Sekuel Terpaksa Menikah.
Yang langsung mau baca season dua juga boleh, ada di sini semua ya gaes.
Chelsi Amira Putri berusaha menghindari perjodohan yang dibuat oleh ayahnya. Namun, dia malah terjebak dalam kesalahannya sendiri. Dia menjadikan Alaska Lencana kambing hitam untuk menolongnya agar terhindar dari perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Nasi Goreng?
“Makanan pedas dapat memicu naiknya asam lambung yang menyebabkan tenggorokan menjadi panas. Selain itu, dinding lambung pun dapat mengalami iritasi dan kerusakan. Memakan makanan pedas juga dapat memicu diare. Jadi jangan sembarangan memakan makanan pedas dengan level yang melebihi batas. Saya sudah menyiapkan obatnya,” jelas dokter yang baru saja memeriksa Laska. Mengambil sesuatu dari dalam tas dan memberikan pada Amira.
Gadis yang sejak tadi hanya menjadi pendengar cuma bisa mengangguk.
“Tidak disuntik ‘kan Dok?” tanya Laska dengan suara lemah. Pria itu sudah bersandar di kepala ranjang.
“Tidak Mas. Saya hafal betul dengan Mas Laska.” Dokter Andri—spesialis keluarga besar Akbar itu tertawa menampakkan deretan gigi rapi dan bersih.
Amira menatap dua pria itu dengan bingung, lalu kini pandangan sepenuhnya ke arah dokter Andri.
“Kenapa tidak disuntik Dok? Bukannya yang ampuh itu,” ucap Amira sembari meletakkan obat tadi di meja. Laska yang mendengar ucapan gadis di sebelahnya melotot sempurna.
“Hahaha, Mbak belum tahu? Mas Laska ini takut suntik, kata pak Akbar sih sejak kecil.” Dokter Andri lekas memasukkan alat-alat yang dia gunakan tadi ke tas, sambil tertawa geli menatap Laska. Sama halnya dengan Amira, terus saja gadis itu mengejek Laska.
“Ganteng-ganteng takut suntik!” ejeknya sembari menunjuk-nunjuk wajah Laska. Pria itu hanya bisa menghembuskan napas kasar.
Amira mengantar dokter Andri sampai teras, setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamar. Melihat Laska berbaring, dia segera menyelimuti pria itu.
“Om mau dimasakin nasi goreng?” tanya Amira.
“Enggak boleh makan pedas,” tekan Laska penuh penegasan.
“Ya, aku bikinnya enggak pakai cabai. Mau?” tawar Amira lagi, dia tersenyum sembari menaikturunkan alisnya.
“Hmm.” Laska memejamkan mata kembali.
Gadis masih dengan balutan piama tidur itu bergegas menuju dapur. Sepanjang perjalanan menuju dapur tak henti-hentinya dia tersenyum, bahagia karena akan masak untuk Laska. Ini kali ketiga seumur hidup dia memasak. Pertama, untuk ayahnya. Kedua, ibunya dan sekarang untuk Laska.
Pertama-tama dia melihat rice cooker, semangatnya menyurut saat melihat nasi yang ada di dalam. Tampak bergumpal karena kesalahannya tadi pagi.
Ah, tidak apa. Yang penting kan sama-sama nasi.
Dia mengambil dua centong nasi dan menaruhnya di piring, setelah itu beralih mengambil beberapa bawang dan membawanya ke meja.
Amira mulai mengupas bawang dan mengiris kecil-kecil, berulang kali dia mengusap mata dengan ujung piama karena merasa perih. Setelah selesai, dia mengambil wajah dan menaruh di atas kompor.
Minyak sudah panas, dengan segera dimasukkan bawang tadi dan mengaduk-aduk sebentar. Dirasa sudah matang, kini Amira beralih memasukkan nasi. Lalu diaduk-aduk kembali dengan pelan. Tak lupa wortel yang dia potong dadu tadi juga.
Memasak bukan keahlian Amira, gadis itu hanya berucap bisa. Padahal masih meraba, baru lima belas menit dan hanya diaduk sekali, dia sudah mematikan kompor. Dan menaruh nasi goreng yang sudah jadi di piring.
Dia baru ingat perkataan ibunya dulu, bahwa nasi goreng paling enak dipadu dengan telur mata sapi. Gegas dia mengambil telur dari kulkas, lalu menggorengnya.
“Akhirnya jadi!” ucapnya dengan antusias.
Amira berjalan menuju kamar sembari membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Sampai di kamar dia langsung membangunkan Laska.
“Makan dulu Om,”
“Apa itu?” tanya Laska sembari melihat makanan buatan Amira. Seketika dia bergidik ngeri melihat nasi putih dengan banyaknya bawang.
“Ya, nasi goreng,” jawab Amira dengan puas, tersenyum penuh kebanggaan.
“Kenapa warna putih? Biasanya juga kecokelatan karena dikasih sedikit kecap.”
“Haduh, bawel Om tahu. Lagian aku lupa, udalah makan ini saja.” Amira menyodorkan sepiring nasi goreng itu, dengan ragu Laska menerimanya.
Baru satu kali suapan Laska sudah ingin muntah rasanya, tak ada rasa asin sedikit pun, malah hambar. Namun, sekuat tenaga dia menahannya dan tetap menelan dengan susah payah. Melihat semangat Amira tadi, membuatnya tak tega untuk memuntahkan nasi goreng ini.
Kini pandangan Laska beralih ke telur ceplok di atas nasi. “Ini telur ada apanya?” tanya Laska dengan bingung sembari menunjuk telur di piring.
“Telur mata sapi, tapi itu ... sapi anakan,” jelas Amira. Laska melotot sempurna.
“Bukannya itu seperti kacang tanah?”
“Is, iya. Anggap saja itu mata sapi, tapi yang anakan,” ketus Amira lagi.
Laska menggaruk kepala yang tak gatal, bingung dengan makanan yang berada ditangannya. Sebenarnya apa nama makanan yang Amira masak ini. Kalau dibilang nasi goreng, sangat jauh, mungkin kesamaannya: karena digoreng. Sedangkan telurnya, sungguh ingin muntah Laska melihatnya. Telur ceplok dengan hadiah banyaknya kacang tanah di atas.
“Saya sudah kenyang,” tutur Laska sembari memberikan piring tadi ke Amira.
“Apaan? Belum habis, pokoknya harus habisin. Titik gak pake koma!”
Laska lemas dengan pandangan pasrah.
**
Suara riuh seluruh murid menjadi akhir dari sebuah pelajaran. Guru yang bertugas sudah keluar, begitu pun dengan murid-murid yang sejak tadi fokus. Kini hanya Cinta sendiri di dalam kelas, gadis itu tak berniat untuk sekadar membeli minuman.
Dia kesepian karena Amira tak datang, sebenarnya gadis itu sudah mengabarinya, dan Cinta memaklumi itu. Karena dia tak berhak menahan Amira.
“Kenapa gak ke kantin?” Pria dengan seragam lengkap berdiri di depan meja Cinta. Mata yang semula terpejam kini terbuka, dia hanya bisa menatap malas Alfa.
“Enggak apa,” jawab Cinta, berusaha menghindari tatapan Alfa.
Alfa menghembuskan napas kasar, lalu menarik kursi di sebelah meja Cinta untuk lebih mendekat pada gadis itu.
“Kak, tolong jaga sikap!” sentak Cinta sembari menatap tajam Alfa. Pria yang baru saja ingin menjatuhkan bokongnya terkejut.
“Hemm, iya.” Akhirnya Alfa menggeser lebih jauh lagi, tetapi tetap memandang lekat ke arah kekasih hatinya.
Sejak pertemuan pertama mereka, Alfa sudah menaruh hati pada gadis berhijab ini, hanya saja dia gengsi untuk mengakuinya. Setelah bertahun-tahun tak mengenal cinta dan memilih fokus sekolah, akhirnya hati Alfa bisa menerima seorang gadis kembali.
“Nanti siang temui aku di kafe,” ucap Alfa dengan nada penuh penekanan. “Tak ada penolakan!”
“Bukankah Kakak hanya ingin aku jadi pacar, tidak jadi orang yang terus menurut.” Cinta membuang napas pelan, lalu berucap kembali, “Maaf aku sibuk. Tolong jangan ganggu.”
Cinta langsung pergi meninggalkan Alfa sendirian di dalam kelasnya. Pria itu menghela napas kasar dan berusaha bersabar. Dia yang memaksa gadis itu untuk menjadi pacar, setidaknya sudah beruntung ketika Cinta mengangguk mau. Mungkin benar kata sang umi, tidak semua yang dia inginkan bisa terkabul.
Aku pasti akan meluluhkan hatimu itu, Cinta Amara.
**
Cinta memilih pergi ke belakang sekolah, dia menuju kursi di dekat kolam ikan yang sengaja dibuat khusus untuk orang-orang memancing. Karena hari ini tak ada yang memancing, jadi dia bisa duduk di sana.
Berulang kali Cinta menghela napas. Dia masih bingung dengan takdir Tuhan. Sejauh ini dia selalu nyaman tanpa keberadaan Alfa, tetapi setelah pria itu datang, hidupnya seolah-olah dikejar oleh waktu.
Dia tak suka situasi seperti ini, pemaksaan dan kedekatan.
Bersambung
Yuk tolongin mas Laska, istrinya lagi eksperimen😂😂
Ini bab kesukaan author, di mana awal yang sangat bahagia dan bikin tertawa. Tetapi di akhir bab penuh dengan luka. Semangat mas Laska, mas Alfa.
Jangan lupa like, komen dan vote teman-teman. Tunggu up kedua malam nanti ok😉
Kamu masih muda,Kamu juga cantik,kamu juga gak benaran hamil kan,terus kenapa harus ngemis2 cinta sama orang..
awas Lo bucin sama om om 😃