NovelToon NovelToon
Summer Between Jonas & Arnas

Summer Between Jonas & Arnas

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:30.5k
Nilai: 4.5
Nama Author: @l_uci_ous

"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.

Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.

Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.

Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : The Perfect One

"Lo gak kecepetan pesenin Jonas mie ayam?" tanya Chilla, miris ia melihat mie ayam yang sudah mengembang itu.

"Kagak," jawab Arnas masam. Laki-laki itu masih kelihatan sebal karena dipaksa Chilla memisahkan diri dari gerombolan temannya yang banyak itu, lalu duduk di ujung meja paling sudut, berbagi dengan segerombolan kakak kelas yang berisik. "Dia memang suka mie yang ngembang."

Chilla mengangguk-angguk. Menarik. Maka ia menuliskan fakta itu di notes ponselnya.

Sekali lagi Chilla melirik pintu masuk, dan sosok Jonas belum juga bisa ia temukan. Heran, betah sekali Jonas di kelas padahal sudah sepuluh menit berlalu sejak bel istirahat berkumandang.

Saat kembali memandang ke depan, wajah tak bersahabat Arnas kembali menyapa.

"Segitu menyiksanya ya, makan bareng gue?" tanya Chilla seraya mengaduk-aduk soto ayamnya. Pertanyaannya itu membuat Arnas yang khusuk menakar ukuran kecap paling tepat untuk mie ayamnya.

"Lebih dari yang bisa lo lihat."

Chilla berdecih. Bukan mie ayam yang perlu Arnas kecapi, tapi mulutnya agar bisa lebih manis.

"Kayaknya lo butuh belajar ngomong dengan manis dari Jonas, Ar."

Arnas memutar bola matanya. "Kayak lo yang cuma bersikap manis depan Jonas, gue juga suka ngomong pahit ke lo doang."

"Dih."

"Dah-dih, dah-dih," dumel Arnas.

"Kenapa sih lo? Sewot banget. PMS?"

Mendelik Arnas mendengar pertanyaan Chilla. "Kesel gue. Gara-gara lo mepet gue mulu, temen-temen gue jadi ledekin kita terus."

"Jangan bilang lo takut baper?"

"Gila aja gue baper. Risih yang ada," bantah Arnas mentah-mentah. "Lagian memangnya lo gak takut Jonas salah paham kalo sampe gosipnya menyebar?"

"Dia gak akan salah paham, ada gue yang bakal ngelurusin," ujar Chilla optimis.

"Terus kalo kakak kesayangan lo itu yang salah paham?"

"Salah pahamnya kan sama lo bukan sama Jonas, jadi biarin."

"*****," umpat Arnas. "Jadi ceritanya lo memanfaatkan gue buat bikin hubungan lo sama Jonas mulus tanpa gangguan dari Largha?"

"Gue sih gak pernah mikir sejauh itu..." Chilla nampak menimbang-nimbang, "tapi ide lo bagus juga."

Arnas ternganga, kelihatan tak percaya. Ia kemudian berkata, "Nyesel gue terlibat perjanjian sama lo."

"Gue enggak," ujar Chilla enteng, senyumnya terkembang.

Buru-buru Chilla mengalihkan pandangannya dari pintu masuk ketika melihat Jonas yang melangkah mendekat. Ia menghembuskan napas pendek-pendek seraya menghitung dalam hati guna menenangkan detak jantungnya yang mulai tak terkendali.

Chilla berkata cepat pada Arnas, "Inget, Jonas makan lo pergi." Ia mengingatkan sekutu yang tampak tak ikhlas bersekutu itu.

Arnas mendelik sebelum angkat suara, memanggil Jonas. "Jo!"

Sesantai mungkin, Chilla mengambil botol minumnya dan menyesap minumannya sedikit. Berperan sebaik mungkin seolah tidak ada yang direncanakan dan diatur.

"Chilla," sapa Jonas, kelihatan sedikit terkejut.

Usai menjauhkan botol dari bibirnya Chilla tersenyum. Ia pun menggeser duduknya agar Jonas bisa duduk.

"Noh, mie ayam, lo." Arnas mendorong mangkuk Jonas ke pinggir meja, di samping mangkuk soto Chilla.

"Thank you, Ar." Jonas duduk. Membuat Chilla mengulum bibir menahan senyum mengetahui rencana berhasil.

Chilla mengkerut. Perutnya tiba-tiba mulas ketika Jonas mencondongkan tubuh ke arahnya sembari berbisik, "Udah baikkan nih ceritanya." Ia mengerling Arnas.

Menanggapi ucapan itu Chilla hanya bisa tersenyum kecil. Aroma lembut yang manis dan segar menguar dari diri Jonas, membuat pikirannya lebih lamban.

Chilla begitu lega ketika Jonas menjauh untuk menyumpit mie ayam yang sudah mengembang itu. Membuat pernapasan dan otak Chilla kembali normal. Ia mulai berpikir jika penataan tempat duduk ini keliru, karena bisa-bisa ia malah lupa apa tujuan awalnya jika terlalu dekat dengan Jonas.

"Kamu lagi deketin siapa?" Tanpa terduga, Jonas membisiki Chilla lagi. Namun bukan linglung, kali ini Chilla membeku, begitu terkejut. Ia pun melirik Arnas yang bertampang muak, jelas laki-laki itu tak mendengar tanya Jonas.

"Bukan Arnas, kan?" tanya Jonas lagi, lebih keras, terkesan bergurau.

"Apaan, sih, Jo...." rengek Chilla, setengah jijik. Ya, kali ia mau mendekati Arnas.

"Apaan bawa-bawa gue?" tanya Arnas agresif.

Jonas menggeleng seraya tersenyum. "Enggak. Seneng aja lihat kalian udah akur."

"Gak usah berspekulasi yang aneh-aneh," Arnas mengingatkan. "Ini simbiosis mutualisme."

Alis Jonas terangkat. Menuntut penjelasan atas pernyataan Arnas.

Sebelum Arnas berbicara lebih banyak, Chilla menendang tulang kering laki-laki itu. Mengodenya agar cepat pergi sembelum bacotnya itu mulai berceloteh lebih banyak.

"Aduh," Arnas mengaduh. Meja pun bergetar diirinyi bunyi terantuk. Tampaknya lutut Arnas menabrak permukaan meja bagian bawah.

"Kenapa, Ar?"

"Chilla kayaknya gak sengaja nendang kaki gue," jawab Arnas santai.

Chilla meringis. "Sorry-sorry."

Arnas itu memang ***** atau pura-pura ***** sih?! Dikode kok tidak peka. Pantas saja tak punya pacar.

Belum puas Chilla mencaci-maki Arnas dalam benarnya, laki-laki itu sudah berdiri. Berkata, "Gue duluan, ya, Jo. Mau main basket."

Jonas mengangguk di antara kunyahannya.

"Duluan, Chill," pamit Arnas.

Chilla mengiyakan dengan perasaan luar biasa lega. Ternyata Arnas bukan *****, tapi memang suka membuatnya dongkol.

"Kamu gak makan?"

Chilla melirik sendok di tangannya dan mulai menyendok kuah yang entah mengapa rasanya jadi hambar. Padahal tadi rasanya enak-enak saja saat bersama Arnas. Bahkan seketika perutnya kenyang, sedang sepertiga soto itu pun belum habis dilahapnya.

Di antara dentingan alat makan, Chilla memperhatikan Jonas serta mangkuk mienya, mencari bahan obrolan.

"Gak pakek saos, kecap, atau sambel, Jo?"

"Oh, iya." Jonas segera menyambar mangkuk sambal, kelihatnya betul-betul lupa. "Lupa."

"Mau tahu enggak," Jonas berkata sembari mengaduk mie ayamnya yang baru di siram sambal banyak-banyak. Ia berujar tanpa memandang Chilla.

"Apa?" tanya Chilla.

"Aku itu sering lupa kalo deket kamu."

Mata Chilla sekali lagi menyapa rupa Arnas. Dan pandangan mereka pun berjumpa.

"Serius," Jonas meyakinkan.

Berpandangan dengan Jonas dengan jarak yang dekat begini membuat Chilla tak menentu. Tangannya pun gemetar hingga ia harus melepaskan sendok di antara jemarinya, beralih mengambil botol untuk mengalihkan fokus.

Syukurlah Jonas memalingkan wajahnya untuk menyuap sebelum lanjut berucap, "Waktu kita ke toko stationary, aku lupa beli HVS, padahal itu yang paling aku perlu. Terus waktu kita ketemu di Indomaret, aku bahkan lupa kalo Arnas gak suka es krim stroberi."

"Aku juga lupa beli obat nyamuk."

Keduanya tertawa.

"Bahkan kemarin, aku lupa mau bilang—Uhuk!" Jonas tersedak. Gelagapan, laki-laki itu mengambil botol minum Chilla.

Melihat kejadian itu Chilla terpaku, memandangi Jonas yang menenggak minuman dari botol yang telah digunakannya. Itu artinya mereka...

"Eh, maaf-maaf, Chill." Jonas meletakkan kembali botol kosong di tangannya. "Biar aku ganti minuman kamu."

Belum sempat Chilla mencegahnya, Jonas telah pergi untuk mengambil minuman baru.

Maka tinggalah ia sendiri. Lekat-lekat menatap botol kosong di atas meja. Seolah takjub oleh benda tak berarti itu. Jemarinya merapat ke bibirnya yang terkatup, membayangkan... sesuatu.

Apakah ia harus membawa botol bersejarah itu pulang?

"Nih." Jonas sudah kembali membawa dua botol minuman serupa berperisa stroberi. "Maaf aku abisin minuman kamu."

"Gak pa-pa" banget. Malah ia ikhlas sekali.

"Oh, iya, kamu tadi bilang ada yang kamu lupa bilang kemarin," Chilla mengingatkan.

"Itu, aku lupa bilang kalo ada lomba menulis puisi di sekolah. Siapa kamu mau ikut."

Chilla terkekeh. "Aku masih noob."

"Gak pa-palah. Coba aja."

Chilla hanya menggeleng pelan.

"Jo," panggil Chilla.

"Mm?"

"Kalo kamu suka lupaan setiap deket aku, itu bagus atau jelek?"

"Mmm..."

Chilla menggigit bibirnya menanti jawaban Jonas.

"Bagus aku kira. Artinya aku menikmati waktu bareng kamu," jawab Jonas, santai.

Chilla mengulum senyum, sementara satu tangannya meremas kencang roknya di bawah meja, meredam dampak ucapan Jonas. Dengan gaya sesantai mungkin, ia menyesap lagi kuah sotonya yang terasa kian hambar. Jika rasa soto sehambar ini bagaimana bisa Kak Largha—Astaga! Ia hampir saja lupa bahwa ia harus minta maaf pada Jonas atas kelakuan kakaknya kemarin.

"Eh, Jo" dan "Eh, Chill," berbunyi bersamaan. Jonas menyentakkan dagunya ke arah Chilla, bermaksud menyuruh gadis itu lebih dulu.

"Aku minta maaf ya."

Alis Jonas terangkat. Ia menelan dulu makanan di mulutnya sebelum bertanya, "Buat?"

"Kemarin. Soal sikap dan perlakuan Kak Largha. Gak seharusnya—"

Jonas mengangkat tangannya, menghentikan penjelasan Chilla. "Gak pa-pa. Aku ngerti, kok. Gak masalah."

"Tapi aku gak enak, Jo. Maaf banget."

"Dengerin. Jangan ngerasa bersalah karena perbuat orang lain. Jangan minta maaf buat kesalahan orang lain. Okey? Aku gak suka."

Chilla mengangguk.

"Udah makan lagi. Jangan cuma diaduk-aduk doang itu soto kamu. Gak bakal kenyang."

Chilla menuruti perintah Jonas itu. Dimasukannya sesuap penuh bihun ke dalam mulutnya. Tak peduli dengan rasanya yang makin hambar, sebab ia makin yakin bahwa benar untuk menyukai Jonas sebesar ini. He is the perfect one.

"Kamu tadi mau ngomong apa, Jo?"

"Lupa."

Baik Chilla maupun Jonas terkekeh.

ΔΔΔ

1
Ochi_Ara Alleta
huhuuuuu sampai loncat chapter gara2 penasaran endingnya....kirain bakal sad ending😭gak nyangka finally.....akhir yg bahagia....😩
S2 yuk kak....
Ochi_Ara Alleta
cerita bagus berkualitas kayak gini sepi like dan pembaca🤧Eman banget...
Ochi_Ara Alleta
telat banget tau gak....Nemu cerita kayak gini.huuhuu🤧
Ochi_Ara Alleta
Nemu cerita seru🥰
kenapa baru sekarang nemunya....
Zakiatu Anastasya
q jga pernah thor,sakit mah g terlalu tp malu y itu lah thor,,,,🤭🤭🤭😅
Ny Anwar
ngeri2 sedap... 😱😱
Santai Dyah
like
Santai Dyah
hadir
Santai Dyah
ceritanya bagus boom like untuk karya terbaikmu thor salam dari Kabut cinta
Buahnaga.putih
arnas gmn thor ?
newtoon🐇
keren
Conny Radiansyah
makasih Thor... happy ending untuk Jonas dan Chilla, btw Arnas apa ceritanya Thor...
Conny Radiansyah
kalo sampe sini ceritanya belum bisa dibilang tamat Thor...
Conny Radiansyah
lanjut
yul,🙋🍌💥💥💥
makasih.... semua karyamu bagus.


sungguh
Pitara Lusiana: Terima kasih
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
arnas mana?
Pitara Lusiana: Arnas ada di rumah. Udah move on
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
1 cangkir kopi buat arnas....
zkdlinmy
uuu akhirnya dilanjut jga.. thanks thorr
Pitara Lusiana: Sama-sama
total 1 replies
Ruliyah Yu Yah
makasih kak,tak tunggu kelanjutanya ghatan
Ruliyah Yu Yah
arnas,vita,sekarang mah nungguin ghatan....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!