[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf Untuk Papa
Ada kalender kecil di meja belajar Mayang. Bulan itu ada satu tanggal yang ia lingkari dengan spidol warna hijau.
"Ulang tahun Mama." Ia menulis catatan kaki di bawah deretan tanggal.
Bulan selanjutnya ada lingkaran besar satu lagi. Tertulis, "15 tahun kepergian Mama."
Mayang merasa canggung tiap mengatakan hari ulang tahunnya sendiri. Itu hari dimana Mamanya pergi selama-lamanya.
Haris terpekur memandangi kalender itu. Diletakannya kembali ke meja dengan hati-hati. Baru saja ia hendak beranjak, Mayang datang ke kamarnya dan membuka pintu tiba-tiba.
Dipikirnya Mayang masih di sungai bersama Mbok Jum dan Jalu. Nyatanya ia pulang cepat. Mereka sama-sama terkejut.
Mayang melirik Papanya sekilas, kalender itu. Mayang yakin Papa barusan membacanya. Papanya sendiri juga salah tingkah.
"Papa mau ngobrol sama Mayang," kata-kata itu keluar begitu saja dnegan cepat. Ada keraguan di dalamnya, tapi dipaksa keluar. Suaranya agak parau. Mungkin ini waktu yang tepat.
"Di taman samping rumah ya, Pa. Mayang ambil minuman dulu."
***
Haris banyak bercerita kepada Asti. Mereka sedemikian akrab dengan cepat. Haris tahu, Asti banyak menyimpan luka. Iapun juga. Mereka terbuka satu sama lain. Selama ini Haris banyak memendam. Kini, ia merasa tak sendiri, ia merasa punya teman.
"Memaafkan masa lalu itu melegakan, Ris. Memang butuh waktu. Dan nggak mudah. Lihat aku sekarang. Tanpa beban. Hanya ada satu hal yang mengganjal. Bima yang belum bisa memaafkan Papanya," katanya pada suatu hari.
"Kamu terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Iya, kamu salah dulunya. Mayang juga masih kecil, tak tahu apa-apa. Tapi ini nggak adil buat dia. Seberapapun kebahagiaan yang kamu bawa untuknya sekarang, luka itu tak akan pernah bisa dihapus."
"Minta maaflah yang benar, Ris. Sekarang Mayang sudah paham, sudah dewasa. Dia berhak atas maaf darimu. Jangan takut. Memendam bertahun-tahun, tanpa membicaraknnya kembali, itu nggak benar. Dia butuh penjelasan."
"Mendiang istrimu juga tak akan bahagia melihat keadaan yang kamu ciptakan sekarang. Katakan semuanya agar lega. Anak itu. Ris, siapa yang tak beruntung punya putri cantik macam dia. Penurut. Pintar lagi."
"Apa kamu pernah bertanya bagaimana perasaannya. Dia pandai menyembunyikan perasaannya. Dia menjadi dewasa lebih awal karena keadaan."
Haris tersedu-sedu, Asti memeluknya, menenangkannya, menepuk pundaknya. Selalu ada hari-hari berat dan keluh-kesah yang mereka habiskan berdua. Seringnya beberapa jam mereka membuat janji untuk bertemu. Paling sering saat menjemput Mayang dan Bima dari sekolah. Tangisan curahan hati kedua orang dewasa itu kebanyakan meraka curahkan di balik kemudi. Mobil itu menjadi saksinya. Hati mereka tak lagi utuh selama bertahun-tahun. Sama, mereka berusaha meringankan beban satu sama lain lewat cerita-cerita, saling menguatkan.
***
"Papa mau minta maaf," kata-kata itu tercekat, tapi akhirnya keluar juga dengan parau.
Mayang menatap ke depan ke arah hamparan pepohonan, tak sanggup memandang Papanya. Ia hanya menerka-nerka kemanakah arah pembicaraan ini.
"Papa tau, Papa salah karena nggak pernah ngomongin soal ini. Papa menganggap kita baik-baik saja. Papa yakin Mayang dulu ingat kalau Papa jahat kan. Papa nggak sayang sama Mayang waktu kita masih di Frankfurt, waktu Bibi Emily masih ada." Kata-katanya terbata. Beberapa kali ia tercekat, namun berusaha kembali menemukan kata-katanya.
Mayang tak tahu bagaimana menanggapinya. Ia tahu Papanya sedih. Ia tahu Papanya merasa bersalah. Selama ini ia tahu. Tapi baru kali ini Papa mengatakannya. Butuh keberanian yang besar. Mayang tahu ini cukup sulit untuk Papanya. Tapi air matanya menggenang begitu saja tanpa bisa ditahan. Mayang masih belum berani melihat ke arah Papanya.
"Papa menyesal. Papa bersalah. Papa hanya memikirkan Mama. Sampai-sampai melupakan kalau kamu ada. Sampai mengabaikan kalau kamu perlu Papa."
"Papa berhak dihukum. Papa takut Mayang benci sama Papa diam-diam. Papa takut suatu saat Mayang ninggalin Papa. Mayang sudah dewasa sekarang, pasti Mayang mengerti."
Akhirnya tangis laki-laki itu pecah juga. Ia tersedu. Mayang tak tertahankan lagi. Tangisnya pecah.
Sepasang Bapak dan anak itu menangis tersedu di senja hari. Disaksikan kicau burung dan riuh dedaunan yang diterbangkan angin.
"Mayang maafin Papa, tanpa perlu Papa minta. Mayang tahu, Pa. Mayang sayang sama Papa. Mayang nggak akan ninggalin Papa."
Ada isak tangis, sedu-sedan dan kata-kata yang terbata-bata diucapkan.
"Sekarang, nggak usah lagi bersedih-sedih saat ulang tahun Mama, atau ulang tahun Mayang. Tante Asti bilang, ulang tahun itu cuma tanggal. Akan terlewat begitu saja esok harinya. Kita sendiri yang memutuskan mau bagaimana hari itu kita jadikan berkesan. Bersedih-sedih tak ada gunanya. Ya, dia benar."
"Bulan depan, kalau Mayang ulang tahun, Mayang mau Papa belikan kue?"
Mayang menggeleng cepat. "Nggak usah, Pa. Kita beli bunga mawar kayak biasnaya buat Mama."
"Mayang bisa beli mawar kapanpun Mayang kangen Mama. Papa nggak pernah belikan Mayang kue," pria itu sekali lagi menyeka air matanya.
"Mayang nggak pernah tiup lilin," ia melanjutkan lagi. Air matanya makin hebat. Ia usap berkali-kali dengan ujung tangan. Ini kali pertama Mayang melihat Papanya menangis sedemikian hebat.
"Dulu waktu Bibi Emily masih ada, Mayang sering dibikinin kue. Mayang dibelikan lilin ulang tahun, Pa. Mayang nggak perlu lagi sekarang."
Pria itu makin tenggelam dalam tangisnya. "Maafin, Papa ya."
Mayang beranjak dari kursi, memeluk Papanya. Lalu berlutut mengusap air mata Papanya.
"Mayang nggak suka kue," ucapnya. Kata-katanya mulai stabil. Ia keluarkan ekspresi seperti biasa saat mengobrol dengan Papanya.
"Papa antar aja Mayang ke kota. Mau beli hadiah buat ulang tahun Mas Bima. Boleh kan, Pa?" Pria itu mengangguk cepat.
"Udah nggak usah nangis lagi dong Pa. Mayang sayang Papa." Dipeluknya sekali lagi.
"Kalau Papa masih nangis, nanti Mayang juga minta hadiah," imbuhnya merajuk.
"Mayang mau apa? Papa belikan apapun yang Mayang mau."
"Mayang mau kamera kayak punya Mas Bima. Mayang sama Mas Bima mau bikin youtube channel," katanya bersemangat.
"Nanti hari Minggu, Mayang minta izin pergi ya Pa sama Mas Bima. Mau bikin video tentang makanan tradisional daerah. Nanti mau ngeliput cara masaknya, bahan-bahannya. Nanti ke rumah salah satu pedagang Pasar, Mbok Jum yang ngenalin. Sama sekalian nerjemahin ke Bahasa Indonesia."
Sore itu ditutup dengan makan malam dan obrolan yang cair kembali. Haris memandangi putrinya yang bersemangat bercerita. Dalam hatinya, sebuah gumpalan besar sudah hilang. Gumpalan penyesalan dan ketakutan yang disimpannya bertahun-tahun. Ternyata Asti benar, dia hanya buruh keberanian. Kita semua hanya butuh keberanian, untuk mengakui dan memulai kembali.
Mayang juga merasakan hal yang sama. Ada satu kotak kecil dalam hatinya yang terisi kembali, yang kosong selama bertahun-tahun.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹