Pernikahan itu tidak lahir dari cinta. Melainkan dari sebuah kesepakatan. Ketika keluarga Alyssa berada di ambang kehancuran, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran keluarga Maheswara. Menikah dengan Alvaro Regantara Maheswara. Pria yang terkenal dingin. Pria yang dijuluki pewaris paling berbahaya. Pria yang bahkan tidak percaya pada cinta. Bagi Alyssa, pernikahan itu seperti masuk ke dalam sangkar emas. Mewah. Indah. Tapi menyesakkan. Namun semakin lama mereka bersama, Alyssa mulai melihat sisi Alvaro yang tidak pernah diketahui siapa pun. Sisi yang terluka. Sisi yang kesepian. Dan perlahan kebencian berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya. Cinta. Tapi ketika rahasia masa lalu Alvaro terungkap dan mantan tunangannya kembali untuk merebut segalanya. Akankah pernikahan yang dimulai karena ambisi itu berakhir menjadi cinta? Atau justru menjadi kehancuran bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Malam itu, langit di atas Maheswara seolah runtuh. Hujan deras mengguyur dengan intensitas yang mengerikan, disertai angin kencang yang membuat pepohonan di halaman bergoyang hebat. Gemuruh guntur sesekali terdengar bersahut-sahutan, memecah kesunyian malam yang pekat.
Alyssa duduk di tepi ranjang kamarnya, mencoba fokus membaca draf laporan keuangan di tabletnya. Namun, setiap kali kilat putih menyambar di balik jendela besar kamarnya, tubuhnya menegang. Sifat berani dan taktis yang selalu ia agungkan di ruang rapat seolah menguap begitu saja setiap kali berhadapan dengan murka alam. Alyssa benci petir. Itu adalah satu-satunya kelemahan masa kecil yang selalu ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia luar.
Blarrr!
Sebuah dentuman petir yang teramat keras menggelegar, tepat bersamaan dengan seluruh lampu di dalam yang mendadak padam. Kamar luas itu seketika berubah menjadi gelap gulita.
Alyssa tersentak. Napasnya memburu, dan ia tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikannya. Ia mencengkeram selimut erat-erat, memejamkan mata rapat-rapat saat kilatan petir berikutnya kembali menerangi kamar dalam sekejap, menciptakan bayangan-bayangan semu yang menakutkan di dinding. Dalam kegelapan dan kesendirian itu, benteng pertahanan Alyssa runtuh.
Tok! Tok!
Suara ketukan di pintunya terdengar di antara deru hujan. Belum sempat Alyssa menjawab, pintu terbuka, menampilkan siluet tinggi tegap yang sangat ia kenali. Alvaro berdiri di sana, memegang sebuah lilin kecil yang menyala, memancarkan pendar kuning yang hangat.
"Alyssa? Kau di dalam?" panggil Alvaro. Suara baritonnya yang berat entah bagaimana terdengar seperti jangkar yang menahan Alyssa dari badai kepanikan.
"Alvaro..." suara Alyssa bergetar, sebuah pemandangan yang teramat langka bagi sang predator.
Alvaro melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Begitu mendekat dan melihat bagaimana Alyssa duduk meringkuk dengan wajah pucat, rahang Alvaro melunak. Tanpa banyak bicara, pria itu meletakkan lilin di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di samping Alyssa. Jarak mereka begitu dekat hingga Alyssa bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh suaminya.
"Ada gangguan gardu teknis di area depan. Xavier sedang mengurusnya dengan tim mekanik," ucap Alvaro tenang, nadanya sangat lembut, seolah sengaja diturunkan untuk menenangkan saraf-saraf Alyssa yang tegang. "Kau... takut petir?"
Alyssa membuang muka, merasa gengsinya sedikit terusik. "Hanya... tidak suka suaranya yang tiba-tiba."
Blarrr!
Seakan membantah ucapan Alyssa, petir kembali menyambar dengan keras. Tanpa sadar, Alyssa tersedak napasnya sendiri dan bergerak mendekat ke arah Alvaro, mencengkeram lengan kemeja pria itu dengan erat.
Alvaro tidak menjauh. Sebaliknya, ia membiarkan Alyssa bersandar pada lengan kokohnya. Tangan besar Alvaro perlahan bergerak, menepuk-nepuk punggung tangan Alyssa yang dingin dengan gerakan yang teratur dan menenangkan. Dinding es yang tadi sore kembali mereka bangun di ruang kerja, kini mencair begitu saja oleh kehangatan lilin dan kebutuhan akan satu sama lain di tengah kegelapan.
"Kau tahu," Alvaro membuka suara, memecah keheningan agar Alyssa tidak terfokus pada suara badai di luar. "Saat kecil, aku juga membenci malam-malam seperti ini. Rumah ini terasa terlalu besar dan menakutkan ketika lampu padam."
Alyssa mendongak, menatap siluet wajah Alvaro yang terpahat tegas dalam temaram cahaya lilin. "Seorang predator Maheswara pernah takut pada kegelapan?" tanya Alyssa, mencoba memancing percakapan untuk mengalihkan rasa takutnya.
Alvaro menarik sudut bibirnya tipis. "Aku belum menjadi predator saat itu. Aku hanya seorang anak kecil yang merindukan ibunya." Pria itu menatap lurus ke depan, matanya memancarkan kedamaian yang asing. "Setiap kali badai datang, ibuku selalu mengatakan bahwa petir adalah cara langit untuk membersihkan bumi dari hal-hal yang kotor. Setelah badai, selalu ada pagi yang cerah."
Alyssa tertegun. Ini adalah pertama kalinya Alvaro menceritakan bagian dari masa kecilnya secara sukarela, sebuah sisi manusiawi yang sangat kontras dengan reputasi kejamnya di luar sana. Rasa penasaran Alyssa tentang foto di ruang kerja tadi sore mendadak terasa tidak penting lagi. Baginya, momen ini jauh lebih nyata.
Mereka terus berbicara dalam ritme yang pelan dan santai. Alyssa menceritakan bagaimana Keira sering menjahilinya saat mati lampu di rumah lama mereka, dan Alvaro mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menanggapi dengan humor kering khasnya. Percakapan sederhana di atas ranjang yang temaram itu perlahan menghapus sisa-sisa trauma Alyssa malam itu. Malahan, itu menjelma menjadi salah satu momen paling hangat dan intim yang pernah mereka lalui sejak pernikahan kontrak ini diresmikan.
Satu jam berlalu, hingga tiba-tiba terdengar suara dengung halus, dan seluruh lampu di dalam kamar kembali menyala terang Benderang.
Kedua mata mereka berkedip, menyesuaikan diri dengan cahaya. Alyssa baru menyadari betapa dekatnya posisi mereka, dan bagaimana jemarinya masih mencengkeram erat lengan Alvaro. Dengan perlahan dan sedikit canggung, ia melepaskan cengkeramannya.
Alvaro bangkit berdiri, mengambil lilin yang kini sudah meleleh setengah di atas nakas. Ia menatap Alyssa, memastikan rona merah alami telah kembali ke pipi istrinya.
"Tidurlah. Badainya sudah berlalu," ucap Alvaro lirih. Sebelum berbalik, ia mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Alyssa sekilas dengan gerakan yang teramat lembut. "Selamat malam, Alyssa."
"Selamat malam, Alvaro... dan terima kasih," balas Alyssa pelan.
Saat pintu kamar kembali tertutup dan Alvaro melangkah pergi, Alyssa menyentuh puncak kepalanya yang masih menyisakan kehangatan tangan suaminya. Malam hujan yang menakutkan itu ternyata tidak meninggalkan kerusakan, melainkan telah menorehkan kedekatan baru yang semakin mengaburkan batas-batas kontrak di antara mereka.
...****************...
Alyssa membaringkan tubuhnya di bawah selimut yang kini terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Di langit luar, suara gemuruh petir yang tadinya terdengar seperti ancaman yang menakutkan, perlahan-lahan mulai memudar, menyisakan suara rintik hujan yang berirama konstan menepuk kaca jendela. Kata-kata Alvaro tentang ibunya dan bagaimana langit sedang membersihkan bumi terus berputar di dalam benaknya, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sifat taktis Alyssa yang biasanya selalu sibuk menyusun strategi, malam itu memilih untuk beristirahat. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya rileks sepenuhnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan tentang Arsen, tentang proyek siber bernilai triliunan, atau tentang bagaimana ia harus bersikap di depan para pemegang saham esok hari. Malam ini, di kamar mewah yang sunyi ini, ia hanya ingin menikmati sisa kehangatan dari momen sederhana yang baru saja berlalu.
Di sisi lain, Alvaro berjalan menyusuri koridor yang kini telah terang benderang. Langkah kakinya terdengar teratur di atas lantai marmer. Ia kembali ke ruang kerjanya, meletakkan sisa lilin yang sudah padam di atas meja. Pria itu berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya, menatap keluar ke arah sisa-sisa hujan yang membasahi halaman.
Tangan Alvaro bergerak menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya berdegup dengan ritme yang asing. Selama bertahun-tahun, ia telah melatih dirinya untuk menjadi sosok yang mati rasa, seorang predator yang hanya bergerak berdasarkan logika dan keuntungan. Namun malam ini, melihat kerapuhan Alyssa di tengah kegelapan telah meruntuhkan pertahanan yang ia bangun dengan susah payah. Ada dorongan kuat di dalam dirinya yang tidak bisa lagi ia sangkal keinginan untuk selalu menjadi pelindung bagi wanita itu, bukan karena kewajiban yang tertulis di atas kertas hitam, melainkan karena ia memang menginginkannya.
Alvaro menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan menuju mejanya. Ia membuka laci tengah yang sore tadi sempat menjadi sumber ketegangan di antara mereka. Ditatapnya sekilas bingkai foto yang tersimpan di sana sebelum akhirnya menutupnya kembali dengan perlahan. Masa lalu memang telah membentuknya, namun malam ini ia sadar, masa depannya sedang berjalan ke arah yang sama sekali baru bersama Alyssa.
Ketika fajar perlahan menyingsing dan sisa-sisa air hujan berkilauan diterpa cahaya matahari pagi, mansion Maheswara menyambut hari yang baru. Badai telah benar-benar berlalu, meninggalkan sepasang manusia yang kini tahu bahwa di balik dinding es dan formalitas korporat yang mereka tunjukkan pada dunia, ada sebuah ikatan tak kasat mata yang telah tumbuh dan siap menghadapi badai apa pun yang akan datang menghadang.
...****************...
Pagi itu, aroma kopi hitam yang pekat menyebar dari arah dapur utama. Alyssa turun dengan setelan kerja yang rapi blazer biru dongker yang dipadukan dengan kemeja putih bersih. Sifat taktisnya telah kembali sepenuhnya, siap menghadapi tantangan korporasi hari ini. Namun, saat ia melangkah masuk ke ruang makan, langkahnya sempat tertahan.
Alvaro sudah duduk di sana, membaca koran bisnis digitalnya dengan ketenangan yang biasa. Pria itu tampak sangat segar dengan kemeja abu-abu terang yang membungkus tubuh tegapnya. Tidak ada sisa-sisa keletihan dari malam yang penuh badai tadi.
"Selamat pagi," sapa Alyssa, menarik kursi di seberang Alvaro dengan gerakan anggun yang familier.
Alvaro menurunkan tabletnya, menatap Alyssa lurus-lurus. Sepasang mata elangnya meneliti wajah sang istri, memastikan tidak ada lagi gurat pucat atau kecemasan yang tertinggal dari malam tadi. "Selamat pagi. Bagaimana tidurmu?"
"Sangat nyenyak. Terima kasih... untuk yang semalam," jawab Alyssa, memberikan senyuman tipis namun tulus yang jarang ia tunjukkan di lingkungan formal.
"Aku hanya memastikan rekan aliansiku tidak kekurangan tidur sebelum presentasi besar hari ini," sahut Alvaro datar. Namun, kilatan hangat di matanya tidak bisa berbohong. Ada pengertian mendalam yang kini terjalin di antara mereka tanpa perlu diucapkan dengan kata-kata manis.
Sebelum atmosfer di antara mereka menjadi terlalu intens, Keira tiba-tiba masuk ke ruang makan dengan langkah melompat kecil dan wajah yang super ceria. Gadis itu langsung duduk di samping Alyssa, matanya bergantian menatap sang kakak dan kakak iparnya dengan tatapan penuh selidik yang jenaka.
"Selamat pagi, pasangan paling serasi di Maheswara Group!" seru Keira riang, sengaja menekankan kata serasi. "Wah, kompak sekali ya pagi ini. Kudengar dari pelayan, semalam listrik padam agak lama ya? Hmm... pasti malam yang sangat... tenang."
Alyssa hampir saja tersedak air putih yang baru didekatkan ke bibirnya. Ia melirik adiknya dengan tatapan memperingatkan, namun Keira justru membalasnya dengan kedipan mata jahil.
Sementara itu, Alvaro hanya mendengus pelan, menyembunyikan senyum tipisnya di balik cangkir kopi. Kehadiran Keira di meja makan itu seolah menjadi penegas bahwa badai telah benar-benar berlalu dari mansion mereka. Babak baru telah dimulai, dan meskipun di luar sana Arsen atau media masih mengintai, di dalam dinding rumah ini, sang predator dan sang Nyonya Maheswara tahu mereka tidak lagi berjalan sendirian.