Di saat orang tua terlalu campur tangan dalam kehidupan rumah tangga anak-anaknya, maka kehancuran menunggu di ujung jalan.
______
Tidak ada pelakor di sini. Fokus cerita hanya tentang konflik sederhana yang sangat berpengaruh dalam keharmonisan sebuah rumah tangga.
Selamat membaca🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GDB 12
Asmosfer duka terhempas kian jauh. Walaupun kepergian bapak sudah memakan waktu puluhan hari, namun aku masih terus digelayuti rasa rindu yang kian mencekik. Tak ada lagi tangis-tangisan. Tak ada lagi erang-erangan. Yang ada hanyalah lantunan do'a yang setiap saat terucap kala rasa ingin bertemu itu menghantam dada.
Sudah sepekan aku berada di Malang. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, ibu mertuaku tampak sangat perhatian dalam segala hal. Namun, sisi cerewetnya itu tak hilang begitu saja. Aku tetap harus selektif dalam memilih sesuatu terutama makanan.
"Eh, itu apa?" Ibu mertua langsung menyabet paper bag di tanganku.
Huffft, kali ini apa lagi?
"Bukannya ibu udah bilang, kalau lagi hamil itu gak boleh kebanyakan makan ini, Pril." Ia melotot ke arahku setelah melihat isi paper bag itu.
Menggaruk-garuk telinga seraya meringis aku belum menanggapinya dengan kata-kata.
Selamatkan aku, Tuhaaan.
Beberapa detik kemudian.
"Emmm, maaf, ya, Bu." Seperti biasa hanya itu yang bisa kukatakan. "April bener-bener pingin makan itu," lanjutku yang memang sangat menginginkan makanan tersebut.
Namun, ibu mertua tetap kukuh dengan ideologinya. "Gak boleh, kamu itu harus banyak makan sayur dan buah. Itu yang penting!" Tak ingin dibantah lagi, beliau melenggang bersama paper bag dalam tentengan.
Alih-alih keturutan, aku hanya bisa menelan ludah. Ayam geprek level dua puluh itu sudah pergi menjauhiku. Semakin jauh ... semakin jauh ... dan semakin jauh.
Akhirnya tubuh ibu mertua tenggelam di balik tirai yang menjadi penyekat antara ruang keluarga dan dapur.
Di tengah kemalangan nasib lidahku, tiba-tiba terdengar seseorang yang sedang memanggilku dengan bahasa isyarat. Siulan itu, sangat familiar di telingaku.
Berbalik badan ke arah sumber suara, kedua netraku menangkap pemandangan yang sukses membuat kedua sudut bibirku terangkat.
"Mau makan ayam geprek?" Kedua alisnya tampak turun-naik dan sebelah tangannya mengangkat sebuah paper bag sejajar wajah.
Tentu saja, wajahku kembali semringah.
"Ayo!" Sebelah tangannya merangkul bahuku ketika tubuhku sudah berada di dekatnya. "Makan di kamar aja."
"Senikmat itu?" Mas Labiq tak henti-hentinya menatapku sedari awal aku melahap makanan yang ia bawakan.
Aku hanya mengangguk karena mulut sudah penuh dengan ayam geprek level yang tidak aku ketahui.
Ia lantas mengacak pelan pucuk kepalaku. Mungkin merasa gemas. Lalu bangkit dari duduk dan segera melepas seragam kerja beserta aributnya.
"Nanti malam ada undangan dari There, Yang." Mengaitkan seragamnya pada kapstok, kemudian menyimpannya di gantungan.
Aku berkerut kening ke arahnya. Apa secepat itu There menikah?
Mas Labiq memutar badan ke arahku.
"Iya, Theresia udah nikah. Pemberkatannya tadi pagi. Resepsinya nanti malam."
Kalimat lanjutan darinya sukses membuat aku tersedak. Makanan yang memenuhi mulutku pun sontak tersembur ke mana-mana.
Mas Labiq sigap mengambilkan segelas air putih, lalu menyodorkannya padaku.
"Terlalu pedas, ya?" tanyanya. Aku tak langsung merespon. "Padahal cuma level dua," akunya. Yang kembali sukses membuatku kembali tersedak air minum. "Pelan-pelan, Yang." Dia mengelus lembut punggungku.
"Jadi, ini cuma level dua?" Aku memelototinya tak percaya.
Ia mengangguk seraya terkekeh kecil.
"Sayang ... aku kan maunya level dua puluh," erangku. Ia masih terus terkekeh.
"Kirain tersedak karena dengar There nikah," celetuknya.
Tak langsung menjawab, aku memilih untuk meletakkan gelas di atas meja terlebih dahulu.
Tadinya memang iya, aku tersedak karena mendengar berita pernikahan Theresia. Tapi, bukan karena cemburu, melainkan cukup terkejut karena setahuku gadis itu baru memasuki semester ketiga di Universitas Negeri Malang.
"Ini si There beneran mau nikah?" Pastinya aku tak percaya begitu saja. Perihal ayam geprek yang hanya berlevel dua itu tak lagi menjadi pusat perhatian.
"Udah nikah, Yang," koreksinya. Mas Labiq melabuhkan tubuh di atas tempat tidur. Sebelah tangannya dilipat ke belakang kepala sebagai bantal. "Nanti malam Sayang bisa ikut, 'kan?"
Aku yang sedang membersihkan bekas makanan yang berserakan, sontak melirik ke arahnya. "Memangnya udah ada partner lain?" Itu bukan pertanyaan, melainkan sindiran.
Mas Labiq kembali terkekeh. "Aku cuma nanya, Yang." Tatapannya berlabuh padaku.
Mendengus geli, aku langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
kembalikan dulu Labiq
Emang nenek-nenek cuma satu di dunia??
Rasanya gue paham
pantes aja sering ditindas
Otak anak juga butuh nutrisi, Mak. Apa perlu Penulis Keparat yang jadi pengamat gizi biar ibu mertua bisa mingkem
jagoannya dataaaaang 🤣
benar-benar meragukan pembaca 🤣