Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Pasukan Tanpa Jiwa
Dua minggu telah berlalu sejak kekacauan meledak di kediaman Rio. Kelompok Danu berhasil lolos dari perangkap yang nyaris memusnahkan mereka, kembali membawa senjata yang dirampas, serta membawa dua orang baru—Kakek Budi dan Nenek Dinda—yang memilih untuk setia pada kebenaran di tengah dunia yang serakah. Mereka kini menjauh dari benteng yang telah berubah menjadi sarang kejahatan itu, beristirahat sejenak di sebuah bangunan gudang tua yang terpencil, namun tak henti-hentinya waspada. Mereka tahu, Rio dan sisa-sisa anteknya tak akan membiarkan mereka pergi begitu saja tanpa balas dendam.
Namun jauh dari tempat mereka berada, di sudut lain kota Bandung yang kini sunyi senyap bagaikan kota mati, ada satu sosok yang terus berjalan tanpa henti. Hendrik. Sejak hari pertama wabah meletus, pria itu tak pernah berhenti melangkah. Ia menyisir setiap jalan, menyusuri setiap gang sempit, memeriksa setiap bangunan yang masih berdiri tegak—semuanya demi satu tujuan: menemukan istri dan anak perempuannya yang terpisah saat kekacauan pecah mendadak. Badannya kurus kering karena kurang makan, matanya cekung namun tetap tajam memandang sekeliling, dan sebilah batang besi panjang yang ia temukan di reruntuhan menjadi satu-satunya tameng yang ia miliki.
Malam itu, langit kelabu tanpa rembulan membuat pandangan semakin terbatas. Hendrik baru saja hendak berbelok ke persimpangan jalan utama, namun tiba-tiba langkahnya terhenti seketika. Napasnya tercekat, keringat dingin tumpah membasahi pelipis meski udara malam menusuk tulang.
Di hadapannya, membentang sepanjang jalan raya yang dulu selalu padat lalu lintas, terlihat barisan mayat hidup yang berjalan beriringan. Bukan seperti yang biasa ia temui—yang berjalan sempoyongan, tersandung apa saja, mengerang tak beraturan, dan bergerak seenaknya. Kali ini berbeda. Sangat berbeda.
Gerakan mereka serentak, sinkron bagaikan pasukan militer yang sedang berbaris. Langkah kaki mereka jatuh bersamaan, jarak antar satu tubuh dengan yang lain terjaga sama rata, tak ada yang mendahului, tak ada yang tertinggal. Mata mereka yang kosong melotot lurus ke satu arah yang sama, seakan ada tali tak kasat mata yang mengikat kesadaran mereka, mengarahkan setiap gerak ke satu tujuan yang pasti. Tak ada yang menyimpang mengejar bayangan, tak ada yang berhenti mengendus bau—mereka berjalan tertib, dingin, dan mengerikan.
Rasa ngeri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya merayap perlahan dari ujung kaki hingga tengkuk, membuat bulu kuduknya meremang seketika. Jantungnya berdentang kencang seakan mau meledak menembus rongga dada. Selama ini ia mengira wabah ini hanya menjadikan mereka mayat yang lapar dan tak berakal. Namun melihat pemandangan ini, ia sadar... sesuatu yang jauh lebih mengerikan telah lahir. Makhluk-makhluk ini bukan lagi sekadar mayat yang bangkit. Mereka telah menjadi pasukan.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Hendrik berbalik perlahan. Ia tak berani berlari—suara langkah kaki yang berat pasti akan menarik perhatian mereka. Dengan napas yang ditahan sebisa mungkin, ia menyelinap masuk ke gang sempit di sampingnya. Dinding tembok tinggi di kedua sisi seakan menutup langit, menjebaknya dalam kegelapan yang makin pekat. Ia terus melangkah mundur perlahan, mata memindai setiap sudut mencari tempat persembunyian yang aman.
Setiap kali terdengar suara geraman rendah atau gesekan pakaian yang compang-camping dari kejauhan, ia akan membeku di tempat, menahan napas hingga dadanya terasa perih, baru berani bergerak kembali saat suara itu menjauh. Rasa lelah yang membebani kakinya seakan tak terasa lagi, digantikan oleh kecemasan yang memuncak—jika mereka bisa bergerak teratur seperti ini, bagaimana mungkin ia bisa selamatkan keluarganya?
Hingga di ujung gang yang hampir buntu, pandangannya menangkap sesuatu: lubang masuk saluran pembuangan besar yang tertutup lempengan besi tebal dan berat. Tanpa mempedulikan bau apek dan lembap yang menyeruak dari celahnya, ia segera mendekat. Meletakkan batang besi yang ia pegang, lalu mencengkeram pegangan besi penutup itu erat-erat. Seluruh tenaga yang tersisa ia kerahkan untuk menggesernya.
Krak...
Bunyi gesekan besi kasar itu terdengar nyaring membelah keheningan malam. Hendrik menahan napas, menegang seketika berharap suara itu tak sampai ke telinga makhluk-makhluk itu. Saat celah cukup lebar terbuka, ia segera meraih kembali senjatanya, melompat turun ke dalam kegelapan, dan dengan sigap menarik kembali lempengan besi itu hingga menutup rapat lubang di atasnya.
Kini sepi sepenuhnya. Hanya suara detak jantungnya sendiri yang terdengar berisik, beradu dengan aliran air yang mengalir pelan jauh di bawah sana. Hendrik bersandar pada dinding beton yang dingin dan basah, mengatur napas yang tersengal-sengal perlahan. Keringat dingin masih terus mengalir, namun setidaknya untuk sesaat, ia terlindungi.
Perlahan matanya mulai beradaptasi dengan kegelapan. Ia mendekatkan wajahnya ke celah sambungan besi penutup, mengintip ke luar dengan hati-hati. Barisan mayat hidup itu masih lewat, berjalan berirama menuju arah yang tak diketahui. Wajah-wajah yang dulu mungkin ia kenal, kini hanya menjadi boneka yang bergerak atas perintah yang tak terlihat.
"Langkahku mungkin akan lambat untuk mencari keluargaku..." gumamnya lirih, suaranya bergetar tertahan, "tapi jika mereka telah tiada... aku tidak yakin akan sanggup melanjutkan hidup tanpa mereka..."
Selama berminggu-minggu ia berjalan menembus panas dan hujan, menghadapi bahaya di setiap tikungan—semuanya hanya berpegang pada satu harapan. Namun melihat barisan yang begitu teratur itu, ia sadar ancaman telah berubah wujud. Wabah ini tak sekadar mematikan, ia kini mengendalikan. Entah karena mutasi yang mengerikan, atau ada tangan kejam yang memanfaatkannya, satu hal yang pasti: perjalanannya baru saja berubah menjadi jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.
Lama ia menunggu di sana, membiarkan seluruh barisan itu lewat menjauh. Hingga suara langkah serempak itu perlahan hilang ditelan kesunyian malam yang kembali mencekam. Hendrik menghela napas panjang yang tercekat, menyandarkan punggungnya kembali ke tembok dingin. Meski ketakutan masih menyelimuti, satu tekad kembali menguat pelan namun pasti di dalam dadanya: selama masih ada secercah harapan, ia tak akan berhenti. Ia akan terus mencari, melawan segala rintangan, dan bertahan hidup—bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang-orang yang paling ia cintai di dunia ini.
bersambung