Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Di ruang bangsal yang hening Laura duduk di atas ranjangnya sambil memegang ponsel, wajah cerianya seakan memberitahukan bahwa awan kelabu telah berlalu, kedua matanya fokus, sedang jari tangannya gesit menulis beberapa tulisan di layar yang menyala:
"Aku sangat bersyukur dengan kondisiku sekarang, luka begitu cepat mengering, goresan begitu cepat memudar, cemberut begitu cepat berganti senyum. Meski dua sahabatku telah tiada, meski petaka di depan sana tak dapat kuprediksi, tetapi setidaknya aku memiliki kekuatan untuk segera pulih, dan kekuatan untuk dapat menerima. Awalnya sulit, namun aku terus belajar, kedua kakiku masih dapat berdiri tegak, menopang untuk melangkah ke arah yang harus kuperjuangkan. Aku tidak akan menyerah, aku berjanji...!!"
Ketika Laura menunjukkan fase akhir pemulihan, sesuatu yang lain terjadi berlawanan, sangat kontras.
Di antara dinding putih gading, aroma antiseptik yang menusuk hidung, dan suara monitor yang berdetak monoton. Semua itu adalah realitas yang bagi Amelia sangat tidak menyenangkan. Setelah serangan depresinya memuncak, setelah berbagai kengerian yang ia jumpai, setelah kematian sahabatnya secara tragis, dan setelah ia harus melewati hari demi hari terdampar di pulau yang nyaris tanpa harapan. Kini ia merasa kembali mendapati dirinya di titik perasaan dejavu yang sama, perasaan itu seakan datang sekali lagi. Matanya menerawang mendapati dirinya terdampar di ranjang rumah sakit, terasing sebanyak dua kali dari dunia luar yang pernah ia kenal. Selimut tebal yang menutupi tubuhnya terasa seperti beban, menjebaknya dalam kegelapan pikirannya sendiri.
Dua hari di rumah sakit baginya serasa dua pekan. Setiap menit baginya adalah perjuangan. Detik dan jam berbaur menjadi satu tanpa ada perbedaan yang berarti. Amelia mulai menolak makanan, menolak berbicara, menolak sentuhan, menolak nasehat dokter dan kedua orangnya. Janjinya kepada Laura telah seakan sirna bagai garam dalam air mendidih. Tatapannya kian kosong, terfokus pada titik tak tentu di langit-langit, seolah mencari jawaban atas penderitaannya yang tak berujung. Para perawat dan dokter pilihan datang silih berganti, mencoba meyakinkannya, memberinya obat, namun semua sia-sia. Ia merasa seperti kapal yang terombang-ambing di lautan badai, tanpa harapan untuk mencapai daratan.
Puncaknya terjadi pada suatu malam yang gelap. Amelia merasa jiwanya tercabik-cabik oleh rasa sakit yang tak tertahankan. Bayangan Ariana tiba-tiba muncul di depan matanya, raut yang menunjukkan pandu, menyuruh tanpa kata-kata, tetapi itu sangat kuat merasuk dalam jiwa. Dalam kegelapan dan keputusasaan, Amelia merasa bahwa ini adalah saatnya, ia lalu mencari cara untuk melampiaskan kekacauan. Tangannya merayap seperti laba-laba, meraba sesuatu yang bisa ia rasakan, sesuatu yang nyata. Ia menemukan kuku-kukunya, dan tanpa berpikir panjang, Amelia mulai menggaruk wajahnya sendiri. Awalnya pelan, lalu semakin cepat, semakin dalam. Rasa perih itu seakan menjadi satu-satunya hal yang bisa ia rasakan, satu-satunya bukti bahwa ia masih hidup.
Darah mulai menetes di antara kulit yang terkelupas, namun ia tidak berhenti. Entah bagaimana, tetapi ia membuka rahang mulutnya lebar-lebat, dan mulai menggigit kaki ranjang yang terbuat dari pipa besi. Perbuatannya itu berhasil mematahkan hampir seluruh gigi depannya, sebuah tindakan kekerasan yang tak terduga. Rasa sakit itu seolah menjadi teman, memecah kesunyian yang mencekam.
Belum puas, jari tangannya kemudian mulai mencabut bulu matanya satu per satu, setiap cabutan disertai dengan desahan pilu. Wajahnya yang dulu cantik kini penuh luka, matanya menggundul kehilangan lentik, dan giginya ompong. Ia telah menghancurkan dirinya sendiri, mencari pembebasan dari penderitaan yang tak terlihat.
Meskipun tubuhnya terluka parah, luka yang paling dalam adalah luka di jiwanya. Di situlah citra Ariana turut menggoresnya, lalu perlahan lenyap membaur dalam suram. Peristiwa itu menjadi titik balik, sebuah pengingat brutal akan kegelapan yang bisa ditimbulkan oleh depresi. Amelia kini membutuhkan lebih dari sekadar perawatan fisik; ia membutuhkan seseorang untuk membimbingnya keluar dari labirin penderitaannya, untuk menunjukkan padanya bahwa masih ada cahaya di ujung terowongan panjang.
Peristiwa malam itu mengguncang seluruh tim medis. Amelia yang sebelumnya hanya terperangkap dalam apatis, kini menunjukkan perilaku yang jauh lebih mengkhawatirkan. Sekali lagi, luka-luka di wajahnya, gigi yang patah, dan bulu mata yang tercabut menjadi pengingat mengerikan akan kedalaman penderitaannya. Ia segera dipindahkan ke ruangan isolasi yang lebih aman, dengan jendela berjeruji, furnitur yang minimalis, dan pengawasan kamera 24 jam. Setiap benda tajam disingkirkan, bahkan sikat gigi pun harus dalam pengawasan.
Namun, pembatasan fisik tidak mampu menghentikan badai di dalam dirinya. Depresi Amelia bukan sekadar kesedihan, melainkan sebuah entitas gelap yang merasuki setiap lokus tubuhnya, membisikkan bahwa ia pantas merasakan sakit, bahwa ia harus dihukum. Cermin di kamar mandi ditutupi, karena setiap kali ia melihat pantulan dirinya, ia melihat monster yang harus dihancurkan.
Kali ini fokusnya beralih. Dalam keputusasaan yang sunyi, Amelia mulai menggigit-gigit kukunya hingga berdarah, lalu mengorek kulit di sekitar jarinya hingga luka terbuka. Ketika perawat menemukan jari-jarinya berdarah, dan ia tidak menunjukkan reaksi apa pun selain tatapan kosong. Obat penenang diberikan, namun efeknya hanya sementara. Pada suatu pagi, Amelia ditemukan dengan tangan yang memar dan goresan-goresan merah di lengan, bukti bahwa ia telah memukul dan mencakar dirinya sendiri saat tidak ada yang melihat.
Setiap kali ia melukai dirinya, seolah ada sensasi aneh yang mengiringinya.... sekejap kelegaan yang langsung diikuti oleh gelombang penyesalan dan rasa jijik yang lebih besar. Ia benci apa yang ia lakukan, namun dorongan itu begitu kuat, begitu mendesak, begitu licin, begitu membuatnya penasaran, seperti suara yang tak bisa ia lawan. Suara itu berbisik seperti seorang hakim di pengadilan otaknya, "Kau tidak layak. Kau pantas merasakan ini."
Dokter-dokter spesialis dari Jakarta didatangkan, terapi diintensifkan. Mereka mencoba berbagai pendekatan: terapi bicara, obat-obatan baru, hingga terapi seni. Namun, Amelia tetap seperti patung es, dingin dan tak tersentuh. Ia akan duduk diam selama sesi terapi, sesekali mengeluarkan gumaman yang tidak jelas, seolah-olah pikirannya berada di tempat yang jauh, terjebak dalam lingkaran malang yang tak berkesudahan.
Kedua orang tuanya, termasuk Laura sahabatnya yang sudah dalam kondisi sembuh total, mencoba menahan air mata mereka di depannya. Ibunya memeluknya erat, menciumi keningnya, membisikkan kata-kata cinta dan dukungan. Begitu pula Laura, ia berusaha berkali-kali menyadarkan ingatan Amelia. Namun, sentuhan dan ucapan itu tidak sampai. Ia hanya menatap hampa, seolah ibunya dan Laura sahabatnya adalah orang asing. Perilaku melukai diri itu bukan lagi sekadar pelampiasan, melainkan sebuah ritual sunyi, sebuah cara untuk merasakan sesuatu, apa pun itu, di tengah mati rasa yang mematikan.
Tim medis mulai membahas kemungkinan penggunaan alat pelindung fisik yang lebih ketat, sebuah keputusan berat yang menunjukkan betapa putus asanya mereka untuk menjaga Amelia tetap aman dari dirinya sendiri. Pertanyaan besar yang menghantui semua orang adalah: "Akankah Amelia menemukan jalan keluar dari kegelapan ini, ataukah ia akan terus tenggelam dalam jurang penderitaannya?"
Suara dokter menembus tirai kegelapan yang menyelimuti Amelia, berusaha mencapai kesadarannya. "Amelia," Dokter Ardianto, psikiater yang bertanggung jawab atas kasusnya, berbicara dengan nada lembut namun tegas, "Saya tahu ini sulit. Tapi kami di sini untuk membantumu. Kamu tidak sendiri." Ia duduk di samping ranjang Amelia, menjaga jarak yang menghormati ruang pribadinya, namun cukup dekat untuk menunjukkan kehadirannya. Matanya memancarkan ketenangan profesional, namun juga secercah keprihatinan yang tulus.
Amelia hanya melirik sekilas, tatapannya hampa dan buram. Pergelangan tangannya yang baru saja diperban karena goresan tampak kontras dengan sprei putih bersih. Dirinya menarik napas pendek, menandakan setiap hembusan adalah beban yang sesak. Dokter Ardianto melanjutkan, "Kami melihat kamu terluka, Amelia. Kami tahu kamu merasa sakit. Tapi menyakiti dirimu sendiri tidak akan membuat rasa sakit itu hilang, justru akan menambahnya." Sang dokter tidak mengharapkan jawaban instan, ia hanya menanamkan benih pengertian, berharap suatu saat nanti benih itu akan tumbuh dan berbunga kesadaran.
Tak lama kemudian, pintu kamar isolasi terbuka perlahan. Ayah dan Ibunya, termasuk Laura, ketiganya masuk, wajah mereka merundung campuran kecemasan, kelelahan, dan kesedihan. Mereka telah melalui hari-hari penuh tekanan harap sejak Amelia dirawat lebih ketat, setiap panggilan telepon dari rumah sakit adalah cambuk ketakutan. Ibunya dengan langkah hati-hati perlahan mendekati ranjang putinya. Ia melihat wajah Amelia yang semakin tirus, tatapan matanya yang hambar, dan perban di pergelangan tangannya yang menjadi aksesoris.
"Sayang..." suara Ibunya bergetar, ia mencoba memegang tangan putrinya, namun Amelia menariknya menjauh dengan gerakan reflek yang lemah. Ibunya merasakan hati yang teriris. Dulu, tangan itu selalu menyambut pelukannya. Sekarang, tangan itu menolaknya. Dulu, tangan itu pandai membelainya. Sekarang, tangan itu pandai mengabaikannya.
Laura berdiri di ambang pintu, matanya yang sempat berbinar kini berkaca-kaca. Melihat sahabat satu-satunya yang masih tersisa dalam kondisi seperti ini; terluka dan terasing, adalah siksaan lain yang muncul dari arah yang sebenarnya tidak ingin ia lihat. Begitu pula dengan ayahnya Amelia, ia merasa tak berdaya, tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan permata hatinya. Sungguh, melihat bunga terindah yang ia tanam kemudian layu, adalah pukulan pilu bagi seorang ayah yang telah memupuk putrinya dengan cinta. Ia lalu mencoba menenangkan istrinya, menepuk bahunya, namun matanya tak lepas dari Amelia. Di tengah kecemasan yang memuncak, ia ingin berteriak, mengapa ini terjadi pada putriku? Apa yang salah?
Dokter Ardianto melihat interaksi yang menyakitkan itu. Ia menoleh pada orang tua Amelia, termasuk Laura. "Kami tahu ini sangat sulit bagi Bapak dan Ibu, dan bagi siapapun," katanya pelan. "Perilaku Amelia ini adalah bagian dari perjuangan melawan depresinya. Ini bukan berarti dia tidak mencintai kalian. Dia hanya sedang tersesat di dalam dirinya sendiri."
Ibunya, meski air mata membasahi pipinya, mencoba berbicara lagi kepada putrinya. "Amelia, Nak... Kami di sini. Kami tidak akan meninggalkanmu. Kami akan berjuang bersamamu." Ia berlutut di samping ranjang, matanya sayu menatap ke arah mata Amelia, berharap bisa menemukan percikan kehidupan normal di sana.
Laura kemudian melangkah kian mendekat ke sisi ranjang, ia tidak berkata apa-apa, akan tetapi tatapan matanya berbicara dalam hening, ia menyampaikan dalam hatinya, sebuah sapa dan pengharapan, sebuah dorongan lembut dan intuisi internal yang memancarkan gelombang cinta yang tak terlihat.
Di saat yang sangat intens, Laura tiba-tiba melihat wajah Ariana di wajah Amelia, lapisan wajah yang tak asing itu seakan menyatu, membuat dirinya hampir membelalak mata, akan tatapi Laura mencoba meredam suasana keterkejutannya. Beberapa kali kedipan mengembalikan apa yang seharusnya, menekan perasaan bahwa apa yang tadi ia saksikan mungkin hanya sebuah kebetulan dari efek kerinduan yang masih sangat membekas.
Amelia merasakan kehadiran mereka, mendengar suara mereka. Ada bagian kecil dalam dirinya yang merespon, sebuah riak samar di lautan mati rasa. Namun, tembok tebal keputusasaan terlalu tinggi untuk dirobohkan dengan mudah. Ia tidak mampu membalas pelukan ibunya, tidak mampu memberikan senyum kepada ayahnya, tidak mampu meluruskan tatapan ke arah Laura sahabatnya. Ia hanya memasang raut datar seperti papan, terperangkap di antara dunia nyata dan lembah penderitaan batinnya.
"Bapak dan ibu tidak perlu bersedih, Amelia sudah menunjukkan sedikit tanda menuju kesembuhan, ia hanya perlu warku, satu hal yang dapat kalian lakukan saat ini, bersabar menunggu dengan tangan mengulur doa." Ucap Laura menghibur kedua orang tuanya Amelia.
"Malam ini saya sudah dapat meninggalkan rumah sakit, hanya saja saya bersama orang tua memilih menginap di hotel untuk dua atau tiga hari. Sebab dengan kondisi Amelia, saya tidak mungkin pergi meninggalkannya begitu saja." Tambah Laura lembut menuturkan.
"Baiklah nak Laura, kamu sudah sangat membantu, kami sangat berterimakasih." Balas ibunya Amelia, "Sampaikan juga rasa terimakasih kami kepada kedua orang tuamu, kepedulian itu benar-benar sangat berharga bagi kami, nak." Tambah ayah Amelia menyambung perkataan isterinya.