NovelToon NovelToon
Single

Single

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: KHskyLine

"Single itu pilihan"

Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?

Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.

Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manager Gen Z

"Maaf?" Lavanya mengernyit, mencoba mencerna pertanyaan yang baru saja terlontar.

"Hahaha, kamu masih nggak peka juga, ya?" Senyum ramah di wajah Cita luruh seketika, digantikan oleh tatapan sedingin es. "Ada hubungan apa kamu sama Mas Leo?"

Lavanya menggigit bagian dalam pipinya, berusaha keras menahan tawa yang hampir meledak. Sumpah, ini pertanyaan paling idiot yang pernah ia dengar.

"Saya anggota timnya Pak Leo, Mbak," jawab Lavanya sesopan mungkin. Ia memilih tidak terpancing oleh nada sarkastis wanita di depannya.

Dalam hati, otak Lavanya mulai bekerja liar. Apa jangan-jangan Cita ini salah satu simpanan si Bos? Lagi cemburu karena merasa posisinya terancam oleh kehadiranku? Atau... istrinyakah?

"Hanya itu?" Cita menatapnya penuh selidik, seolah mencari celah kebohongan.

"Ya." Lavanya menjawab mantap. Ia mencoba berpikir logis; mana mungkin resort ternama ini memilih Limocom sebagai mitra jika tidak ada "koneksi" khusus. Tapi, astaghfirullah, Lavanya segera menggelengkan kepala. Itu bukan urusannya. Lebih baik ia fokus menghabisi steak-nya daripada memikirkan drama kehidupan orang lain.

Raut wajah Cita berubah kesal. Ia menyandarkan punggung ke kursi sambil mendesis, "Chk, dia bohongin gue."

"Eh?" Lavanya benar-benar kehilangan arah. "Maksud Mbak apa, ya?"

Tiba-tiba, Cita mencondongkan tubuh dan mencengkeram tangan Lavanya. Lavanya refleks menarik tangannya karena terkejut.

"Aish, dengerin gue baik-baik. Kalau lo mau terbebas dari semua ini, hanya ada satu cara: balik ke Jakarta sekarang juga!"

Lavanya mulai merasa terganggu. "Mbak, maaf sebelumnya. Saya di sini untuk kerja. Dan Mbak Cita beneran manajer resort ini, kan?"

"Gue lagi nyelamatin lo, Lavanya! Kalau lo nggak mau dicuci otaknya—Shit!" Ucapan Cita terputus oleh dering ponselnya sendiri. Wanita itu berdiri tergesa-gesa dan berjalan menjauh dengan wajah tegang.

Lavanya menggaruk pelipisnya. Cuci otak? Ini resort atau markas sekte?

Tak lama kemudian, Cita kembali dengan sepiring salad buah, seolah-olah ketegangan tadi tidak pernah terjadi. Ia menyantap saladnya dengan kasar.

"Fine! Lo harus tetap di sini selama tiga hari."

"Mbak Cita... sehat, kan?" tanya Lavanya hati-hati.

Cita meletakkan sendok dan garpunya dengan denting yang cukup keras. "Sehat. Sebelum gue milih berada di kubu tukang tikung, asem! Dia bikin gue jadi orang jahat. Parah, playing victim! Argh!"

Lavanya hanya bisa meringis. Oke, fiks, dia sakit beneran.

🦁🦁🦁

Keanehan pagi itu berlanjut hingga malam hari. Lavanya sudah siap dengan tumpukan tugas—diskusi, perencanaan, anggaran, hingga laporan. Namun, hasilnya? Nol besar. Seharian penuh, ia merasa seperti beban negara. Laptopnya bahkan tidak tersentuh sama sekali.

Waktunya habis untuk mengekor Cita menelusuri bibir pantai. Wanita yang ternyata berusia dua tahun di bawahnya itu terus mengoceh tidak jelas, membuat kerutan di dahi Lavanya semakin dalam. Meski Lavanya anggota termuda di tim, ia tidak bodoh. Ada terlalu banyak kejanggalan di resort ini, terutama pada manajernya.

"Hei, mikirin apaan sih, Mbak?"

Lagi-lagi suara Cita mengagetkannya. Sejak tahu Lavanya lebih tua, Cita mendadak melabelinya dengan sebutan 'Mbak' dan bertingkah seolah mereka adalah sahabat lama.

"Mikirin Ibuku," dusta Lavanya sambil tersenyum ramah. Ia akui, ia cukup jago berakting. Seharusnya ia jadi artis saja daripada jadi karyawan yang terdampar di resort aneh ini.

"Baru sehari sudah kangen saja, Mbak," Cita terkekeh sambil ikut mencelupkan kaki ke dalam kolam renang. "Mbak Vanya lucu ya. Kalau nanti sudah nikah terus harus ikut suami, gimana tuh?"

Lavanya menarik sudut bibirnya. "Aku ini keturunan Minang, Cit. Jadi suami yang harus tinggal di rumah istrinya."

"Lah, gitu ya? Susah dong nanti..."

"Susah gimana?"

Cita menatapnya serius. "Gini ya, Mbak. Misalkan suami Mbak dipindah tugas ke luar kota atau luar negeri. Nggak mungkin kan Mbak nggak ikut? Nanti malah diambil pelakor, lho."

Lavanya menggeleng tenang. "Kalau dia tetap ingin bersamaku, dia nggak akan pergi jauh dariku, Cit."

Cita tertawa terbahak-bahak, seolah Lavanya baru saja menceritakan lelucon paling lucu sedunia. "Aduh... Maaf ya Mbak aku jadi ketawa begini. Aku lagi ngetawain nasib yang jadi suami Mbak nanti. Malang banget!"

Lama-lama anak ini ngeselin juga ya, batin Lavanya gemas.

"Sini, Mbak, aku fotoin. Nanti Mbak kirim ke Ibu," ujar Cita tiba-tiba sambil mengarahkan kamera ponselnya.

"Kan bisa video call, Cit. Repot amat kirim foto."

"Biar Ibu Mbak bisa lihat foto anak gadisnya kapan saja. Ayo lah, mumpung aku lagi baik hati nih," sela Cita cepat.

Lavanya akhirnya mengalah. Ia memperbaiki posisi duduknya, berpose seanggun mungkin dengan latar lampu kolam yang cantik. Setelah beberapa jepretan, Lavanya mendekat untuk melihat hasilnya.

"Kamu fotografer ya, Cit? Kok aku jadi cantik begini?"

"Mbak Vanya tuh yang punya bakat jadi model. Cantik begini kok belum punya pacar, cowok-cowok pada buta apa ya?" puji Cita.

Lavanya terkekeh, merasa sedikit terhibur. "Kamu ini bisa saja, Cit. Sayang aku nggak bawa uang receh buat tip," candanya.

"Mbak, aku kirim lewat WhatsApp ya."

"Boleh, Cit. Makasih, ya."

Cita mengangguk patuh. Tangannya bergerak lincah di atas layar ponsel. Ia menandai foto-foto terbaik Lavanya, lalu menekan ikon aplikasi berwarna hijau. Sebuah senyum miring tersungging di bibirnya saat jempolnya menekan dua nama yang berbeda di daftar kontak.

"Done, Mbak."

🦁🦁🦁

1
Maria Magdalena
jgn sampe farel dan vani jd pengganggu kehidupan rmh tangga vanya dan leo ya thor buang ke samudra atlantik aja😁
Dwi Sulistyowati
lanjut thor
Dwi Sulistyowati
cantik bgt vanya
Dewy Aprianty
lanjut thorr
Nacita
ih seru 🤣
Rian Moontero
lanjuuutt😍
octa❤️
karya yg bagus,semangat berkarya ya
Wawan
....✍️
Dian mom vano
jangan lama lama yaa
Yusa Yuwet
ditunggu ya?? dan smoga secepatnya
Dewi Ohapiah
akuuuuu... menunggumuuu
Dewi Ohapiah
ko blm up tor?
Azz Uky
kl CEO ny singa, GM ny macan
Nuraini Ajja
amin... semangat y thor nyusun skripsi ny.. smoga cepet slesai.. trus bisa up lg...
love you author....
Anonim
Thooor uo nya kpan niiih...Udah kelar blom skripsinya
D@rDa'iL💜
semangat author..
D@rDa'iL💜
ada babank tamvan💜😘
Anis Nurbawati
lanjuuut
Yusa Yuwet
akhir nya.up jg nich cerita.kemana saja sich author yg cantik dirimu selama ini.tak tau kah diriku rindu dgn semua novel2 mu.
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....
KHskyLine: maciwww
total 1 replies
Fitria Wibisena
ku tiunggu thor
KHskyLine: iyapp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!