Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kerja itu. Cukup lama keduanya hanya terdiam dalam posisi yang sangat intim namun penuh ketegangan. Tangan kekar Arlan masih tertahan di atas dada Adira.
Mereka saling menatap. Tatapan Adira penuh dengan luka, amarah, dan tantangan yang menyala-nyala. Sementara itu, mata Arlan yang biasanya sedingin es kini tampak berkilat gelap, menyimpan badai emosi yang sulit diartikan—antara harga diri yang terusik dan dorongan purba yang selama ini ia tekan habis-habisan.
Tiba-tiba, Arlan mendorong Adira agar menjauh darinya dengan gerakan kasar.
"Pergi!" bentaknya. Suaranya menggelegar di dalam ruangan, mengusir wanita itu agar segera angkat kaki.
Adira tidak merasa takut, ia justru tersenyum sinis.
"Ternyata... Anda cuma laki-laki pengecut yang tidak bisa apa-apa," sindir Adira tajam.
"Jangan menantangku, Adira!" ancam Arlan dengan rahang mengeras. Matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.
"Saya memang sedang menantang Anda," balas Adira, senyum sinisnya semakin lebar. Ia sengaja memancing emosi pria itu lebih dalam. "Anda yakin tidak tertarik untuk menyentuh tubuhk saya?" tanya gadis itu dengan nada meremehkan.
Kondisi Adira saat itu benar-benar menguji pertahanan Arlan. Dengan atasan yang berantakan karena ulahnya sendiri dan celana tidur pendek yang mengekspos tungkai kakinya yang mulus, ia tampak begitu provokatif di bawah temaram lampu ruang kerja. Ia sengaja menunjukkan daya tariknya hanya untuk membuktikan bahwa Arlan adalah pria yang bermasalah.
"Aku bilang, keluar!" bentak Arlan lagi. Suaranya memecah keheningan yang mencekam itu. Tatapannya kini tampak seperti singa yang siap menerkam, namun Adira sama sekali tidak bergeming.
"Saya tidak akan keluar sebelum Anda melepaskan Dokter Teo dan Dokter Cindy!" balas Adira tegas, tidak mau mengalah sedikit pun. Ia melangkah maju selangkah lagi, semakin menantang batas kesabaran pria itu.
"Anda ingin punya anak, kan? Ayo, apa yang Anda tunggu? Atau memang Anda yang tidak sehat? Anda tidak bisa melakukannya?" cecarnya tanpa ampun.
Adira menyipitkan matanya. Senyum sinisnya tak pernah hilang dari bibirnya. "Anda itu orang kaya, bukankah Anda bisa berobat kalau memang ada masalah? Saya berpikir... bagaimana kalau orang luar mengetahui kondisi Anda yang seperti sekarang? Di mana Anda ternyata tidak mampu, bahkan hanya untuk menyentuh seorang wanita saja?"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Adira, hingga sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar. Rasa panas dan perih menjalar di pipinya, meninggalkan denyut nyeri yang menyentakkan kesadarannya.
Arlan menatapnya dengan napas yang memburu. Matanya merah padam oleh amarah yang sudah mencapai puncaknya.
"Kau mau tahu kenapa aku tidak sudi menyentuhmu?!" geram Arlan. "Itu karena setiap kali aku melihatmu, aku seperti melihat Anisa! Dan setiap kali aku melihat bayangannya dalam dirimu, aku selalu ingat bahwa kaulah pembunuhnya!"
Adira tertegun. Napasnya seolah terhenti mendengar tuduhan kejam itu.
"Seandainya bukan karena permintaan Anisa, aku tidak akan pernah membiarkanmu masuk ke dalam hidupku!" ujar Arlan dengan penuh kebencian.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arlan menyambar tongkatnya. Dengan langkah yang berat dan penuh kemarahan, ia berjalan keluar dari ruang kerja, meninggalkan Adira yang masih terpaku dalam kesunyian yang menyakitkan.
"A-apa maksud ucapannya? Anisa? Permintaan apa?" gumam Adira dengan tubuh yang tiba-tiba terasa lemas.
Tes... tes... tes...
Darah menetes dari bibir Adira. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, mengusap cairan merah yang mengalir itu. Air matanya kini jatuh tanpa bisa dibendung lagi.
"Berapa banyak lagi orang yang akan jadi korban akibat kebencianmu padaku?" bisik Adira lirih pada dirinya sendiri. "Aku... aku lelah, Tuhan. Kenapa semua ini harus terjadi padaku?"
Tangisnya pecah sembari menutupi mulutnya yang berlumuran darah.
Setelah puas menangis, wanita itu mengambil pakaian yang sempat ia lepas, kemudian memakainya kembali dan keluar dari ruang kerja Arlan menuju kamarnya.
***
Di dalam sebuah ruang bawah tanah yang pengap dan gelap gulita, terlihat seorang pria paruh baya yang malang. Tubuhnya dipasung, sementara kedua tangannya terikat rantai besi yang berkarat, menimbulkan bunyi gemerincing pilu setiap kali ia bergerak.
Cklek!
Pintu besi itu terbuka, membiarkan seberkas cahaya tipis masuk dan menampilkan sosok angkuh yang melangkah masuk dengan tenang namun mematikan. Pria itu berjalan menghampiri sosok yang terbaring lemah di lantai dingin tersebut.
Tanpa belas kasihan, ia melayangkan tendangan keras ke tubuh pria paruh baya itu hingga ia tersedak kesakitan.
"Bangun!"