Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Rahasia Zevanya
Suasana mal yang tenang mendadak riuh oleh suara teriakan Clarissa.
Arkan, yang kebetulan sedang melintasi area tersebut,
menghentikan langkahnya saat melihat clsrissa dan kerumunan orang.
Di depan mata arkan, Clarissa tampak kalap menyerang seorang wanita yang terduduk lemas di lantai.
Tanpa membuang waktu, Arkan menerobos kerumunan dan menarik bahu Clarissa.
"Hentikan, Clarissa! Apa yang sedang kamu lakukan?!" bentak Arkan dengan suara berteriak.
Clarissa tersentak, wajahnya yang merah padam seketika berubah pucat saat melihat arkan datang.
"Arkan? Sayang... kamu ngapain ada di sini?" tanyanya gagap,
mencoba menutupi kegilaannya dengan senyum manja yang dipaksakan.
Zevanya, yang masih terduduk menahan sakit, mendongak.
Matanya bertemu dengan mata tajam milik Arkan.
Pria ini? batin Zevanya.
Dia pria yang tempo hari tidak sengaja menabrakku di depan gedung Mahendra. Jadi, karena lelaki ini wanita ini mengamuk? Dia calon suaminya?
Namun, saat Arkan berdiri cukup dekat, sebuah aroma menyeruak masuk ke indra penciuman Zevanya.
Jantungnya seolah berhenti berdetak. Aroma ini... maskulin dan dingin.
Ini aroma yang sama dengan pria mabuk yang meniduriku di hotel malam itu! meski aku ga bisa memastikan hanya karna aroma yang sama dan ucapan tentang nama mahendra yang di sebut oleh pria itu.
Di saat yang sama, Arkan menunduk menatap Zevanya.
Ingatannya berputar cepat pada kejadian di depan kantornya.
Wanita ini... yang membawa vitamin kehamilan tempo hari.
Dan aroma tubuhnya... lembut seperti bunga yang mekar di musim hujan.
Aroma yang sama dengan wanita sejak malam di hotel itu.
"Clarissa, ada apa denganmu?!" Arkan kembali menuntut penjelasan, suaranya merendah namun penuh ancaman.
"Aku cuma mau memberi dia pelajaran, Arkan! Aroma badannya yang murahan itu menempel di jasmu waktu itu!"
teriak Clarissa.
"Aku sudah bilang, Clarissa! Itu murni ketidaksengajaan. Aku bahkan tidak mengenal wanita ini!"
Arkan menatap tajam ke arah name tag yang tersemat di seragam kerja Zevanya. Matanya menyipit membaca satu nama: ZEVANYA.
Jadi, namanya Zevanya... dalam batin arkan.
"Aku tidak peduli! Tidak boleh ada wanita mana pun yang sengaja menyentuhmu, Arkan!" Clarissa masih bersikeras.
"Cukup, Clarissa! Tindakanmu ini benar-benar berlebihan dan memalukan!" Arkan menatap Clarissa dengan pandangan muak.
Zevanya berusaha berdiri sambil memegangi tangannya yang memar.
"Maaf sebelumnya, Nona. Saya sudah menjelaskan bahwa itu ketidaksengajaan. Tolong, Tuan dan Nona selesaikan masalah kalian sendiri. Jangan libatkan saya, saya hanya ingin bekerja dengan tenang."
Clarissa hendak membalas, namun Arkan memotongnya dengan kalimat yang menghujam jantung.
"Dengar Clarissa, kamu itu pilihan ayahku, bukan pilihanku! Jadi berhenti bersikap seolah-olah kamu sudah menjadi istriku. Melihat kelakuanmu yang seperti ini, aku semakin yakin kalau kamu sama sekali bukan wanita baik-baik!"
Tanpa memedulikan wajah Clarissa yang hancur karena malu, Arkan mengulurkan tangannya pada Zevanya.
"Nona, mari saya antar. Tanganmu terluka, biar saya obati."
Zevanya mundur selangkah, menolak sentuhan itu dengan halus namun tegas.
"Tidak perlu, Tuan. Saya baik-baik saja. Permisi."
"Arkan! Apa-apaan kamu?! Kamu berani memegang tangannya di depanku?!" bentak Clarissa
Arkan tidak menoleh sedikit pun. "Kenapa? Apa ada masalah denganmu? Mulai sekarang, berhenti mencari masalah konyol seperti ini atau kamu akan menyesal."
Arkan langsung melangkah pergi meninggalkan kekacauan itu.
Clarissa berteriak frustrasi, suaranya melengking memenuhi lobi mal,
sebelum akhirnya ia berlari mengejar langkah Arkan yang semakin menjauh.
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪