Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.
3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.
Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuranku
Fandyka
Hari sudah memasuki waktu ashar. Aku sudah tiba tadi pagi di salah satu hotel di daerah temanggung tempat Malik menginap. Tapi Malik selalu enggan memberi tahu ku dimana Nawal. Dia bilang, ada saatnya nanti aku menemui Nawal. Aku selalu menggerutu dan memohon-mohon padanya agar segera dipertemukan dengan istriku. Tapi ya, Malik tetaplah Malik yang suka usil.
Selepas sholat ashar, aku hanya mondar-mandir di dalam kamar. Kamar yang dipesan Malik ini, bukan kamar yang mewah dengan harrga fantastis. Hanya kamar biasa yang bisa di jangkau kaum menengah kebawah. Dengan fasilitas yang biasa saja tentunya.
Ku lihat Malik keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya. Aku sudah bersiap sedari tadi. Ia mengeringkan rambutnya dan bertanya padaku. "Udah siap ketemu istri?".
"Kamu kira aku nggak siap dari tadi?". Aku menaikkan nada bicaraku.
"Oke, kita berangkat sekarang". aku segera meraih dan memasang sepatu warna putih kesukaanku, berjongkok dan mengikatnya. Aku memakai kemeja bermotif pantai warna hitam. Di padu celana pendek warna hitam. meraih aksessoris berupa kalung berbentuk rantai putih dan memasangnya tepat di bawah kerah kemeja. Meraih dompet dan kunci mobil.
Jalanan cukup lengang di sore hari seperti sekarang ini. Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang, Ku lihat sekerumunan anak kecil, remaja hingga dewasa tengah mengerubungi... entah apa itu. Malik menepuk pundak ku dan memintaku turun.
"Kamu gila ya? jauh-jauh dari Banyuwangi ke temanggung buat cari istriku, kamu malah ngajakin jalan-jalan?".
"Ojo bawel. AKU ORA EDAN". Jawabnya setengah berteriak. Aku pun bergegas turun dan dia menghampiriku. Memberiku isyarat agar aku melihat kearah tempat yang ditunjuk oleh telunjuk Malik.
Aku kaget. Aku syok. Jantungku mendadak nyeri. Darahku seperti berhenti mengalir. Hatiku berdesir menyaksikan pemandangan didepanku.
Nawal. Ya. Dia Nawal istriku yang selama empat bulan ini ku cari-cari, tengah menenteng dua keranjang besar berisikan makanan yang entah apa itu. Ia berjalan dengan kesusahan. Perutnya yang sudah besar itu membuatnya kesulitan dalam melangkah, terlebih lagi ia menjajakan makanan dan hanya berjalan kaki.
Ya tuhaaaaan. Aku sudah berdosa membiarkan istriku terlantar selama ini. Bekerja keras sendirian demi mencukupi kebutuhannya dan menghidupi anakku yang masih dalam kandungannya. Aku sakit. Aku hancur. Aku baru menyadari, Penderitaannya adalah kehancuran ku.
Tanpa peduli Malik dan pintu mobil yang masih terbuka, Aku berlari menghampiri Nawal yang tengah melayani anak kecil yang membeli dagangannya. Setelah aku sampai di sampingnya, ia selesai melayani anak itu dan memberikan kembaliannya. Nawal tidak sadar dengan kedatanganku dengan mataku yang sudah berkaca-kaca.
"Njenengan badhe tumbas jajan to mas? Monggo gorengane tasek anget-ang....." (anda mau beli jajan mas? mari gorengannya masih hangat hang...) Nawal mendongakkan kepalanya dan menatapku yang sudah membeku. Nawal terkejut melihatku.
Sontak ia berdiri setelah tadi jongkok, Menutup dua keranjang besar itu dan hendak meninggalkanku. Aku mencegahnya dan berharap ia mau menatapku. Tapi ia tetap keras kepala dan berusaha menghempaskan tanganku dengan kasar.
"Nawal... Kamu jangan menghindar na, aku jauh-jauh datang kesini untuk kamu. Aku mau jemput kamu. Tolong jangan menghindari aku gini. Selama ini, aku nyari kamu kemana-mana". Aku bergetar saat menggenggam tangannya. Berharap ia mengasihani ku dan memberiku kesempatan untuk bicara. "Ayo kita bicara, kita ngomong baik-baik ya".
Nawal menangis. Sungguh, hatiku merasa seperti diremas-remas dan tergores saat menyaksikan dia menangis seperti ini. Aku merasa hancur. "Nggak ada lagi yang bisa kita bicarakan mas. Kamu bisa ceraikan aku setelah anakku lahir. Atau kamu bisa menceraikan ku sekarang juga kalau kamu udah nggak sabar".
Aku melambaikan tangan pada Malik yang bersandar di badan mobil. Malik mendekat dan menghampiri kami. "Lik, tolong bawakan dua keranjang ini dan masukkan ke bagasi mobil ku Lik. Aku ingin bicara dulu dengan istriku". Malik mendengus sebal karna aku menyuru-nyuruh dia.
Aku membawa Nawal masuk ke mobil bagian belakang. Sedang Malik, dia menyomot kue yang berasal dari keranjang Nawal dan menggigit cabe hijau dengan penuh emosi.
Aku menatap intens Nawal. Ku belai rambutnya yang sedikit kusut karna terlalu banyak terkena sinar matahari. pipinya terlihat lebih turis daripada saat terakhir kali kami bertemu. Tubuhnya sedikit kurus dengan perut yang sudah membesar. Kulitnya yang dulu putih, kini sedikit menggelap.
Ku belai wajah ayu istriku ini mengusap pelan rambutnya, dia memalingkan wajahnya tanpa mau melihat ke arahku tapi tidak menolak sama sekali sentuhanku. Aku menangis di depannya, dia juga menangis. Kami saling menangis, menumpahkan rindu namun sama-sama menahan sakit dan kehancuran masing-masing.
"Kamu tinggal sama siapa selama ini, na?".
"Di rumah pamanku".
"Kamu kenapa pergi na? Aku seperti orang gila tau nggak mencarimu kemana-mana".
"Bukannya kamu sendiri yang ingin aku pergi mas?" Jawabnya sambil mengalihkan pandangannya menatapku. Suaranya bergetar. Ada banyak kesedihan dan luka yang coba ia tunjukkan padaku. Aku meringis perih mendengarnya.
"Aku nggak mau kamu pergi, na".
"Bohong".
"Kenapa kamu berjualan kue?".
"Untuk bertahan hidup". Aku memejamkan mataku sejenak. Rasa bersalah ini semakin berkali-kali lipat dan terasa beranak Pinak.
"Apa nggak ada pekerjaan lain selain keliling begini?"
"Ini pekerjaan terbaik dan halal untukku menghidupi anakku dan mencukupi kebutuhan anakku nanti, mas. Apa kamu pikir ada pekerjaan lain yang bisa aku lakukan selain ini? Aku pergi tanpa membawa ijasahku. Mau jual diri pun rasa-rasanya tidak mungkin ada yang mau denganku si wanita tua. Bahkan suamiku pun jijik denganku, Bukannya suamiku sendiri udah terang-terangan ngomong kalau selangkanganku tak sebening punya mila?". Nawal semakin terisak tak berdaya di hadapanku. Wajahnya bukan lagi memerah, tapi sudah memutih, pucat. Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku , Rasa menyesal ini begitu menyakitiku.
"Na, tolong jangan ngomong gitu lagi. Maaf. Aku datang untuk minta Maaf". Aku mengecup punggung tangannya, mengharapkan maaf dan ridho dari istri yang sudah dulu ku sia-siakan ini.
Nawal nampak terkejut dengan sikapku. Dia mengerjapkan mata berulang kali sambil menatap tanganku yang masih terus menggenggamnya, terus mengecupnya.
"Mas..?" sejurus kemudian, dia menarik tangannya menjauh dariku.
"Lebih baik kamu pergi. Aku aku pulang. Uruslah Mila istrimu itu. Aku nggak bisa ikut kamu sementara kamu memiliki wanita idaman lain di sisimu".
"Aku sama Mila udah pisah na. Kamu mau pergi kemana? Aku suamimu. Aku rumah tempat kamu pulang. Tolong jangan pergi lagi. Aku hancur tanpa kamu na. Ayo kita bersama lagi. Aku baru sadar kalau aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Aku mencintaimu na". Tangan Nawal yang hendak meraih gagang pintu pun seketika mematung. Tiba-tiba, tanganku melingkar di tubuhnya, memeluknya erat. "Jangan pergi lagi na, Beri aku kesempatan", Tambahku lagi.
"Kamu jangan seperti ini mas. Kalau kamu mau kita segera berpisah, tolong jangan kembali memberiku harapan. Biar aku nggak kembali jatuh dan terpuruk, karna perasaan cinta ku ke kamu sangat besar.".
"Aku nggak akan ngelepasin kamu lagi na, aku janji". Nawal menangis sejadi jadinya. Melepaskan tanganku dan memukuli dada dan lenganku dengan membabi buta. Aku diam saja tidak menolak dia melampiaskan amarahnya. Aku memang harus mendapatkannya. "Maafin aku, na".
Aku kembali merengkuh tubuh mungil istriku.
"Ayo, bawa aku menghadap pamanmu.Aku mau minta maaf dan terimakasih sama beliau karna udah membantu mengurusmu". Aku tersenyum padanya, menampilkan senyum termanis agar dia kembali takluk padaku.
"Ka...kamu?".
"Aku seruis na. Ayo...." Aku membuka pintu mobil dan memanggil Malik.
"Lik, ayo setirin mobil. Kerumah pamannya Nawal".
"Ehh ******. Aku mana bisa nyetir?".
"Ya udah kamu dibelakang. Na, kamu pindah di depan. Ayo!".
"Tapi mas?".
"Jangan bantah, aku nggak suka".
"Aku nggak mau ikut pulang kamu ke Banyuwangi".
____________________________________________
Hai hai hai hai.... para kaka kaka readers yang masih setia mantengin cerita ini.
Istia butuh dukungannya ya, jangan lupa comment, vote, fan tekan Love nya. Jangan pelit like ya.... biar sayanya semangat buat up terus.
Insya Allah saya usahakan up tiap hari ya, asalkan tetep sehat dan waktunya senggang..
jangan panggil author ah, penulis masih abal-abal gini kayak gimana gitu dipanggil author. Panggil aja Neng Tia deh......
Makasih ya buat semua yang udah dukung, semoga dilimpahkan kesehatan dan umur panjang, serta Rizqi yang melimpah.
Tetep pantengin 'WANITA IDAMAN LAIN' ya,,
Peluk cium untuk Kaka readers tersayang
🤗🤗😘😘.....
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel