Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
"Terima kasih Nay, kamu sudah mau menjengukku," ucap Kevin yang senang dengan kedatangan Kanaya. Kanaya meletakkan mangkuk yang ia bawa itu dan beralih mengambil gelas yang berisi air putih.
"Minumlah dulu," ucap Kanaya. Kevin mengambil gelas dari tangan Kanaya lalu segera meneguknya. Pandangannya tak ia lepaskan dari Kanaya sedikitpun. Setelah itu, ia meletakkan gelas itu di meja dekat ranjangnya.
"Kamu kenapa bisa seperti ini? Jika alergimu bertambah parah bagaimana?" Kanaya menatap Kevin. Ia mengusap punggung tangan Kevin dengan pelan. Entah apa yang membawanya hingga ke sini. Setelah mendengar cerita dari Diandra, membuat Kanaya ingin menjenguknya.
"Hanya kecelakaan kecil saja. Nay, apa kamu sedang mengkhawatirkanku?" Kevin bertanya balik. Membuat Kanaya salah tingkah.
"Tidak. Ada baiknya kamu seperti ini. Jadi, tidak akan menggangguku lagi," ujar Kanaya ketus. Kevin tertawa kecil. Sudah lama ia tidak melihat wajah Kanaya yang begitu mengkhawatirkannya. Kevin meraih tubuh Kanaya dan mendekapnya.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja. Aku rindu saat-saat kita bersama seperti dulu Nay," bisik Kevin. Kanaya membiarkan Kevin memeluknya. Ia juga rindu dekapan hangat dari mantan kekasihnya itu. Andai saja dulu Kevin tidak berulah dan bermain-main dengan hubungan mereka, mungkin saat ini mereka masih bersama.
Masa lalu memang menarik untuk dikenang. Apalagi dengan mantan kekasih yang belum bisa ia lupakan. Kanaya pun juga terlalu egois. Berusaha menjauh dari Kevin namun nyatanya hatinya masih mencintai laki-laki itu.
Klek
"Tuan muda," ujar Mark yang masuk begitu saja ke ruangan Kevin. Mereka bertiga sama-sama terkejut. Kanaya segera menarik diri dan sedikit menjauh dari Kevin. Sedangkan Mark masih berdiri di posisinya dan merasa malu karena telah masuk begitu saja.
"Ada apa?" Nada Kevin berubah ketus. Entahlah, mungkinkah Mark sengaja mengacaukan suasana bahagianya atau entah apa.
"Maafkan saya. Saya tidak tahu jika ada Nona Naya di sini. Saya kira Anda sedang tidur, karena Nona Diandra sendiri yang bilang," tutur Mark. Kanaya mengernyitkan dahinya.
"Jadi, Diandra ke sini untuk menjenguk Kevin?" batin Kanaya.
"Dia ke sini? Tapi aku sama sekali tidak melihatnya. Hanya ada aku dan Kanaya di sini dari tadi," jawab Kevin sedikit heran. Jika benar Diandra ingin menjenguknya tetapi kenapa tidak masuk ke ruangannya? pikir Kevin.
"Mungkin ada Nona Naya di sini jadi Nona Diandra tidak ingin mengganggu waktu Anda tuan," jawab Mark. Ia berjalan pelan. Meletakkan buah titipan dari Diandra itu.
"Vin, aku akan menjengukmu lagi nanti. Aku pulang dulu ya. Cepat sembuh," ujar Kanaya. Ia mengambil tasnya lalu keluar dari ruangan itu.
Kevin kembali berbaring. Entah mengapa pikirannya terpenuhi oleh Diandra. Ada rasa kecewa dalam hatinya karena semenjak kejadian itu Diandra sama sekali tidak menjenguknya. Namun Kevin menepis pikiran tersebut. Ia sudah senang dengan kedatangan Kanaya barusan.
"Apa Diandra menerima sebagai sekretaris pribadiku Mark?" tanya Kevin. Mark mengangguk. Membuat Kevin sedikit menyunggingkan bibirnya.
"Baiklah. Segera kamu urus kepulanganku. Aku mau istirahat di rumah saja," ucap Kevin. Ia menarik selimutnya dan memejamkan matanya. Mark pamit untuk mengurus administrasi tersebut. Karena keadaan Kevin yang sudah baik-baik saja, Mark tidak mempermasalahkannya.
Setelah Mark pergi, Kevin kembali bangun dan menatap buah-buahan yang sempat Mark bawa itu. Ia mengambil buah apel dan menatapnya dengan lekat. Kemudian tersenyum tipis.
"Aku belum membuat perhitungan padamu Diandra. Lihat saja nanti." Kevin tersenyum sinis lalu memakan buah apel tersebut.
***
Pukul 17.30 Diandra baru sampai di apartemennya. Ia pulang dengan membawa beberapa makanan yang sengaja ia beli saat perjalanan pulang.
"Jean, aku pulang." Diandra melepas sepatunya dan menutup pintu apartemennya. Ia berjalan menuju meja makan lalu meletakkan bungkusan yang ia bawa. Diandra melihat sekelilingnya. Jean ternyata tak ada di apartemen tersebut. Biasanya, Jean selalu menyambutnya ketika ia pulang bekerja.
"Ke mana Jean pergi? Kenapa tidak memberitahuku?" gumam Diandra. Ia menuju kamarnya dan merebahkan dirinya di atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya sambil menghela napasnya pelan.
Diandra bangkit kembali dan mengambil ponselnya. Ada beberapa panggilan suara dari Jean dan pesan darinya. Ternyata, Jean sedang ada urusan yang harus ia selesaikan.
Diandra menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia sengaja berendam cukup lama untuk menghilangkan penatnya. Aroma wangian dari sabun itu membuat Diandra nyaman.
***
Setelah mengurus administrasi, kini Kevin sudah diperbolehkan pulang. Dengan catatan ia harus rutin meminum obatnya untuk meminimalisir efek alerginya. Sekitar beberapa menit, Kevin akhirnya sampai di kediamannya. Dengan dibantu oleh Mark, Kevin menuju kamarnya untuk beristirahat.
"Aku mau istirahat. Kamu pulanglah," ucap Kevin. Mark mengangguk dan segera keluar dari kamar Kevin. Sebelum ia pergi, Mark mengintruksikan kepada Pak Fery untuk menjaga Kevin.
"Tuan muda, apakah Anda memerlukan sesuatu?" tanya Pak Fery.
"Tidak ada. Jangan ada yang menggangguku," balas Kevin. Pak Fery mengangguk dan meninggalkan Kevin di kamarnya.
***
Selesai bersih diri, Diandra menuju meja makan karena merasa lapar. Saat ia keluar, ternyata Jean sudah menyiapkan makan malam untuknya. Jean tersenyum melihat Diandra lalu kembali menyiapkan makanan tersebut.
"Jean, kau sudah pulang? Sejak kapan?" tanya Diandra. Ia menarik kursi lalu duduk di sana.
"Sepuluh menit yang lalu Nona," jawab Jean. Diandra mengangguk pelan.
"Memangnya kau dari mana?" tanya Diandra penasaran.
"Dari kediaman utama Nona. Tuan memanggil saya dan harus menyelesaikan beberapa pekerjaan," jawab Jean.
Diandra mulai mengambil makanannya dan menyantapnya. Begitu juga dengan Jean.
"Bagaimana kabar mereka?" tanya Diandra disela makannya.
"Nona, Anda yang paling tahu bagaimana kabar Tuan dan Nyonya. Jika Nona mengkhawatirkan mereka, sebaiknya Nona segera pulang," balas Jean. Diandra menghela napasnya sejenak. Mungkin ia sudah terlanjur nyaman hidup seperti itu. Namun, ia juga sangat merindukan orang tuanya. Terlebih lagi ibunya. Diandra hanya takut jika pulang ia akan segera dinikahkan dengan Rizal, pria yang dipilihkan Ayahnya itu.
"Jean, aku tidak ingin membahas ini lagi." Diandra berdiri dan langsung menuju ke kamarnya. Bahkan makanannya belum sempat habis.
"Nona, maafkan saya." Jean berusaha membujuk agar Diandra tidak marah padanya. Namun, Diandra terlanjur mengunci pintunya dan tidak mempedulikan Jean yang terus mengetuk pintu agar Diandra membukakannya.
"Nona, tolong maafkan saya. Saya janji tidak akan meminta Nona untuk pulang lagi. Nona jangan marah," ujar Jean.
"Nona? Jangan seperti ini," ucapnya lagi. Namun Diandra sama sekali tidak mempedulikan Jean.