Gara-gara Nafkah
*****
Siang itu, Vina pulang ke rumah karena merasa kepala rasanya pusing sekali. Namun saat ia hendak masuk ke kamar ia justru malah mendengar ibu mertuanya sedang berbicara dengan Pras suaminya di kamarnya. Karena suasana sepi, Vina memberanikan diri untuk menguping pembicaraan antara ibu dan anak itu.
"Masak cuma tiga juta setengah aja dia ga mau ngasih pinjam ibu sih, Pras?" terdengar suara ibu mertua Vina kesal.
"Buk, masalahnya ibu kalau pinjam Vina, ujung-ujungnya ibu itu selalu minta ia buat ikhlasin uang itu. Ya jelaslah dia tidak mau meminjami ibu uang lagi."
"Punya istri kok engga ada guna gitu, Pras, mending kamu ceraikan saja dia. Lama-lama kelakuan dia juga engga ada sopan-sopannya sama ibu. Ibu ini sudah susah payah besarin kamu, sekolahin kamu tinggi-tinggi. Dia mau enaknya dapetin kamu tapi ga mau ngurusin ibu."
"Udah lah, Bu... Pras pusing. Lagian salah ibu yang terlalu memanjakan Asya. Ibu selalu saja menuruti perintah Asya."
"Oh, jadi begini pemikiran ibu mertuaku?" batin Vina. Meskipun ia sering mendapat kata-kata kasar dari ibu mertuanya, tapi ia tidak habis pikir dengan sikap ibu mertuanya. Apa selama ini pengorbanan yang telah ia lakukan masih kurang?
Suaminya sejak dari menikah sampai sekarang tidak pernah memberinya nafkah dengan alasan uangnya dipergunakan untuk keperluan ibunya. Vina rela menggunakan uang hasil jualannya sebagian untuk menutup keperluan rumah tangga dan sebagian lagi untuk kebutuhannya. Secara tidak langsung Vina selama satu tahun ini menjadi tulang punggung di dalam rumah tangganya, tapi kenapa di mata ibu mertuanya ia tetap saja selalu salah.
Vina bergegas keluar saat mendengar suara langkah kaki bergerak mendekati pintu. Rasa sakit di kepalanya mendadak sirna berpindah menjadi rasa sakit di hati Vina.
Sejak awal perempuan itu sudah meminta suaminya untuk mengontrak rumah sendiri. Namun, suaminya selalu menolak, ia mengatakan jika tidak tega meninggalkan ibunya. Padahal ada adik Pras dan juga iparnya tinggal bersama ibunya.
Vina pun hanya bisa pasrah. Berulangkali harus menelan kekecewaan, padahal sebelum menikah Pras selalu bersikap baik padanya.
Asya yang tadi Pras sebut namanya, adalah adik ipar Vina. Ibu memang sering meminjam uang pada Vina dengan alasan untuk kebutuhannya, tapi sebenarnya ia tahu, uang itu diberikan pada Asya, iparnya.
Padahal Vina dan Asya sama-sama menantu di rumah itu, tapi ibu mertuanya selalu pilih kasih, ia memperlakuan Asya bak ratu karena Asya lulusan Sarjana sedangkan pada Vina yang hanya lulusan SMA, ibu mertuanya itu sama sekali tak menganggap dirinya.
Semua yang ada di rumah suami Vina tidak ada yang tahu, jika Vina diam-diam melanjutkan kuliah. Ia pernah membicarakan tentang melanjutkan pendidikannya, tapi selalu saja suaminya tidak memberikan respon yang baik. Akhirnya tanpa sepengetahuan Pras, Vina melanjutkan pendidikannya di Universitas Terbuka, di mana jadwal kuliahnya bisa disesuaikan dengan kesibukannya.
Vina telah memutuskan ia harus berbicara dengan suaminya lagi, jika tidak, lebih baik ia menyerah dengan rumah tangganya karena tak akan mungkin bisa selamat jika ibu dari suamunya terus menerus ikut campur urusan rumah tangga mereka.
Vina tidak mau hidup seperti ini terus menerus. Bukannya kebahagiaan yang dia dapat, melainkan hanya hinaan dari hari ke hari.
Vina memutuskan kembali masuk ke rumahnya, ia tak terkejut saat melihat ibu mertuanya memasang wajah masam kepadanya.
"Heh Vina, masak cuma duit 3,5 juta saja, kamu beneran engga mau pinjami ibu?"
"Bukan saya tidak mau memberi pinjam pada ibu, tapi memang tidak ada, Bu. Sebulan yang lalu bahkan dua bulan yang lalu saya kan sering memberi pinjaman sama ibu."
"Oh, jadi kamu ga rela bantu ibu kemarin? kamu sekarang mau mengungkit uang itu?" suara ibu mertua Vina langsung meninggi saat Vina mengungkit uang yang ibu mertuanya pinjam dari bulan lalu.
"Bukannya begitu, Bu. Saya ikhlas bantu ibu, tapi kalau memang uangnya benar-benar buat ibu. Kalau untuk dikasih ke Asya, saya mohon maaf, bu. Saya ini cuma lulusan SMA yang penghasilannya tidak ada apa-apanya dengan menantu ibu yang sarjana itu."
Vina langsung memberi jawaban tegas pada Ibu mertuanya. Jangan sampai masalah uang justru malah akan semakin merusak hubungannya dengan keluarga suaminya, meskipun sebenarnya memang hubungan keduanya mulai renggang sejak ibu sering meminjam uang pada Vina. Pras mengira jika Vina lah yang meminjam uang pada ibunya.
Vina berpikir memang sebaiknya ia memberi batasan pada ibu mertuanya agar tidak selalu merendahkan dirinya. Toh Asya juga bekerja, ia juga punya suami. Kenapa harus Vina yang menanggung kebutuhan mereka.
"Ya, jelas penghasilan Asya lebih besar, dia kan sarjana, Manager pula jabatannya. Ga kaya kamu yang cuma penjual ayam," jawab ibu mertua Vina dengan lugas dan jelas sambil dagunya dinaikkan.
Memang tajam sekali lidah ibu mertua Vina ini. Setinggi itukah derajat Asya di matanya? tapi apakah perlu ia juga menjelek-jelekkan Vina seperti itu.
"Ya, syukur kalau pendapatan Asya itu besar, Bu. Jadi saya tidak perlu merasa bersalah kalau tidak memberi dia pinjaman."
Namun belum sempat ibu mertuanya menjawab ucapan Vina, Pras keluar kamar, ia menatap Vina dengan tatapan yang sulit diartikan.
Pras menarik tangan Vina dan membawa wanita itu masuk ke kamar. "Kamu itu apa-apaan sih, berdebat seperti itu dengan ibuku, Dek?"
"Mas, tapi ibu yang mulai. Ibu mengungkit uang pinjaman itu lagi. Apa aku harus selalu diam? Apa selama ini aku kurang mengalah pada ibumu?" ujark Vina dengan parau, rasanya hanya sekedar untuk mengungkapkan kekesalan di hatinya saja, rasanya sulit sekali. Vina hanya mampu meneteskan air mata. Sejujurnya ia merasa sangat lelah menjalani situasi rumit ini.
Melihat air mata Vina, Pras mendekati istrinya itu dan mengusap air matanya. Pras tidak jadi memarahi Vina saat Vina mengatakan semua isi hatinya. Pras seharusnya paham betul apa yang ia rasakan. Sudah tidak pernah diberi nafkah tapi masih harus dirong-rong oleh keluarganya.
"Aku mau kita kontrak saja, ya, Mas?" pinta Vina memelas. Namun, Pras lagi-lagi menggeleng dengan tegas. Vina benar-benar dibuat kecewa.
"Tolong mengertilah, posisiku, Dek. aku tidak bisa meninggalkan ibuku sendirian, Dek." Baru saja Pras diam, ibu mertua Vina tiba-tiba ibu mertua Vina nyelonong masuk.
"Kalau kamu mau pergi, pergi sendiri! jangan ajak anakku. Sudah mandul, tidak bisa memberi keluarga ini keturunan, Pelit, lulusan SMA lagi, tidak ada yang bisa aku banggakan dari kamu itu."
"Ibu... " kali ini Pras menghardik ibunya. Ucapannya benar-benar keterlaluan.
"Kamu berani bentak ibu, Pras?"
"Bu-bukan begitu, Bu, tapi ibu jangan bicara seperti itu pada Vina."
"Ibu ini ngomongin fakta, Pras. Kamu aja yang buta, ga bisa melihat. Kamu masih muda, tampan, Sarjana Ekonomi dan bisa mendapat gadis mana saja yang kamu mau. Kenapa malah mempertahankan dia yang jelas-jelas mandul."
"Kenapa ibu selalu menilai saya seperti itu? apa tidak cukupkah selama ini saya mengalah sama ibu. Selama setahun saya menjadi istri mas Pras tidak pernah sepeserpun dia menafkahi saya. Pernahkah saya mengeluh? kenapa ibu selalu membandingkan saya dengan Asya? Apa karena masalah anak ibu menilai saya seperti itu? Atau karena pendidikanku? apakah ibu pernah melakukan tes kesehatan pada mas Pras? kenapa hanya saya yang selalu disudutkan oleh keluarga kalian?"
Benar kata orang, jika sedang marah hendaklah diam. Namun saat emosiku meledak bibir ini tidak bisa berhenti berucap hingga kata-kataku akhirnya menjadi bumerang bagi rumah tanggaku.
"Jadi selama ini, itu yang ada di pikiran kamu, Dek? kamu kira mas yang mandul?"
Deg!!
Sungguh aku tidak ada niatan menyakiti perasaan suamiku dengan ucapanku itu. Pras menatapk Vina kecewa, sedangkan ibu mertuanya justru tersenyum sinis melihat putranya terluka hatinya.
"Kamu lihat sendiri wajah asli istrimu itu Pras?" ujar ibu seperti menuang minyak ke dalam api.
"Ma-mas... bukan seperti itu, maksudku."
"Aku selama ini tidak pernah menanyakan perihal anak agar tidak menyakiti hatimu, Dek, tapi mengapa hanya karena uang, kamu tega ngomong begitu?"
"Mas, bukan begitu maksudku."
"Vina... mas kecewa padamu."
"Sudahlah Pras ceraikan dia," kata ibu mertua terus menghasut suamiku. Aku menatap mas Pras dengan perasaan bersalah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Dermawan Hasibuan
memang menantu selalu salah di mata mertua
2024-04-02
2
𝒮🍷⃞⃟Ive•Сɛƨℓιɛα•ଓε🐬♀♛ƐꝈƑ⃝🧚
..
2024-04-02
0
sherly
HBS baca zafa lanjut aku kesini, dr judulnya sepertinya menarik Thor .. aduh novelmu buat candu..
2023-10-28
0