit berubah, tidak lagi sepenuhnya meremehkan seperti saat di dalam barak semalam. "Tubuhmu jangkung juga ada gunanya. Tapi airku tumpah semua, instruktur pasti akan menghukumku lagi."

"Mari saya bantu membawakan ember kosong Anda kembali ke sumur, Tuan," kata Mada sambil memungut dua ember kosong Lembu Sora dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap memikul bebannya sendiri. Di mata para instruktur yang mengawasi, Mada terlihat seperti seorang pemuda desa yang sangat lugu, baik hati, dan rela merepotkan diri sendiri demi membantu anak bangsawan kaya, sebuah tindakan yang semakin menenggelamkan kecurigaan orang terhadap kemampuan tempur aslinya.

(Dengan membantu Lembu Sora membawakan ember kosongnya, aku memiliki alasan logis mengapa jalanku melambat di putaran berikutnya, dan ini akan membuat Ragajaya tetap terlihat sebagai pahlawan utama kelompok yang menyelesaikan tugas paling banyak.)

Ketika matahari akhirnya naik setinggi satu penggalah dan sinarnya mulai membakar pelataran, seluruh gentong raksasa di kandang kuda dan dapur utama Barat akhirnya terisi penuh hingga ke batas lehernya. Empat puluh pemuda barak nomor empat langsung menjatuhkan tubuh mereka di atas tanah liat di tepi lapangan luar, tidak memedulikan lagi baju latihan mereka yang kotor oleh lumpur dan air apak. Mereka terengah-engah bagaikan ikan yang kekurangan air, dengan telapak tangan yang dipenuhi oleh kapalan baru yang memerah dan perih.

Ragajaya duduk bersandar pada tiang pagar jati dengan wajah yang sangat pucat dan bibir kering. Meskipun ia berhasil menyelesaikan empat putaran penuh—paling banyak di antara yang lain—seluruh sirkulasi hawa murni airnya kini benar-benar kosong melompong, membutuhkan waktu setidaknya dua hari penuh bermeditasi untuk memulihkannya ke kondisi semula.

Mada sendiri memilih untuk duduk berlutut di sudut paling pinggir, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil memegangi bahu kirinya yang sengaja digosok-gosokkan ke tiang kayu agar terlihat memerah memar akibat tekanan pikulan. Ia menarik dan mengembuskan napasnya dengan suara yang sangat keras, membiarkan debu-debu lapangan menempel di wajahnya yang basah oleh keringat palsu.

Bintara instruktur raksasa melangkah mendekati kelompok barak nomor empat, membawa sebilah cambuk kulit yang dikaitkan di pinggangnya. Ia menatap empat puluh pemuda yang terkulai lemas itu dengan senyuman dingin yang mengerikan.

"Hukuman seratus ember telah dinyatakan selesai dengan status lengkap!" teriak bintara tersebut, membuat beberapa pemuda langsung mendesah lega di dalam hati. "Namun jangan mengira kalian bisa beristirahat setelah ini! Waktu pembersihan urat raga telah selesai! Sekarang, kalian memiliki waktu sepuluh hitungan napas untuk membersihkan diri di pancuran luar, karena setelah ini, Senopati Kudamerta sendiri yang akan memimpin pelatihan dasar pembentukan barisan tempur Tamtama di lapangan utama!"

Mada perlahan bangkit berdiri bersama rekan-rekan sebaraknya, mengikuti langkah kaki mereka yang gontai menuju ke arah pancuran air. Di balik wajah keluguannya yang tampak sangat lelah dan menderita, batin Mada justru memancarkan ketenangan yang mutlak, siap memasuki fase berikutnya dari dunia militer Majapahit yang penuh dengan ketidakadilan dan intrik tersembunyi.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!