Kehidupan yang dijalani Acha tidak pernah benar baik baik saja . kekacauan hidupnya dimulai saat Acha melihat dan menyaksikan bapak dan ibunya terkapar bersimbah darah dijalanan akibat ulah penabrak mobil yang tidak bertanggung jawab .
Dewangga yang mencoba berpura pura mendekati Acha untuk tidak ketahuan bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab kedua orang tua Acha tiada memberanikan diri untuk menikahinya , walau dengan sangat terpaksa .
Acha yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Dewangga dan Sang Mertua , benar benar syok dan tidak menyangka. selama ini dia hidup dengan seorang pembunuh kedua orang tuanya .
Acha memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dewangga setelah mengetahui itu semua , dan disaat itu pula , terciptala buah hati mereka di dalam rahim Acha .
tanpa Acha sadari , Dewangga telah jatuh pada pesonanya . Akankan Dewangga jujur mengenai dirinya yang telah memyebabkan kedua orang tua Acha meninggal ?
Bagaimanakah nasib pernikahan Dewangga dan Acha ? simak terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dona rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Dewa segera masuk ke dalam mobil yang di kemudikan oleh Tama. Ya, Tama yang menyetir mobil Dewa saat ini hendak menuju rumah utama.
"Renata lo tinggal gitu aja Wa?." Tanya Tama sesekali melihat Dewa dari kaca spion. Tama mengetahui Renata saat dirinya akan menemui Dewa tadi.
"Iya gue tinggalin dia gitu aja Tam. Apa gue salah jika meminta Renata berhenti dari dunia model dan ingin memiliki anak dari dirinya!." Ucap Dewa dengan sendu.
Tama menghembuskan nafasnya dengan pelan. Dia susun kata-kata yang mungkin bisa masuk di akal untuk menjelaskannya pada Dewa. Tama tidak mungkin membongkar kebusukan Renata saat ini juga. Sudah di pastikan pastinya Dewa tidak akan percaya begitu saja, jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Tidak ada yang salah Wa. Memang Renatanya saja yang egois menurut gue pribadi. Gue rasa Renata memang senang dengan dunia dia yang sekarang daripada mikirin gimana ke depannya. Lantas lo sekarang maunya gimana?." Tama bertanya dengan nada selidik.
"Maybe gue akan terima tawaran Bokap untuk menikahi anak sahabatnya." Ucap Dewa dengan jelas.
"Yakin lo Wa?." Tama kaget mendengar ucapan sahabatnya ini. Bukannya apa-apa setahu Tama, Dewa sangat amat bucin dengan Renata. Masa iya ini akan menikah dengan anak sahabat Papanya Dewa sendiri.
"Iya gue yakin Tam. Gue sekalian mau menebus dosa gue sama anaknya sahabat Bokap."
Tama mengernyitkan alisnya saat mendengar ucapan Dewa. Menebus dosa? Dosa apa yang Dewa maksud.
"Lo mau tahu kenapa gue milih mau nikahin anaknya sahabat Bokap?." Dewa menghela nafas panjang untuk menceritakan pada Tama. "Ternyata pasangan Suami dan Istri yang gue tabrak adalah sahabat baik Bokap yang ada di kampung dulu Tam. Dan mereka berdua mempunyai anak perempuan yang cantik. Usianya sekitar dua puluh dua tahun kalau tidak salah." Ucap Dewa sambil mengingat wajah Acha.
Tama yang mendengar itu sangat syok dan tidak bisa berkata apa-apa. Dunia ini memang sempit, bagaimana bisa Dewa menikah dengan anak yang orang tuanya telah di tabrak oleh dirinya.
"Dan dia tahu kalau lo yang nabrak kedua orang tuanya?." Kembali Tama bertanya.
Dewa menggelengkan kepalanya. "Gue rasa dia belum tahu kalau gue yang nabrak Tam. Gue takut untuk mengaku di hadapannya, gue belum siap liat reaksi dia ketika dia tahu bahwa gue lah penyebab kedua orang tuanya meninggal." Helaan nafas Dewa terdengar oleh Tama.
"Ini akan jadi boomerang kalau sampe lo tidak mengakui kalau lo yang nabrak kedua orang tuanya di depan dia Wa." Ucap Tama yang masih fokus pada jalanan.
"Gue tidak pernah setakut ini sebelumnya Tam. Melihat dia nangis tanpa suara di depan gue aja udah buat gue merasa bersalah."
"Intinya gue peringatin lo ya Wa. Sepandai-pandainya lo nyimpen bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Gue cuma tidak ingin lo menyesal di kemudian hari saat dia tahu dari orang lain Wa."
"Semoga saja tidak ya Tam." Jawab Dewa penuh harap.
Entah apa yang ada di fikirannya saat ini. Tetapi, saat Dewa melihat Acha yang begitu hancur membuat dirinya kembali merasa bersalah. Kalau saja pada saat itu Acha tidak teriak, mungkin orang tua Acha masih hidup sampai sekarang. Ya, Dewa panik saat Acha teriak di belakang mobilnya saat itu. Tanpa berfikir panjang, Dewa pun meninggalkan pasangan Suami dan Istri itu di tempat kejadian bersama Acha.
****
Mobil yang Dewa tumpangi sudah sampai di dalam halaman kediman utama. Mansion berlantai tiga itu masih tetap sama tidak ada yang berubah sama sekali.
Semenjak menikah dengan Renata, Dewa memang tidak pernah datang ke kediaman utama. Mama Shiren sangat mengultimatum Renata untuk tidak boleh menginjakan kakinya di kediaman utama.
"Selamat sore Aden." Ucap Bik Jum yang saat ini tengah membuka pintu untuk Dewa.
"Sore Bik Jum. Bibik apa kabar? Makin cantik aja." Tanya Dewa yang sudah berada di depan Bik Jum. Asisten rumah tangga yang sudah dia anggap seperti Ibunya sendiri.
"Aden bisa aja, Bibik alhamdulillah sehat. Masuk atuh Aden jangan di depan pintu begini. Nyonya sudah menunggu Aden dari tadi." Jawab Bik Jum kepada Dewa.
"Mau ikut masuk apa langsung pulang?." Tanya Dewa kepada Tama yang masih setia di dalam mobil.
"Langsung pulang tidak masalah kan?."
"It's okey, Take care." Jawab Dewa sembari melenggang masuk ke dalam rumah.
Dewa berjalan masuk ke dalam rumahnya. Masih sama seperti dia bujang dulu, tidak ada yang berubah sama sekali.
"Mama ada Bik?."
"Ada Den, lagi masak sama Mbak Acha di dapur."
Dewa mengerutkan alisnya saat mendengar nama Acha. "Acha?".
"Iya Den, Nyonya lagi masak bareng sama Mbak Acha." Kembali Bik Jum berucap kepada Dewa.
"Acha ada di sini Bik?."
"Iya Aden, Mbak Acha barusan tadi sampai di sini. Bibik pamit kembali ke belakang dulu Aden." Ucap Bik Jum untuk pamit kembali kebelakang untuk mengerjakan kembali pekerjaannya.
Dewa dengan semangat berjalan menuji dapur guna melihat apakah benar ada Acha atau tidak di rumah ini.
"Mama." Panggil Dewa kepada Mamanya yang masih setia berbalut celemek dengan gadis muda di sampingnya yang sudah Dewa pastikan adalah Acha.
"Sayangnya Mama sudah datang?." Shiren berjalan melepas celemeknya sembari mendekati Dewa.
"Maafin Dewa yang baru bisa datang untuk menjenguk Mama. Mama sehat?." Ucap Dewa seraya memeluk Shiren dengan hangat.
"Mama sehat sayang." Sambil menyeka air mata yang jatuh di pipinya.
Acha yang melihat pemandangan itu menjadi sedih kembali. Tanpa terasa air mata yang dia tahan akhirnya jatuh juga.
"Maafin Dewa Ma, Mama mau kan memaafkan anak Mama yang bandel ini." Ucap Dewa yang masih setia mengusap pipi Shiren yang penuh dengan air mata.
Shiren mengangguk dengan pelan sambil mengusap pipi Dewa. "Mama sudah masak makanan kesukaan Kamu. Kamu jadi menginap di sini kan Wa? Kita makan bareng-bareng di sini ya sayang." Ucap Shiren kepada Dewa.
"Iya Ma, Dewa akan menginap di sini. Dewa bersih-bersih dulu ya Ma badan Dewa lengket semua." Jawab Dewa yang akan pergi ke kamar.
"Tunggu, Mama mau kenalin Kamu sama Acha."
Acha segera mengusap air matanya dengan cepat, dia tidak ingin Mama Shiren melihat kalau dirinya bersedih lagi.
"Kamu habis menangis sayang?." Tanya Shiren yang melihat Acha berusaha mengusap pipinya. Ya, dan benar saja dugaan Shiren bahwa Acha habis menangis terlihat jelas saat mata Acha dan hidungnya sedikit memerah.
"Acha hanya terharu saat tadi tidak sengaja lihat Mama sama Mas Dewa. Maaf Acha cengeng ya Ma hehehe." Dusta Acha seraya menghapus sisa air mata.
"Tidak masalah sayang, sini ikut Mama. Mama mau kenalin Kamu sama Dewa anak semata wayang Mama." Seraya segera menarik tangan Acha.
"Sebentar Ma, Acha matikan dulu kompornya." Dengan segera Acha mematikan kompornya dan Shiren kembali mengapit lengan Acha untuk segera bertemu dengan Dewa.
Harum parfum Acha menguar di indera penciuman Dewa. Wangi yang lembut membuat Dewa terpaku sejenak menikmatinya.
"Dewa kenalin ini Acha." Shiren mencoba memperkenalkan mereka berdua.
Dewa terpukau dengan peampilan Acha. "Cantik." Gumam Dewa dalam hati. Dia terpana melihat kecantikan Acha. Acha memiliki daya tarik tersendiri untuknya.
"Gila cantik banget. Tidak , gue tidak boleh terpana. Ingat Wa lo punya Istri di rumah." Monolog Dewa dalam hati saat melihat penampilan Acha.
"Gimana Wa? Cantik kan Acha." Tanya Shiren kepada Dewa.
"Not bad lah Ma." Jawab Dewa acuh tak acuh. Padahal dalam hati dia sungguh sangat memuji Acha. Acha yang saat ini jauh dari bayangan dirinya saat pertama kali Dewa melihatnya.
Dia merasa kaget atas perubahan penampilan Acha. Acha yang saat ini tengah memakai dress sangat cantik dan kontras dengan kulit warnanya membuat Dewa terpukau.
"Acha akan tinggal di sini bersama Mama dan Papa, Wa." Ucap Shiren kepada Dewa.
"Tinggal di sini Ma?." Jawab Dewa kaget bukan main.
"Kenapa? Kamu keberatan? Hem?."
"Bukannya Dewa keberatan Ma. Tetapi ini sangat mendadak."
"Ini tidak mendadak, Kamunya saja yang tidak pernah ada untuk Mama. Keputusan ini juga sudah di sepakati oleh Papa." Gerutu Shiren saat melihat wajah sang anak tidak bersahabat.
"Baiklah baiklah kalau begitu. Terserah Mama dan Papa baiknya gimana. Dewa bisa pamit untuk bersihkan badan sekarang tidak Ma? Lengket sekali Dewa tidak suka."
"Ya sudah sana Kamu bersih-bersih. Habis itu kita makan malem sama-sama ya Wa."
"Hem." hanya deheman yang keluar dari mulut Dewa. Dia tidak menyangka jika Acha akan tinggal di rumahnya.
"Hey Boy, sudah lama datangnya?." Ucap Ravendra saat melihat Dewa yang akan segera masuk ke dalam kamar.
"Sudah dari tadi Pa." Jawab Dewa dengan cepat.
"Bersihkan dulu badan Kamu, sehabis itu bisa kita bicara berdua di ruang kerja Papa?."
"Bisa Pa, kalau begitu Dewa bersih-bersih dulu." Ucap Dewa saat Sudah masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Ravendra sendiri.
"Semoga jalanku benar untuk menikahkan mereka berdua, Di. Aku janji akan terus membahagiakan Acha."
Monolog Ravendra yang saat ini tengah asyik melihat pemandangan yang amat manis di depan mata.
Bersambung. . .