Dea merupakan putri tertua Pak Bani dan Alm. Bu Ida. Karena ditipu teman bisnis akhirnya Pak Bani bangkrut. Mereka menjual seluruh aset demi menutupi hutang di bank dan membayar gaji karyawan.
Suatu hari, Yudi yang merupakan mantan karyawan Pak Bani datang mencarinya. Karena Yudi merasa hutang budi kepada keluarga itu. Karena Pak Bani lah, dia bisa menjadi pengusaha mebel sukses.
Pak Bani meninggal dalam kecelakaan menuju tempat kerja, sebelum dia meninggal. Pak Bani menitipkan Dea kepada Yudi. Yudi seorang duda yang berpisah karena istrinya selingkuh. Hingga suatu rencana busuk dibuat mantan istri Yudi untuk memisahkan Yudi dan Dea.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yati suryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 12
Om Duda Teman Bapak
Part 12
Tujuh hari berlalu, malam ke tujuh kembali diadakan tahlilan di rumah dengan mengundang para tetangga. Alhamdulillah, Bapak semasa hidupnya rajin menghadiri undangan dan kegiatan sosial di masyarakat berbalas dengan selalu ramainya orang yang datang di setiap tahlilan Bapak.
Hadir juga teman-teman kerjaku dan teman-teman sekolah Widi. Tampak Om Yudi datang bersama Bik Ina, setelah itu aku tidak tahu lagi siapa yang datang, acara akan segera dimulai, tamu yang tidak bisa duduk di dalam rumah sudah disediakan bangku-bangku di luar.
Acara dimulai sesudah salat Magrib, berjalan lancar, selesai juga sebelum salat Isha. Para tamu tidak berlama-lama di rumah karena mereka mengejar salat Isha di mesjid.
Satu per satu tamu pamit, diikuti teman sekerjaku dan teman sekolah Widi. Om Yudi juga pamit, katanya ada urusan penting jadi tidak bisa berlama-lama di sini. Kecewa, sih. Tetapi rasanya itu konyol. Semakin hari, aku semakin nyaman dengan kehadiran Om Yudi. Sunggu aku tidak sadar diri.
Ternyata Jevan juga hadir, mungkin dia datang terakhir karena dia duduk di kursi luar.
"Dea, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Jevan setelah semua tamu pulang.
Hanya dasar rasa menghormati tamu, aku mengiyakan pertanyaan Jevan. Duduk dengan jarak satu bangku.
"Laki-laki yang sering dengan kalian sejak dari rumah sakit, hingga tiga malam dia nggak pulang-pulang itu siapa?"
"Oh, itu Om Yudi,"
"Om kamu?" Pertanyaannya seolah menyelidik.
"Bukan. Dulu Om Yudi pernah kerja dengan Bapak. Entah karena apa, Om Yudi berhenti kerja, sejak itu kami nggak pernah jumpa. Sampai kami jatuh miskin dan merantau ke kota ini, beberapa bulan ini baru kami bertemu lagi. Oh, iya. Kamu kenapa bisa di kota ini juga?"
"Aku?" tanya Jevan ulang. Aku hanya membalas dengan senyum atas pertanyaan itu.
"Pulang kuliah aku mencari kamu kerumah lama, tapi kata tetangga kalian sudah pindah. Setelah mencari-cari akhirnya aku dapat alamat kalian. Kebetulan di sini ada rumah keluargaku. Apa salahnya aku cari kamu."
"Oh," jawabku singkat, apa aku harus senang atau biasa saja.
"Mungkin kita jodoh kali, buktinya aku bisa nemuin kamu." Jevan tertawa, tertawa garing. "Kamu masih nggak mau maafin aku, ya?" Sambung Jevan.
Pembicaraannya sudah tidak enak, aku ingatkan Jevan bahwa hari sudah mulai malam. Lebih baik dia pulang.
***
Aku sudah kembali lagi bekerja, begitu juga dengan Widi, dia sudah kembali bersekolah. Tidak mungkin dia libur lama karena sebentar lagi dia akan melaksanakan ujian kenaikan kelas.
Walaupun hatiku sedih, jiwa terasa hampa, senyum manis dan sikap ramah harus aku tunjukkan kepada konsumen. Berpura-pura itu sudah biasa, seperti berpura-puranya aku terhadap Om Yudi.
Pukul lima sore aku sudah selesai bekerja,
rasa tidak ingin pulang, kenangan Mamak dan Bapak begitu jelas. Hal itu membuat air mata ini selalu menetes. Aku tidak lemah menghadapi apa saja tetapi jangan berhubungan dengan orang tua.
Aku menuju sebuah danau, danau yang sangat luas, memandangi ke indahan ciptaan-Nya terasa tidak akan pernah cukup untuk mengucapkan kalimat syukur. Aku duduk di bangku yang disediakan tidak jauh dari tepi danau.
Seketika aku tersentak saat melihat seorang pria juga sedang memandangi danau tepat di tepi danau. Sepertinya pria itu hendak bunuh diri.
"Bodoh sekali, aku yang wanita saja tidak berpikir untuk bunuh diri," upatku.
Rasa kemanusiaanku meronta-ronta menyuruh untuk mencegah aksi bunuh diri itu. Eh, pria yang menggunakan switer itu menundukkan badannya seperti akan melompat.
Tidak bisa kubiarkan, seandainya nanti dia mati, lalu di akhirat kelak aku ditanyai malaikat kenapa semass hiduo kamu membiarkan pria itu bunuh diri? Mau jawab apa aku? Oh, tidak. Tidak bisa.
"Jangan mati!" teriakku sambil menarik tangannya. Aku dan pria itu terhuyung.
Terjerembab ke tanah, tubuh pria itu berada di atas tubuhku. Aku kira peristiwa ini hanya terjadi di sinetron bucin saja. Ya Tuhan, saat manik mata itu menantap dalam seakan menerobos netra ku. Aku bisa apa? Aku hanya menikmati moment ini beberapa detik.
"Aduh ...," keluhku. Membuat pria tersebut tersadar salah tingkah.
"Apa-apaan, sih, Om?" bentakku.
"Sakit jiwa ini anak, jelas-jelas kamu yang narik saya. Malah marahnya ke saya," timpal Om Yudi sambil merapikan pakaiannya.
"Kalau tau itu Om Yudi, sudah Dea biarkan Om bunuh diri," celetukku.
Aku sesekali mengaduh--pinggangku terasa sakit. Mencoba berjalan menuju bangku dengan tangan kanan memegang pinggang, sudah seperti nenek-nenek encok saja. Om Yudi tertawa melihat cara berjalanku.
"Emang sakit jiwa ini anak, siapa yang mau bunuh diri? Tidurnya terlalu miring tu, jadi mimpinya ampe sekarang," ledek Om Yudi sambil menoyor kepalaku.
"Lah, ngapain Om berdiri di tepi danau, terus ngebungkuk seperti ingin lompat?" Aku tidak mau kalah, jangan sampai aku malu dengan salah duga.
Om Yudi malah tertawa kencang. "Dea ... Dea, lucu banget sih kamu, gemes deh," Om Yudi berusaha mencubit pipiku, tetapi aku menghindar. "nih lihat tali sepatu saya lepas!" Dia menganggak kaki kiri ya melihatkan bahwa tali sepatu benar-benar lepas. "Lepas, kan? Lepas." Sambungnya.
"Jadi Dea salah, ya?" Aku cengengesan.
"Iya salah, Oon!" Om Yudi memegang puncak kepalaku dan mengacak-acak rambutku. "Kamu ngapain ke sini?" tanya Om Yudi, tatapannya seakan penuh curiga.
"hmmm, janjian sama cowok," jawabku sesuka hati.
"Baguslah, akhirnya kamu laku juga," jawab Om Yudi dan memberi seutas senyum.
Sejenak kami terdiam dalam lamunan masing masing. Bermain dengan pikiran tak berujung.
"Om."
"De."
Kompak kami saling memanggil pada saat bersamaan.
"Kamu duluan!" seru Om Yuda.
"Dea gamang, Om. Gamang ngadapi hidup ini. Kenapa semua orang yang Dea sayang ninggalin Dea? Jiwa terasa sepi, ingin rasanya ikut mati ...."
"Jaga ucapan kamu!" bentak Om Yudi.
"Om nggak tau rasanya jadi Dea," intonasi suaraku meninggi.
"Karena saya ngerasain makanya nggak suka dengar kata-kata itu." Suara Om Yudi terdengar juga meninggi. "Kamu ingat pertama saya ke rumah kamu? Kamu ingat masa lalu saya?" Nada suara Om Yudi kembali melemah.
Om Yudi bertemu Bapak saat ia akan dipukuli masa, ia dituduh mencopet padahal hanya mengamen, yang mencopet itu temannya. Sejak SD Om Yudi hanya hidup dengan ibunya--ayahnya entah kemana, saat SMP mungkin seumuran Widi, Ibunya meninggal. Sejak itu ia harus bisa meneruskan hidup sendiri sampai akhirnya bertemu Bapak dan dibawa Bapak kerumah.
Kelaki 17 tahun itu pertama kerumah penampilannya sangat kucel, mungkin karena setiap hari bergelut dengan panasnya matahari dan debu jalan. Sedikit demi sedikit Bapak mengajarinya. Sekitat lima tahun ia tinggal dengan kami. Setelah itu aku tidak tahu kenapa Om Yudi pergi dari rumah.
"Kenapa Om pergi? Om tinggalkan Dea." Kalimat ini begitu saja terlontar dari mulutku.
"Saya ke ikut teman Pak Bani ke kota ini, ia mencoba membuka usaha meuble dan mengajak saya untuk membantunya," terang Om Yudi.
Om Yudi melempar sebuah batu kecil ke danau hingga menimbulkan riak.
"Kamu tau sakitnya jadi saya? Saya kira setelah saya sukses, kebahagiaan yang saya impikan dapat dengan muda diraih. Ternyata salah. Saya menghayalkan rumah tangga seperti seperti rumah tangga Ibu dan Bapak kamu tetapi malah zonk. Wanita itu tega mengkhianati saya. Dia selingkuh dengan teman saya sendiri. Sekarang saat sudah cerai, hak asuh anak, dia yang dapat. Kamu masih ada Widi. Nah, saya? Benar-benar sendiri," tutur Om Yudi tanpa jedah.
Apa dia sedang mengeluarka seluruh unek-uneknya? Entah, lah.
"Sabar, Om. Ini cobaan. Cari istri baru Om! Katanya membalas mantan itu dengan kita punya pasangan baru," ucapku sok bijak.
"Dasar anak kecil. Ampe sekarang aja masih jomlo udah nasehatin orang tua," seloroh Om Yudi.
Kami pun tertawa, menertawakan nasib masing-masing. Ternyata ada yang lebih menyedihkan nasibnya dari aku.