Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Felix berjalan mendekat dengan langkah tenang, lalu membungkuk hormat kepada tuan rumah.
"Yang Mulia Duke, Yang Mulia Duchess, terima kasih atas undangan yang begitu terhormat."
Arthur membalas sapaan itu dengan senyum tipis yang tak sampai ke matanya. "Silakan duduk, Baron."
Felix pun duduk dan mulai berbincang santai seolah tidak ada niat buruk yang tersembunyi di hatinya. Namun Aruna justru merasa semakin gelisah melihat tingkah lakunya.
[Kenapa dia terus-menerus melirik ke arah pintu masuk ruang kerja Ayah? Jangan-jangan...]
Mata Aruna seketika membelalak kaget.
[Astaga! Di dalam novel, hari inilah dia berencana mencuri peta wilayah tambang milik keluarga Ashcroft yang tersimpan di ruang kerja Ayah!]
Tanpa membuang waktu, Arthur seketika berdiri dari kursinya. Gerakannya begitu tiba-tiba hingga membuat para tamu yang hadir menoleh dengan wajah bingung.
"Arthur?" tanya Duchess Helena dengan nada heran.
Arthur tersenyum tenang dan meminta maaf. "Maafkan saya, sepertinya saya baru teringat ada dokumen penting yang belum saya simpan dengan benar."
Tanpa menunggu persetujuan siapa pun, ia segera melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat. Felix yang melihat hal itu tampak sedikit gugup, tangannya mencengkeram cangkir teh lebih erat dari sebelumnya. Tak lama kemudian, Arthur kembali ke taman bersama dua orang kesatria yang menjaga kediaman.
"Kawal seluruh area bagian dalam rumah," perintahnya dengan suara rendah namun tegas kepada para kesatria. "Jangan izinkan siapa pun masuk ke ruang kerja saya."
"Siap, Yang Mulia."
Rencana Felix seketika berantakan. Di sisi lain, Aruna menghela napas panjang dengan perasaan lega yang luar biasa.
[Syukurlah Ayah bergerak cepat. Kalau peta itu sampai dicuri, kerugian yang akan diderita keluarga Ashcroft pasti sangat besar.]
Felix mulai kehilangan ketenangannya. Sesekali ia menoleh dan pandangannya tak sengaja berpapasan dengan Aruna. Saat itu, Aruna merasa ada sesuatu yang aneh dan penuh curiga dalam tatapan pria itu.
[Kenapa dia menatapku seperti itu? Apakah dia mulai curiga padaku?]
Felix segera memalingkan wajah, namun di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya sendiri. Mengapa setiap rencana yang disusun oleh pihak mereka selalu berakhir gagal sejak Lady Evelyne berubah sikap dan tingkah lakunya?
Sore itu, jamuan teh akhirnya selesai tanpa ada kejadian yang merugikan. Para tamu pun beranjak pulang satu per satu. Saat kereta terakhir menghilang di ujung jalan, Duke Arthur berdiri di balik jendela ruang kerjanya sambil menatap ke luar.
"Penyusup itu memang benar-benar mengincar ruang kerjaku," gumamnya pelan.
Berkat isi pikiran putrinya yang terdengar begitu jelas, mereka berhasil menggagalkan rencana jahat itu tepat pada waktunya.
***
Beberapa hari telah berlalu sejak peristiwa jamuan teh, dan kediaman keluarga Ashcroft kembali tampak tenang seperti sedia kala.
Aruna menghabiskan pagi dengan membaca buku-buku tebal di perpustakaan yang harum aroma kayu tua. Siang ia luangkan untuk berjalan santai di taman yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran.
Sore harinya menikmati teh hangat bersama kue-kue lezat yang dibuat khusus oleh koki istana. Dan malamnya ia tidur di atas kasur empuk yang begitu nyaman hingga membuatnya enggan untuk bangun pagi.
[Kalau hidup begini terus, aku bahkan tak perlu kembali ke dunia asal pun tak apa-apa,] batin Aruna sambil tersenyum puas, menyantap sepotong kue stroberi di bangku taman.
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Langkah tergesa-gesa terdengar mendekat, dan seorang pelayan muncul dengan napas sedikit terengah-engah.
"Lady Evelyne."
Aruna menoleh sambil menahan suapan kue di mulutnya. "Ada apa?"
"Yang Mulia Duchess meminta Anda segera bersiap. Kita akan berangkat ke Akademi Kerajaan."
Sendok di tangan Aruna seketika berhenti bergerak di udara. Matanya membelalak tak percaya.
"Akademi Kerajaan?"
"Benar, Nona. Hari ini diadakan upacara penyambutan siswa baru."
Wajah Aruna seketika berubah pucat. Ingatannya seketika melesat kembali ke halaman-halaman novel yang telah ia baca berulang kali. Akademi Kerajaan adalah tempat di mana semua tokoh utama pertama kali bertemu. Di sanalah Putra Mahkota pertama kali melihat pemeran utama wanita.
Di sanalah Evelyne mulai kehilangan akal sehat karena cemburu buta, melakukan hal-hal bodoh yang perlahan mengantarkannya pada kehancuran. Dan di sanalah, semuanya bermula.
[Aku tidak mau pergi!] teriaknya dalam hati, nyaris bangkit berdiri untuk menolak. Namun seketika ia teringat sesuatu dan menahan diri.
[Tunggu. Kalau aku tidak datang, justru mereka akan mulai curiga padaku. Lebih baik aku pergi dan menjaga sikap.]
Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah pada pelayan itu. "Baiklah, aku akan bersiap."