Disarannkan sebelum baca cerita ini baca dulu karya saya Gadis Miskin Kesayangan CEO ya, agar tidak gagal fokus, disana cerita Tania dan Dokter Anton bermula.....#
Anton adalah seorang Dokter Umum yang melanjutkan studinya untuk meraih gelar sebagai Dokter spesialis kejiwaan, dalam tugasnya Dokter Anton bertemu dengan seorang pasien yang bernama Dinda yang sedang mengalami depresi berat atas meninggalnya kekasih yang ia cintai dalam kecelakaan.
Lambat laut kedekatan mereka membuat Dinda menemukan kekasihnya dalam diri Dokter Anton. Tapi saat ini Anton belum bisa membuka hatinya untuk siapa pun, dihatinya masih ada Tania yang susah sekali ia lupakan.
Berjalannya Waktu Tania tiba-tiba datang setelah Anton sudah sedikit melupakannya dan ingin melanjutkan hidupnya siapakah nanti yang akan mengejar cinta Anton?? Apakah Tania atau Dinda??
Karya ini hanya sekedar hayalan Author ya 🤭 semoga kalian suka ceritanya...!!
Happy reading!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indaria_ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Rasa itu?
Disana Dinda tersenyum bahagia, dia belum pernah merasakan sebahagia hari ini melihat empat tangkai mawar putih ditangannya membuat semangatnya tumbuh lagi.
''Din apa kamu suka?'' tanya perawatnya disana.
''Ya aku sangat suka sekali, terimakasih banyak ya!''
''Sama-sama''
Akhirnya Dinda segera meninggalkan tempat itu, kini dia ingin menemui seorang laki-laki paruh baya yang sudah memberinya bunga.
Sesampainya disana dia melihat seorang laki-laki sedang duduk termenung sendiri di sebuah kursi yang tidak jauh dari tempatnya kini berdiri. Dinda dengan segera mendekati laki-laki itu.
''Pak! terimakasih banyak ya, Bapak sudah memberi saya bunga mawar ini!'' ucap Dinda sambil menunjukan bunga mawar itu pada laki-laki di depannya, tapi nampaknya laki-laki paruh baya itu tidak merespon ucapannya. Karena tidak ada tanggapan akhirnya Dinda putuskan untuk segera pergi dari tempat itu.
''Ya sudah kalau begitu, saya hanya ingin berterimakasih saja berkat bunga ini hari ini saya sangat bahagia''.
Akhirnya Dinda memilih untuk segera pergi dari tempat itu, tapi akhirnya langkahnya harus terhenti setelah tiba-tiba laki-laki itu mengucapkan sesuatu.
''Tunggu! saya masih punya banyak bunga!'' ucap laki-laki itu sambil tertawa, disana Dinda nampak tersenyum ternyata laki-laki itu sedikit merespon ucapannya walau kadang dia terlihat tidak peduli dengan orang disekitarnya.
**
Sedang diruang kerjanya Dokter Anton sedang disibukan dengan dua pasiennya dia ditemani Mei yang selalu siap berada disampingnya.
Hari ini sedikit sangat melelahkan untuknya, pasien hari ini benar-benar sedikit agak sulit. Dia memerlukan waktu yang cukup lama dalam menanganinya.
Setelah beberapa jam akhirnya prakteknya sudah selesai, disana sudah menunjukan jam empat sore waktu yang benar-benar menguras waktu dan tenaga.
"Mei setelah ini saya langsung pulang ya, untuk besok tolong persiapkan semua!"
"Siap Dok!"
Dokter Anton pun segera pergi dari ruangannya dia ingin sekali cepat pulang dan segera merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya, seperti biasa jalan untuk keluar dari Rumah Sakit itu selalu melewati ruang perawatan milik Dinda.
Seperti biasa juga Dinda disana sedang berdiri di dekat sebuah kaca jendela sambil memegang satu tangkai bunga mawar di tangannya entah mengapa hatinya begitu damai saat ini.
Drap...Drap...terdengar langkah seseorang mendekati jendela itu disana Dinda memasang telinganya tajam-tajam langkah itu sepertinya sudah hafal di telinganya "Dokter Anton" ucapnya.
Dinda pun segera menggeser badannya untuk sedikit merapat kesisi tembok, dia tidak ingin terlihat dari luar. Benar saja kurang dari hitungan ke dua Dokter Anton sudah melintas di depan kanca jendela dari tempat Dinda berdiri.
Disana sepertinya Dokter Anton menghentikan langkahnya dan terlihat langsung berjalan lagi, entah mengapa jantung Dinda terasa memompa sedikit lebih kencang dari biasanya.
"Apa-apaan aku ini? Perasaan macam apa ini! Andreas maafkan aku" ucap Dinda dalam hati.
Tok...tok....tok ...
Kini dari balik pintu terdengar suara orang mengetuk dari luar, tidak seperti biasanya, biasanya hanya perawatnya saja yang masuk keruangannya itu juga tidak pernah mengetuk pintu terlebih dahulu karena Dinda melarangnya.
Dengan rasa penasaran akhirnya Dinda memberanikan diri memegang gagang pintu dengan sangat pelan-pelan dia pun segera membukanya sampai akhirnya pintu itu terbuka.
Alangkah terkejutnya Dinda siapa orang di balik pintu itu, ternyata disana sudah berdiri seorang laki-laki tampan dihadapannya.
"Dok ..Dokter Anton!" Ucap Dinda yang sedikit gugup.
"Apa aku mengganggumu?"
"Tidak! Anda tidak mengganggu, ada apa Dokter kemari bukankah saya tidak ada jam pemeriksaan!"
"Aku hanya lewat saja tadi, biasanya aku lihat kamu selalu berdiri dijendela tapi tadi kamu tidak ada, apa kamu baik-baik saja!"
"Iya, saya baik-baik saja!"
"Ya sudah kalau begitu, Oya saya ada sesuatu untukmu!" Dengan cepat Dokter Anton segera mengeluarkan sesuatu di balik punggungnya.
Taraaaaa .....
"Bunga mawar putih ini untukmu!" Ucap Dokter Anton sambil menyodorkan satu tangkai bunga mawar putih di hadapan Dinda.
"Hah!! Untuk saya!!!" Ucap Dinda seperti tidak percaya.
"Tentu saja buat kamu, apa kamu suka?"
"Ya, saya sangat suka bunga mawar putih ini. Terimakasih!" Ucap Dinda sambil mengambil satu tangkai bunga itu dari tangan Dokter Anton.
"Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu ya, jangan lupa istirahat yang cukup dan minum obat teratur!" Disana Dinda hanya mampu melongo dia tidak menyangka Dokter Anton sebegitu pedulinya terhadap dirinya.
"Terimakasih.....!" Ucap Dinda setelah Dokter Anton berlahan mulai menjauh dari hadapannya.
Disana Dinda masih mematung melihat kepergian Dokter Anton sampai Dokter Anton benar-benar sudah tidak terlihat lagi. Dinda segera melihat bunga yang kini berada di tangannya "Ada apa hari ini? Kenapa banyak orang yang peduli dengan diriku" gumamnya.
Rasa yang sulit untuk di ungkapkan, entah mengapa semenjak Dokter Anton memberi bunga dia malah sering memikirkan Dokter tampan itu, bahkan kini Andreas sudah sedikit terlupakan.
Sementara itu Dokter Anton yang terlihat mulai melajukan mobilnya kini sudah berada di luar jalan Rumah sakit dia mulai melajukan pelan mobilnya, di seberang jalan banyak karyawan yang baru keluar dari sebuah pabrik tekstil yang berada tidak jauh dari Rumah sakit tempatnya bekerja.
Jalanan sore ini sedikit macet karena banyak orang yang menyeberang untuk bisa sampai di sebuah halte, disana Anton mulai melihat di sekelilingnya tanpa sengaja matanya tertuju pada orang-orang yang sedang duduk di halte itu.
Disana dia melihat seorang wanita yang sedang berdiri nampaknya wanita itu sedang sibuk dengan ponselnya, sepertinya Anton tidak asing dengan perawakan wanita itu, "Tania??" Ucapnya dari dalam mobil dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Tapi bukankah Tania ada di kota, mana mungkin dia ada disini" fikirnya, karena disana mobil-mobil sudah mulai bergerak maju dengan terpaksa Anton harus segera mengalihkan pandangannya untuk fokus kedepan.
Di balik kaca spion Anton masih penasaran, dia masih mencoba melihat kebelakang tapi terlihat disana ada sebuah mobil yang berhenti didepan wanita yang mirip dengan Tania.
"Mungkin dia bukan Tania, bukankah Tania itu anti naik kendaraan umum, mobilnya saja ada tiga belum perusahaannya. "Anton tolong fokus, sudah lupakan Tania!" Umpatnya disana.
**
Sementara itu Tania sedang sibuk dengan memesan taxi online di aplikasinya dia tidak menyadari kalau di depannya sudah berhenti sebuah mobil mewah, kaca mobil itu mulai terbuka, disana Tania terpaksa melihat siapa pemilik mobil yang sudah berani berhenti di depannya. Setelah terlihat pemilik mobil itu membuat Tania sedikit kaget.
"Masuk!" Ucap seseorang di dalam mobil itu.
"Alex kamu!"
Ssttttttt.....Alex meletakan telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan agar Tania tidak berbicara lagi, Alex tidak ingin semua karyawannya tau kalau dirinya sedang berada disana.
Akhirnya mau tak mau Tania segera masuk kedalam mobil itu, dia pun duduk di belakang di mana Alex juga berada disana.
"Alex apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak malu kalau terlihat karyawanmu bagaimana? Mungkin akan jadi gosip di pabrikmu?"
"Kenapa? apa aku salah?" Tania pun terkejut atas ucapan Alex.
"Tidak, kamu tidak salah! Mungkin itu hanya fikiranku saja.
Disana baik Tania dan juga Alex sama-sama terdiam, mereka masih menyibukan diri dengan fikiran mereka masing-masing.
Bersambung ....