Setelah kepergian suami tercinta menghadap yang maha kuasa, kondisi Diandra sangat terpuruk. Dia harus mengurus dua anak yang masih kecil, Faris (anak pertama berusia 9 tahun) dan Fanisha (anak kedua berusia 6 tahun). Belum lagi kondisi Diandra yang sedang hamil 7 bulan.
Diandra benar-benar merasa kehilangan sehingga dia menghabiskan hari-harinya hanya menyendiri di kamar dan menangis.
Hingga di hari kesepuluh kepergian suaminya, Diandra melihat Faris anak pertamanya sibuk mengurus adiknya Fanisha. Di situ membuat Diandra tersadar kalau selama ini dia telah menelantarkan anaknya. Diandra memeluk kedua anaknya dan meminta maaf.
Diandra berjuang dengan anak-anaknya, dari sisa harta suaminya yaitu sebuah mobil. Diandra menjual mobil dan memulai semuanya dari awal.
Bagaimana kelanjutan perjuangan Diandra menjadi seorang single parent?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Praditya Dita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setelah mengecek cateringnya, Diandra langsung berangkat ke sekolah Faris dan Fanisha untuk pengambilan raport semester.
Setelah memarkirkan motor, Diandra langsung ke kelas Faris. Baru juga Diandra masuk kelas sudah tercium gelagat tidak enak dari orang tua murid lainnya. Diandra tidak memperdulikan, dia duduk di kursi kosong.
Seorang ibu duduk di samping Diandra, dia adalah Mamanya Azura. Sambil menunggu giliran, mereka ngobrol ringan seputar anak-anak mereka yang akan melanjutkan ke jenjang SMP.
Ruangan kelas sudah berkurang, hanya tersisa 10 orang termasuk Diandra dan Mamanya Azura. Hingga akhirnya Diandra di panggil. Bu Nining guru kelasnya Faris memperlihatkan nilai-nilai Faris yang begitu memuaskan dan tidak ada nilai minus dari sikap dan sifat nya Faris.
Diandra bersyukur dengan nilai Faris. Bu Nining pun menawarkan pada Faris SMP favorit. Karena dia yakin Faris mampu untuk mendapatkan sekolah favorit itu, apalagi Faris telah memberikan ajuan SMP apa aja yang akan dia pilih. Diandra kaget, karena Faris sudah setuju untuk masuk Pesantren tapi kenapa sekarang tetap pilih SMP favorit.
"Baik Bu, nanti saya dan Faris pikirkan. Terima kasih Bu." kata Diandra pamit sambil salaman dengan Bu Nining.
Diandra keluar kelas untuk melanjutkan ke kelas Fanisha tapi tiba-tiba terdengar suara sindiran dari ibu-ibu yang sepertinya menunggu dirinya keluar kelas.
"Pakai jilbab tapi sering keluar masuk kontrakan sama pria lain." kata Mama Adit memprovokasi ibu-ibu yang terlihat ada 6 orang.
Diandra tidak peduli, karena dia yakin yang di lihat ibu-ibu itu adalah workshop cateringnya. Tempatnya ya memang disebuah kontrakan.
"Benar banget Bu, setiap hari ke kontrakan itu sengaja banget bawa anaknya biar nggak di curigain orang tuh." kali ini Mama tirinya Galih ikutan terprovokasi oleh Mama Adit.
Diandra tidak peduli, toh di dalam kontrakan itu ada 5 karyawannya. Kita semua sedang bekerja mengais rezeki yang halal. Semakin cepat langkah Diandra ke kelas Fanisha agar tidak terdengar lagi ibu-ibu yang kurang kerjaan itu.
Sampai kelas Fanisha kembali harus menunggu, tapi itu di jadikan Diandra untuk berzikir untuk menenangkan hatinya agar tidak terkena hasutan ibu-ibu tadi.
Pergerakan kelas Fanisha lebih cepat mungkin tidak ada yang perlu di bahas maklum masih kelas 3. Di kelas Fanisha tidak ada ibu-ibu yang nyinyir saat di depannya, tapi tidak tau kalau di belakangnya.
Diandra langsung pulang setelah menerima raport kedua anaknya. Saat menaiki motor di parkiran masih terlihat ibu-ibu yang tadi nyinyir masih nongkrong. Entah apa yang mereka kerjakan. Sebelum terlihat ibu-ibu itu, Diandra langsung ngegas motornya untuk pulang.
Sampai di rumah, Diandra melihat Faris dan Fatih sedang bermain di ruang keluarga.
"Fanisha kemana mas?" tanya Diandra yang matanya menyapu rumah tapi tidak menemukan Fanisha.
"Di kamar Bun. Gimana Bun raport kita berdua?"
"Alhamdulillah bagus. Hanya ada satu yang mengganggu pikiran bunda."
"Apa Bun?" tanya Faris melihat ke Diandra yang kini duduk di sofa ruang keluarga
"Mas jadikan mau masuk pesantren?"
"Jadi dong, kenapa emangnya Bun?" Faris tanya balik ke Diandra karena tumbenan Diandra tanya berkali-kali tentang pesantren.
"Tadi Bu Nining bilang kamu sudah ajukan sekolah favorit. Kok bisa?"
"Ohh itu Bun, sebelumnya memang mas sudah ajuin SMP favorit sebelum bunda ngebahas pesantren. Terus mas lupa ngomong lagi sama Bu Nining untuk batalin ajuan mas."
Diandra terlihat lega, ternyata anaknya tidak berubah pikiran lagi. Di dalam hati, Diandra bersyukur dengan keputusan anak sulungnya itu.
"Nanti pas masuk semester dua mas ngomong lagi sama Bu Nining ya Bun."
"Iya mas, terima kasih ya."
"Iya bunda, sama-sama."
Terlihat di sudut mata Diandra, Fanisha sedang jalan mengendap-endap masuk ke dapur. Fatih yang posisi bermainnya ke arah dapur pun melihat kakaknya bertingkah aneh.
"Tata ngapain di dapul?" tanya Fatih mengikuti Fanisha. (Kakak ngapain di dapur?)
Diandra dan Faris melihat ke Fatih yang juga jalan ke dapur dengan mengendap-endap. Setelah sampai dapur Fatih mengageti Fanisha hingga Fanisha terlonjak ke belakang karena kaget. Diandra dan Faris pun tertawa. Fanisha yang kepergok langsung berdiri dengan wajah merengutnya.
"Ihh... Tata atan apa tuh?" tanya Fatih sambil ikutan ambil makanan yang sedang di makan Fanisha. (Kakak makan apa tuh?)
Fanisha keluar dari persembunyiannya sambil membawa coklat yang tadi dia makan.
"Ohh sekarang kamu pelit ya dek, makan coklat sendirian aja." kata Faris ngeledek Fanisha yang sekarang duduk di sofa dengan Diandra. Fatih pun ikutan duduk di samping Fanisha. Anak itu berharap di bagi coklatnya.
"Bukan pelit mas, cuma lagi menikmati aja."
"Huh... Ayasan!" kata Fatih mengikuti gaya Faris kalau lagi sebel sama Fanisha. (Huh... Alasan!)
Yang melihat gaya Fatih mengikuti Faris dari gerakan sampai cara ngomongnya, langsung ketawa bersamaan. Tidak tahan dengan Fatih yang sudah pintar meniru siapapun.
Fanisha pun gemas dengan adiknya langsung menciumi pipi Fatih sehingga meninggalkan bekas coklat di pipi Fatih, karena sebelumnya di bibir Fanisha sudah ada bekas coklat.
"Itu coklat kamu beli kapan dek?" tanya Faris penasaran.
"Di kasih mas." jawab Fanisha sambil cekikikan centil. Diandra melihatnya merasa ada yang aneh.
"Di kasih siapa nak?" tanya Diandra penasaran juga.
"Adit, temannya mas."
Diandra dan Faris kaget bersamaan mendengar jawaban Fanisha. Yang mereka rasa itu tidak mungkin. Sedangkan Fanisha sendiri malah asik makan coklat ditemani Fatih.
*****
Setelah sholat subuh, Diandra menyiapkan perbekalan untuk kemping hari ini. Makanan, minuman, cemilan dan obat-obatan tertata rapih di atas meja makan.
Faris dan Fanisha sudah bangun, mereka sedang mandi, sholat subuh dan menyiapkan kebutuhan mereka selama kemping Sabtu dan Minggu.
Setelah di rasa semua kebutuhan sudah siap, Diandra pun membangunkan Fatih yang sudah membuka mata cuma enggan untuk turun dari tempat tidur. "Assalamualaikum... Anak Sholeh ibu sudah bangun ya." sapa Diandra lalu mulai ajak main Fatih agar kesadarannya cepat kembali.
Fatih yang kalah karena kelitikan Diandra akhirnya berlari keluar kamar sambil teriak memanggil Faris.
Diandra segera merapihkan tempat tidur, lalu tidak lama datang Faris menggandeng tangan Fatih ke kamar Diandra. Adiknya itu minta di mandikan oleh mas nya. Diandra tidak mempermasalahkan karena dengan begitu dia bisa bebersih rumah sebentar. Agar saat nanti kembali pulang, rumah dalam keadaan bersih.
Dengan telaten anak usia 12 tahun itu memakaikan minyak telon dan baju yang sudah Diandra siapkan diatas tempat tidur ke adiknya yang dari semenjak mandi selalu nyanyi. Apa aja di nyanyi dan di ikuti pula oleh Faris.
Setelah rapih, Faris dan Fatih menuju meja makan untuk sarapan nasi goreng sosis bakso. Di meja makan sudah ada Fanisha dan Diandra. Faris shock melihat begitu banyak tas.
"Nggak usah heran mas," kata Diandra yang memberikan nasi goreng juga untuk Fatih yang sudah duduk di baby chair.
"Dek, kamu mau pindah rumah bawa tas dua terus gede-gede pula?" tanya Faris.
"Mas please deh," centil Fanisha yang mulai menjelaskan barang apa aja yang dia bawa sampai harus ada dua tas. "Yang itu isinya baju-baju..." kata Fanisha menunjuk tas pink, "...dan yang ini isinya jaket, selimut, topi sama kacamata." jelas Fanisha nunjuk tas biru muda.
"Ya Allah... Kita kemping cuma dua hari satu malam, cukup bawa baju beberapa aja. Terus buat apa pakai bawa topi dan kacamata?" kata Faris protes.
"Sudah deh mas nggak usah berisik... Kita mau kemping sama kak Sophia, jadi aku mau terlihat cantik kayak kak Sophia."
Faris hanya bisa tepok jidat, lalu mulai ambil nasi goreng dan memakannya. Diandra sendiri sudah pusing kalau harus menghadapi anak gadisnya yang ribet kalau mau bepergian.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka sarapan. Tepat pukul 7.00, Diandra mengendarai mobil menuju tempat kemping di daerah Sukabumi. Faris menemani Diandra duduk di depan sedangkan Fanisha di belakang menemani Fatih yang ada di car seat.
Jalanan tidak terlalu ramai sehingga hanya dalam satu setengah jam mereka sudah sampai. Diandra turun dari mobil untuk registrasi dan sekalian penyewaan tenda ukuran besar dua buah beserta tiker dan kasur lipat.
Benar dugaan Faris kalau dia akan dijadikan tukang bawa tas nya Fanisha. Jarak dari parkiran ke tempat tendanya lumayan cukup jauh dan agak licin karena bekas hujan tadi malam, tidak menyurutkan semangat Diandra dan anak-anaknya untuk kemping.
Tenda di pasang Diandra dan Faris mengikuti tata cara dari buku panduan yang tadi diberikan saat penyewaan tenda. Fanisha dan Fatih hanya duduk manis di kursi santai yang ada di depan danau.
Diandra dan Faris mendirikan tenda untuk Monika dan Sophia di samping mereka. Diandra memasang dalam tenda dengan tiker dan kasur lipat. Semua tas dan perbekalan di masukan ke tenda oleh Faris dan Fanisha.
Monika sudah memberi kabar dari malam kalau datang agak telat, karena ada pengambilan raport Sophia di hari Sabtu.
Sudah ada beberapa tenda terpasang di area kemping. Setidaknya akan terasa ramai dengan banyak yang kemping daripada hanya mereka saja yang kemping.
Tepat pukul 12.00 Monika dan Sophia sudah sampai di area kemping. Kehadiran Sophia membuat Fanisha bahagia, dia sibuk mengajak Sophia melihat area kemping yang sangat indah dan segar udaranya.
Diandra langsung mengajak semuanya makan siang di depan tenda mereka dengan beralaskan tikar yang Diandra bawa dari rumah. Monika dan Sophia selalu antusias dengan makanan yang di masak Diandra. Tiga menu dalam satu rantang langsung habis ludes di makan mereka semua.
Setelah makan siang dan sholat, Diandra dan Monika duduk santai di kursi depan danau sambil melihat pemandangan.
"Kamu nggak ada niat nikah lagi Ndra?" tanya Monika yang sedang menyeruput kopi yang tadi dia seduh sebelum duduk santai di depan danau.
"Belum Mon, aku sedang menikmati hidup sebagai seorang janda dengan tiga anak. Kamu sendiri?"
"Masih belum percaya aku sama pria. Sekarang aku sudah punya segalanya, terus buat apa harus nikah yang hanya buat pusing doang." kata Monika yang pandangannya lurus ke depan.
"Jangan ngomong gitu, nikah itu ibadah seumur hidup. Kalau kamu ngomong begitu terus beberapa tahun kedepan malah ke makan omongan sendiri malah jadi bumerang buat kamu sendiri."
Monika terdiam, "Ehh... Tapi aku cerita ke kamu doang Ndra. Kamu kan tau kalau aku paling sulit berteman, apalagi harus curhat."
Diandra tertawa mengingat saat pertama kali bertemu dengan Monika di panti asuhan. Saat itu mereka sama-sama baru usia empat tahun. Diandra anak periang sedangkan Monika anak yang galak sehingga tidak ada yang mau mengadopsinya.
Diandra butuh waktu satu tahun untuk bisa akrab dengan Monika. Hingga saat Diandra usia enam tahun lalu di adopsi, Monika terlihat sangat bersedih. Makanya Diandra minta ke orang tua angkatnya untuk selalu menjenguk Monika.
Tidak jauh dari mereka, anak-anak sedang bermain di dekat tenda. Suatu ketika Faris pernah memergoki Sophia sedang memperhatikannya, tapi tidak pernah di gubris oleh Faris. Hingga saat Faris harus menunggu di depan tenda, karena Fanisha dan Fatih yang sedang tidur siang. Sophia duduk di samping Faris.
"Aku bolehkan duduk disini?" tanya Sophia lembut.
"Boleh dong." jawab Faris tanpa melihat ke Sophia. "Gimana raport kamu?"
"Perfect," jawab Sophia senang.
"Alhamdulillah." semua kembali hening. Kedua anak kelas 6 itu terlihat canggung. "Ohh iya kamu mau lanjut SMP mana?" tanya Faris sambil buka cemilan, lalu menawari Sophia yang di sambut hangat olehnya.
"Masih di sekolah yang sama, sebenarnya aku mau pindah tapi nggak boleh sama Mami." ujar Sophia yang terlihat bete dengan sekolahnya.
"Kenapa mau pindah? Bukannya sekolah kamu itu sekolah swasta favorit ya?"
"Iya... Cuma aku nggak suka dengan teman-temannya dan gurunya yang pada cari muka. Kalau ada yang menjadi donatur terbesar maka dia akan di sanjung dan di puja. Aku nggak suka."
Faris bingung harus menjawab apa, karena dia hanya bersekolah di SD Negeri dan semua sangat biasa aja. Faris memperhatikan Sophia yang masih kesal tapi pelampiasannya ke makanan.
"Kamu sendiri mau lanjutin kemana?" tanya Sophia.
"Bunda suruh aku masuk pesantren."
Bisa terlihat di raut wajah Sophia yang mendadak jadi sedih. Dia merasa akan kehilangan teman yang mau menerimanya tanpa harus terlihat keren dan sempurna. "Kita akan jarang ketemu dong?"
"Kata bunda setiap sebulan sekali aku akan di jenguk, jadi kamu bisa ikut jenguk." kata Faris memberi solusi untuk Sophia.
Sophia hanya mengangguk. Sophia menyukai keluarga Diandra yang apa adanya. Dengan Faris yang memiliki senyum manis dan kalem. Fanisha yang ceria dan bawel tapi mengagumi dirinya tanpa berlebihan. Fatih yang suka bernyanyi dan penyayang. Sedangkan Diandra yang menurutnya adalah sosok ibu yang luar biasa sama seperti Mami nya.
Bersambung...
rumi heavy👍👍👍
lanjut their💪💪💪