NovelToon NovelToon
Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah

Status: tamat
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:958.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: emmarisma

Bagaimana jadinya jika memiliki suami yang terlampau berbakti pada ibunya?

Vina harus merasakan beratnya menjalani rumahtangganya dengan Prasetyo, lelaki yang dinikahinya 1 tahun yang lalu. Bukannya dinafkahi, Vina justru harus menanggung uang dapur di keluarga suaminya. Akankah Vina sanggup melanjutkannya? atau dia akan memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Lara Hati Pras

*****

Vina merasa kehidupannya sekarang tak ubahnya seperti menaiki sebuah wahana rollercoaster, kemarin dia merasa berada dibawah, tapi kini dia perlahan dan pasti mulai kembali naik ke permukaan.

Jika kemarin dia merasakan pahitnya berumah tangga, sekarang Vina tampak lebih tenang dan mulai memikirkan masa depannya yang masih panjang. Bercerai di usia 21 tahun, hal itu benar-benar bukanlah bagian dari impiannya, tapi bisa apa dirinya jika itu merupakan bagian dari takdir yang harus ia jalani.

Vina baru saja meletakkan mukenanya, matanya agak sedikit sembab setelah beberapa menit mengadu pada Sang Pemilik Kehidupan, namun hatinya merasa sangat lega. Seakan beban di hatinya terangkat begitu saja.

"Vin, ayo makan malam sudah siap," teriak Hani dari depan pintu kamar Vina

"Iya, Kak, sebentar," sahut Vina.

Vina lalu kembali bercermin dan merapikan sedikit anak rambut yang berantakan. Ia memoles sedikit bedak untuk menyamarkan wajah sembabnya.

Vina turun dan langsung menuju ruang makan, Dia tersenyum kaku saat melihat sajian di atas meja, sudah seperti penataan di sebuah resto mewah.

"Maaf ya, Kak Hani, aku enggak bantu."

"Ah, kaya sama siapa aja sih, Vin."

Vina duduk di sisi kiri Fauzi, sedangkan Hani duduk di sisi kanan suaminya. Dengan telaten Hani menyiapkan menu makanan untuk suaminya, Vina sejenak tertegun. Pikirannya melayang pada sosok mantan suaminya.

"Ambil nasi, Vin. Jangan malah melamun begitu," tegur Hani. Wanita itu tahu apa yang sedang di pikirkan oleh adik iparnya. Dari sorot matanya saja sudah terlihat jelas kesedihannya.

"I-iya, Kak." Vina mengambil centong nasi dan mengisi piringnya dengan setumpuk nasi yang tak seberapa banyak.

"Kamu sakit, Vin?" tanya Fauzi heran saat melihat porsi makan Vina.

"Vina lagi enggak selera makan, Kak." Mendengar jawaban adiknya Fauzi hanya menghela napas kasar.

Usai makan Vina kembali ke kamar. Dia duduk di sofa yang menghadap ke balkon. Tangannya terus menggulir galeri foto dimana di sana banyak foto kenangan antara dirinya dan Pras.

"Seandainya sedikit saja kamu mau memperjuangkanku," lirih Vina. Ada yang terasa menusuk tapi tak kasat mata, namun rasa sakitnya begitu nyata. Manisnya cinta nyatanya tak bertahan dalam mahligai rumah tangganya. Cinta yang di tawarkan hanya manis di awal saja.

Vina menghapus semua foto bersama Pras dari galeri ponselnya. Meski kini dia terbebas dari keluarga suaminya namun rasa itu menyisakan rongga luka yang menganga. Vina hanya berharap kelak bisa menutup rongga luka itu dengan seiring berjalannya waktu.

***

Pras berjalan sempoyongan menuju dapur. Kepalanya berdenyut nyeri, ia merasakan tubuhnya lebih panas dari sebelumnya.

Pras membuka tudung saji, namun tak ada apapun yang bisa ia makan selain nasi yang mungkin saja sudah dingin.

Pras duduk di kursi dan memijat kepalanya. Di saat begini ia teringat akan istri yang kemarin ia ceraikan. Biasanya jam segini Vina akan mondar mandir menyiapkan makan untuknya, menanyakan pada dirinya apa yang mau dia makan sambil meletakkan secangkir teh hangat.

Napas Pras mulai memburu seiring rasa sesak yang semakin menghimpit dadanya. Kilatan masa lalunya terlalu manis untuk dilupakan.

"Vina... " lirih Pras, Pria itu tergeletak dengan kepala tergolek di atas meja. Kesadaran Pras menghilang diiringi jeritan ibunya.

"Pras...!" pekit bu Siti, wanita itu baru saja masuk ke dalam rumah membawa bungkusan lauk yang baru ia beli. Ia terkejut saat melihat tubuh putranya tiba-tiba tumbang.

Bu Siti berteriak minta tolong dan tak lama para tetangga datang dan membantu bu Siti membawa Pras ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan bu Siti terus memandangi wajah pucat putra pertamanya, baru kali ini bu Siti melihat Pras tergolek tak berdaya.

"Ada apa denganmu, Pras?" lirih bu Siti.

Setibanya di rumah sakit Pras langsung di tangani oleh dokter. Dokter mengatakan jika pria itu kelelahan dan types. Dokter belum bisa mendeteksi indikasi lain karena Pras belum sadarkan diri.

Dokter mengatakan Pras harus di rawat beberapa hari di sana. Bu Siti pasrah, ia langsung menghubungi Bagas agar menyusulnya ke rumah sakit.

Pras sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Wajah Pras tampak sayu. 10 menit yang lalu dia baru saja sadar, dia hanya diam dalam lamunan. Tatapan mata Pras kosong, bu Siti kembali memanggil dokter karena khawatir dengan kondisi putranya.

Dokter datang dan langsung memeriksa Pras. Dokter mengindikasi jika Pras mengalami depresi. Bu Siti tentu saja sangat terkejut.

"De-depresi... Dok?"

"Iya, Bu. Apa sebelumnya pasien ada masalah atau sesuatu yang membuat pikirannya terganggu?"

"Saya tidak tahu, Dokter, tapi memang 2 hari yang lalu dia baru saja bercerai dari istrinya."

"Nah, bisa jadi itu adalah pemicunya. Mungkin mas Pras ini ada rasa menyesal sudah menceraikan istrinya, atau perasaan kecewa yang mungkin tidak bisa diungkapkan secara langsung sehingga malah menganggu pikirannya."

"Apa masih bisa diobati dokter?"

"Tentu saja, Bu. Nanti saya akan beri surat rekomendasi ke psikolog. Semoga saja bisa segera ditangani."

"Kamu kenapa toh, Pras?" bu Siti mendekati Pras dan mengusap puncak kepala anak pertamanya.

"Vina... " lirih Pras.

Pras tiba-tiba meneteskan air matanya. Bibirnya terus menyebut nama Vina tanpa henti. Bu Siti merasa geram dengan tingkah putranya itu.

"Lupakan dia Pras, ibu yakin kamu akan menemukan jodoh yang lebih baik dari wanita itu."

Namun suara bu Siti seakan tidak bisa menembus lubang telinga Pras. Pras terus memanggil nama mantan istrinya. Bagas membuka pintu perawatan kakaknya. Dengan wajah enggan dia mendekat ke arah ibunya.

"Ada apa sih, Bu?"

"Masmu depresi."

"Hah? mas Pras gila, Bu?" Bu Siti langsung menepuk lengan Bagas dengan keras.

"Punya mulut itu mbok ya, distel jangan asal mangap saja," sinis Bu Siti.

"Aduh ... sakit, Bu. Ibu nyuruh aku kesini sebenarnya untuk apa?"

"Ya ampun, Gas. Apa tidak bisa kamu simpati dengan kondisi masmu. Ini semua gara-gara perempuan mandul itu."

"Ini bukan salah Vina, Bu. Ibu yang paling salah karena ikut campur urusan mas Pras. Coba kalau ibu enggak nyuruh mas Pras cerai. Semua ini enggak akan kejadian," jawab Bagas. Bu Siti semakin geram dan memukuli lengan putra keduanya.

"Mulutmu itu, Gas. Ibu begitu karena mau yang terbaik buat masmu."

"Yang terbaik buat mas Pras atau buat ibu? ibu sadar enggak? selama nikah, pernah enggak ibu lihat mas Pras bertengkar sama Vina? Rumah tangga mereka harmonis, Bu. Kalau ibu tidak pernah mencampuri urusan mereka. Mereka jadi sering bertengkar karena ibu. Ibu sadar enggak? Selama ini aku memilih diam karena aku khawatir ibu juga akan memperlakukan aku sama seperti ibu memperlakukan mas Pras," ujar Bagas setengah emosi.

Bu Siti terdiam mendengar ucapan Bagas. Apa benar begitu? tapi kenapa hanya karena cerai Pras sampai depresi begitu?

"Kita datangi warung Vina bagaimana?"

"Memang ibu tahu dimana?"

"Tahu, cuma selama ini ibu memang belum pernah ke sana. Bu Nia dulu pernah ngasih tahu ibu usahanya si Vina. Ibu cuma pura-pura enggak denger aja. Kedainya dekat dengan tempat kerja masmu."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sambil nunggu mampir yuk ke karya keren yang 1 ini, Judul : Belenggu benang kusut penulis : Tie tik

1
mama yogi
👍👍👍👍👍
hahhh🫩,
akuhh maaf sebelumnya ya kak, lain kali kalau mau buat karya buatlah yang lebih enak sedikit untuk dibaca, lah ini dikit dikit POV, bukan bermaksud merendahkan tapi jika hal ini terus diulang ulang maka pembaca pada pergi kak, POV nya pun sampai 1 bab full, lain kali kalau mau buat novel, POV nya jangan sampai 1 bab full, kan bisa beberapa kata saja sudah cukup, jangan di biasain kak, soalnya kalau pembaca enggak suka biasanya mereka memberikan 1 bintang saja
POV🗿
Heni Setianingsih
Luar biasa
Saleha Lynn
tak payahlah pov segala bikin bosan baca sebab ulang2
Eka Uderayana
cerita nya keren 👍
sukses selalu
kristi hartati
Luar biasa
aryuu
minyak wajah pindah ke etalase /Facepalm/
ngakak aku sista
Nisma Hdj
Luar biasa
MAR YANI
kalau ada pov2 gini kesannya ceritanya diulang2
Eva Malinda Siregar
Biasa
Eva Malinda Siregar
Buruk
Eka Uderayana: ente bahlul
total 1 replies
nining
luar biasa
arniya
luar biasa kak
arniya
Vina selalu salah Dimata keluarga toxic
Anonim: Iya karena Vina nya aja yg bodoh, diam aja kalo ditindas
total 1 replies
arniya
Enzo....... pintar banget cari perhatian
arniya
ternyata Enzo pintar...
arniya
nenek sihir selalu bikin emosi...
arniya
pras nyebelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!