Cinta itu tak memandang usia, tak perduli seberapa jauh umur diantara kita, aku tetap mencintaimu, pak kepsek ku.
Aku tahu ini memang sulit dimengerti, tapi rasa cintaku padamu benar-benar nyata dan tidak bisa dihilangkan.
Aku berjanji, aku akan berusaha untuk bisa membuatmu melupakan kejadian kelam itu dan menggantinya dengan sebuah kemanisan!
•
Begitulah kalimat yang selalu diucapkan oleh Aileen Belvina, gadis cantik yang berusia 14 tahun.
Gadis yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP itu memang menaruh rasa pada kepala sekolahnya sendiri, yakni Ardiaz Bramantyo yang usianya berbeda dua kali lipat darinya, yap 28 tahun.
Kisah percintaan Aileen dan Ardiaz tak berjalan mulus, ia harus bersusah payah memenangkan hati pria dingin itu serta melewati berbagai macam rintangan lainnya seperti masa kelam Ardiaz.
Berhasil gak ya Aileen menaklukkan pak Ardiaz yang dingin dan cuek itu?
Baca aja yuk kisah mereka disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon patrickgansuwu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13.
Aileen tersadar dari pingsannya, ia terkejut melihat dirinya saat ini berada di UKS bersama seorang dokter serta dua orang anggota PMR yang ia kenal.
Aileen pun mencoba bangkit dari posisinya, tetapi gagal lantaran rasa sakit di keningnya kembali terasa.
"Akh awhh!" pekiknya sembari memegangi dahi yang sudah diperban itu.
"Jangan gerak dulu Len! Lu kan baru sadar, lagian luka lu itu masih belum kering tau." ujar Alam (ketua PMR di sekolahnya).
"Lam, gue kok bisa disini sih? Siapa yang bawa gue kesini?" tanya Aileen penasaran.
"Eee tadi pak Ardiaz yang bawa lu kesini, ada Shanum sama Aksal juga." jawab Alam.
"Yang bener??" Aileen langsung sumringah mengetahui jika Ardiaz lah yang menolongnya.
Aileen juga menyadari bahwa saat ini ia tengah mengenakan jas milik Ardiaz, tentu saja ia bertambah gembira mengetahui itu.
"Iya bener, emang kenapa sih Len? Kayaknya lu girang banget ditolong sama pak Ardiaz, ah jangan-jangan lu naksir ya sama pak Ardiaz!" ucap Alam menerka-nerka.
"Apaan sih? Ngaco!" elak Aileen malu-malu.
Lalu, dokter pun menghampiri mereka.
"Eh Aileen udah sadar, gimana tubuh kamu? Udah baikan?" tanya dokter pada Aileen.
"Udah kok dok, cuma saya masih kerasa sakit di kening sama tubuh saya agak menggigil gitu." jawab Aileen.
"Ohh, ya itu mungkin karena baju kamu basah Aileen. Nanti kalau kamu udah kuat, kamu langsung ganti baju aja ya biar gak masuk angin!" ucap dokter itu.
"Iya dok," ucap Aileen singkat.
"Yasudah, saya tinggal dulu ya? Alam, Jani, kalian berdua tolong jaga Aileen disini dengan baik ya sesuai perintah pak Ardiaz tadi!" ucap dokter itu.
"Baik dok!" ucap Alam dan Jani bersamaan.
Setelahnya, dokter pun keluar dari sana meninggalkan Aileen bersama ketua serta wakil ketua PMR itu.
"Len, lu sebenarnya kenapa sih bisa kayak gini? Ada yang jahatin lu lagi?" tanya Alam penasaran.
"Gitu deh Lam, biasa si Grace kan emang suka iri mulu sama gue. Gue juga bingung kenapa dia tuh bisa kayak gitu," jawab Aileen.
"Ohh ulah kak Grace lagi, yang sabar aja ya Len! Ini cobaan buat lu," ucap Alam.
"Ya ya ya, gue mah selalu sabar. Tapi, tindakan dia tadi udah berlebihan banget loh!" ujar Aileen.
"Iya sih, dia sampai nyiram lu dan jedotin lu ke tembok itu udah tindakan kriminal sih, bisa lu laporin dia ke penjara biar ditindak!" usul Alam.
"Hus Alam! Lu jangan memperkeruh suasana dong!" tegur Jani.
"Apa salahnya? Ini tuh biar kak Grace kapok dan gak mengulangi kesalahannya," ucap Alam.
"Tetep aja gak bisa gitu, semuanya kan bisa dibicarakan baik-baik." ucap Jani.
"Lu ngapa jadi bela kak Grace sih? Udah jelas-jelas disini yang salah itu kak Grace, harusnya lu bela teman kita si Aileen!" ucap Alam.
"Eh udah dong udah! Kok malah jadi kalian berdua yang ribut sih? Gue pusing nih!" ucap Aileen.
"Iya iya, sorry ya Len!" ucap Alam.
"Iya Len, gue juga minta maaf ya!" sahut Jani.
"Gapapa, santai aja! Oh ya, sekarang pak Ardiaz sama Shanum dimana?" tanya Aileen.
"Umm, mereka tadi keluar sih.. kayaknya pak Ardiaz itu marah besar sama Grace atas kejadian tadi, mungkin sekarang kak Grace lagi disidak." jawab Alam.
"Hah??" Aileen lagi-lagi dibuat terkejut, ia makin senang karena ternyata Ardiaz amat perduli padanya.
"Duh, pak Ardiaz emang idaman banget. Dia cuek dan sok dingin di depan aku, tapi ternyata dia perduli banget sama aku!" batin Aileen.
Sedangkan Alam dan Jani tampak heran melihat kelakuan Aileen yang tiba-tiba tersenyum seperti itu tanpa penyebab yang jelas.
•
•
Bruuukkk...
Ardiaz menghempas tubuh Grace begitu saja ke dalam ruangan pak Barnas, selaku kepala sekolah di bagian SMA.
Sontak saja hal itu membuat Barnas merasa terkejut, apalagi sebelumnya ia tak tahu menahu masalah yang terjadi dengan Grace.
"Loh pak Diaz? Ini ada apa pak?" tanya Barnas heran.
"Bapak urus anak didik bapak dengan benar! Bilang sama dia untuk tidak mencari masalah dengan anak didik saya di seberang!" jawab Ardiaz sangat emosi.
"Sa-sabar dulu pak, kita bisa bicarakan ini baik-baik! Memangnya ada apa sih ini? Grace, apa lagi yang kamu perbuat ha?" ujar Barnas kebingungan.
"Ayo jawab Grace!" bentak Ardiaz.
"Hiks hiks.." Grace justru menangis dan makin membuat Ardiaz merasa jengah.
"Jangan nangis! Saya minta kamu jawab dan jelasin semuanya ke pak Barnas!" bentak Ardiaz.
"Sabar pak! Dia masih remaja, sebaiknya bapak tahan emosi ya!" pinta Barnas.
"Dia memang masih remaja, tapi kelakuannya itu sudah keterlaluan. Saya tidak bisa mentoleransi itu lagi, karena dia sudah membahayakan nyawa anak didik saya!" ucap Ardiaz.
Barnas terlihat sangat bingung, ia masih belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
Sementara Grace terus menangis dengan berpegangan pada meja milik Barnas.
Lalu, dua orang wakil kesiswaan di bagian SMA muncul kesana setelah mendengar keributan.
"Pak Diaz, pak Barnas, ada apa ini?"
"Maaf Bu Yati! Ini urusan saya dengan pak Barnas, sebaiknya ibu Yati dan juga ibu Rosma pergi saja, jangan ikut campur!" pinta Ardiaz.
"Baik pak!" ucap bu Yati menurut, kemudian keluar dari ruangan itu dan menutup pintu.
Ardiaz kembali menatap tajam ke arah Barnas dan Grace, emosinya sudah meletup-letup akibat kejadian yang menimpa Aileen tadi.
"Pak, silahkan duduk dulu!" ucap Barnas berusaha ramah.
Ardiaz menghela nafasnya, lalu duduk di kursi dengan memasang wajah galaknya.
•
•
Shanum dan Aksal masih memantau ke arah ruangan Barnas, mereka tak berani mendekat karena khawatir mengganggu.
"Sal, kira-kira si Grace bakal diapain ya sama pak Ardiaz dan pak Barnas??" ujar Shanum bertanya-tanya.
"Entahlah, feeling gue sih dia bakal dihukum berat. Dilihat dari ekspresi pak Ardiaz tadi, kayaknya pak Ardiaz marah besar deh. Mungkin dia gak terima muridnya digituin sama orang lain," ucap Aksal.
"Bisa jadi tuh, tapi gapapa deh si Grace dihukum berat, biar dia tau rasa!" ujar Shanum.
"Iya benar, dan semoga aja Aileen cepat sembuh seperti semula! Kalau dia udah sadar nanti, pasti dia senang banget pas tau pak Ardiaz yang nolongin dia sewaktu pingsan." ucap Aksal.
"Hooh tuh lu bener banget!" ucap Shanum.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan Bu Yati dan Bu Rosma yang baru diusir oleh pak Ardiaz tadi.
"Heh kalian! Ngapain kalian berdua murid SMP ada disini, ha?" tegur Bu Yati.
"Eh ibu, eee ini kita cuma lagi nunggu pak Ardiaz selesai bicara sama pak Barnas." jawab Aksal.
"Kalian tunggunya di tempat kalian aja, saya gak mau ada masalah nantinya! Lagipun, ini kan jam pelajaran, seharusnya kalian ada di kelas bukan disini!" ucap Bu Yati.
"Ah iya Bu, ayo Num kita cabut!" ujar Aksal.
"Ish apaan sih?!" geram Shanum.
"Udah ayo cabut ah lama lu!" Aksal langsung menarik seragam Shanum dan membawanya pergi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
semangat berkarya kk..
mo bayangin dl gimana merona nya si ai
tp gpp.. jwbn penasaran q ada di next part..
makasi ka tri
ga kebayang gmn hancurnya perasaan ai sm mama mita 😢😢😭😭😭
klo bsa jgan pindah lapak
suka sama cerita nya
jdi pnasaran gmn ardiaz dan ailen pacaranya