NovelToon NovelToon
Our Fault

Our Fault

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Tamat
Popularitas:83.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sunshine_n99

Kiana Anuradha Widjaya.

Perempuan itu lebih baik menikah muda, daripada berpacaran. Prinsipnya seperti itu. Dia berani nikah muda sekalipun masih duduk di bangku SMA.

Kiana menikah dengan ararya Sadira Pratama atau yang biasa dipanggil Arya.

Dalam pernikahan itu, Kiana membuat kesepakatan dengan Arya untuk menunda punya anak terlebih dahulu.

Namun sayangnya kesepakatan yang sudah disetujui itu, Arya langgar karena khilaf.

Hingga akhirnya Kiana dinyatakan hamil.

Jika seperti ini kejadiannya? Lalu bagaimana dengan kehidupan pernikahan mereka? Bagaimana dengan anak mereka nanti juga dengan cita-cita Kiana?

"Kamu bajingan! Kamu itu... jahat! Kasar! Pemaksa! Kamu mirip monster. Dan bodohnya aku, malah terbuai percaya sama kamu. Aku benci kamu, mungkin untuk selamanya. Aku menyesal bersamamu."

"Maafkan aku, Ki. Semuanya karena aku. Aku yang salah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunshine_n99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 13 - Kinaya

Pada akhirnya, hari yang sudah mereka tunggu sejak lama tiba juga. Kelahiran bayinya.

Kiana baru saja selesai menjalankan tugasnya sebagai seorang perempuan. Dia berhasil melahirkan anak pertamanya setelah dia berjuang beberapa jam dengan ditemani Arya, suaminya.

Bayi kecil itu lahir dengan selamat juga sehat ke dunia yang penuh misteri ini. Kelahirannya begitu sangat diterima dan ditunggu oleh banyak orang.

Dia lahir dengan jenis kelamin perempuan, berat 3500 gram, panjang 48 cm dan wajah cantiknya yang begitu menyerupai Arya – ayahnya. Karena rupanya yang mirip Arya, banyak yang berkata bahwa dia adalah Arya versi perempuan.

Arya tak bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata ketika melihat anaknya sudah lahir. Penantiannya pada bayi itu kini sudah terbalas dengan perasaan haru nan bahagia.

Pria dewasa itu dibuat takjub dengan tubuh mungil bayinya.

Untuk pertama kalinya Arya menggendong seorang bayi, dan bayi yang dia gendong adalah anak pertamanya sendiri.

Bibir Arya terus saja tertarik untuk tersenyum saat menggendong bayinya. Dia juga sesekali mencium keningnya atau pipinya saking gemasnya pada manusia mungil itu.

Awalnya bayi itu menangis saat berada di gendongan Arya, tapi kemudian tangisan itu langsung berhenti sewaktu Arya menciumnya. Ah begitu mengharukan momen tersebut, membuat siapapun bisa terharu ketika melihatnya.

Kiana baru saja bangun dari tidurnya. Dia memperhatikan keadaan sekitar. Lebih tepatnya, dia mencari di mana keberadaan anak yang dilahirkannya? Karena saat dia bangun, bukan bayi itu yang pertama kali dilihatnya, melainkan Arya, ayah bayi itu.

“Kamu udah bangun? Kakak panggil dokter ya, buat periksain keadaan kamu.” Arya berujar dan menampangkan raut wajah khawatirnya.

Kiana menjawab tawaran Arya dengan gelengan, “bayi itu di mana?” Tanyanya dengan suara parau.

“Dia ada di ruangan bayi. Kenapa? Kamu mau lihat dia?” Arya tersenyum pada Kiana.

Kiana menggelengkan kepalanya lagi tanpa ekspresi, “enggak.”

“Kenapa? Dia butuh kamu, Kiana. Kamu ibunya.”

Kiana menatap Arya datar dan berkata ketus, “ya terus kalau aku ibunya emang kenapa?”

“Kalau kamu sadar bahwa kamu ibunya, harusnya kamu itu beri kasih sayang kamu sama dia. Dia itu baru lahir. Butuh kasih sayang juga perhatian penuh dari ibunya.”

“Hah? Kasih sayang?” Kiana tertawa sinis, “kamu pikir aku sudi kasih perhatian sama kasih sayang aku buat dia si manusia perusak hidup aku? Enggak ya. Toh aku sendiri juga sebenarnya gak mau jadi ibunya, kamu kan tahu soal itu. Lagian kenapa harus aku coba yang kasih dia perhatian? Kenapa enggak cewek lain aja? Kan banyak cewek di luaran sana yang kayaknya mau jadi ibu buat manusia itu.” Kata Kiana dengan mudahnya.

Arya hampir akan mengeluarkan emosinya yang sudah berada di puncak. Kalau saja dia tidak ingat akan perjuangan Kiana yang sudah melahirkan anaknya, sudah habis Kiana dimarahi oleh Arya karena ucapannya itu.

Sebelum berkata, Arya menarik nafas untuk meredakan emosinya, “kamu mau tahu jawabannya apa? Karena

kamu itu ibunya Kiana! Kamu ibu kandungnya!” Suara Arya begitu keras, “buat apa dia minta kasih sayang ke perempuan lain, sementara dia juga punya ibu sendiri dan ibu kandungnya itu masih hidup dengan sehat di sini.”

Arya merubah posisinya yang semula berdiri menjadi duduk di kursi dekat ranjang Kiana, “aku tahu kamu tidak suka dengan kehadiran dia karena aku. Tapi tolong, bisa kamu hilangkan sejenak rasa tidak suka kamu itu? Seenggaknya sampai dia berumur dua tahun, sesuai dengan perjanjian kita.”

“Kamu kenapa jadi nyalahin aku? Harusnya di sini itu aku yang nyalahin kamu! Ini semua juga terjadi gara-gara kamu! Aku kayak gini juga gara-gara kamu Nararya!” Tantang Kiana dengan tatapan tajamnya, “dan gara-gara bayi sialan itu juga, aku hampir aja mati! Aku kritis! Kamu mau aku mati hah?! Seneng ya kalau aku mati?” Kiana

menyentak Arya. Untungnya ruang rawat ini kedap suara, sehingga suara sentakan Kiana tak dapat terdengar sampai keluar.

“Gak bapaknya gak anaknya, ternyata sama aja! Kalian itu sama-sama pembawa sial buat aku!” Kiana lagi memberikan sentakannya.

Arya mengepalkan tangannya. Kali ini dia tidak bisa menahan amarahnya itu. Dia ingin melampiaskan amarahnya, tapi tidak pada Kiana. Maka dari itu, Arya memilih keluar untuk mencari pelampiasan amarahnya.

Brak....

Arya pergi keluar meninggalkan Kiana sendiri dan membanting pintu kamar secara tidak sengaja, karena emosinya yang belum mereda.

Kepergian Arya tanpa izin Kiana membuat dia menjadi diam dan merasa bersalah.

Dia pun memilih untuk kembali membaringkan tubuhnya ke ranjang dan melamunkan soal perdebatan yang baru saja terjadi di antaranya dengan pria yang baru saja pergi itu.

Kenapa aku jadi jahat seperti ini? Aku ini perempuan, aku seorang ibu sekarang. Harusnya seorang ibu itu bersikap lembut. Tapi... tapi aku gak bisa bersikap kayak gitu sama dia. Karena dia, aku hampir mati! Juga cita-citaku pun harus musnah.

Kiana begitu fokus dengan lamunannya. Sampai lamunan itu harus berhenti karena pintu kamarnya terbuka

sendiri dan memperlihatkan seorang perawat yang membawa bayi. Pasti itu bayinya, firasat Kiana mengatakan.

Bayi yang dibawa perawat tersebut kini sudah berada dekat ranjang Kiana dan dia bangun dari posisi tidurnya.

Inikah bayi itu? Bayi yang pernah hidup di perutku dan membuatku hampir mati? Dia begitu mungil, tapi kenapa  bisa menyebabkan aku hampir mati dan melenyapkan cita-citaku?

Perkataan Kiana memang begitu jahat. Jika Arya mendengar perkataan itu, pasti Arya akan menyebut Kiana sebagai ibu yang jahat pada anak kandungnya. Karena ibu tiri pun tak semuanya akan berkata jahat seperti Kiana pada anak tirinya sendiri.

“Mbak, mau gendong bayinya?” Perawat itu menegur Kiana yang menatap bayinya serius.

“Hah?” Kiana kebingungan dan tersenyum menyengir, “itu... Enggak ah, saya masih takut, Suster. Bayi saya kecil soalnya, saya takut kalau dia kejepit pas saya gendong.” Tolak Kiana yang sebenarnya itu hanya alasannya saja.

Jawaban Kiana membuat perawat yang bernama Nina itu tertawa, “Mbak lucu deh. Mbak gak usah takut, sini saya ajarin ya caranya gendong gimana.” Nina tersenyum dan menggendong bayi tersebut dengan begitu telaten, kemudian memberikannya pada Kiana yang sudah siap menerima bayi itu ke gendongannya.

“Nah itu Mbak udah bisa gendong bayinya.” Puji Nina, “tangannya gak usah kaku Mbak, rileks aja sama pakai perasaan juga. Kalau Mbaknya nyaman dengan posisi itu pas gendong bayinya, pasti si bayi pun bakal ngerasa nyaman juga.” Tutur Nina.

“Oh iya Mbak mau sekalian belajar gak cara kasih ASI ke bayinya gimana?” Nina menawarkan kembali bantuannya.

Tanpa berpikir panjang, Kiana setuju saja dengan tawaran itu dan Nina langsung mengajari Kiana.

Beberapa menit kemudian, Nina pun pergi dari hadapan Kiana. Hingga tersisa hanya Kiana juga bayinya saja di ruangan ini.

Hanya berdua bersama bayinya dan sibuk memberikan ASI pada bayi itu. Kiana merasa aneh ketika melakukan kegiatan tersebut. Dia belum terbiasa dengan kegiatan barunya ini.

Kiana terus saja menatap bayinya tanpa henti. Meskipun terasa aneh dengan kegiatannya, tapi jujur dalam hatinya Kiana merasa terharu ketika bayinya menyusu padanya. Saking terharusnya, dia sampai tidak sadar kalau air matanya menetes dengan sendirinya.

“Maafin aku, bayi. Aku bukan ibu yang baik buat kamu. Aku emang jahat. Harusnya kamu itu gak lahir dari rahim aku. Seharusnya bukan aku yang jadi ibu kamu.” Gumam Kiana pelan sambil terisak pelan.

“Aku mau kasih kamu nama Kinaya boleh gak bayi? Kamu tahu bayi, itu tuh nama gabungan antara Kiana dan Arya. Bunda sama Ayah.”

Kiana mendekatkan jari telunjuknya pada Kinaya – bayinya itu yang ternyata langsung meresponnya, membuat Kiana jadi tersenyum dan mencium keningnya refleks.

Selesai memberikan ASI pada Kinaya, Kiana masih setia menggendongnya.

Bersamaan dengan itu, pintu terbuka sendiri dan muncul sosok Arya dari balik pintu tersebut. Arya kembali juga ternyata.

Dengan posisinya yang masih berdiri, Arya dibuat tidak percaya dengan kegiatan yang dilakukan Kiana sekarang. Menggendong bayinya.

Kiana pun balik menatap Arya, tapi dengan bingung. Bingung, kenapa Arya berdiri diam menatapnya dengan tatapan seperti itu?

“Kakak habis dari mana?” Kiana menegur Arya yang terdiam dan sadar kembali.

“Mencari pelampiasan.” Arya menjawabnya singkat.

Cari pelampiasan? Pasti itu gara-gara keributan tadi. Pikir Kiana dalam hati, tapi matanya malah menatap Kinaya.

Arya mendekat pada Kiana dan duduk di ranjang yang sama dengan istrinya itu.

“Kamu... bisa gendong dia?” Pertanyaan Arya itu terdengar seperti sebuah sindiran di telinga Kiana.

“Bisa. Emangnya kenapa?” Jawabnya sambil mengangguk, “bukannya Kakak sendiri yang bilang kalau aku itu ibunya dan harus beri dia kasih sayang aku.”

Arya mengabaikan pertanyaan Kiana itu dan mengalihkannya dengan menatap Kinaya. Arya tidak menampilkan senyumnya ketika dia menatap Kinaya. Arya terlihat bahagia sekali saat melihat Kinaya. Hal itu bisa terlihat pancaran mata Arya sekarang.

Kamu bahagia banget ya Kak dengan hadirnya Kinaya.

“Hmm... Kakak... mau gendong... Kinaya?” Kiana berkata pelan dan menatapnya.

Arya bingung. Kinaya? Siapa Kinaya? Dia tidak tahu siapa itu Kinaya.

“Kinaya siapa?” Alis Arya berkerut karena tidak tahu.

“Nama bayi ini.” Kiana menjawabnya langsung dan melirik pada Kinaya, lalu melirik pada Arya kembali karena tidak ada jawaban lagi dari mulut pria itu.

“Kakak kenapa diam? Kakak gak suka dengan nama itu? Atau punya nama lain buat bayi ini?”

Arya menggeleng, “bukan. Kakak justru belum kepikiran soal nama buat dia.” Arya mengusap kepala Kinaya lembut.

“Maaf, Kiana kasih nama bayi ini tanpa minta izin dulu sama Kakak.” Sesal Kiana.

“Gapapa, kamu juga ibunya. Jadi kamu berhak buat kasih dia nama.”

“Kiana sadar kok, Kiana ini emang ibu jahat. Kiana belum sepenuhnya menerima Kinaya. Makanya Kiana kasih nama bayi ini juga sebagai penebusan maaf Kiana pada dia.” Tuturnya pelan.

Arya menatap heran Kiana. Tadi sebelum dia pergi, Kiana marah dan tidak mau mengakui Kinaya. Tapi sekarang, perempuan itu menyadari akan kesalahannya juga meminta maaf? Kenapa dalam hitungan beberapa menit, sikap perempuan itu berubah dengan cepat? Apa ini ada hubungannya dengan kepergian Arya tadi? Apa Arya harus seperti itu kalau lain kali dirinya bertengkah lagi seperti tadi dengan Kiana?

“Eh iya, Kakak mau gendong Kinaya gak? Ini kalau mau.” Kiana segera memberikan Kinaya ke tangan Arya.

“Kakak gendongnya hati-hati ya, pelan-pelan aja, tangannya gak usah kaku juga. Harus rileks pokoknya.” Kiana mengeluarkan segala wejangannya yang sudah dia dapat dari Nina ketika memberikan Kinaya pada Arya.

“Tanpa kamu kasih tahu juga, Kakak sudah tahu soal itu.” Arya menyahutinya cepat, membuat Kiana langsung diam tidak berbicara lagi.

“Iya-iya Kiana juga tahu kok.” Balasnya tidak mau kalah, “Kakak gendong Kinayanya hati-hati ya, dia masih kecil, awas jangan sampai kejepit badannya, kasihan dia.” Kiana belum lelah untuk memberikan wejangannya pada Arya.

Arya kembali menatap Kiana heran. Katanya dia tidak menginginkan Kinaya. Tapi di sisi lain, secara tidak sengaja Kiana mencemaskan Kinaya. Kalau begitu, apa bedanya saat ini Kiana dengan orang yang munafik?

Kiana melihat kegiatan Arya yang menggendong Kinaya dengan begitu lihainya, dia cuma seorang Ayah, tapi bisa telaten gendong Kinaya. Sedangkan aku yang seorang ibu, masih nol dalam mengurus bayi.

1
Lina Erlawati
ktny dosen
kavena ayunda
peran utama.di sni.bodoh semua
kavena ayunda
arya uda.pernah tdr lom.ma afriani.dlaam.artian nafkah batin
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak🙏
total 1 replies
kavena ayunda
benci bgt ma peran utama menjijikan masak anak sndiri di benci.dasar.bodoh
kavena ayunda
ibuk durhaka mati aja lu sebel.liat cwek sok cantik kayak lu
Rina Wardani
aq jadi penasaran seperti apa hubungan suami istri arya dan afri thor?arya hanya menemani tidur dan sebatas hanya bertanggung jawab aja atau arya juga memberikan nafkah batin buat afri yaitu melakukan hubungan suami juga thor?panasaran soalnya 🤭
RY
udah tau orang mabok tapi koq dekat dekat, harusnya di biarin aja sendiri biar nga kejadian
Yulia Assyifa
yah tamat kan.. kok aku gk sadar klok dah tamag😭😭
Sunshine_n99: Tamat untuk cerita arya kiana. Kalo buat cerita Eshan anita, belum tamat kok
total 1 replies
Antyrahmawati
thor kan kisah adik nya arya blm tuntas gimn mereka sekarang thor
Sunshine_n99: iya, ini lagi diproses kok buat cerita adiknya. ditunggu ya 😊🙏
total 1 replies
Yulia Assyifa
thor mau dong satu yg kayak arya😘😘
Sunshine_n99: kenapa kamu mau laki2 yg kayak dia sih? orang lain mah pd gak mau da 😅😂
total 1 replies
Mariani Sitepu
Waduh Anita kasian banget lihat nya thor... tega banget dilgituin Ayo Anita kamu kuat Paso bisa kalo mmg sudah Keras Hati. u lbh baik pisah kalo itu membuat mu bahagia Dari pada makan Hati
Sunshine_n99: nanti lihat gimana kelanjutannya yaaa 😁
total 1 replies
Ranhi Yahya Pallawa
ihhh....resek banget sihh...si ehsan pengen bejek2 dehh...😂😂😂 lebih milih si ilsa....tp sama ajah sih dengan arya...seandainya enggak mati tuhh si afriani...pasti kiana masih di duain jg tu...😢😢😢
Sunshine_n99: Huhuhu... iya, kamu betul sekali 😭😭
total 1 replies
Antyrahmawati
lanjut ya thor...pengen liat anita ama ehsan gimn ke depan nya
Sunshine_n99: siiiaaap 👍👍👌👌
total 1 replies
Alifah Salsabila
kesel banget sama Arya ..pisahin aja lah Thor... biarkan kiana bahagia.. kasihan ngebatin mulu
Hestin Sartika
lah anak sama istrinya gk jadi prioritas nih thor,yg jadi prioritas kok malah afriani yg udah jelas hamil anak orang.ini mah bukan kemanusiaan,tapi suka beneran thor
Tia Alina
tho,yg kisahnya eshan sm anita kok g di lanjutin lg?pd hal tinggak sdkit lg,sdh lama g ada lanjutannya 😂
rini andrnn
thor ceritanya buat kesel.tp bagus sih.ya cma itu jalan ceritany buat sakit hati.masa arya lebih milih afriyani jd istriny.padahal kan jelas dr dulu susah banget mau ngambil hati kiana,sampe bertahun tahun pula.terus cma gara² afriyani hamil sm org lain,dia mau tanggung jawab tu anak.seharusny sih arya berfikir jernih,kan dia dosen,masa jalan pikirny gitu.arya gak mau kasih tau kaivan krn dia baru nikah.lah terus sih arya,malah udah punya 2 anak.masa gak mikir istri anak thor.yg masuk akal dong.kan aku jd kesel thor,terbawa suasana sih.tp aku bukannya mau jelek² in karya author kok.calm down thor.jangan masuk hati yaaa thor:).tp kalo bisa jalan ceritany jangan buat kiana sm anita tersakiti dong thor,jd kayak sinetron d channel ikan terbang hehehee.yaudah sekian thor.semangat 💪
Sunshine_n99: efek keseringan nonton channel itu jd begini nih otaknya.😐😐
total 1 replies
Antyrahmawati
kaya nya banyak yng kecewa thor arya lebih milih afriani ketimbang kiana...
Claudia Suoth
Nyesek banget ceritanya.....
Siapasih yg naruh bawang dsni..?
Buat air mata jatuh tau😭😭
Sunshine_n99: Aku gk naruh bawang 🙈🙈
total 1 replies
Melisa Agustina Chendutzz
di tungu kelanjutanya thor
Sunshine_n99: syiaappp 👍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!