Kedatangannya ke Indonesia membuat seorang Kay Cyrano Agesislou pemilik perusahaan pelayaran terbesar di Yunani terobsesi terhadap seorang gadis mungil yang dia temui di sebuah pelabuhan.
Sejak saat itulah Kay mencari tahu segala tentang gadis yang baru menginjak usia delapan belas tahun itu. Jillian Lakhaesa nama itu terdengar sangat indah ketika Kay mendengarnya.
Mendengar gadis itu selau diperlakukan tidak manusiawi membuat Kay ingin Jillian berada disisinya. Tapi Kay ingin gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
Cinta dan obsesi menjadi satu membuat Kay melakukan apapun untuk membuat Jillian menjadi miliknya.
Banyak hal yang terungkap dalam hidupnya membuat Jillian merasa dunia memang benar-benar mempermainkannya.
xxxx
Hai, ini adalah cerita pertama yang aku buat.
Maaf jika masih terdapat banyak kesalahan dalam pengambilan dan penulisan kata.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ssintia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter | 12
+
+
“Kak Carol.” Lily menyapa Carol yang sudah menunggunya di luar.
“Kau ingin pergi kemana?” Tanya Carol seraya mempersilahkan Lily untuk masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Paulina ternyata tidak bisa ikut karena perempuan itu memiliki pekerjaan yang belum di selesaikan.
“Tidak tahu,” Carol terlihat bingung.
“Tempat seperti apa yang ingin kau kunjungi.”
“Aku ingin ke laut kak.”
“Laut?”
“Iya.”
Meskipun dengan sedikit bingung, Carol tetap mengikuti kemauan Lily. Carol melajukan mobilnya menuju pantai terdekat meskipun itu memerlukan waktu sekitar dua jam untuk sampai. Di perjalanan Lily diam dengan perasaan senang karena setelah sekian lama dia akan melihat birunya lautan.
“Kak, berapa lama lagi?” Pertanyaan itu terus Lily lontarkan beberapa kali membuat Carol menghela nafas.
“Sepuluh menit lagi sampai Lily.” Mendengar itu membuat Lily tambah bersemangat membuat Carol yang melihatnya ikut tersenyum.
“Wah.” Lily takjub ketika melihat hamparan pasir berwarna putih di depannya.
Lily berlari ke arah bibir pantai setelah membuka sandal yang dikenakannya diikuti Carol yang ikut berlari karena takut gadis itu terjatuh.
“KAKAK INI MENAKJUBKAN.” Teriak Lily seraya berputar-putar, tidak lupa juga tangan yang dia rentangkan.
“Jangan berlari Lily, nanti terjatuh.” Peringat Carol ketika Lily akan berlari kembali.
“Ini sangat menyenangkan.”
Carol menyerah, dia hanya bisa membiarkan Lily bermain sepuasnya dan mengawasinya dari jarak yang tidak jauh. Mata Carol memindai sekitarnya takut ada sesuatu yang membahayakan bagi Lily.
Setengah jam berlalu Lily berjalan menuju tempat Carol berada yaitu di bawah sebuah pohon. Lily menjatuhkan tubuhnya di samping Carol.
Melihat baju bawah Lily yang basah, Carol hanya bisa menggelengkan kepalanya. Untung saja di mobil ada satu set pakaian baru untuk jaga-jaga, meskipun dia tidak yakin apakah akan muat di tubuh Lily.
“Kak aku lapar.” Lily mengusap perutnya seraya menghadap Carol.
“Ayo ganti baju dulu.” Carol berdiri lalu mengulurkan tangannya yang disambut Lily.
“Tapi aku tidak bawa baju ganti.” Lily menepuk-nepuk tangannya yang terdapat pasir.
“Ada di mobil.”
Setelah selesai mengganti baju di toilet Lily kembali ke tempat di mana Carol berada. Tapi dia tidak menemukan keberadaan wanita itu di mana pun.
“Kak Carol.” Lily sedikit berteriak siapa tahu saja Carol akan langsung muncul.
Hingga beberapa saat pun Carol tetap tidak kembali membuat Lily khawatir takut terjadi apa-apa pada perempuan itu. Saat akan melangkahkan kakinya tangan Lily di tarik membuat gadis itu kaget dan segera berbalik untuk memberikan sebuah pukulan. Tapi ternyata orang itu adalah Carol membuat Lily bernafas lega.
“Kakak dari mana aja.”
“Beli ini.” Carol mengangkat tangannya yang terdapat kantong plastik yang berisi air mineral.
“Aku kira kakak ninggalin.” Lily menerima botol air yang di berikan Carol.
“Tidak, ayo katanya mau makan.” Carol masuk ke dalam mobil di ikuti Lily dan duduk di sampingnya.
“Mau makan apa?” Tanya Carol.
“Seafood boleh?” Lily malah balik bertanya.
“Tentu.”
Carol membawa Lily ke sebuah restoran yang terkenal di pantai ini. Masuk ke dalam Lily melihat tempat ini sangat ramai oleh pengunjung.
“Kita cari tempat lain.” Ajak Carol.
“Iya kak.” Lily lebih baik mengikuti perkataan Carol saja. Kalau memaksa ingin makan di sini pun tidak tahu kapan akan di layani saking banyaknya pengunjung.
Setelah mencari-cari akhirnya mereka menemukan restoran yang tidak seramai restoran pertama. Lily meneguk ludahnya ketika berbagai jenis hidangan laut tersaji di depannya.
“Selamat makan kak.” Lily segera memakan makanan pesanannya.
Saat sedang asik makan, mata Lily tidak sengaja melihat seorang laki-laki yang terlihat mencurigakan masuk ke dalam restoran ini. Ingin mencoba acuh tapi tidak bisa, apalagi ketika laki-laki itu berjalan dengan hati-hati seolah takut ketahuan membuat Lily waspada.
Menyadari ada yang tidak beres dengan pandangan Lily, Carol mengikuti arah pandang gadis itu. Ketika sadar dengan situasi yang terjadi, Carol mengumpat dan segera menarik tangan Lily untuk segera keluar dari tempat ini.
Tapi semuanya terlambat ketika laki-laki berteriak dan mengacungkan sebuah pistol ke segala arah. Carol yang melihatnya segera menarik tangan Lily untuk berada di belakangnya. Sedangkan seisi restoran berteriak panik melihatnya.
“Kak bagaimana ini.” Bisik Lily di telinga Carol.
“Tenang.” Carol menekan sebuah tombol yang berada di telinganya untuk meminta bantuan. Dia sendiri lupa untuk membawa pistol yang malah dia simpan di mobil.
Mata Lily membulat ketika laki-laki itu akan menembak seorang anak kecil yang menangis di pojok ruangan.
“DIAM!” Laki-laki itu berteriak pada si anak yang malah membuat tangisannya mengencang.
Diam-diam Lily menyingkap kaus yang dikenakannya dan menarik pistol yang dia selipkan.
Di dalam mobil tadi tanpa sepengetahuan Carol, Lily mengambil pistol yang ada di dashboard mobil. Lily berpikir siapa tahu benda ini akan berguna dan ternyata firasatnya benar.
Dengan sedikit gemetar Lily mengarahkan pistolnya ke arah laki-laki itu yang sedang berteriak pada anak di depannya. Meskipun sudah di latih tetapi tetap saja baru kali ini Lily akan melakukannya pada seorang manusia.
Dor
Bukan, Lily belum sempat menembak tapi laki-laki itu tiba-tiba menembak ke arahnya dan mengenai lengan Carol yang berusaha melindunginya. Sebelum laki-laki itu sadar dengan benda di tangannya Lily memasukkannya kembali ke baju dan membantu Carol yang terjatuh.
“Kak tahanlah.”
“Tidak apa.” Carol hanya meringis lalu bangkit kembali dan berlari untuk menyerang laki-laki itu yang akan menembakkan pelurunya lagi.
Carol mendorong tubuh laki-laki itu hingga menghantam meja di belakangnya membuat tubuh keduanya terjatuh. Carol bangkit dan mencoba untuk merebut pistol dari tangan laki-laki itu.
Ketika akan mengambil pistol itu, kaki Carol di tahan dan membuat Carol terjatuh lalu laki-laki itu bangkit dan menarik tangan Carol lalu mengangkat tubuhnya dan membanting ke sudut ruangan.
Lily tidak bisa diam saja, dia harus membantu Carol yang kesakitan. Setelah mengumpulkan keberaniannya Lily segera berlari lalu menginjak sebuah meja lalu melompat, kemudian menendang laki-laki itu tepat di kepalanya hingga membuatnya langsung terjatuh.
Tidak sia-sia juga selama ini Lily berlatih bersama Kay.
Sebelum laki-laki itu bangkit kembali, Lily segera memberikan beberapa pukulan hingga membuat laki-laki itu mengeluarkan darah dari mulutnya.
Saat akan memberikan pukulan kembali tangannya di tahan oleh laki-laki itu membuat Lily segera melepaskannya tapi gagal karena satu pukulan melayang ke matanya membuat pandangan Lily seketika berkunang-kunang.
Carol mencoba bangkit kembali untuk menyelamatkan Lily yang akan di pukul kembali tapi langkahnya terhenti ketika gadis itu tiba-tiba berdiri lalu menendang ************ laki-laki itu dengan kuat membuatnya tumbang seketika. Tidak sepertinya tidak satu kali Lily menendangnya tapi lebih dari tiga kali.
Lily segera berlari ke arah Carol setelah memastikan laki-laki itu tidak bisa bergerak lagi.
“Kak lukamu.” Lily menahan darah yang keluar dari tangan Carol.
“Tidak apa-apa.”
“Tidak apa-apa bagaimana, di tangan kakak ada pelurunya.” Mata Lily berkaca-kaca.
Tiba-tiba saja masuk orang-orang berpakaian serba hitam yang segera mengamankan laki-laki tadi. Lalu Lily melihat Aebi yang berjalan ke arah keduanya.
“Kalian tidak apa-apa.” Aebi tidak bisa menyembunyikan wajah khawatirnya.
“Paman, tangan kak Carol terluka.” Lily memperlihatkan tangannya yang masih menahan luka di tangan Carol.
“Kau obati dulu mata Lily.” Ujar Carol pada Aebi.
“Tidak aku ingin kau membawa kak Carol dulu.”
“Kenapa ribut ayo kita pergi bersama-sama.” Aebi segera merangkul bahu Carol dengan Lily yang tetap memegang tangan Carol.
Tiba di depan mobil pandangan Lily tiba-tiba saja kabur hingga membuat ketiganya berhenti.
“Lily lepaskan saja tanganku tiba apa-apa."
“Tidak kak aku takut.” Ujar Lily seraya menggelengkan kepalanya berharap rasa pusingnya hilang.
Tapi hal itu malah membuat kepalanya lebih pusing membuat Lily melepaskan tangannya dari tangan Carol lalu berjongkok membuat Carol dan Aebi khawatir.
Aebi memanggil seseorang dan menyuruhnya untuk segera membawa Carol ke rumah sakit sedangkan dia segera merangkul Lily untuk masuk ke dalam mobil dan bersamaan dengan tubuh gadis itu luruh pingsan.
Dengan cepat Aebi mengendong tubuh Lily dan dalam hatinya memohon maaf pada sang tuan karena telah menyentuh tubuh gadisnya.
Apalagi ketika Aebi melihat wajah gadis ini terluka, habislah sudah nasib dia dan Carol.
+
+
...°B e y o n d T h e S e a °...
sukses otor, dan semangat 💪😘