Syalita Hatrcher adalah siswi baru di SMA FLUCH. Seorang gadis yang memiliki kemampuan dapat melihat peristiwa mengerikan di masa lalu. Di hari pertama ia pindah ke SMA FLUCH ia sudah merasakan ada sesuatu yang janggal dari sekolah tersebut. Dapatkah ia mengungkap misteri dari balik nama sekolah itu sendiri? Apa arti FLUCH yang menjadi nama sekolah tersebut? Bersama teman-teman barunya Syalita akan mengungkap semuanya satu persatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon widia wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua korban sekaligus
Pagi yang kelabu. Sinar mentari begitu redup masuk melalui jendela terbuka. Lita terbangun dan bergegas turun dari tempat tidur. Ia segera menuju kamar mandi. Hari ini cukup santai. Tidak ada kegiatan ajar-mengajar di kelas, cuman ada kegiatan extrakulikuler. Tentu saja karna hari ini adalah hari sabtu. Lita memilih kelas musik untuk mengisi waktu luang yang akan dimulai jam 09.00 nanti. Selesai mandi dan berpakaian ia keluar menuju balkon. Ia mendapati Tria sedang duduk disana memainkan hpnya sambil makan sepotong roti. Lita mengambil tempat duduk di samping temannya itu. Luxia dan Amy sudah pergi. Mereka mengikuti kelas olahraga.
"Jonathan ngomong apa kemarin?" tanya Tria tanpa mengangkat wajahnya dari layar hp.
"Tidak ada, hanya menceritakan asal usul sekolah ini."
"Oh..."
Mereka berdua terdiam sesaat. Dalam keheningan Lita baru ingat soal kejadian semalam.
"Apa aku harus menceritakannya pada Tria?" pikirnya. "Tria, ada yang ingin ak...." kata-katanya terhenti ketika ia melihat dua orang bertengkar di samping kanan Tria, berantara satu balkon dari tempat mereka.
"Ada apa?" tanya Tori sambil menoleh ke kanan tapi dua wanita itu sudah masuk ke dalam.
"Itu balkon kamarnya Magie, kan?" menunjuk Lita ke balkon tempat dua wanita tadi bertengkar.
"Iya. Mengapa?"
"Aku melihat ada dua orang bertengkar disana," kata Lita menjelaskan.
"Apa katamu?! Kita harus mengeceknya ke sana"
Tria beranjak dari kursinya dan berlari masuk. Lita dengan cepat mengikutinya.
"AAAAAHH...........! ! !"
Baru melangkah keluar dari kamar, mereka dikejutkan dengan suara teriakan yang berasal dari kamar Magie. Hal itu membuat semua orang keluar dari kamar masing-masing dan mulai mengerumbuni asal suara tadi. Lita dan Tria menerobos kerumunan. Tidak terdengar jawaban dari dalam ketika Tria mengedor pintu dan terus berteriak memanggil Magie. Karna khawatir, Tria memutuskan mendobrak pintu itu. Lita dan beberapa murid lain membantu dan akhirnya.
Bruk!!
Pintu itu ambruk seketika. Mereka semua tercengang melihat apa yang ada di dalam sana. Seluruh lantai penuh dengan darah dan beberapa organ tubuh manusia yang berserakan di mana-mana. Lita menutup mulut dan hidungnya mengunakan kedua tangan karna bauh anyir darah yang begitu menyengat. Itu membuat perutnya terasa mual.
Tanpa rasa takut Tria berjalan mendekati dua tubuh manusia yang tergeletak di lantai dengan keadaan sudah termutilasi dan salah satu mayat itu sudah kehilangan kepalanya. Lita melihat ke sekeliling dan mendapati kepala itu berada di atas tempat tidur. Wajah yang lembut dengan rambut masih rapi terikat kini dipenuhi oleh darah yang begitu segar. Lita berusaha menahan tangis tapi tak bisa. Mutiara itu berhasil menerobos kelopak matanya. Hiks... Itu Magie. Iya, Magie. Salah satu teman mereka. Siapa yang sudah melakukan hal keji seperti ini? Sekelibat ingatan tentang kejadian semalam melintas dalam kepala Lita.
"Apa maksudnya 'Tinggal 14 orang lagi'? Apa itu ada kaitannya dengan kejadian ini? Iya, itu mungkin ada dan aku harus mencari tahu," batin Lita. Ia mengusap air matanya dan berjalan mendekati Tria.
"Tri..."
"Ini aneh sekali?" belum sempat memanggil Tria sudah memotong kata-katanya.
"Ada apa?"
"Lihat ini," Tria menunjuk ke arah organ tubuh manusia yang berserakan itu. "Semua organ tubuh mereka lengkap kecuali jantung."
"Jantung?"
"Iya, jantung mereka hilang."
"Tapi siapa yang begitu kejam melakukan ini?"
"Tidak tahu. Yang pasti ini bukan perbuatan manusia."
Lita memandang Tori bingung. "Bagaimana kau yakin kalau ini bukan perbuatan manusia?"
"Selang waktunya terlalu singkat Lita. Lagi pula kita tidak melihat ada orang yang keluar dari kamar ini, kan?"
"Dia bisa saja keluar lewat balkon."
"Tidak mungkin. Aku sudah mengecek pintu balkon dan itu terkunci dari dalam."
"Lalu, apa itu ada diantara mereka?" tebak Lita sedikit berbisik agar para hantu di luar sana tidak mendengar percakapan mereka.
Tria menggeleng. "Mereka tidak bisa melakukan ini. Hanya arwah yang memiliki kekuatan besar atau seseorang yang mengunakan ilmu hitam yang bisa melakukannya."
Lita terdiam. Iya, memang ada orang yang mengunakan ilmu hitam di sekolah ini. Dia harus membayar atas perbuatannya! Tidak lama kemudian pihak sekolah datang dan membubarkan kerumunan. Mereka akan mengambil alih mulai dari sini. Seluruh siswa di minta untuk kembali ke kamar masing-masing dan tidak diperbolekan mendekati kamar tersebut. Lita dan Tria kembali ke kamar mereka.
"Apa yang ingin kau katakan di balkon tadi?" tanya Tria.
"Siang nanti kita kumpul di tempat kemarin."
...✴✴✴✴...
Lita, Tria dan Jonathan menunggu mereka di atap sekolah. Lita sudah memberitahu Tria dan Jonathan tentang kejadian semalam dan tentu saja mereka percaya karna semuanya mulai masuk akal. Hanya satu yang membuatnya bingung. Bagaimana caranya menjelaskan semua ini pada yang lain? Apa mereka akan percaya? Lita tidak tahu bagaimana reaksi mereka nanti. Tak lama kemudian mereka datang kecuali Edi.
"Dimana Edi?" tanya Lita.
"Katanya ada urusan. Sebentar lagi dia datang," jelas Aaron.
"Baiklah, kita tunggu dia."
Tidak percakapan diantara mereka, hanyut dalam pikiran masing-masing. Lita melihat mata Amy dan Luxia masih merah karna menangis. Memang mendengar kabar meninggalnya seorang teman sangatlah menyakitkan. Apa lagi dengan keadaan mengenaskan. Itulah yang mereka rasakan sekarang ini persis sama seperti langit kelabu di atas kepala mereka. Apa badai akan datang malam ini? Beberapa saat kemudian Edi datang. Ia berlari menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.
"Dari mana saja kau Edi?" tanya Aaron.
"Iya. Kau seperti lari dari kejaran seekor anjing," ejek Amy dengan wajah tetap murung.
"Memang di kejar anjing," jawab Edi kesal. "Sudah, sudah, ada apa kita kumpul disini?"
Lita menoleh ke Tria. Ia lihat dia mengganguk. Lita menghelang nafas panjang sebelum menceritakannya. Ia harap mereka percaya tentang apa yang nanti akan mereka ketahui.
"Aku meminta kalian semua kesini. Ada sesuatu yang ingin aku jelaskan. Aku harap kalian percaya," Lita berhenti sebentar berpikir. "Sebenarnya sekolah ini berbeda dari sekolah-sekolah pada umumnya."
"Apa maksudmu Syalita?" tanya Luxia.
"Iya kalian tahu kan... Maksudku... Em..."
Lita mulai bingung. Ia menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Ia melirik mereka satu persatu. Tatapan yang mereka tujukan padanya sama, menunggu jawaban darinya.
"Ini bukan sekolah biasa. Ini adalah sekolah hantu," kata Tria lantang membuat mereka tercengang.
"Maksudmu?!" kata Edi yang kaget.
"Jangan bercanda!" bentak Amy.
"Aku tidak bercanda," jawab Tria.
"Semua yang dia katakan benar. Apa kalian tidak merasa sesuatu yang janggal dengan sekolah ini? Kematian Silvi saja seolah-olah tidak perna terjadi dan sekarang kita kehilangan dua teman kita dengan sangat tidak wajar!" kata Jonathan membela.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...ξκύαε...