Luna Xaviera, gadis berusia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria yang tak lain adalah gurunya sendiri Devan Alexander.
Pernikahan yang tanpa di dasari rasa cinta di antara keduanya akankah berakhir dengan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Brakk!
Devan keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan kuat. Hatinya terasa panas mengingat adegan pelukan Luna dengan Lucas.
Meski keduanya adalah saudara, mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Mungkinkah dirinya cemburu? Ayolah bahkan dia tidak mencintai gadis itu, untuk saat ini. Hanya rasa ingin memilikinya apa itu tidak boleh?
Devan tidak terima jika ada pria lain yang menyentuhnya. "Satu lalat pengganggu pergi, datang lebah sialan!" gerutu Devan.
"Siapa yang Kakak bilang lalat?" tanya Aldo yang sejak di sudah berdiri di hadapan Devan dan melipat kedua tangannya di bawah dada.
Devan tidak menjawab pertanyaan Aldo dan berjalan melewatinya begitu saja.
Aldo berdecak kesal dan mengikuti langkah kaki Devan yang berjalan menuju dapur. "Kenapa harus Luna, Kak? Apa tidak ada gadis lain yang mau menikah denganmu?"
Devan membuka kulkas dan meneguk air putih. Tenggorokannya terasa kering karena selama dalam perjalanan ia terus mengumpat Lucas.
"Kamu tau bukan kalau aku mencintai Luna." terang Aldo kembali menjelaskannya pada Devan yang masih saja diam tak menggubrisnya. "Lagipula belum dia dan Luna adalah gadis kecil yang sama."
Devan menghela nafas lalu duduk. "Kalau kamu ingin protes, tanyakan saja pada Ayah dan Ibu. Karena mereka yang mengatur semuanya."
Aldo melotot tak percaya, jika protes bisa dipastikan dirinya lah yang akan kalah. Karena keputusan Ayahnya tidak bisa di ganggu gugat. Yang ada dia malah dilempar keluar dari mansion.
"Kamu bisa menolaknya Kak, menolak!" ujar Aldo menekan ucapannya. "Dari dulu aku memang tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan." ucapnya lirih dan terdengar di telinga Devan.
Ucapan Aldo membuat Devan merasa iba dan juga kasihan. Karena sejak kecil kedua orang tuan mereka selalu bersikap tidak adil.
Aldo yang susah diatur membuat Ayahnya kualahan, bahkan pernah ingin sekali mengirimnya ke asrama pria.
''Setelah menikah ku akan pergi ke London untuk melanjutkan kuliah bisnis di sana."
''What? Aku tidak salah dengar kan. Bagaimana bisa kamu menikah lalu pergi begitu saja." Aldo mengusap wajahnya tak percaya. "Luna masih sekolah sebentar lagi dia ujian dan--"
"Kamu ini berisik sekali." potong Devan membungkam mulut Aldo dengan buah Apel yang ada di atas meja makan.
"Aku titip Luna, Ayah dan juga Ibu. Jangan lupa, sekali-kali kau harus ke kantor untuk mengecek semuanya. Leon akan membantumu."
Aldo tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Enak saja. Lebih baik aku bersenang-senang daripada mengurus urusan kantor yang membuat kepalaku ingin meledak."
Aldo bangkit dari duduknya. "Tapi apa kamu yakin ingin menitipkan Luna padaku? Tidak takut jika Luna aku rebut darimu, Kak?"
Tak!
"Aww....sakit." Aldo mengusap dahinya yang memerah akibat ulah Devan.
"Kamu cari mati hum?" Devan menatap tajam Aldo. "Jika kau berani menggoda Luna, aku pastikan hidupmu tidak akan tenang." ancamnya lalu berlalu dari sana.
Aldo memandang punggung Devan yang mulai menjauh, ia begidik ngeri memikirkan ucapan Kakaknya yang terlihat tidak main-main.
"Sepertinya kamu harus melupakan perasaanmu padanya Aldo."
.
.
.
Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh keluarga besar kedua mempelai. Dimana Devan dan juga Luna akan segera melangsungkan pernikahan.
Keinginan Luna yang ingin pesta pernikahan mereka dilakukan secara private, gagal.
Zelin, sahabatnya tanpa sengaja mengumumkan kabar baik ini kepada guru dan juga murid. Otomatis, hari semua ikut serta menghadiri pernikahan Luna dengan Devan.
"Semua gara-gara kamu Zelin. Seharusnya mulutmu itu dijahit saja. Biar tidak ember." ujar Luna.
"Iya maafkan aku, lagipula ini hari bahagia mu kenapa harus di tutup-tutupi." Zelin menjawab seakan tanpa dosa. Bagaimana bisa Luna yang notabennya masih sekolah malah menikah dengan gurunya sendiri.
Untung saja, pemilik sekolah itu adalah ayah Devan. Jadi kepala sekolah tidak mempermasalahkan dengan syarat kabar ini tidak tersebar luas.
''Apa mempelai wanita sudah siap?'' Vienna menghampiri Luna, ia tersenyum melihat adiknya yang terlihat cantik dengan balutan gaun yang di desain sendiri olehnya.
''Kamu cantik sekali Luna.'' Vienna memeluk Luna penuh haru. Adik yang begitu ia sayangi akan segera melepas masa lajang.
''Kita keluar sekarang.'' Luna mengangguk tanpa menjawab ucapan Kakaknya. Ia gugup bahkan jantungnya saat ini berdetak sangat kencang.
'Tarik nafas dan hembuskan Luna. Kamu pasti bisa melewatinya' batinnya dengan wajah gugup.
Zelin dan Vienna segera memapah Luna menuju ke aula pernikahan.
...----------------...
ckk.. sok sokan nggak peduli aslinya cemburu