NovelToon NovelToon
Setelah cerai, CEO mengejar kembali mantan istri pengganti

Setelah cerai, CEO mengejar kembali mantan istri pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Berbaikan / Anak Genius / Pengganti / Penyesalan Suami / Pelakor jahat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Prabowo

Alya Putri menjalani pernikahan kontrak empat tahun dengan miliarder Rizky Aditya, hanya karena wajahnya yang mirip dengan Kezia Angelica, cahaya bulan putih yang dicintai Rizky. Ketika Kezia kembali, Rizky segera menyiapkan perjanjian perceraian dan menawarkan kompensasi besar, menganggap hubungan mereka hanya transaksi uang dan tubuh.
Namun, Alya yang awalnya hanya mengejar uang telah jatuh cinta mendalam pada suaminya. Lebih buruk lagi, dia menemukan dirinya hamil, tetapi Rizky dengan kejam memerintahkannya untuk menggugurkan anak itu. Di tengah tekanan ipar yang membenci dan skandal wanita lain, Alya harus memilih antara menyerahkan segalanya atau berjuang untuk cinta dan anaknya, sementara Rizky mulai menyadari bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Alya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Perjalanan pulang dari rumah Tina terasa berbeda dari biasanya. Alya menyandarkan kepala ke jendela mobil, memandangi lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu di bawah langit senja. Kata-kata Tina masih bergema di benaknya — bahwa persahabatan sejati tidak perlu ikatan darah untuk terasa seperti keluarga. Alya tahu itu benar. Selama bertahun-tahun, Tina-lah yang menerimanya apa adanya, yang tidak pernah memandangnya dari sudut kekayaan atau status. Itulah satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli oleh uang Rizky.

Mobil masuk ke area parkir bawah tanah apartemen di jantung kota. Alya melirik jam di dasbor — hampir setengah delapan malam. Dia tidak terburu-buru naik ke atas. Rizky pasti masih terjebak di pertemuan bisnisnya, mungkin sedang makan malam di restoran dengan para rekan atau klien penting, lengkap dengan wine pilihan dan senyum yang dirancang untuk memenangkan kesepakatan. Kehidupan yang tidak pernah benar-benar melibatkan Alya.

Lift membawanya naik ke lantai dua puluh tiga. Ketika Alya menekan tombol pintu dan melangkah masuk, langkahnya terhenti sebentar.

Lampu ruang tamu menyala terang.

Rizky duduk di sofa dengan satu kaki disilangkan di atas lutut yang lain, memegang gelas tinggi berisi anggur merah. Pergelangan tangannya bergerak pelan, mengocok cairan di dalam gelas dengan gerakan yang santai dan terbiasa. Dia melirik ke arah pintu ketika Alya masuk, tatapannya tidak menunjukkan kejutan, juga tidak antusias — hanya tenang, seperti orang yang memang sudah menunggu dan tahu kedatangannya hanya soal waktu.

Alya berdiri sejenak di ambang pintu, kemudian melanjutkan langkahnya masuk. Senyumnya muncul wajar, tidak terlalu lebar, tidak pula dipaksakan. Dia mencopot sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah yang tersimpan di rak dekat pintu.

"Kukira kamu ada pertemuan bisnis malam ini," katanya sambil menekan ujung sandal ke lantai, memastikan posisinya pas.

Rizky tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya, matanya mengikuti gerak Alya dari pintu ke sofa. "Kamu dari mana? Kok baru pulang sekarang?"

Alya berjalan mendekati sofa dan tanpa basa-basi langsung duduk di pangkuan Rizky. Satu tangannya melingkar ke belakang lehernya, tubuhnya bersandar ringan ke dadanya. Postur tubuhnya longgar, cara orang yang sudah terbiasa melakukan ini — bukan karena cinta, tapi karena kebiasaan.

"Kangen ya, sampai pulang lebih awal?" tanyanya, nada suaranya mengandung godaan ringan.

Rizky meletakkan gelasnya di meja kopi. Tangannya melingkari pinggang Alya, menopangnya agar tidak jatuh. Matanya menatap wajahnya dari dekat, dengan tatapan yang sulit dibaca — campuran dari sesuatu yang hangat dan sesuatu yang terkalkulasi.

"Kamu tiba-tiba manis begini," katanya, "biasanya kalau minta sesuatu."

Alya tertawa kecil. "Uang saku yang kamu kasih bulan ini sudah cukup buat aku belanja tanpa berhenti selama setahun penuh." Dia menyenggol bahunya dengan santai. "Bukan itu."

Tapi di balik tawanya, ada sesuatu yang sedikit lebih dingin di ujung matanya — kilatan yang datang dan pergi sebelum Rizky sempat memperhatikannya.

Alya mendekatkan wajahnya ke leher Rizky, menghirup baunya sebentar. Parfum yang sama yang selalu dipakainya — berat, maskulin, mahal. Tapi ada bau lain yang samar, campuran asap rokok dari ruangan tertutup, mungkin lobby hotel atau ruang konferensi yang penuh orang.

"Kamu sudah minum tadi, ya?" Dia menarik diri sedikit, menatapnya dengan ekspresi iseng. "Pesta tadi ramai? Banyak wanita cantik?"

"Selalu ada."

"Tidak ada yang dibawa pulang?"

Rizky menatapnya dengan ekspresi yang sukar ditebak, kemudian sudut bibirnya terangkat sedikit. "Lebih baik menemani kucing malas ini di rumah."

Alya tersenyum. Senyum yang sempurna, proporsional, tidak berlebihan. Tapi sesuatu di dalam dadanya mulai bergerak ke tempat yang tidak nyaman.

"Kalau begitu, lain kali bawa aku ikut," katanya, memainkan kancing kemeja Rizky dengan ujung jarinya. "Aku bisa jadi kucing Persia di sampingmu. Bersinar, tidak memalukan."

Rizky menangkap tangannya, bukan kasar, tapi tegas. Matanya menatapnya lurus.

"Kamu di rumah saja."

Hanya empat kata. Diucapkan dengan nada yang sama seperti orang memberi instruksi kepada seseorang yang pekerjaannya memang menunggu di rumah. Bukan larangan yang penuh perhatian. Bukan kekhawatiran. Hanya — keputusan yang sudah lama dibuat dan tidak perlu diperdebatkan lagi.

Alya merasakan sesuatu di dalam dirinya seperti lampu yang tiba-tiba dimatikan.

Dia tahu ini. Dia selalu tahu ini. Tapi mendengarnya diucapkan dengan cara seperti itu — di ruang tamu apartemen yang mereka tinggali bersama, dengan tangannya masih memegang pergelangan tangannya — terasa berbeda malam ini. Di hati Rizky, tidak ada tempat untuknya di sana. Tidak di meja pertemuan. Tidak di acara-acara yang membentuk hidupnya. Dia tinggal di sini, dia makan di sini, tapi dia tidak pernah benar-benar ada dalam kehidupan Rizky yang sesungguhnya.

Alya bangkit berdiri.

Gerakannya cepat tapi tidak dramatis — dia tidak membanting tangannya, tidak melempar bantal, tidak mengucapkan sesuatu yang akan menjadi senjata. Dia hanya berdiri, menarik ujung bajunya ke bawah, dan menatap titik di luar jendela sebentar.

"Aku capek," katanya. Suaranya datar, jauh, seperti orang yang berbicara dari balik kaca. "Seharian jalan-jalan. Mau mandi dulu, terus tidur."

Sebelum Rizky sempat merespons, dia sudah berbalik dan menaiki tangga ke lantai atas. Langkahnya teratur, tidak terburu-buru. Dan ketika pintu kamar tidur tertutup di belakangnya, bunyinya keras — bukan bantingan yang histeris, tapi cukup keras untuk terdengar sampai ke bawah.

Lalu klik kecil dari kunci yang diputar.

Rizky tetap duduk di sofa selama beberapa menit. Matanya tertuju pada tangga, kemudian beralih ke gelas anggur yang setengah kosong di atas meja. Tatapannya tidak kosong — ada sesuatu yang bekerja di baliknya, sesuatu yang kompleks dan tidak mudah dinamai.

Dia meletakkan gelas itu, berdiri, dan naik ke atas.

Di depan pintu kamar tidur, tangannya terangkat dan menyentuh gagang pintu. Dingin di telapaknya. Dia menekan ke bawah — terkunci.

Rizky mengernyitkan dahi. Dia tidak terbiasa dengan ini. Pintu itu tidak pernah dikunci sebelumnya, setidaknya tidak dari dalam dengan cara seperti ini — cara yang mengumumkan sesuatu.

"Alya." Suaranya rendah, terkontrol.

Tidak ada jawaban dari dalam. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada suara air, tidak ada apapun.

Rizky menunggu. Satu menit, mungkin lebih. Kemudian kepalannya mengetuk pintu, tiga kali, dengan tekanan yang lebih kuat dari sebelumnya.

"Jangan bertingkah. Buka pintunya."

Pintu kamar tidur tidak bergerak.

Di balik pintu itu, Alya duduk di tepi ranjang dalam gelap. Punggungnya tegak, tangannya bertumpu di pahanya, matanya memandang ke depan tanpa melihat apapun. Dia mendengar suara ketokan itu — mendengar namanya dipanggil dengan nada yang mengandung ketidaksabaran dan sedikit ketersinggungan. Nada seorang laki-laki yang tidak terbiasa tidak dituruti.

Biasanya, dia akan bangkit. Membuka pintu, menyambut dengan senyum, membiarkan segalanya mengalir kembali ke tempatnya. Karena begitulah cara dia bertahan — dengan tidak membuat gelombang yang terlalu besar.

Tapi malam ini, Alya tidak bangkit.

Dia hanya duduk di sana, di kamar yang gelap, di dalam kehidupan yang tidak pernah benar-benar miliknya, dan membiarkan pintu itu tetap terkunci.

Di luar, langkah Rizky berhenti. Keheningan mengisi celah di bawah pintu — keheningan yang berbeda dari biasanya, yang bukan sekadar absennya suara, melainkan kehadiran sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya di antara mereka.

Rizky berdiri di sana, di lorong yang remang, dengan tangan yang tergantung di sisinya dan ekspresi di wajahnya yang tidak akan bisa dilihat oleh siapapun malam ini.

1
lyani
yg ada situ nggak tau malu
lyani
penulisan yg bagus dengan mempermainkan perasaan tiap pemilihan kata.
lyani
syedihhhhh
Anonim
Kapan episode baru?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!