PLAGIAT DILARANG MEREKAT!😈😈
INI REAL CERITA SAYA YAH💜
Hidup sendiri didunia ini rasanya begitu sesak, hampa dan hambar bagaikan sayur tanpa bumbu pelengkap.
Menikah dengan orang yang tidak dikenal dan tidak dicintai bukanlah hal yang salah, namun menyakitkan.
Setiap hari, jam, menit bahkan detik dia tidak menganggap kehadiranmu. Dia lebih memilih bersenang-senang bersama teman-teman dan terpuruk dalam masa lalu yang tidak mungkin bisa kembali.
Sakit?
yah sangat. melebihi luka jahitan. sakit berdarah memang sakit, namun lebih sakit jika sakit tanpa darah.
Rasanya seperti menjadi iron man?
no! bukan seperti menjadi iron man, but rasanya seperti ada ratusan belati tajam menusuk-nusuk hatimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
SELAMAT MEMBACA!
***
Drt-drt-drt!
Ponsel Delima berdering di saat mereka sedang duduk santai di bangku taman sembari memakan es krim menyaksikan kehebohan ibu-ibu yang sedang melakukan senang pagi itu.
Delima melihat layar ponselnya dan tiba-tiba saja ada gurat ketakutan di wajahnya.
"Siapa?" tanya Erwin.
"Teman," jawab Delima tersenyum kaku.
"Kenapa tidak di angkat?" tanya Erwin lagi.
"Ini juga mau di angkat, tapi di sini terlalu berisik. Aku ke sana sebentar yah mau angkat telpon dulu, mah, pah, mas," izin Delima.
"Oke," balas Mama Isnah dan Papa Ardi.
"Hmm," jawab Erwin.
Delima pun berjalan menjauh dari bangku taman dan mengangkat panggilan yang ternyata dari Dokter Tia.
"Halo dok," sapa Delima setelah di rasa sudah cukup jauh dari tempat duduk suami, ibu dan ayah mertuanya.
"Del, kamu di mana sekarang? Kenapa belum juga datang? Apa kau lupa hari ini ada jadwal kemo?" cerocos dokter Tia.
"Maafkan saya dok, saya tidak lupa tapi sekarang saya sedang bersama keluarga suami saya. Kalau saya pergi sekarang, mereka akan curiga pada saya dok," ujar Delima.
"Lalu? Kamu mau memundurkannya lagi? Kamu sadar gak sih Del, penyakit kamu bukanlah permainan, semakin hari kondisimu akan semakin memburuk jika seperti ini terus," tutur dokter Tia menjelaskan pada Delima agar dia paham akan kondisinya.
"Saya tahu dok, tapi tolong kali ini saja. Saya janji besok saya akan ke sana," janji Delima.
"Besok saya tunggu kamu! Del, ingat kondisimu, kau ingin sembuh bukan?" tanya dokter Tia.
Delima mengangguk, "Sangat ingin," jawabnya mantap.
"Maka dari itu rajin-rajinlah datang dan melakukan kemo. Hanya kamu yang bisa melakukan semua itu, berusahalah sekuat tenagamu untuk sembuh!" ujar Dokter Tia. "Serta luangkan waktu untuk melakukan perawatan dan pengobatan," tambahnya.
"Akan saya usahakan dok, terima kasih sudah mengingatkan saya dan mengkhawatirkan saya dok," imbuh Delima dengan perasaan haru.
"Saya adalah dokter kamu dan saya mau kamu sembuh agar saya nantinya tidak menyesal telah gagal menjadi dokter bagi dirimu," tutur Dokter Tia.
"Dokter tidak pernah gagal, karena saya sendirilah yang keras kepala dalam hal ini," seru Delima.
"Kita sama-sama berjuang Del! Saya akan membantu kamu untuk sembuh dan kamu juga bantu saya untuk selalu datang ke rumah sakit memperiksakan kondisi dan juga melakukan kemo!" jelas Dokter Tia.
"Baik dok," balas Delima.
"Ya sudah, kamu bersenang-senanglah! Saya mau memeriksa pasien yang lain juga. Jangan lupa besok!" kata Dokter Tia lalu memutuskan panggilannya.
"Huft..." Delima menghela napasnya.
Mengingat penyakitnya tiba-tiba saja dia kembali menjadi murung. Dulu dia tidak apa-apa jika harus kembali ke sisi yang maha kuasa, namun sekarang dia tiba-tiba saja tidak sanggup dan juga tidak tega meninggalkan ketiga orang yang ia sayang itu.
Perkataan Erwin tadi sungguh membuatnya bahagia dan dapat melupakan semua rasa sakit yang telah ia pikul selama ini, namun tidak bisa menghilangkam sakit yang telah di berikan Tuhan kepadanya.
"Kamu pasti bisa Del! Semangat!" kata Delima menyemangati dirinya sendiri.
Dia pun berjalan kembali untuk bergabung dengan suami, ayah dan juga ibu mertuanya.
"Ada apa Del?" tanya Mama Isnah setelah Delima duduk lagi di samping Erwin.
"Gak apa-apa kok mah," jawab Delima meyakinkan.
"Teman Delima cuma ngundang Delima besok ada acara di rumahnya," bohong Delima kala melihat Erwin mengernyit ke arahnya.
"Ya sudah besok pergi saja, kamukan jarang-jarang bisa keluar rumah," sindir Mama Isnah.
"Kalau Mas Erwin gak izinin aku gak akan pergi kok," tutur Delima.
"Besok kamu boleh keluar rumah dan begitu pun seterusnya," putus Erwin.
"Benarkah?" tanya Mama Isnah tidak percaya.
"Ya," ketus Erwin.
"Nah, dengarkan Del! Besok pergilah mama akan menemanimu!" seru Mama Isnah tersenyum bahagia.
Delima hanya tersenyum kaku karena tidak mungkin ia membawa mama mertuanya itu ke rumah sakit untuk melakukan kemo.
"Mah, apa kau lupa kalau besok kita ada undangan makan siang dengan Tuan Pratap?" timpal Papa Ardi mengingatkan Mama Isnah jika lupa.
"Oh iya, mama lupa," Mama Isnah menepuk jidatnya sendiri. "Maafkan mama Del! Mama gak bisa menemanimu besok," tutur Mama Isnah.
"Gpp kok mah, Delima bisa pergi sendiri," ucap Delima tersenyum lega.
"Baiklah, aku rasa kita sudah cukup di sini, ayo pulang!" imbuh Erwin berdiri dari duduknya.
"Benar mari pulang!" timpal Papa Ardi.
***
SLOW UP YAH😊
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA🤗
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘