NovelToon NovelToon
Dinikahi Pewaris Tahta

Dinikahi Pewaris Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cintamanis
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Stefhany 22

Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.

Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!

Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Bercengkerama dengan keluarga yang jarang berjumpa selalu menjadi part yang menyenangkan dalam setiap pertemuan keluarga. Kecuali bagi beberapa orang, Danzel misalnya. Manik terangnya menatap lurus ke depan, tatapan yang menyiratkan kekesalan pada seorang pria dewasa yang duduk tak jauh di depannya. Devan, kenapa si sulung kebanggaan daddy itu datang juga. Kapan dia tiba?.Lihatlah senyumnya yang seolah mengejek itu, saat Daddy menyebutkan satu persatu keberhasilannya dalam menjalankan bisnis. Memperoleh tender dari perusahaan raksasa dari seluruh dunia.

Cih, decihnya dalam hati.

Sementara Mala, tak terlalu ambil pusing dengan raut wajah suaminya yang merengut. Gadis itu asik berkenalan dengan seluruh anggota keluarga. Terutama para sepupu Danzel yang ternyata sangat ramah. Beberapa mungkin cuek, dingin atau jengkel, terutama para sepupu perempuan termasuk si Deby. Kakak sepupu tertampan mereka sudah dimiliki orang lain.

"Ini namanya Ely, anakku. Umurnya baru tujuh tahun." Wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai bibinya Danzel itu menarik tangan putrinya agar berkenalan dengannya. Mala yang pada dasarnya memang suka anak anak, dengan mata berbinar menjabat tangan si kecil yang imut dan menggemaskan itu.

Kedua cepat sekali akrab, Ely sekarang sudah duduk di pangkuan Mala dan menyandar pada bahunya. Seakan tak mau berpisah.

"Ely mau tidur? Sudah mengantuk?" Mala bertanya pelan seperti seorang ibu pada anaknya. Tangannya dengan lembut membelai kepala anak kecil itu.

"Kalau Ely mengantuk, ayo sama mama. Kita tidur di kamar. "

"Nggak ma, Ely mau sama kakak cantik. Ely tidak mengantuk." Jawabnya polos sambil menggeleng pelan.

"Yasudah kalau begitu." Ibu dari anak tersebut kembali bercakap cakap dengan anggota keluarga yang lain.

"Ely lengket sekali dengan Mala, biasanya dia tidak mau dekat apalagi dipangku orang baru."

"Tentu saja, menantuku memang luar biasa. " Puji Aisha lagi yang membuat senyum Mala mengembang sempurna. Kadangkala ia rasa, mertuanya itu terlalu berlebihan memujinya.

"Oh ya, bukannya kalian akan pergi ke Swiss lusa nanti?" Aisha bertanya lagi.

"Iya, itulah yang aku khawatirkan sekarang. Lusa nanti Ely ada ujian di sekolah, terpaksa kami titipkan pada neneknya yang jarak rumahnya sangat jauh dari sekolah."

"Begitu.." Aisha nampak bergumam pelan. "Kalau begitu biarkan Ely tinggal dengan Danzel saja sementara waktu. Dia juga menyukai Mala kan, lagipula jarak apartemen Danzel dengan sekolah Ely sangat dekat." Entah ide dari mana yang dicetuskan Mami Aisha. Danzel yang mendengarnya sontak menoleh, menggeleng pelan. Tak bisa membayangkan betapa repotnya mengurus anak kecil.

Reaksinya berbanding terbalik dengan Mala yang tampak berbinar. Beberapa jam bersama Ely sudah membuatnya menyukai anak itu.

"Bagaimana Mala, kamu mau kan?" Tanya mami Aisha.

Danzel menyikut lengannya pelan, kode bahwa berkata jangan. Kita pasti akan repot nanti.

Mala hampir saja menurutinya, tapi melihat binar mata Ely yang tampak sangat berharap membuat ia tak tega. Lagipula surat perizinan butiknya juga masih diurus, otomatis ia hanya akan menganggur dirumah. Apa salahnya membantu saudara, mungkin ini jalan agar ia cepat akrab dengan keluarga Fernandez.

"Iya, boleh saja kalau Ely mau." Jawaban Mala membuat Danzel mendesah kesal. Tidak daddynya ataupun istrinya membuat mood nya malam ini jadi buruk.

"Danzel, kamu tidak ingin menyapa kakakmu?" Mami Aisha lagi lagi menanyakan hal itu.

Baru saja ia akan menyahut pertamanya maminya, suara cempreng Deby sudah memenuhi ruangan. "Ayo semuanya, sekarang saatnya dansa!" Serunya lantang.

"Dansa?" Gumam Mala pelan. Dia pernah belajar dansa waktu kecil, tapi sekarang tentu saja gerakannya sudah kaku. Mala jadi gugup, jangan sampai dia mempermalukan dirinya sendiri.

"Ayo kak Danzel, kita berdansa," Deby sudah merengek dan menarik narik tangan kakak sepupunya yang masih enggan beranjak.

"Deby, kak Danzel sudah punya istri. Lebih baik kamu dansa dengan Revan." Ucap wanita yang umurnya sekitar 40 an tahun kalau dari tebakan Mala. Sepertinya itu ibunya Deby, terlihat dari pahatan wajah keduanya yang mirip.

"Nggak mau, aku maunya sama kak Danzel aja."

Seorang laki laki muda akhirnya bangkit dari sofa dan menggenggam tangan Deby. Gadis itu bahkan masih menggerutu kala dia dibawa ke lantai dansa. Sementara Mala, ia masih diam di tempat duduknya. Menunggu reaksi suaminya. Tak ada tanda tanda pria itu akan mengajaknya dansa, tapi tak apa. Malah dia bersyukur kalau Danzel tak mau diajak dansa.

"Ayo, ini pesta kita. Jangan membuat mami marah. " Baru saja Mala mengucap syukur, ajakan Danzel mengacaukan segalanya. Pada akhirnya ia pasrah. Menautkan tangannya pada tangan Danzel lalu melangkah menuju lantai dansa.

Para cucu cucu Opa Johan yang masih muda dan rupawan, kini memenuhi ruangan. Mereka amat terlatih dan berdansa dengan sangat anggun. Bahkan mami Aisha dan dad Arthur turut serta.

"Aww!" Pekik Danzel saat istrinya tak sengaja menginjak kakinya.

"Ups, maaf." Mala menahan tawa. Puas sekali sepertinya menginjak kaki Danzel.

"Kamu bisa dansa nggak sih! Jangan injak kakiku!"

"Bisa, ini kan aku lagi dansa sama kamu" Sahut Mala tak mau kalah.

Kemudian keduanya diam dan berdansa dengan tenang, meski kadang saling mengomel karena salah gerakan.

"Danzel aku ingin buang air kecil.." Mendengar bisikan gadis yang kini tengah mengalungkan tangan di lehernya, Danzel bergumam kesal.

"Yasudah sana, jangan salahkan aku kalau nanti suamimu yang tampan ini digoda para gadis itu." Lirikan Danzel mengarah kearah para sepupunya yang sebagian tak minat berdansa dan memilih duduk. Agak kecewa karena tak punya kesempatan bersama kak Danzel lagi. Sejak ada istrinya itu.

"Huh, menyebalkan." Bodo amatlah, perempuan itu sudah tidak tahan. Jangan sampai nanti malah mengompol disini, kan nggak lucu.

Mala melenggang pergi dari lantai dansa itu dan berlalu pergi ke kamar mandi seusai bertanya letaknya pada mami Aisha. Mertuanya itu menawarkan untuk mengantar, tapi Mala menolak secara halus.

***

Huf, leganya. Gumam Mala usai menuntaskan hajatnya yang tertunda sampai membuat perut bawahnya nyeri. Kaki jenjang gadis itu menyusuri lorong menuju lantai satu. Mala memang memilih kamar mandi tamu yang ada di lantai dua.

Hingga tak sengaja ia melewati sebuah ruangan. Samar samar terdengar suara seseorang yang ia kenal. Rasa penasaran yang mendera membuat gadis itu memutuskan untuk berhenti sejenak. Ini adalah ruang kerja opa Johan.

"... Ini saja yang dapat aku lakukan untuk menebus rasa bersalahku di masa lalu. Juga agar hatiku tidak khawatir terus menerus, percayalah Bima, semuanya akan baik baik saja. Danzel akan terbiasa nanti." Potongan perkataan Opa Johan yang ditangkap Mala.

"Aku selalu percaya pada ayah, apapun itu. Aku tidak pernah meragukannya sejak dulu." Dan itu suara bariton seorang lelaki yang Mala juga tidak tahu siapa. Tebakannya berkata kalau itu adalah salah satu anak opa Johan. Dia memang belum hafal seluruh anggota keluarga walaupun sudah dikenalkan tadi oleh mami Aisha.

"Kamu yang tertua, kamu yang paling tahu setelah kakak tertuamu yang sampai sekarang tidak ada kabar itu."

Perempuan itu membisu, diam tak bergerak ditempat. Mencoba mencerna segala perkataan yang keluar dari mulut Johan. Demi apapun, Mala penasaran setengah mati. Ya, dia sadar tidak sepantasnya menguping pembicaraan orang lain. Tapi apa daya, rasa penasaran itu mengalahkan segalanya.

Takut ketahuan mencuri dengar, buru buru ia melenggang pergi. Melangkahkan kakinya lebih cepat darisana saat mendengar langkah opa Johan yang agaknya akan keluar ruangan.

Bersambung...

1
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
kurangin sifat sombong mu danzel,,lanjut
nurhayati rambe
suatu saat nanti omongan mu bisa jadi boomerang danzel
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
panas panas
nurhayati rambe
lanjuttt
nurhayati rambe
mala tak kan cemburu
nurhayati rambe
kaaih penjelasan danzel ,,jangan di kaaih harapan palsu
nurhayati rambe
semangat
nurhayati rambe
lanjut,,
nurhayati rambe
lanjutt
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
lanjut kak
Lestaria Siregar
bagus alur ceritanya lanju dong
nurhayati rambe
lanjut
nurhayati rambe
wihh si danzel gak banget kelakuannya
nurhayati rambe
tenang opa danzel pasti berubah jadi lebih baik lagi
nurhayati rambe
sampai lupa alur ceritanya sangkin lama nya lost
panty sari
thor buat danzel bucin dong ke mala terus punya baby kembar biar mom and dad nya senang
panty sari
thor buat mala jago bela diri biar dia keren kaya aisha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!