Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.
Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
"Bagaimana kondisinya? Kenapa dia bisa pingsan secepat ini?!" tuntut Dominic tidak sabar, mencengkeram kerah dokter itu dengan satu tangan karena rasa khawatir yang sudah di ubun-ubun.
"Tenang, Tuan Salvatore, tolong lepaskan saya terlebih dahulu," ucap dr. Evans dengan suara menenangkan. Setelah Dominic melepaskannya dengan gusar, dokter itu merapikan pakaiannya dan menatap Dominic serta Damian bergantian.
"Nyonya Isabella mengalami syok emosional yang hebat, Tuan. Namun, melihat indikasi fisik, denyut nadi, dan penurunan tekanan darahnya yang sangat spesifik... saya memperkirakan bahwa Nyonya Isabella saat ini sedang hamil. Itulah penyebab utama mengapa tubuhnya mendadak tidak siap menahan tekanan emosi tadi hingga membuatnya pingsan," jelas dr. Evans.
Dokter itu kemudian mengeluarkan sebuah rujukan dari tas medisnya. "Ini baru perkiraan medis saya berdasarkan gejala klinisnya. Untuk memastikannya secara akurat, besok pagi Nyonya Isabella harus melakukan tes darah atau USG kandungan."
Kata-kata dokter itu seketika meruntuhkan seluruh atmosfer tegang di dalam ruangan. Dominic membeku di tempatnya berlutut. Tangannya yang semula mengepal kuat mendadak lemas. Sepasang mata elangnya melebar sempurna, menatap tidak percaya ke arah perut datar Isabella yang tertutup gaun.
Hamil? Isabella kemungkinan besar sedang mengandung anaknya?
Sementara itu, Damian yang berdiri di samping sofa langsung melipat kembali tangannya di dada. Matanya berkedip sekali, lalu ia menatap Dominic dengan smirk kecil yang kembali terukir di bibirnya.
"Perkiraan biologis yang menarik," cetus Damian lempeng, memecah keheningan. "Selamat, Dad. Jika perkiraan dokter ini akurat, sepertinya dalam beberapa bulan ke depan tingkat stres finansialmu akan meningkat untuk membeli popok, dan aku resmi memiliki bawahan baru yang bisa kuatur di rumah ini."
Dominic masih terpaku, menatap wajah pucat Isabella dengan binar mata yang campur aduk antara tidak percaya, takjub, dan buncahan rasa bahagia yang luar biasa. Jemari kasarnya yang biasa menggenggam senjata kini bergerak teramat lembut, mengusap helai rambut yang menempel di pipi sang istri.
"Hamil..." gumam Dominic lirih, suaranya serak seolah kata itu adalah mantra paling suci yang pernah ia dengar.
"Benar, Tuan Salvatore," sela dr. Evans, memecah keheningan yang sempat membekukan ruangan. "Saya sudah memberikan suntikan vitamin untuk membantu meredakan syoknya. Nyonya Isabella akan segera sadar dalam beberapa menit. Pastikan malam ini beliau mendapatkan istirahat total dan lingkungan yang sepenuhnya tenang. Jangan ada tekanan emosional lagi."
Dominic hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari Isabella. "Elana," panggil Dominic dengan nada bariton yang rendah namun sarat akan otoritas mutlak.
Elana yang sejak tadi berdiri siaga di dekat pintu ruang tamu langsung melangkah maju, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Iya, Tuan Besar?"
"Antar dr. Evans keluar. Urus semua biaya dan siapkan jadwal dokter kandungan terbaik untuk besok pagi-pagi sekali," perintah Dominic. "Dan satu lagi... bersihkan sisa pecahan meja marmer ini. Aku tidak ingin Isabella melihat kekacauan ini saat dia membuka mata nanti."
"Baik, Tuan. Segera saya laksanakan," jawab Elana cekatan. Ia kemudian mempersilakan dr. Evans untuk mengikutinya keluar dari ruangan, meninggalkan keluarga kecil itu dalam privasi mereka.
Begitu pintu tertutup rapat, suasana ruang tamu kembali hening. Damian melangkah mendekat, menghentikan aktivitas melipat tangannya, lalu ikut memandangi wajah ibunya yang perlahan mulai kembali memerah normal.
"Dad," panggil Damian, memecah keheningan dengan intonasi datarnya. "Jika prediksi dokter itu benar dan ada manusia baru yang tumbuh di dalam sana, kuatkan mentalmu. Menghadapi satu Mommy saja kau sudah sering kehilangan akal sehat, apalagi jika ditambah satu replikanya lagi."
Dominic mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis—sesuatu yang sangat jarang ia tunjukkan di depan orang lain, bahkan di depan anaknya sendiri. Ia menoleh, lalu menepuk pucuk kepala Damian dengan gemas hingga kacamata hitam kecil bocah itu sedikit merosot.
"Bocah nakal. Kau harusnya bersiap-siap. Jika dia lahir nanti, kau punya tanggung jawab untuk menjaganya, bukan menjadikannya bawahan," sahut Dominic.
Tepat saat kalimat Dominic berakhir, terdengar lenguhan lembut dari bibir Isabella. Kelopak matanya bergerak perlahan, sebelum akhirnya sepasang mata indahnya terbuka, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan.
"D-Dominic..." bisik Isabella parau, memandangi langit-langit ruangan dengan tatapan linglung sebelum memorinya tentang drama mencekam beberapa menit lalu mendadak berputar kembali. Wajahnya seketika menegang panik.
"Di mana... di mana ibumu? Pistol itu—"
"Ssyhhh... tenang, Sayang. Tenang, semuanya sudah selesai," potong Dominic cepat. Ia langsung merengkuh tubuh Isabella, membantunya duduk bersandar pada dadanya yang bidang dan kokoh, menyalurkan rasa aman yang sempat hilang.
"Wanita itu sudah pergi. Dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di sini lagi. Kau aman, kita semua aman."
Isabella mengembuskan napas lega yang teramat panjang, menyandarkan seluruh bobot tubuhnya pada dada Dominic sembari memegangi kepalanya yang masih sedikit pening. Namun, ia menyadari ada yang aneh dengan tatapan suaminya. Dominic menatapnya dengan binar mata yang teramat intens, hangat, dan... penuh haru.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Isabella bingung, beralih menatap Damian yang juga sedang memandangnya dengan sebelah alis terangkat.
"Mommy," Damian menyela sebelum ayahnya sempat menjawab. Bocah lima tahun itu menunjuk perut datar Isabella dengan telunjuk kecilnya.
"Dokter tadi bilang, ada kemungkinan kau pingsan bukan karena takut pada wanita tua keriput itu, melainkan karena ada janin berusia enam minggu yang sedang mencoba menumpang hidup di dalam perutmu."
Isabella tertegun. Matanya membelalak lebar, menatap Damian lalu beralih cepat pada Dominic dengan pandangan meminta penjelasan.
"D-Dominic... apa maksud Damian?"
Dominic tersenyum sangat tulus, mengecup kening Isabella dengan durasi yang lama sebelum berbisik tepat di telinganya.
"Dokter memperkirakan kau sedang hamil, Sayang. Kita akan memastikannya besok pagi ke rumah sakit. Terima kasih... terima kasih banyak."
Mendengar konfirmasi dari suaminya, air mata Isabella spontan meluncur turun, namun kali ini bukan karena rasa takut, melainkan rasa syukur dan bahagia yang membuncah memenuhi dadanya. Ia langsung memeluk leher Dominic dengan erat, menyembunyikan tangis bahagianya di ceruk leher sang suami, sementara Dominic membalasnya dengan dekapan yang teramat posesif seolah sedang melindungi harta paling berharga di seluruh dunia.