Pernikahan yang tak pernah kuharapkan tapi harus kulakukan sebagai bentuk baktiku pada kedua orang tua ku.
Aku tak pernah berfikir akan menikah di depan jenazah.
Di masjid itu jenazah mami terbujur diselimuti kain dan siap diberangkatkan setelah sebelumnya di mandikan, di kafani dan disolati.
Di depan jenazah mami, abah Fani dan Pak Basofi duduk bersila saling berhadapan dan siap melaksanakan ijab qobul.
"Sah...."
Air mataku jatuh lagi, resmi sudah aku menjadi seorang istri dari Basofi sudirman. Pria yang dijodohkan denganku yang juga merupakan atasanku.
-******-----****-***---***
Cerita ini sebagiannya adalah cerita nyata yang terjadi di keluarga jauh ku dan khusus untuk pembaca yang sudah menikah saja ya!
So... kalau yang ada yang terdampar dan sampai membaca tulisan ini aku ucapkan banyak terimakasih semoga ada yang bisa dipetik dan di ambil pelajarannya. Kalau ada yang mau like apalagi komen makasih banget.....
Thx all
😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon en green, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
pov Sofiyah
"ok !! perfect !!" Aku menatap pantulan diriku sendiri dari dalam kaca sambil membentuk huruf O dengan ibu jari dan telunjuk ku.
Untuk hari pertamaku bekerja, aku memakai atasan warna putih cream dengan outer warna coklat muda dan celana bahan dengan warna yang senada serta sepatu dengan warna agak sedikit tua.
Kemarin setelah selesai kursus aku juga berpamitan pada para pembimbingku. Mama yang saat itu menemaniku mengurus semuanya dan setelah itu aku langsung di ajak oleh calon mama mertuaku itu ke butik.
Sebenarnya aku merasa sungkan tapi aku memang memerlukannya karena baju-bajuku kini biasa saja. Untuk bekerja di perusahaan besar seperti itu tentu tidak cocok sama sekali apalagi aku akan menjadi sekretaris direktur. Aku memilih lima setel pakaian plus hijabnya tetapi mama menambahkannya lagi lima pasang jadi total aku membawa pulang sepuluh setel pakaian.
Mama juga mengambilkan lima sepatu yang warnanya netral sehingga bisa di padupadankan dengan busana-busana mewah yang harganya jelas mahal-mahal.
Aku sampai bingung bagaimana harus mengucapkan terimakasih pada calon mertua ku itu.
" Ma....."
"Apa lagi? ada yang masih kurang?" Tanyanya kemarin.
"Ini sudah terlalu banyak ma....!"
" Lalu....? Jangan bilang kamu merasa tak enak hati ya. Kamu itu mau jadi bagian keluarga kami tidak perlu sungkan seperti itu. Kalau butuh apa-apa bilang saja sayang... !!nggak usah sungkan! ok?"
Mendengar itu aku malah hanya diam saja, hatiku merasa punya beban dan hutang budi yang teramat besar.
"Asa kamu tahu sayang.... dulu sewaktu papa dan mama baru menikah kami tidak memiliki apa-apa karena keluarga papa tidak setuju dengan pernikahan kami. Papa di usir dan di keluarkan dari kartu keluarga. Kami benar-benar kere waktu itu karena papa keluar dari rumah tanpa membawa apa-apa.
Sedangkan mama adalah anak yatim dan tidak punya keluarga selain ibuku. Mama hanya bersekolah sampai SMP saja. Mama tidak mau melanjutkan sekolah lagi dan memilih untuk bekerja untuk membantu ibu. Saat bekerja di restoran sebagai pramusaji mama bertemu dengan papa dan mulailah kami menjalin hubungan.
Dan setelah menikah mama tetap bekerja sebagai pramusaji tapi papa yang biasa bekerja di kantoran sedikit kebingungan untuk mencari pekerjaan walhasil jadilah papa seorang pengangguran. Di saat itulah keluargamu membantu kami sayang..... Mencukupi semua kebutuhan kami dan bahkan meminjamkan uang yang sangat banyak pada papa untuk membuka usaha. Dan semua ini adalah hasilnya jadi kamu nggak usah malu-malu gitu...." Mama menggenggam tanganku dengan erat.
"Makasih ma.... " kataku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama yang seharusnya bilang makasih sayang.... udah ah jadi melow kan? Oh ya mulai besok kamu akan diantar jemput sama supir ya...!"
"Hah..... no no no no mama no.!!! Fia mau bekerja ma dan Fia nggak mau orang-orang berpikir yang aneh-aneh tentang Fia. Tolong biarkan Fia bekerja seperti yang lainnya ma.... Tanpa perlakuan khusus agar Fia bisa bekerja dengan profesional ma...."
"Tapi sayang.... kamu itu calon mantu mama jadi wajar saja kan?"
"Ma.... itu nanti..... ada waktunya... untuk saat ini biar saja orang-orang tidak tahu agar Fia bisa bekerja dengan nyaman dan semua orang juga bisa memperlakukan Fia dengan normal tidak berlebihan. please ya ma...!" pintaku.
"Bagaimana kalau mama belikan mobil saja untuk kamu"
Aku menggeleng mendengar pertanyaan mama,"please ma..!"
"Sepeda motor titik tak ada penolakan. Lagi pula jarak rumah kamu dengan kantor koko mu agak jauh. Kalau naik sepeda sudah pasti baju kamu akan kusut semua kalau sudah sampai sana. Karena sekarang hari mulai gelap, kita pulang saja dulu. Besok pagi mama akan jemput kamu sama sekalian cari sepeda motornya. Sepeda kamu yang ada di kursus bisa di ambil besok sama pak Ali dan diantar ke rumah sekalian". Jelasnya panjang kali lebar.
'Setelah ku pikir-pikir benar juga apa yang di katakan oleh mama. Kalau aku bersikeras naik sepeda saat sudah sampai di kantor bajuku pasti sudah kusut semua. Ya baiklah akan ku terima daripada tiap hari harus antar jemput naik mobil.'
.
.
.
Dan ternyata pagi ini yang menjemputku bukan mama tapi Daniel. Daniel bilang jika perut mama tiba-tiba sakit.
"You nggak sekolah?" Tanyaku pada Daniel saat mobil sudah berjalan agak jauh tapi tak ada suara dari Daniel seperti biasanya. Raut mukanya terlihat murung dan itu bisa dipastikan akan memantik rasa kasihan siapapun yang melihatnya.
"Why?"
"Nothing" jawabnya singkat membuatku ingin menghiburnya dan menerbitkan senyum di wajahnya.
"Hidup itu cuma sekali jadi jangan biarkan kesedihan yang menemani kita setiap hari. Sehari itu 24 jam kalau mau sedih satu jam saja sudah cukup yang 23 jam biarkan kebahagiaan yang menyelimuti hari-hari kita"
"Kayak orang tua you.... sok tahu. Siapa juga yang sedih. Btw you perhatian banget sama I. You nggak mulai suka I kan?"
"Pede amattt..... Amat aja nggak pede..." kataku bercanda untuk mencairkan suasana hati Daniel tapi dia hanya tersenyum sekilas saja.
Setelah memutar otak agar suasana jadi nyaman aku mulai bicara lagi.
"Mau dengar cerita nggak?" Aku menatapnya untuk melihat reaksinya tapi dia hanya diam saja tanpa menyahut pertanyaanku.
" Abah Fani pernah bercerita, suatu saat ada seorang cina datang ke rumah kyai. Ia sedang berada dalam kesulitan. Bisnisnya bangkrut terancam gulung tikar dan hutangnya menumpuk setinggi langit. Lelaki cina itu sudah kehabisan cara dan ia sangat frustasi. Ia pun mengeluhkan keadaannya pada sang kyai. Pak kyai kemudian berkata baca solawat 1000 kali setiap hari. Akhirnya Cina itu pun pulang dengan hati yang mantap bahwa semua masalahnya pasti akan selesai. Sekitar dua bulan kemudian lelaki cina itu datang lagi kepada sang kyai membawa buah dan banyak hadiah sebagai rasa terimakasih nya karena semua masalahnya sudah teratasi. Semua hutangnya sudah di lunasi dan bisnisnya kini berjalan kembali. Sang kyai yang mendengarkan cerita dari Cina itu sampai terheran-heran.
" Anda membacanya setiap hari ?"tanya pak kyai mengingat wajah oriental tamunya itu yang disuruhnya membaca sholawat seribu kali
"Benar pak yai." jawabnya.
"Bagaimana anda membacanya?" Tanya pak kyai lagi.
"Membaca sholawat seribu kali" Jawabnya mantap.
" Hahahaha.... itu lucu kan?" Tanya ku sambil tertawa karena merasa cerita itu memang lucu sekali.
"Apanya yang lucu?" Tanya Daniel dan itu membuatku ingat jika Daniel bukan orang muslim dan tentu saja dia tidak tahu bagaimana bacaan solawat itu.
"Bacaan solawat itu... Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad dan harusnya lelaki cina itu membacanya seribu kali bukan nya bilang 'membaca solawat seribu kali" Jelasku tapi sepertinya dia tidak faham dan itu terlihat dari raut wajahnya yang belum berubah tetap manyun saja.
Aku sudah kehabisan kata jadi aku pun memilih diam selama di perjalanan sampai jarak yang agak jauh kami sudah bisa melihat logo perusahaan yang sangat besar di atas gedung bertingkat itu.
"Stop!! stop disini!!" Kataku agak berteriak.
"Kenapa memangnya? sebentar lagi sampai." Kata Daniel tetap mengemudikan mobilnya
"Kalau you tak mau stop. I will to jump out" Kataku dan itu langsung membuat Daniel mengerem mobilnya dan berhenti seketika di tempat yang agak jauh dari pintu masuk.
aku jg gak ngerti,kadang aku nemu novel yg ngelike sampai ribuan eh setelah ku baca biasa saja dan kadang halunya kebangetan.
Tp ada novel bagus,penulisannya bagus,tp terlalu realistis malah àpembacanya sepi.
hidup di dunia nyata itu berat makanya kita menghalu.
mungkin dlm dunia real kita2 ini
pemeran utama wanita mengaku salah, menyesal, sujud minta maaf, dan berjuang dapat kesempatan
kesalahan sofiyah dia pada basofi udah sangat banyak
* dia memandang hina basofi tapi diri sendiri lebih hina (munafik)
* udah punya calon suami tapi berhubungan dengan pria lain, bahkan jalan dan sampi pergi ke hotel
* tidak jujur dia wanita bekas
* merasa paling baik tapi dirinya juga penzina
* berkali dia menyakiti basofi dan buat basofi menjatuhkan air mata
tapi tidak adalah kata maaf dan perjuangan dari sofiyah
ini yang susah dari novel karya wanita mereka akan mengentengkan semua kesalahan pemeran utama wanita da akan menganggap serius kesalahan pemeran utama pria