NovelToon NovelToon
Direndahkan Keluarga Suami

Direndahkan Keluarga Suami

Status: tamat
Genre:Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Mengubah Takdir / Angst / Romansa / Tamat
Popularitas:176.4k
Nilai: 5
Nama Author: chibichibi@

Karena perubahanku, pantaskah kalian menghina?
Bukankah aku seperti ini, lantaran telah melahirkan penerus keluarga!

"Seharusnya, Mas membelaku! Bagaimanapun, aku ini adalah istrimu. Jika, bukan suami ... siapa lagi yang akan melindungiku? Haruskah, aku mencari tempat perlindungan lain? Apakah itu maumu, Mas Azam!" Lika.

"Kita ini hanya seorang anak, sudah seharusnya kita mengalah!" Azam.

Mampukah, Lika bertahan atau memilih pergi dari sisi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13. Imbas Dari Kecerobohan

[ Kak, kapan Heru dan Lulu mau di jemput. Bapak asmanya kumat, sebab kelelahan. Anak-anakmu sangat aktif, Kak. Sementara aku kerja selalu pulang selepas magrib. ]

Begitulah, pesan yang kala itu di kirim oleh Setyo adik ku. Usianya baru dua puluh tahun, dan ia bekerja di bengkel motor. Terpaksa aku menitipkan kedua anakku karena harus bergantian menjaga ibu. Melihat pesan dari, Setyo, hatiku merasa amat bersalah. Bapakku, memang tidak bisa kelelahan. Beliau memiliki riwayat penyakit asma. Mau tak mau, aku pulang dari rumah sakit langsung menjemput kedua anakku.

Jarak yang lumayan jauh, sekitar lima puluh kilo meter. Membuatku memilih untuk naik turun angkot saja. Aku tidak berani membonceng kedua anakku menggunakan motor dengan jarak sejauh itu. Kuparkirkan motor di salah satu pusat perbelanjaan. Menitipkannya pada tukang parkir di sana. Setidaknya aku bisa mengendarainya untuk menuju rumah kedua mertuaku.

Selama, Ibu di rawat, ayah sering tidak ada dirumah. Katanya mengurus kehilangan mobilnya. Mengejar terus oknum yang berusaha menipunya.

Beberapa kali, orang berseragam angkatan datang kerumah kami. Sepertinya itu adakah kenalan ayah. Salah satu customernya yang pernah menggunakan jasa jual-beli motor mobil padanya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat di tolak. Secerdik apapun, jika memang sudah waktunya kena tipu pasti akan merasakan juga.

Padahal, circle pertemanan ayah bisa di bilang lumayan elit. Tapi, yang namanya hati manusia siapa yang bisa menakarnya.

Sesampainya di rumah bapak.

"Assalamualaikum!"

Baru saja sampai, kedua anakku langsung berlari menghampiri. Kebetulan, Setyo libur hari ini. Kulihat, adik bungsuku itu tengah menyuapi Lulu makan.

"Mama, eyang takit. Bawa te doktel aja," ucap Heru mengadukan keadaan bapak kepadaku.

"Ya Allah, Bapak ... maafkan, Lika!" ucapku seraya mendekati pria paruh baya yang mengenakan sarung kotak-kotak di atas tempat tidurnya. Wajahnya terlihat pucat dan matanya sayu. Pasti, beliau kurang tidur lantaran menjaga kedua anakku.

"Eh, kamu sudah sampai, Nak? Gimana keadaan mertuamu? Kenapa di tinggal?" cecar bapak yang malah mengkhawatirkan keadaan orang lain.

"Sudah lebih baik, Pak. Meskipun belum bisa bicara jelas, karena mulut ibu agar miring sedikit. Sebelah tangannya juga tidak bisa di gerakkan. Mungkin, lusa sudah boleh pulang," jelasku, seraya menatap penuh rasa bersalah pada bapak.

"Maaf, Yo. Bapak tiba-tiba kambuh. Jadi ndak bisa sungguh-sungguh jaga cucu. Padahal, Bapak seneng mereka ada di sini. Rumah jadi rame. Kemarin sih sempet ada kakakmu datang. Tapi, suaminya keserempet motor mendadak dia pulang gak jadi menginap. Padahal, masih kangen katanya sama dua keponakannya ini," jelas bapak dengan senyum yang tak pudar menghiasi wajah tampannya yang mulai menua.

Wanita yang di ceritakan oleh bapak adalah kakakku. Kak, Lidia sudah menikah selama tujuh tahun. Tapi, belum dikarunia keturunan. Karenanya sangat senang ketika aku main kerumah bapak. Kakak, pasti akan datang. Hanya saja, suaminya terlalu posesif dan mengekang.

"Lika yang minta maaf, Pak. Sudah membuat, Bapak jadi kelelahan dan kurang istirahat. Lika tidak tau lagi harus menitipkan kedua anak ini kemana. Secara, keadaan mas Azam juga terbatas seperti itu," ucapku lirih. Hatinya sangat merasa bersalah melihat Bapak yang sehat jadi mendadak sakit begini.

"Ayo ajak ke doktel, Ma!" ujar Heru mengingatkanku untuk membawa bapak berobat. Putra pertama ku ini nampaknya sangat khawatir akan keadaan eyang mereka.

"Iya, Pak. Lika antar ke klinik ya," tawarku.

"Tidak usah, Nak. Obat juga masih ada. Bapak cuma terlalu lemah dan tua. Baru lari-larian sebentar saja sama kedua cucu manis ini, sudah bengek," ucap Bapak mencoba berkelakar. Agar aku tidak terlalu serius menanggapi penyakitnya.

"Tenang aja, Mbak. Nanti, kalau tidak membaik juga ... biar Tyo yang bawa ke klinik. Mbak, istirahat dulu gih di kamar, kasian tuh anak-anak juga belum tidur siang.

Akhirnya, aku pun menelepon mas Azam. Mengabari keberadaan ku saat ini. Meminta ijin untuk menginap malam ini dan baru pulang besok lagi. Sebab, dari rumah sakit tadi sudah terlalu sore. Tidak mungkin juga kalau ku bawa anak-anak pulang pada malam hari.

"Ya sudah, pokoknya pagi-pagi sekali kamu sudah pulang. Mas, belum makan. Tidak ada orang di rumah. Ini juga cuma makan roti yang ada di warung ibu," ucap mas Azam di telepon membuat hatiku jadi semakin sedih. Lantaran satu musibah hampir semua merasakan imbasnya. Bahkan, bapak menjadi kambuh penyakitnya.

Hah, jika boleh berkata seandainya. Tapi, sekali lagi ini semua sudah takdir dan jalan hidup yang harus kita lakoni. Terlepas dari semua kelalaian, ternyata disitulah kita harus sadar. Bahwa, sejatinya kita manusia lemah yang bodoh dan tak memiliki daya upaya tanpa bantuan dari Allah.

Selepas solat subuh, langsung ku ajak kedua anakku bersiap-siap. Aku pulang, dengan rasa hati berat meninggalkan bapak yang terus terbatuk-batuk di sepanjang malam. Ingin rasanya aku tinggal di sini lebih lama untuk merawatnya. Tapi, di rumah kami ada sosok suami yang lebih segalanya dalam hal membutuhkan ku.

"Nanti main lagi, kalau Eyang sudah sehat!" teriak Bapak sambil sesekali menarik napasnya susah. Begitulah jika penyakitnya telah kambuh. Bahkan untuk bernapas pun akan terasa sulit. Aku meninggalkan rumah bapak dengan langkah yang berat.

Sesampainya di rumah, ku dapati wajah suami ku yang cemberut. Bagaimana lagi, kebetulan di jalan tadi macet sekali. Bahkan, Lulu saja sampai muntah karena kelelahan.

"Assa--"

"Aku sudah lapar! Langsung masak saja!" Mas Azam marah, bahkan ia tidak memberikanku kesempatan untuk sekedar memberi salam.

"Assalamualaikum, iya Mas," jawabku sambil meneruskan salam yang sempat terpotong tadi. Ku ambil tangannya dan ku cium, meskipun langsung di tarik lagi oleh mas Azam. Aku maklumi saja, sejak kemarin suamiku itu tidak makan. Jadi, wajar jika saat ini dirinya emosi.

Ku letakkan, Lulu yang tertidur. Membuatkan susu untuk Heru, lalu aku segera bertempur di dapur Ibu. Syukurlah masih ada bahan makanan. Aku mulai memasak apa yang bisa di makan. Meski kurasakan linu dan pegal pada pergelangan kakiku.

"Cepetan dong, Dek. Mas bisa mati kelaparan ini!" teriak suamiku dari ruang tamu. Karena aku memang masak di dapur ibu. Kebetulan, kami tidak memiliki dapur. Atau dengan kata lain, memang tidak boleh membuat dapur sendiri.

"Maaf, Mas, agak lama. Soalnya tidak ada nasi. Jadi, Adek harus masak nasinya dulu," jelasku sambil meletakkan beberapa piring makanan ke depan mas Azam. Sebelumnya, ku letakkan dulu papan di atas pangkuannya.

Kasian, ku tatap wajahnya yang pucat menahan lapar sejak kemarin. Dalam hatiku bertanya-tanya, dimana keluarga ayah dan ibu. Kenapa, tidak ada satupun yang peduli? Ayah, juga kemana?

"Sebenarnya, Jelita kemarin datang kesini membawa makanan. Tapi, sudah Mas buang," cerita suamiku, membuat kedua mata ini membola seketika.

Apa yang direncanakan oleh janda kaya yang genit itu?

...Bersambung...

1
Rina Arie
good
Hera sasuwe
👍
Dyah Oktina
aamiin ya Allah
Indah Rohmiatun
kasih bonus donk thor
Ran Aulia
Luar biasa , ceritanya bagus, ada ilmunya juga 👍👍👍👍😍😍😍😍

terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
Dwika Artama
thor karyamu ini sungguh bikin aku nyesek tapi lanjutttttt.👍👍👍bikin para pembacanya gedeg ama keluarga si suami
Dwika Artama
thor karyamu ini sungguh bikin aku nyesek tapi lanjutttttt.👍👍👍bikin para pembacanya gedeg ama keluarga si suami
Silvi Vicka Carolina
permpuan hanya butuh tempat tuk bisa curhat ,bergosip ,sandaran ..laki laki yang di harapkan pwempuan laki laki yang bisa semua nya bisa jadi ayah .kakak.sahabat .bisa jadi tukang ledeng .biaa jadi tukang kuli bangunan.bisa jadi tukang listrik .bisa jadi tkang cuci bqju .cuvi piring .bisa jadi koki .waa pokoknya arus serba bisa ....
Ratih
Novel yg luar biasa , bagus bgt 🤗🤗🤗
Mak Aul: makasih udah baca karya2 aku
total 1 replies
Khusnul Khotimah
tp karma yg di terima sama azam cuma KATANyA kok gk langsung sih thor.. pasti seru kisah e azam pas tau istri barunya tdr ma bpk nya sendiri 😁😁
Mimik Pribadi
Nah lhooo,,,,ada berita apaan y???
Mel Rezki
mertua oh mertua 😣
Mel Rezki
ampun deh mertua begitu 🤧
‼️n
Gedeg aq ma si Azam .....
Sulati Cus
ye tu klu lakinya cm liat body ae lagian yg bikin melar sp??? cantik jg perlu modal kali😂
Mak Aul: otak lakiannya dari oncom
total 1 replies
Asyatun 1
keren
Mak Aul: makasihh lanjut season keduanya Terjerat pesona janda
total 1 replies
Echatiganecha
semangat lika
angel
emang dosa apa ya gk layanin laki ????bingung dgn aturan yg ada..laki kaya gt emang kudu di layanin ..?
angel
pusing bacanya ..bisa gk Thor bikin novel tuh yg gk bw2 agama. ...yg netral aj
Mak Aul: ini memang khusus religi. klo yang gak bawa agama banyak kok novel otor yang lainnya
total 1 replies
Yunia Afida
semangat terus💪💪💪💪💪, terimakasih
Mak Aul: maksiihh juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!