NovelToon NovelToon
Sayembara Calon Istri Sang Mafia

Sayembara Calon Istri Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

​"Tiga hari untuk melenyapkannya, atau nyawamu taruhannya."
​Kenric Vane, algojo paling mematikan dari klan The Void, tidak pernah gagal dalam misinya. Namun, target kali ini berbeda. Dr. Alana Syahira, seorang psikolog cantik yang seharusnya mati dalam kecelakaan tragis, justru menatap tepat ke matanya tanpa rasa takut di ruang eksekusi.

​Bukannya memohon ampun, Alana justru mulai membedah kegelapan di jiwa Kenric dengan manipulasi kata-kata yang mematikan. Dia adalah satu-satunya orang yang berani menantang sang predator di sarangnya sendiri.

​Di sisi lain, persaingan takhta klan The Void memanas. Sang ayah memberikan syarat mutlak, siapa pun putra Vane yang memiliki istri lebih dulu, dialah yang berhak berkuasa.

​Kenric memutuskan untuk melindungi Alana dari kejaran musuh, membawanya masuk ke dalam lingkaran hitam keluarganya. Di bawah perlindungan Kenric, Alana terjebak dalam dunia yang penuh peluru, sementara Kenric terjebak dalam perangkap kata sang psikolog.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 十三

Keheningan yang dingin, lembap, dan pekat perlahan-lahan kembali mengambil alih kekuasaan di dalam Ruang Permainan klan The Void. Suara-suara liar penuh kegilaan, tawa parau yang menjijikkan, serta deru napas memburu yang beberapa saat lalu memenuhi ruangan beton itu kini perlahan surut. Efek obat perangsang dosis tinggi buatan militer yang disuntikkan ke dalam tubuh ketiga preman tersebut akhirnya mulai mencapai titik jenuh dan menguap dari sistem saraf mereka.

Satu per satu, ketiga pria berbadan kekar itu ambruk menimpa lantai beton yang dingin tanpa sehelai benang pun. Tubuh mereka dipenuhi oleh keringat yang bercucuran deras, napas mereka terengah-engah bagai binatang yang kehabisan napas, dan seluruh energi serta kesadaran hewani mereka terkuras habis, menyisakan raga yang lemas tak berdaya.

Dari balik kaca tebal satu arah, Kenric Vane masih berdiri kokoh bagai patung dewa kematian. Kedua tangannya disilangkan di balik punggungnya yang tegap. Sepasang manik mata hitamnya yang sekelam malam menatap lurus ke dalam ruangan, mengamati pemandangan di hadapannya tanpa ada satu pun kerutan emosi di wajah kakunya. Hanya ada kilatan kepuasan yang dingin dan mati di sana. Skenario pembalasan dendam yang ia rancang dengan memanfaatkan kelemahan dan penyimpangan korbannya sendiri telah berjalan dengan sangat rapi dan presisi.

Setelah memastikan situasi di dalam ruangan benar-benar telah kondusif dan ketiga monster itu tidak lagi bergerak liar, Kenric memberikan sebuah isyarat kecil dengan anggukan kepalanya kepada Pak Herman yang berdiri siaga di sampingnya.

KLIK.

Suara mekanisme kode digital ditekan berbunyi nyaring, diikuti oleh desisan pelan dari pintu besi tebal seberat ratusan kilogram yang perlahan terbuka. Kenric melangkah masuk dengan santai, membiarkan kedua tangannya tersembunyi di dalam saku celana taktis militernya. Langkah kaki dari boots kulitnya yang berat bergaung kaku, memantul di dinding-dinding beton tanpa cat, menjadi satu-satunya suara dominan yang memecah keheningan mencekam di dalam ruangan yang berbau pengap bercampur anyir itu.

Kenric menghentikan langkahnya tepat di samping ranjang besi, tempat di mana tubuh Selin terikat tanpa daya. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, menyorotkan pandangan matanya yang tajam untuk mengamati hasil karya dari permainan ronde pertama yang baru saja usai. Menyaksikan kondisi fisik Selin saat ini, sebuah seringai tipis yang sarat akan kekejaman terukir samar di sudut bibir sang mafia.

Kondisi wanita itu benar-benar hancur lebur, baik secara fisik maupun mental. Keputusan Kenric untuk membiarkan akal sehat Selin tetap utuh tanpa pengaruh obat terbukti menjadi bentuk penyiksaan yang paling jahanam. Sepanjang permainan brutal itu berlangsung, Selin terpaksa harus menelan bulat-bulat trauma psikologis, rasa jijik yang luar biasa, serta rasa sakit fisik yang mendalam tanpa ada redaman atau anestesi zat kimia sedikit pun.

Kedua pergelangan tangan dan pergelangan kakinya tampak memerah pekat, membengkak, lecet, bahkan mengeluarkan rembesan darah segar yang mengalir tipis ke sela-sela jemarinya akibat gesekan kasar dari ikatan tali kulit yang menahannya dengan sangat kencang selama ia meronta pasrah di atas ranjang besi tersebut.

Dress sutra mahal yang awalnya melekat anggun di tubuh Selin kini telah robek total hingga tak berbentuk, menyisakan carikan kain tak berguna di lantai. Di atas kulitnya yang terekspos dan bersimbah keringat, tampak jelas bercak-bercak merah padam keunguan serta bekas cambukan memanjang yang mulai menghitam efek dari aksesoris sadis yang dengan liar digunakan oleh preman bertato kalajengking selama kehilangan akal sehatnya. Di bagian bokong dan paha belakangnya pun terlihat memar kebiruan yang sangat kontras karena hantaman-hantaman keras tanpa ampun yang ia terima selama permainan tiga lawan satu itu berlangsung.

Kenric mengalihkan pandangannya ke atas, menatap wajah Selin. Wajah yang biasanya selalu dihiasi oleh riasan tebal dan senyuman angkuh itu kini tampak berantakan luar biasa. Rambutnya kusut masai menempel di dahi dan pipinya yang basah oleh air mata serta keringat dingin. Bibir Selin tampak robek dan pecah di beberapa bagian, menyisakan sisa darah kering yang mengalir ke dagunya akibat ciuman kasar dan pembungkaman paksa dari para preman yang hilang kendali. Saat merasakan kehadiran Kenric, Selin hanya mampu menggerakkan bola matanya dengan sangat lambat, melirik lemah ke arah pria itu dengan tatapan yang sepenuhnya kosong, redup, dan dipenuhi rasa putus asa yang teramat dalam.

"Tuan Besar, apakah kita harus memerintahkan tim medis untuk membersihkan mereka sekarang, atau langsung membuang sisa-sisa ini ke perbatasan?" tanya Pak Herman dengan suara datar tanpa emosi dari posisi berdiri di belakang Kenric.

Kenric mengangkat satu tangannya perlahan, memberikan perintah mutlak untuk menahan tindakan apa pun. "Lepaskan semua ikatan mereka. Biarkan mereka beristirahat di dalam ruangan ini."

Selin yang mendengar kata istirahat keluar dari mulut pria itu sempat mengembuskan napas lemah yang gemetar. Di dalam benaknya yang sudah hancur, muncul sebersit harapan konyol bahwa penderitaan jahanam ini akhirnya telah selesai. Ia mengira bahwa ia akan segera dibebaskan, atau setidaknya dieksekusi mati dengan cepat demi mengakhiri seluruh rasa sakit yang mendera tubuhnya.

Namun, harapan Selin seketika dihantam jatuh ke dasar neraka terdalam. Kenric Vane bukanlah seorang pria yang memiliki setitik pun rasa kasihan atau kemanusiaan di dalam hatinya. Memberikan mereka jeda untuk beristirahat bukanlah bentuk dari sebuah belas kasih, melainkan sebuah taktik psikologis yang jauh lebih kejam dan terencana. Kenric tahu betul, jika ia membiarkan para preman dan Selin terus melanjutkan permainan dalam kondisi tubuh yang sudah setengah sadar, lemas, dan kehabisan tenaga, maka permainan itu tidak akan lagi terasa seru, menantang, dan memuaskan bagi standarnya yang tinggi. Pria itu sengaja ingin tubuh mereka pulih sedikit, dan mental mereka mengumpulkan sisa kewarasan, hanya untuk kembali dihancurkan berkeping-keping di ronde berikutnya.

Kenric melangkah satu tapak lebih dekat, berdiri tepat di atas kepala Selin yang terkulai lemas di atas dinginnya ranjang besi. Ia menatap wanita itu dari ketinggian dengan sepasang mata yang sedingin es kutub, lalu menunduk sedikit untuk membisikkan sebuah kalimat dengan suara baritonnya yang rendah, berat, namun menggema penuh ancaman mematikan yang merenggut habis seluruh sisa harapan hidup yang sempat tersisa di dada Selin.

"Kita akan berjumpa lagi besok untuk permainan kedua dariku." bisik Kenric dengan nada suara yang begitu tenang, namun justru terdengar seratus kali lebih mengerikan daripada bentakan kemarahan faksi musuh mana pun. "Selamat beristirahat, Jalang... dan semoga kalian semua akan tetap hidup serta mampu bertahan sampai aku merasa puas untuk bermain dengan kalian."

Setelah melontarkan kalimat kutukan yang meremukkan sisa mental korbannya, Kenric berbalik arah tanpa menunggu respons apa pun. Ia melangkah lebar meninggalkan Ruang Permainan dengan jubah hitamnya yang berkibar pelan tertiup angin koridor. Pintu besi tebal kembali tertutup rapat dengan suara dentuman keras yang menggema, meninggalkan Selin yang seketika menangis histeris tanpa mampu mengeluarkan suara, tubuhnya gemetar hebat di atas ranjang besi, terperangkap dalam teror baru yang membayangkan kegilaan neraka esok hari yang dipastikan akan jauh lebih menyiksa.

Hayyy, maaf yaa beberapa hari kemarin aku gak update, jagoanku lagi sakit kata dokter sih gelaja tipes. Makanya aku fokus sama kesehatan jagoanku dulu kemarin. Makasih yaa yang masih selalu setia menantikan aku update, buat kalian pembaca setia yang selalu memantikan penulis recehan ini update sayang banyak banyak untuk kalian semuaa❤️❤️🥰😘

1
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
dah mampir aku
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
lahhh, digantung /Right Bah!//Right Bah!/ tau ah.. mau ngambek /Right Bah!//Right Bah!/
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥: yaudah, aku mau ngambek aja/Right Bah!//Right Bah!/
total 4 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
suka2 kau lah kak... mau kau tamatkan di tengah hutan pun aku diam duduk manis di sini😉 aku masih save kok no wa mu biar ku maki kau lewat wa
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: cihhhh laki mu emang sesat... nyaranin gantung di tengah hutan
total 2 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤣🤣🤣 naif kamu Alana.... orang klo dah menilai buruk akan terus menilai buruk ke depan nya juga... jaman sekarang penampilan itu akan di pandang sebelah....
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥
cih, hanya pelayan aja sombongnya minta ampun, lebih baik pecat aja tuh pelayan daripada merugikan butik itu sendiri/Drowsy/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣🤣 11 12 dasarrr
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Sepertina bibit2 cinta mulai anu 😅
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Kasian juga si Cene
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Kandidatna ga ada yg bener 🤣🤣 dah lah balik lagi ke Alana aja
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Maaf kamei aku lupa 😅🤭
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
/Joyful//Joyful//Facepalm/🤣🤣🤣 Alemong si Alana 🤣🤣/Facepalm//Facepalm/
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
Mangat bayang2 dada bidang nya
°RhaiKen™
ahayyy... kerasukan hantu bucin kak...🤣🤣
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kerasukan hantu cinta
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
nda pp kok bobo berdua🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kamu cinta dia juga ngga PP.... buat apa coba menyelamatkan nyawa target kalau ngga ada love love🤣
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤭🤭🤭 boleh ku sebut kasar ngga si Celana itu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: ngeselin
total 2 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤣🤣🤣 Ken kalau kata aku mah ya... kontrak Author mu dulu, dia pas kok
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: bantuin loh ya🤭 bukan selingan 🏃🏃🏃😉
total 4 replies
°RhaiKen™
/Curse//Curse//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ astagaa...sakit perut aku ikut ketawa...
kak semangat trz up nya y...✌️
°RhaiKen™: Iyah kak gpp.. semoga sehat selalu 🥰
total 2 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
/Shy//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ entah aku harus kasihan atau tertawa Ken🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: dihhh kau nda terima? sini majuuuu...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!