Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.
Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pintu terbuka.
Benar saja, Sera melihat sosok kakaknya terbaring tak berdaya.
Kakinya lemas, napasnya tertahan di tenggorokan, dan untuk sesaat dia bahkan lupa bagaimana cara bernapas.
"Kak..." panggilnya lirih. Langkahnya mendekat.
Semakin dekat, semakin jelas dia melihat luka-luka yang menutupi tubuh kakaknya—lebam ungu di wajah, bibir pecah, goresan dalam di tangan, dan wajah yang begitu pucat seolah tak bernyawa.
Air mata langsung meluncur deras membasahi pipinya.
Dia berlutut di samping kasur, tubuhnya lemas dan bahunya naik turun menahan isak tangis.
"Kakak..." suaranya pecah di tengah kalimat. Dia mengulurkan tangan, namun berhenti sekejap.
Kemudian dengan hati-hati, tangannya mulai menyentuh pipi kakaknya yang terasa dingin.
"Kakak... Bangunlah... Jangan menakutiku. Aku sudah mencarimu ke mana-mana, tapi ternyata Kakak berada di neraka ini..." isaknya sambil menunduk, air matanya jatuh membasahi selimut tipis yang menutupi tubuh Sarah.
Dia menggoyangkan bahu kakaknya pelan. "Kakak... Bangun..."
Namun tidak ada jawaban. Sarah tetap terbaring diam, yang membuat Sera semakin panik, tangannya bergerak memeriksa denyut nadi kakaknya—masih ada, tapi sangat lemah.
"Kakak... Tolong bangun... Sera mohon..." Dia menempelkan dahinya ke tangan kakaknya yang penuh luka, tangisnya pecah.
Dia sangat marah, hatinya hancur melihat orang yang paling dia sayangi berada dalam kondisi mengenaskan.
Sera terus menangis menumpahkan kesedihannya. Bahkan dia tidak menyadari keberadaannya Sean yang bersembunyi disudut ruangan sedangkan menatapnya.
Akhirnya Sean benar-benar melihat Sarah dan Sera secara terang-terangan dihadapannya.
Tadi dia tidak sempat keluar dari kamar itu, keburu Sera sudah masuk yang membuatnya terpaksa bersembunyi.
Sera mengangkat wajahnya, air matanya masih mengalir deras. Dia mengusap air matanya.
Tahu, menangis saja tidak akan menyelamatkan kakaknya. Dia harus bertindak cepat sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada sang kakak.
"Aku harus mengobatinya..." gumamnya
Sera berdiri dan berbalik berlari keluar kamar.
Kakinya melangkah cepat, matanya mencari-cari kotak obat didalam rumah itu.
Kebetulan, dia menemukan kotak obat didapur.
Tak lama kemudian, dia kembali dengan kotak obat berwarna putih. Dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Saat berbalik menuju kasur, dia masih belum menyadari sosok yang berdiri di sudut ruangan itu. Pikirannya sepenuhnya hanya tertuju pada Sarah.
Sera kembali berlutut di sisi kasur, lalu meletakkan kotak obat itu di lantai. Dengan tangan cepat, dia mulai membuka selimut yang menutupi tubuh kakaknya.
Melihat lebih banyak lagi luka lebam di lengan dan kaki Sarah, emosinya benar-benar seperti akan meledak.
Dia mengambil sebotol cairan antiseptik dan kapas dari dalam kotak obat. Dengan gerakan terlatih, dia mulai membersihkan luka-luka di telapak tangan kakaknya yang terlihat paling parah.
"Sabar ya, Kak... Sedikit lagi... Sera bersihkan dulu lukanya... Nanti akan terasa lebih baik..." bisiknya sembari terus bekerja.
Dia mulai membersikan dan mengobati luka kakanya. Sesekali menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Saat Sera sedang fokus membalut luka di pergelangan kaki Sarah yang bengkak parah, tiba-tiba napas Sarah berubah. Tubuhnya yang tadinya diam seketika menegang.
Sarah perlahan membuka matanya. Namun pandangannya kosong, tak fokus, seolah melihat sesuatu yang jauh di sana. Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Kakak?" Panggil Sera menatap Sarah. Dia mendekatkan wajahnya, berusaha tersenyum walau air mata masih mengalir. "Kakak, sudah sadar?"
Reaksi Sarah jauh dari harapan. Saat netranya menangkap sosok yang berada di depannya, tubuhnya seketika mundur ketakutan. Menekan punggungnya ke dinding di belakang kasur.
"Jangan... Jangan mendekat!" teriak Sarah histeris. Matanya menatap Sera ketakutan. Seolah dia adalah monster yang datang untuk menyakitinya.