Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Ini mimpi bukan?
Ana menghela napasnya, duduk dengan wajah tertunduk lesu di ruang tunggu bandara. Tangannya masih menggenggam erat ponselnya, baru saja Ana selesai berbicara dengan ibu Astrid. Ia meminta maaf karena tak sempat berpamitan pagi tadi. Ana lalu menyimpan ponselnya kembali, ia membuka tasnya dan kembali menghela napas saat matanya menatap buku tabungannya yang semalam dikembalikan ibu Astrid.
“Cek yang Ibu terima dari tuan Hugo sudah lebih dari cukup untuk membangun kafe Dylan, jadi buat apa Ibu harus menahan-nahan buku tabunganmu lagi?” kata ibu Astrid meyakinkan Ana untuk menyimpan kembali buku tabungannya.
Kalau saja ibu Astrid mau lebih bersabar dan secara bertahap membangun kembali kafe Dylan dengan uang yang Ana dan Kila berikan, mungkin Ana tak akan pernah terlibat masalah pekerjaan dengan pria itu lagi.
“Jangan terus menunduk seperti itu, Kau seperti orang yang sedang kesusahan. Apa ada barang berhargamu yang jatuh di bawah sana?”
Suara bariton itu mengejutkan Ana. Ia mendongak, memasang wajah masam dan langsung bergeser menjauh dari tempat duduknya begitu dilihatnya Hugo mencoba duduk di sampingnya.
Ia masih kesal dengan pria itu, semalam Hugo datang ke rumahnya dengan membawa berkas perjanjian kerja yang harus ditandatanganinya. Di hadapan ibu Astrid yang menjadi saksinya, Ana tak bisa menolaknya. Terlebih saat melihat raut wajah ibu Astrid yang tampak semringah.
Kenangan lama berputar kembali dalam benaknya saat ia melakukan hal sama seperti yang diminta laki-laki itu padanya. Hanya bedanya, surat gugatan cerai yang Ana tanda tangani waktu itu membuatnya harus pergi dan keluar dari rumah pria itu. Sementara kali ini, ia akan datang kembali ke rumah pria itu.
“Bukan urusanmu!” sahut Ana dengan wajah ditekuk.
Hugo tersenyum miring, ia duduk dengan kaki menyilang dan sebelah tangan terangkat sejajar dengan bahunya, hampir menyentuh lengan Ana. Ia sengaja melakukannya, entah kenapa ia suka melihat Ana marah-marah padanya. Sekarang Ana lebih ekspresif dalam menyalurkan emosinya tidak seperti dulu yang hanya diam dan selalu mencari perlindungan papanya.
Tepat jam delapan pagi, pesawat yang mereka tumpangi akan segera berangkat. Ana bergegas pergi mendahului Hugo, ia masuk ke dalam badan pesawat dan duduk manis di kursinya. Hugo tersenyum melihatnya, dan menyusul di belakangnya. Mereka berada dalam satu pesawat dan menempati kelas yang berbeda. Bukan salah Hugo karena Ana berkeras menolak duduk satu kelas dengannya, dan lebih memilih kelas ekonomi.
Satu setengah jam kemudian mereka tiba kembali di kota kelahiran Ana, dan juga tempat tinggal Hugo selama ini. Mobil yang menjemput mereka sudah menunggu di depan pintu masuk, Ana diam dan hanya menurut saja ketika sang sopir memasukkan kopernya ke bagasi mobil. Ia menenteng tas ranselnya dan duduk bersisian dengan Hugo di dalam mobil.
“Pak Gani, antar Saya dulu ke kantor. Setelah itu antar Nona Ana pulang ke rumah!” perintah Hugo pada sopirnya.
“Siap, Tuan.”
Sepanjang perjalanan Ana lebih banyak diam dan hanya menjawab seperlunya ketika Hugo bertanya padanya. Setelah itu Hugo mulai sibuk dengan ponselnya dan berkas yang ada di dalam tas kerjanya. Ia mulai menghubungi Yuda asistennya, mereka terlibat pembicaraan serius mengenai pekerjaan. Detik berikutnya dilihatnya Hugo mengendurkan dasinya.
Tanpa sadar Ana mendengarkan dan memperhatikan bagaimana sibuknya Hugo menjawab panggilan telepon dari beberapa nomor yang masuk setelah beberapa hari tak hadir di kantornya. Pasti banyak pekerjaannya yang tertunda karena harus pergi menemuinya, pikir Ana kasihan.
Astaga! Ana menepuk pipinya, tersadar kalau ia tengah memikirkan Hugo dan peduli padanya. Untung saja lelaki itu sibuk dengan ponselnya hingga tak melihat perubahan raut wajahnya yang memanas.
Tak lama berselang mereka tiba di tempat kerja Hugo, lelaki itu bergegas turun dan melupakan berkas miliknya yang tertinggal di jok mobil.
“Tuan Hugo!” teriak Ana dari balik kaca mobil yang terbuka sambil melambaikan berkas di tangannya, ia melihat Yuda datang dan langsung menghampiri pria itu.
Hugo menoleh padanya dengan kening berkerut, lalu Ana keluar dari mobil dan berlari menghampiri. “Tuan melupakan berkasnya,” ucap Ana sembari mengulurkan berkas di tangannya.
Yuda bergerak cepat menerimanya dan mengucap terima kasih. Hugo menatap Ana sesaat lamanya sebelum berbalik dan melangkah masuk ke dalam gedung kantornya.
“Dih, gitu doang. Bilang makasih, kek.” Ana mencebik, lalu balik badan dan masuk kembali ke dalam mobil.
“Tuan memang suka begitu, sering lupa dan ketinggalan barang-barangnya. Untung saja Nona cepat mengingatkan tadi,” kata Gani, sopir Hugo tersenyum menatap Ana.
“Eh, iya Pak. Takutnya berkas penting, kasihan kalau ketinggalan.” Sahut Ana balas tersenyum.
Tiba di rumah Hugo kembali, bik Ani menyambutnya dengan pelukan sayang. Wanita itu memeluk erat Ana dan berucap senang karena Ana mau tinggal bersamanya di rumah itu lagi.
“Bibi kok tahu Aku mau kerja di rumah ini?” tanya Ana, sengaja menekan kata-katanya agar bibi Ani tak salah menafsirkan kedatangannya kembali di rumah itu.
“Ya tahulah, Non. Kan tuan Hugo yang cerita semalam. Tuan Hugo telepon Bibi suruh siapin kamar buat Non Ana, katanya mau tinggal di rumah ini lagi.” Ungkap bik Ani dengan wajah berbinar.
“Aku kembali buat kerja, Bik. Bukan tinggal buat liburan,” sahut Ana lagi.
“Gak masalah. Yang penting Non Ana kembali lagi ke rumah ini.” Bik Ani lalu menggandeng lengan Ana dan mengantarnya ke kamarnya yang baru, letaknya di lantai bawah persis berada di samping ruang kerja Hugo. Bukan lagi di lantai atas seperti sebelumnya.
“Kamar Non Ana yang di lantai dua lagi direnovasi, jadi Non sementara tidur di kamar ini.” Bik Ani membuka pintu kamarnya lebar, dan mempersilakan Ana masuk. Setelah itu bik Ani pamit untuk menyiapkan makan siang.
Melihat ranjang yang empuk, dan pendingin ruangan yang terasa sejuk, membuat Ana ingin sekali beristirahat dan merebahkan tubuhnya di sana. Semalam ia kurang tidur karena terus memikirkan apa yang terjadi padanya beberapa hari belakangan. Tapi Ana tak mungkin melakukannya sekarang, terlebih di waktu jam kerja seperti ini.
Ana berdiri di ambang pintu, menatap kamar di sebelahnya yang tertutup rapat. Ruang kerja Hugo saat lelaki itu sedang berada di rumah dan membawa serta pekerjaannya pulang, Hugo bisa menghabiskan waktunya seharian berada di sana.
Rasanya baru kemarin ia pergi dari rumah ini dan sekarang kembali lagi. Ana tersenyum kecut, ia sadar tak boleh berleha-leha sekarang. Akan ada tugas berat yang menantinya. Sebelum lelaki itu datang, ia harus sudah bersiap-siap. Karena mulai hari ini, saat dirinya menginjakkan kakinya lagi di rumah ini, status Ana adalah seorang pekerja. Ia adalah asisten pribadi tuan Hugo Denis, di rumahnya. Yang harus selalu siap kapan saja dibutuhkan tenaganya selama 24 jam.
Ana menahan kantuknya sampai keningnya terantuk lengan kursi. Ia menunggu Hugo datang karena laki-laki itu tadi meneleponnya akan pulang terlambat. Tubuhnya terasa lelah luar biasa, dari siang tadi ia sibuk membereskan barang-barangnya dan banyak membuat catatan kecil apa-apa saja yang akan dilakukannya di rumah itu menyangkut masalah pekerjaan yang diembannya.
Bahkan saat jarum jam hampir menunjuk angka 11, Hugo belum datang juga. Ana hampir terbawa mimpi dan langsung tersentak saat mendengar suara daun pintu terbuka. Ia menegakkan tubuh, mengucek matanya yang lengket.
“Tuan sudah pulang?” sapa Ana, ia sengaja mengubah panggilannya pada pria itu sejak siang tadi, mengingat saat ini Hugo adalah atasannya. Dilihatnya Hugo berjalan masuk dengan wajah lelah, dan melewatinya yang berdiri di pinggir sofa ruang tamu begitu saja.
“Siapkan air hangat, Aku ingin mandi.”
Ana langsung berjalan cepat meniti anak tangga menuju kamar Hugo yang ada di lantai atas, ia segera menyiapkan air hangat untuk laki-laki itu. Ini bukan yang pertama kali untuknya, karena dulu ia pernah melakukannya untuk Hugo saat masih berstatus sebagai istrinya.
Hugo masuk ke dalam kamar saat Ana baru keluar dari dalam kamar mandi. Ia buru-buru memalingkan wajah ketika dilihatnya Hugo membuka bajunya dan bertelan jang dada di depannya.
“Ak- ku ... eh, Sa-ya keluar dulu. Saya akan siapkan minuman hangat untuk Tuan.” Ana hendak pergi, tapi tangan kuat Hugo menahan langkahnya. Lelaki itu mencekal pergelangan tangannya.
“Tidak perlu, tidurlah. Kau juga pasti lelah,” kata Hugo dengan suara lembut.
“Y-ya?” Ana makin gugup, jantungnya berdegup kencang. Tangannya masih berada dalam genggaman Hugo. Jarak mereka begitu dekat, Ana takut laki-laki di depannya itu bisa mendengar irama jantungnya yang tak keruan.
Hugo tertawa pelan, ia lepas cekalan tangannya lalu memutar tubuh Ana dan mendorongnya keluar kamarnya. “Pergilah tidur, sudah malam.”
Ana masih berdiri bengong, bahkan saat pintu di belakangnya sudah menutup kembali. Setengah tak percaya melihat sikap lembut Hugo padanya. Saat jarum jam berdentang sebanyak 12 kali, Ana tersadar dan melangkah pergi. Sambil berjalan ia masih terus memikirkan sikap Hugo padanya barusan. “Ini mimpi, bukan?”
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹