"Apa! Masuk pesantren?"
tanya seorang gadis yang bernama Senja itu pada ayah nya.
"iyah nak,kamu mau kan?"memangnya ayah yakin mau memasukan senja ke pesantren?"katanya seraya mengerutkan keningnya.
betapa bahagia nya sang ayah melihat putri kesayangan nya itu setuju untuk masuk ke pesantran, padahal jika di perhatikan tingkahnya hampir menyerupai anak laki-laki, keras dan sangat nakal. bahkan di sekolah dia dikenal sebagai Queen bar-bar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 13
________________
Hari-hari berlalu, sejak Senja mengingat kembali semua kenangan bersama Fajar, akhir-akhir ini fikirannya terus dihantui oleh nama Fajar pangestu. Entah apa sebabnya. Apakan Senja rindu? Atau Fajar hanya sebatas nama yang tidak sengaja berlalu lalang difikirannya? Senja kadang merasa aneh dengan hukum semesta.
Dulu, dia mengenal Fajar dengan sosok yang paling menyebalkan. Namun setelah pertemuan mereka diacara perlombaan, Senja melihat perubahan dalam diri king bar-bar itu. Dimana Fajar berubah drastis menjadi seorang laki-laki yang care pada Senja. Apa maksud Fajar? Dia juga sering menyebut dirinya sendiri sebagai 'calon suaminya'.
'Kenapa akhir-akhir ini aku sering ingat sama Fajar, ya? Apa jangan-jangan dia udah nyantet aku, biar aku kepikiran dia terus? Ih, kalau beneran, gimana? Masa, iya, aku kangen sama anak tengil itu. Ayolah, Senja. Fajar bukan tipemu.' Batin Senja meracau tidak jelas, dia dibuat ling-lung oleh rasanya sendiri.
"Banjiir ...!" Saida berteriak di telinga Senja.
"Aaaakh ... banjir, tolong! Banjir ...!" Senja kaget dan langsung ikut berteriak.
"Hahaha ... cuaca terik seperti ini kamu bilang banjir, ayolah, Senja, ini masih siang, tapi kamu udah keburu mimpi." Amel menertawakan Senja yang masih dengan kepanikan gara-gara Saida mengejutkan lamunannya.
"Saida, ih ... kok, kamu jadi jahat gini, sih? Pakek acara bilang banjir segala, lagi." Kesal, iya Senja kesal dengan ulah Saida.
"Ups, maaf. Lagian, aku perhatiin kamu dari tadi bengang bengong, ngga jelas. Mikirin apaan coba?" tanya Saida.
"Iya, kenapa Senja? Lagi ada masalah, ya? Ceritain, mungkin kami bisa bantu." Amel menawarkan diri.
Senja membuang nafasnya kasar, "Ada, tapi masalahnya aneh."
"Aneh gimana?" tanya Saida.
"Gimana, ya? Kalian inget ngga, Fajar teman SMA aku yang waktu itu ketemu di pesantren Ar-Risalah?"
"Ingat, santri yang mirip aktor koren itu, kan?" ucap Amel memuji Fajar.
"Ah, terserah mirip apapun dia. Nah, akhir-akhir ini, aku sering banget keinget sama dia. Entahlah, aku merasa aneh aja. Padahal aku dulu benci banget sama dia. Tapi sekarang, kenapa malah kebayang terus, ya, wajahnya?" Senja mengerutkan keningnya.
"Benci? Kenapa? Harusnya orang ganteng kayak Fajar, dikagumi, bukan dibenci. Ya, 'kan Saida?" ujar Amel.
"Aku akui dia memang ganteng, tapi masalahnya, Fajar itu nyebelin, tau." Senja memonyongkan bibirnya.
"Alah, nyebelin atau ngangenin?" Saida menggoda Senja.
"Ah ... lupakan. Kalau curhat sama kalian, bukan dapat solusi. Tapi nambah polusi difikiran aku," ujar Senja merajuk.
"Cieee ... polusi rindu, ya. Bilang aja kalau kamu kangen sama Fajar. Jangan malu-malu kucing gitu." Amel mencolek pipi Senja.
Senja tidak menggubris lagi perkataan Amel, dia malah pergi meninggalkan Saida dan Amel yang masih menertawakan dia.
'Ih ... jangan-jangan ucapan mereka benar, lagi. Kalau aku sebenarnya lagi rindu sama Fajar. OMG ... apa kata dunia?' ucap Senja membatin.
_________________
"Da ... cepetan! Hari ini ujian, nanti telat!" Senja berteriak memanggil Saida dari luar kamar.
"Na'am, aku sudah siap." Saida nampak tergopoh saat keluar dari kamar.
"Akhirnya, sang bidadari menampakkan wujudnya," ucap Amel sambil membungkuk, seolah-seolah pelayan yang menyambut seorang putri kerajaan.
"Ah, korban sinetron kerajaan kamu, Mel." Senja menarik hidung mancung Amel.
Lalu mereka bertiga pergi meninggalkan asrama dan menuju ke kelas, dengan sedikit terburu-buru karena hari ini adalah hari pertama ujian.
Saat tiba di kelas, suasana di dalamnya pun terlihat begitu serius. Sebagian santri dengan khidmat menyambung belajar yang mungkin tadi malam belum terselesaikan.
Senja dan kedua sahabatnya sudah begitu mantap untuk mengikuti ujian, mereka bersungguh-sungguh belajar mulai dari seminggu sebelum dilaksanakannya ujian.
Tidak lama kemudian seorang Ustazah cantik pun memasuki ruang kelas. Senja tersenyum senang, karena Ustazah itu adalah guru kesayangannya, yaitu Ustazah Farihah.
Dengan semangat Ustazah Farihah membagikan lembar kertas soal dan juga lembar kertas jawaban.
Bagi santri yang rajin, ujian adalah hari yang ditunggu-tunggu. Namun, tidak bagi santri yang sedikit malas belajar, mereka menganggap ujian adalah rintangan tersulit yang harus mereka lewati.
Bisa dilihat dari raut wajah mereka yang berbeda. Ada yang tersenyum senang, ada pula yang memasangkan ekspresi bingung, saat melihat soal-soal.
***
Tiga jam berlalu, tiga mata pelajaran pula sudah selesai diujiankan untuk hari ini. Sisanya dilanjutkan besok sampai seminggu ke depan.
Ustazah Farihah mengakhiri pertemuan untuk hari ini. Sambil merapikan lembar kertas soal dan jawaban.
"Baiklah, cukup sekian. Jangan lupa belajar untuk besok, ya!" ucap Ustazah Farihah yang di sambut jawaban "Iya" oleh para muridnya.
Beberapa santri mulai keluar dari kelas, Senja dan kedua sahabatnya juga ingin menyusul.
"Senja, Ustazah boleh minta tolong?" pinta Ustazah pada Senja yang terlihat ingin ke luar bersama Saida dan Amel.
"Boleh Ustazah, apa yang bisa ana bantuin?" tawar Senja.
"Bawakan, berkas lembar jawaban ini, ya, ke rumah Ustazah." Ustazah Farihah menyerahkan berkas tersebut.
"Baik, Ustazah," jawab Senja.
"Mau ditemenin, ngga, Senja?" tanya Saida.
"Sudah, ngga pa-pa. Kalian duluan saja ke asrama, nanti aku nyusul, ya." Senja berjalan mengikuti langkah Ustazah Farihah dari belakang.
Saida dan Amel langsung kembai ke asrama.
Tidak lama kemudian Senja tiba di rumah Ustazah Farihah. Ustazah Farihah pun masuk ke rumah lewat pintu tengah yang diikuti oleh Senja.
"Assalamu'alaikum, Ummah." Ustazah Farihah memberi salam yang disahuti oleh Ummah.
"Ada tamu, ya, Ummah?" sambung Ustazah Farihah yang melihat Ummah memegang nampan yang berisi minuman dan camilan.
"Iya, Farihah, bawakan nampan ini ke ruang tamu, ya! Ummah mau kembali ke dapur, takut masakan Ummah gosong," tutur Ummah.
"Biar ana saja Ummah," sahut Senja menawarkan diri.
"Boleh memangnya?" tanya Ummah memastikan.
"Boleh, Ummah. Ustazah, Ini berkasnya." Senja menyerahkan berkas yang tadi dibawanya ke pada Ustazah Farihah. Lalu mengambil nampan dari tangan Ummah.
"Rajinnya santri kesayanganku ini." Ustazah Farihah memuji Senja.
"Hehehe ... Ustazah bisa aja." Senja menjawab cengesan, yang ditertawakan kecil oleh Ustazah Farihah dan Ummah.
Senja membawakan nampan tersebut ke ruang tamu, ketika tiba di sana, bola mata Senja membulat saat melihat siapa tamu yang dimaksud oleh Ummah.
Dengan sedikit grogi, Senja meletakkan minuman dan camilan di depan para tamu, juga di depan Abah yang terlihat asik mengobrol dengan tamunya. Setelah itu Senja berlalu ke dapur ke tempat Ummah berada tanpa menoleh lagi ke arah tamu tadi.
'Semoga, mereka tidak mengenalku,' ucap Senja membatin. Berharap tamu Abah tidak mengenalnya, padahal tentu saja orang tersebut mengenal Senja dengan jelas. Bagaimana tidak, tamu yang dimaksudnya adalah Rafi dan kedua orangtuanya.
"Ummah, itu orangtuanya Kak Rafi, ya? tanya Senja pada Ummah yang sedang berkutik dengan masakannya di dapur.
"Oh, iya, Nak Senja. Memangnya Nak senja kenal?" Ummah melihat ke arah Senja.
"Eum ... kenal Ummah, karena dulu Kak Rafi satu sekolah dengan ana. Kalau boleh tau, kenapa orangtuanya kemari, Ummah?" Senja kembali bertanya.
"Orangtuanya ingin meminta restu dari Abah, karena Nak Rafi ingin menyambung pendidikannya di Turki." Ummah menjelaskan pada Senja.
"Tapi Ummah, harusnya 'kan Kak Rafi satu semester lagi di pondok ini, sampai lulus dari Madrasah?" Senja masih penasaran.
"Abah juga mengatakan hal yang sama, tetapi Nak Rafi sendiri yang ingin langsung berangkat, mungkin nanti akan di beri surat pindah dan bisa melanjutkan madrasahnya di pondok pesantren baru di sana." Ummah
"Oowh, gitu, ya. Ummah, ana permisi dulu, ya. Mau kembali ke asrama." Senja pamit pada Ummah sambil menyalami tangan Ummah dengan takzim.
"Iya, Nak. Jangan lupa belajar, ya! semoga lancar ujiannya." Ummah tersenyum manis saat mengatakan hal tersebut.
Lalu Senja pun kembali ke asrama. Saida dan Amel sedang bersiap-siap untuk salat asar ke musolla.
Senja juga ikutan bersiap-siap, agar tidak terlambat, takut diberi hukuman.
***
Sesudah salat asar dilaksanakan, kini seluruh para santri berhamburan keluar dari musolla menuju asrama.
Senja menceritakan perihal Rafi pada Saida dan Amel. Saida nampak sedikit sedih saat mengetahui Rafi pindah dari pondok pesantren As-Sasunnajah.
"Ah ... Kak Rafi, secepat inikah engkau pergi meninggalkan Adinda?" Saida memulai dramanya.
"Allahu akbar, Safratus saida ... sejak kapan dirimu jadi bucin seperti ini?" Amel bertanya sambil menertawakan Saida.
"Hahaha ... tenang Adinda, Kakandamu pergi untuk sementara bukan untuk selamanya," sambung Senja yang ikut-ikutan drama seperti Saida.
Amel yang melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Tertawa terbahak-bahak, sambil memukul ringan bahu Saida dan dengan gumush mencubit pipi Senja.
"Sohib ana, memang berbeda dari yang lainnya,"tambah Amel.
Kemudian, setelah sama-sama bergelak tawa, akhirnya mereka pun kembali ke asrama.
~Bersambung