NovelToon NovelToon
Istri Tertukar Tuan Anres

Istri Tertukar Tuan Anres

Status: tamat
Genre:Pengganti / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:180.3k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Memiliki suami tampan, kaya dan mapan, serta hidupnya diratukan, adalah impian semua perempuan. Seperti Elena yang tiba-tiba berubah menjadi Elea, istri dari Anres Alvaro Tanujaya, serta ibu dari si cantik Arabella. Hidup Elena pun berubah bak seorang ratu dari negeri dongeng.


Tapi, bagaimana jika semua itu hanya pinjaman. Bagaimana jika satu saat pemilik sahnya datang, dan meminta kembali semua yang sudah dipinjamkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Berkali-kali Elena mengetik nama Edward untuk mencari info perihal pria itu di berbagai media sosial yang ia kunjungi. Namun, hasilnya nihil. Edward yang muncul di layar ponselnya, setelah ia melakukan pencarian itu bukanlah Edward yang dimaksud.

Elena menghela napas. Ia kebingungan sendiri, dengan cara apa lagi ia bisa tahu perihal siapa Edward sebenarnya. Sosoknya sebagai orang kepercayaan Anres dan sepak terjang lelaki itu untuk sang tuan--dengan menghadirkan istri bohongan--begitu kontradiktif menurut Elena. Dan hal itu memantik rasa penasaran yang sangat dalam. Namun, wanita itu tidak punya sumber yang bisa ia jadikan tempat bertanya. Hanya Indah dan Ranti yang mungkin bisa menjadi sumber informasi terpercaya.

Akan tetapi saat Elena coba menggali keterangan dari keduanya, dua orang asisten keluarga Tanujaya itu terkesan tak cukup tahu banyak tentang siapa dan bagaimana Edward, kecuali pengetahuan secara umum, bahwa lelaki tersebut adalah kepercayaan Anres. Justru kemudian, Ranti dan Indah malah menatap curiga pada Elena yang ingin tahu lebih banyak tentang Edward, karena setahu mereka selama ini yang paling dekat dengan Edward selain Anres, adalah istrinya Anres yakni nyonya Elea, yang kini diperankan oleh Elena.

Akhirnya Elena memutuskan untuk mencari di media sosial. Namun hasilnya nihil. Informasi yang didapat dari sana hanya seputar Anres Alvaro Tanujaya, dengan kiprahnya sebagai pebisnis muda sukses menggaungkan nama keluarga besar Tanujaya, dan bukan tentang Edward, asistennya.

"Nyonya, mobilnya sudah siap." Ranti tiba-tiba sudah berdiri di tengah pintu kamar dan menyampaikan pemberitahuan.

"Mobil apa?"

"Untuk nyonya pergi hari ini."

"Pergi kemana? Aku tidak punya rencana pergi kemana pun hari ini." Elena berbalik menatap asistennya itu dengan tatap heran.

"Ini atas perintah tuan Anres dan mas Edward. Katanya hari ini, Nyonya akan pergi untuk merayakan ulang tahun seperti biasa," terang Ranti berdasarkan perintah yang didapati.

Hari ini adalah hari ulang tahun Elea.

Elena menarik napas, dan akhirnya mengangguk pelan.

"Aku akan bantu nyonya untuk bersiap." Ranti segera maju untuk melayani sang nyonya.

Elena pergi sendiri,tak ada asisten yang mendampingi. Ia hanya bersama sopir keluarga Tanujaya yang penampakannya saja baru dilihat sekarang oleh Elena. Pasti semua itu telah diatur oleh Edward, selaku sutradara di balik peran sebagai Elea yang dijalankan Elena. Wanita itu juga tak bertanya, kemana sopir akan membawanya pergi. Ibarat wayang, ia hanya mengikuti saja apa jalan cerita yang sudah disiapkan oleh sang dalang.

"Ibu ..." lirih ia memanggil dengan suara yang hampir tenggelam di tenggorokan. Bahkan terasa kedua kaki tak lagi punya kekuatan untuk terus melangkah, kala pemandangan seperti ini yang terlihat di depan mata. Elena tenggelam dalam rasa haru dan bahagia.

Nurma ibunya, nampak duduk di atas kursi roda di depan sebuah ruang rawat istimewa. Ada seorang gadis muda berseragam putih yang menemaninya. Melihat kemunculan Elena, gadis muda itu segera tersenyum dan berlalu.

"Elena."

"Ibu."

Pertemuan penuh haru antara ibu dan anak itu pun terjadilah. Elena menghambur ke arah Nurma dan memeluknya. Nurma pun menyambut hadirnya sang putri dengan tetesan air mata.

"Maafkan, Lena, Bu." Setelah sekian menit, dan setelah pelukan di antara keduanya itu terurai, Elena mengawali kalimatnya dengan permintaan maaf. "Aku gak bisa menemani ibu selama dirawat," sesal Elena dengan air mata yang enggan surut.

Ucapan itu justru disambut dengan senyuman lembut oleh sang ibu.

"Justru ibu yang harus berterima kasih, Nak. Kau sudah sangat bekerja keras, untuk ibu bisa dirawat." Nurma meraih pucuk kepala sang putri yang berjongkok di hadapannya, lalu mengusapnya lembut. "Maafkan ibu yang sudah banyak menyusahkanmu," ucap Nurma tulus.

"Tidak, Bu. Jangan berkata begitu. Ini sudah kewajibanku." Elena kembali memeluk ibunya dengan sayang, dan bersyukur dengan sepenuh hati melihat kondisi sang ibu yang tampak lebih baik sekarang.

"Lena, tidak berhutang lagi pada Baron 'kan?" tanya Nurma kemudian dengan hati-hati. Selama ini, selama mendapatkan perawatan istumewa begini, hatinya selalu bertanya dengan apa Elena melakukan semuanya. Karena dari perawat yang selalu menemaninya, Nurma dapat tahu kalau perawatan yang ia jalani adalah berkat kerja keras Elena. Dalam hati ia hanya berharap, putrinya semata wayang itu tidak jatuh pada jerat Baron, atau pun melakukan hal-hal yang dapat membahayakan.

"Tidak, Bu," sahut Elena sambil menggeleng. "Aku tidak berhutang lagi pada Baron. Bahkan seluruh hutangku padanya, sudah dibayar lunas," imbuhnya dengan senyum berbinar. Walau jujur ada rasa nyeri di sisi hatinya yang lain ketika mengucapkan hal tersebut.

"Syukurlah," ujar Nurma sembari menyematkan senyuman lega. "Jadi, kau kerja apa sekarang, Elena?" tanya Nurma lagi. Yang membuat Elena sejenak menahan napas sebelum mulai menjawab.

"Aku, bekerja pada salah satu pengusaha kaya yang baik hati, Bu. Aku menjadi asisten di rumahnya. Dan dia berjanji untuk membiayai semua perawatan, Ibu." Di akhir titik kalimatnya, Elena langsung menunduk. Ada rasa bersalah dalam dirinya, karena harus berbohong pada sang ibu.

"Ibu senang sekali. Majikanmu itu juga memenuhi semua janjinya padamu."

Hal itu diucapkan Nurma, karena terbukti ia mendapatkan perawatan terbaik atas penyakit kronis yang diderita.

"Iya, Bu. Dan aku minta maaf, karena hal ini, aku tak bisa menemanimu selama dirawat."

"Tidak apa-apa, Nak. Ibu mengerti." Kembali dua wanita yang berbeda generasi itu saling berpelukan. Hingga, sebuah panggilan telepon dari dalam tas sandang Elena harus mengakhiri suasana mengharu biru yang mewarnai keduanya.

"Kau senang?" Suara tanya dari seorang laki-laki saat Elena mengangkat telepon.

"Edward?" Elena segera dapat mengenali suara tersebut.

"Kau berharap siapa?"

"Aku tak mengharapkan siapa pun. Hanya saja, aku memang sangat ingin berbicara denganmu saat ini," kata Elena cepat. Ia tak akan melewatkan kesempatan untuk bertanya pada Edward perihal obat yang diberikan pada Anres itu sekarang.

"Penting?" singkat Edward.

"Sangat penting," sahut Elena pasti.

"Sayangnya aku sekarang tidak punya waktu. Aku hanya ingin memastikan kalau hari ini kau bertemu dengan ibumu."

"Iya. Aku bertemu dengan ibu, terima kasih kau sudah menepati janjimu padaku," ucap Elena sembari memandang pada Nurma dan tersenyum. Wanita itu lalu berdiri semakin menyisih dari posisi duduk sang ibu.

"Itu, karena kau sudah menjalankan peranmu dengan baik, sebagai Elea." Dan setelah mengucap kata itu, Edward segera mengakhiri teleponnya tanpa kata.

Elena berdecih kesal dan segera mendial ulang nomor tersebut. "Edward, aku hanya ingin bertanya sebentar," kata Elena langsung begitu teleponnya diangkat.

"Besok saja," jawab Edward singkat dan kembali mematikan sambungan dengan cepat. Sepertinya wanita itu memang harus kembali menahan segenap rasa penasaran sampai waktunya tiba.

Esok hari.

1
Deuis Lina
kak naj ,,,
Deuis Lina: ya aku baca ulang istri tertukar tuan anres,,tapi aku penasaran sama lanjutan Kalam cinta untuk nafsa hehehe
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
waduh kejedot tembok pasti sakit banget yaaakkkk
Micke Rouli Tua Sitompul
alea datang
YuWie
benar, semakin banyak manusia yg mengedepankan akal tapi mengabaikan hukum Tuhan. Aku sampai bayangkan, besokkk kedepannya 20 atàu 30tahun kedepan ketika anak2ku menjadi ibu akan semakin seperti apaaaaa kehidupan ini. Yg salah jadi terlihat benar dan semakin merajalela
YuWie
ahhh..untunglah klo edward tidak terlibat.
YuWie
lahhh edward tau semua...
YuWie
hedewwww..kakehan misteri...genre detektif kali ya..gak ada romantis nya blas
YuWie
polisi wae bingung, apalagi aku...suspect baru
YuWie
motif nya apa Damita..harta lagi, kurang banyaknya bagiannya
YuWie
owww, begituuu alurnya
Zahwa Putri Bunda
tetep.semangat terus untuk berkarya kak Najwa..aku suka sama cerita novel² kak Najwa...,💪🏻💪🏻👍🏻👍🏻💞
Isti Qomah
ini Edward Wiliam bkn si kak,,
kalau dilihat dari crita awal ny si ada bawa2 bama Pramudya corp..
Mommy elle
makasih Najwa akhirnya cerita ini diselesaikan juga. memang tulisannya Najwa selalu memuat konflik yg berat tp di situ juga sebenarnya menariknya. karena seberat apapun konfliknya, penyelesaiannya selalu sangat memikat. semangat terus berkarya 💪💪💪
Liza Arjanto: baguuuusss ceritanya. sarat kesan moral. Trims author
total 2 replies
Deuis Lina
tapi nunggu lanjutannya anaknya mas damares atau babang erald kok d lanjutin kak nazwa
Najwa Aini: Iya, Kak. Mau dilanjutin juga
total 1 replies
Deuis Lina
keren pokonya endingnya,,
Najwa Aini: Matur Nuwwun kak
total 1 replies
andriya
ku tunggu karya selanjutnya kak Naj...
semangat ya...
Najwa Aini: Makasih ya Kak.
Karya baru udah ada..Hadir ya..
aku tunggu lhoo
total 1 replies
Deeha
bagus mrnarik ceritanya
kurnia rahayu
Luar biasa
Zahwa Putri Bunda
itulah tokoh² kak Najwa yg selalu mengedepankan sifat² yg positif pada tokoh utamanya....
HANAMI DEWATI
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!