NovelToon NovelToon
Higanbana

Higanbana

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Contest / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:161.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Pipit Otosaka

SEASON 6!

*Diwajibkan melihat seluruh deskrip, sebelum baca, ehe ^^

SINOPSIS:
Dennis dan teman-temannya pergi mengunjungi kampung halaman Mizuki sekaligus ingin berlibur di sana. Tak jauh dari rumah Mizuki, mereka menemukan rumah kecil di dalam hutan yang sudah tidak ditempati dan terdapat banyak bunga Lycoris Radiata, atau yang sering disebut oleh orang Jepang sebagai bunga Higanbana.

Bunga itu terlihat indah. Tapi yang membuat heran adalah kenapa bunga itu bisa mekar sebelum waktunya?

Tak hanya itu, salah satu dari mereka tiba-tiba jatuh sakit dan mulai saat itu, kematian aneh yang diakibatkan oleh bunga tersebut kembali bermunculan dan meneror satu desa. Bunga tersebut memang memiliki makna kematian, tapi tidak sebenarnya bisa menyebabkan kematian ketika menyentuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi pada bunga tersebut?
=============================

GENRE LENGKAP: Horor, misteri, supranatural, teen, romance, gore, action

COVER: ORIGINAL BUATAN AUTHOR!

JADWAL UPDATE: SETIAP HARI!! (Kalau up-nya bolong", positif thinking aja authornya sibuk ya :v)

[ PERINGATAN! Novel ini mengandung unsur kekerasan, pertumpahan darah, pembunuhan yang berlebih (gore). Yang tidak nyaman dengan hal itu, disarankan untuk membaca novel lain. ]

IG: @pipit_otosaka8

Terima kasih telah mampir ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit Otosaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12– Persiapan Keberangkatan

*

*

*

Pagi-pagi sekali Rei mengajak Brian pulang ke rumahnya karena anak itu ingin bersiap-siap untuk ke sekolah bersama ayahnya. Bukan ingin belajar, tapi ingin meminta izin kepada gurunya untuk meninggalkan pelajaran selama 3 hari sebelum waktunya liburan.

Ada satu alasan khusus kenapa Brian ingin ikut dengan ayahnya ke sekolah. Yaitu ia ingin memberitahu sesuatu pada Nisa. Lalu setelah meminta izin pada gurunya, sebelum bel masuk berbunyi ia pergi ke kelas Nisa dan kebetulan gadis kecil itu ada di sana.

Saat Brian masuk ke dalam kelasnya, seketika beberapa anak menjauhinya. Bukan karena benci, tapi mereka takut dengan tampang Brian. Walau lelaki itu punya beberapa fans perempuan dari beberapa kelas lain.

Di kelas, Nisa sedang membaca buku dan ia terkejut saat Brian menghampirinya. Tak berlama-lama, langsung saja setelah Brian dekat dengan Nisa, ia langsung membisikkan sesuatu yang membuat mata Nisa seketika membesar karena kaget mendengarnya.

Namun tak lama kemudian, wajah Nisa sedikit memerah dan matanya sedikit berkaca-kaca. Ia menyentuh dadanya dengan kepalan tangan, lalu mengangguk. Melihat Nisa yang sudah paham dengan perkataanya, Brian pun melambai kecil, lalu meninggalkannya.

Ia sudah merasa lega meninggalkan Nisa untuk seminggu. Karena korban yang selalu menjadi bahan bullyan di sekolah itu hanya Nisa dan lagi-lagi Brian harus turun tangan untuk melindunginya. Bukan karena Nisa meminta bantuan, tapi karena memang keinginan Brian sendiri. Ia benci dengan pembully dan anak-anak yang bertingkah sok hebat dan kasar di sekolahnya.

Setelah Dennis dan Brian sampai di rumah, mereka langsung bersiap-siap untuk keberangkatan hari ini. Karena pada tengah hari, pesawat pesanan mereka akan segera berangkat. Jadi tidak boleh terlambat.

Setelah siap, Dennis membawa koper dan menggendong tasnya di belakang. Ia menutup kamar, lalu turun melewati tangga. Tak lama setelah Dennis, anaknya juga keluar kamar dan tanpa menutup pintunya lagi, ia langsung saja turun ke lantai bawah.

Semuanya juga sudah bersiap. Cahya dan Zainal menunggu di ruang tamu. Begitu juga dengan kedua orangtuanya Dennis. Setelah Dennis datang menghampiri mereka dengan pakaian rapih, sang ibu mengelus kepala anaknya yang sudah tumbuh semakin dewasa. Bahkan beliau meraih kepala Dennis dengan berjinjit.

Untuk mempermudahnya, Dennis sedikit membungkuk, lalu membiarkan ibunya mengelus rambutnya. Bukan untuk yang terakhir kali. Padahal Dennis hanya pergi seminggu saja, tapi sebagai orangtua, tentu saja mereka cepat rindu dengan anak hebatnya.

"Dennis, sayang. Kamu hati-hati di jalan, ya, Nak?" pesan sang ibu sambil mengelus-elus pipi anaknya. Dennis tersenyum, lalu menyentuh tangan ibunya, lalu menjawab, "Tenang saja, Bu. Aku kan cuma pergi seminggu. Ibu dan ayah juga hati-hati di jalan, ya?"

Ibunya mengangguk, lalu Dennis mencium tangan ibunya, kemudian kembali berdiri dan mencium tangan kanan ayahnya. Setelah itu ia mundur beberapa langkah sampai di dekat Cahya. "Sudah, ya, Bu! Kami berangkat. Nanti keburu ketinggalan pesawat."

"Iya, Nak. Hati-hati, ya, sayang. Jangan sampai kamu terlibat masalah lagi seperti dulu."

"Ah, ibu. Doain aja semoga kami sampai di sana dengan selamat tanpa hambatan apapun."

"Kami pasti selalu mendoakanmu dan yang lainnya. Sudah sana pergi bersenang-senang. Ayah dan ibumu juga ingin berangkat."

"O–oke, ayah! Sampai ketemu seminggu lagi." Dennis melambai kecil. Lalu Cahya dan Zainal ikut memberi salam pada orang tua Dennis. Tapi entah sejak kapan Brian sudah siap-siap pakai sepatunya di depan pintu. Tapi ia mendengar perkataan ibunya Dennis tadi.

"Jangan sampai kamu terlibat masalah lagi seperti dulu."

Mendengar ucapannya membuat Brian teringat dengan cerita Rei semalam. Saat itu, Rei menceritakan semua yang ia alami dari pertama kali bertemu dengan Dennis sampai saat ini. Tentu Rei menceritakan kelebihan Dennis. Tapi kalau soal cerita-cerita dan masalah supranatural yang ayah dan teman-temannya alami itu membuat Brian tidak mempercayainya.

Untuk pertama kali, ia tidak percaya dengan cerita Rei. Tapi setelah mendengar ucapan neneknya tadi, telah membuat kepercayaannya menjadi 50%. Tapi tetap saja ia masih tidak percaya kalau ayahnya dapat diandalkan kalau terjadi masalah seperti dulu lagi.

"Cih, lagipula kalau masalah sampai mempertaruhkan nyawa begitu, ayahku tidak akan selamat, kali. Dia kan orangnya ceroboh dan kadang bodoh." Brian menggerutu dalam hati. "Ayahku terlalu naif."

"Oh, syukur deh kalian belum berangkat."

"Kak Rei!" Melihat Rei datang, Brian langsung berlari menghampiri dan memeluknya. Tapi Rei tidak bisa membalas pelukannya karena kedua tangannya membawa tas dan satu koper.

"Kalian belum jalan, kan?" tanya Rei pada Brian.

Brian menggeleng pelan. "Bentar lagi. Kenapa kak Rei telat?" Ia bertanya balik.

"Tadi agak lama di kantor polisi. Aku ke sana untuk meminta izin doang. Tapi malah ada urusan lain. Ya sudah deh." Jawab Rei. Kemudian ia berjalan pelan menghampiri teras rumah Dennis. "Ngomong-ngomong di mana ayahmu dan yang lainnya?"

Rei meletakan tasnya di teras, lalu hendak ingin masuk ke rumah Dennis. Tapi mendadak Dennis muncul dari balik pintu dan membuat mereka berdua terkejut. "Oh, kak Rei udah sudah datang. Bagus, deh! Kita juga mau jalan sekarang."

"Ke bandaranya naik apa?" tanya Rei.

"Ayahku akan mengantar kita semua. Muat kok mobilnya. Tapi ..." Dennis melirik ke Brian dan menawarkan sesuatu. "Brian, kamu mau dipangku sama ayah? Biar muat mobilnya."

"Hah? Gak mau lah. Aku kan bukan anak kecil. Aku mau kursi mobil untukku tempati sendiri. Yang pasti aku ingin di samping kak Rei duduknya!" Brian langsung menggandeng tangan Rei dan menariknya sampai ke depan mobil yang sudah terparkir di luar rumah.

"Hah ... baiklah. Kalau begitu ...."

*

*

*

"Kenapa Adel yang dipangku? Aaaaaa ..." Adel duduk di pangkuan Cahya. Dennis dan ayahnya duduk di kursi depan. Kursi tengah ada tiga ditempati oleh Cahya dan Adel, lalu Brian tengah sampingnya Rei. Belakang terdapat dua kursi pas hanya untuk Zainal dan Yuni yang sedari tadi diam saja seperti orang bisu.

"Aw, tenang saja, Adel. Cuma sampai bandara doang, kok. Gak lama." Ujar Cahya.

"Ah, oke deh!" Adel cemberut lalu memutuskan untuk menatap keluar jendela saja. Tak lama setelah itu, ayah Dennis menyalakan mobilnya dan mereka pun berangkat ke bandara.

Ibu Dennis masih menunggu di rumah. Setelah ayah Dennis mengantar semuanya, ia akan kembali menjemput istrinya lalu mereka berdua pergi ke pekerjaan ayah Dennis.

...****************...

Di waktu yang sama, saat ini di sekolah sudah masuk jam istirahat. Nisa yang terbiasa menyendiri di halaman belakang sekolah yang sepi memutuskan untuk makan siang dengan bekalnya di sana.

Namun ia sedikit cemas dan tidak tenang untuk makan di tempat itu. Walau keadaannya sepi, ia takut pembullynya akan datang dan dirinya dijadikan pesuruh lagi. Apalagi saat ini, Brian sedang pergi dan tidak ada siapapun yang membantunya.

Selama ini aman-aman saja. Tidak ada gangguan dan Nisa memutuskan untuk makan siang sebelum bel masuk bunyi. Tapi saat ingin menyuap nasinya, tiba-tiba ada air yang mengalir dari atas dan mengenai tubuhnya sampai basah kuyup. Makanannya jadi terbuang karena kemasukan air dan tak sengaja Nisa menjatuhkan ke tanah karena terkejut.

Tak lama setelah menghindari aliran air yang jatuh menimpanya itu, ia mendengar suara cekikikan para gadis lain dari atas. Ia pun mendongak dan melihat ada tiga orang menertawakannya. Salah satu dari mereka membawa ember yang sebelumnya penuh dengan air untuk menyiram Bisa seperti tanaman.

"A–apa yang kalian lakukan?!" Nisa memberanikan diri untuk membentak mereka walau agak gugup.

Mendengar suaranya yang terdengar keras itu membuat tawa ketiga gadis itu terhenti. Mereka langsung menatap tajam pada Nisa dan salah satunya berkata, "Eh? Udah berani, ya, sekarang?"

"Berani ngebentak gitu ya, lu? Hebat juga. Padahal lagi ga ada Brian." Gadis kedua yang memegang ember memasukkan dua buah uang kertas ke dalamnya, lalu melempar ember itu sampai mengenai kepala Nisa yang ada di bawahnya. "Oy, babu! Beliin roti buaya rasa coklat. Aku tunggu di kelas. Buruan! Jangan sampai bel masuk bunyi atau kau akan tau akibatnya."

"Jangan dijajanin duit itu Lo, ya!"

"Dah lah, kuy, cabut!"

Ketiga gadis itu pun pergi. Nisa masih mengelus kepalanya yang sedikit sakit, lalu memungut ember dan uang di bawahnya. Karena sudah biasa, ia pun menuruti permintaan ketiga gadis pembully tadi. Langsung saja ia pergi ke kantin dan meninggalkan makanannya yang sudah tidak bisa dimakan di tempat itu.

Setelah membeli makanan di kantin, Nisa kembali ke kelas untuk memberikan makanan itu. Semua anak kelas berkumpul dan saling berbincang bersama. Dengan gugup, Nisa berjalan mendekati meja perkumpulan anak-anak nakal di sana.

Secara perlahan ia memberikan plastik yang berisi roti pesanan anak-anak itu. "I–ini. Sudah aku beli."

Dengan santai salah satu dari gadis yang duduk di atas meja pun menerima plastik itu dan mengambil roti yang ia mau. Tapi setelah diperhatikan, mendadak gadis itu marah pada Nisa karena pesanannya tidak sesuai dengan yang diinginkannya. "Loh? Kenapa kau membeli rasa cokelat?! Gak denger apa tadi yang aku minta?!"

Nisa yang terkejut mendengar bentakan itu mulai berkaca-kaca matanya. Tapi ia berusaha untuk menahannya agar jangan sampai keluar air mata di hadapan semua orang. Bisa malu seumur hidup.

"Ta–tapi tadi kau mintanya kan rasa coklat. Aku gak salah denger." Nisa menjawab dengan gugup.

"Hah? Emang iya, ya?" Gadis itu tersenyum, lalu menggenggam roti yang ia pegang, lalu menghancurkan bentuknya. "Kau kalau sudah salah, ya salah! Aku minta strawberry! Bukannya coklat!"

Seketika keadaan kelas jadi sepi dan semua mata terpaku menatap Nisa. Gadis pembully itu membanting roti tersebut di hadapan Nisa. "Sekarang babu ... merangkak! Ayo merangkak dan makan roti itu!"

Tanpa berpikir panjang, Nisa langsung melakukan apa yang gadis itu suruh. Ia berpose seperti guguk lagi. Lalu saat ingin memakan roti di lantai tanpa menyentuhnya, tiba-tiba anak lain di sampingnya mendorong kepalanya dari atas dan otomatis wajah Nisa terkena roti tersebut. Saat ia kembali mengangkat kepalanya, wajahnya terlihat kotor karena terkena isi coklat dari roti tersebut.

Semua orang kembali menertawakannya. Sampai saat ini, ia masih berusaha menahan emosi dan tangisannya. Menahan perasaannya sudah biasa ia lakukan karena selama ia masuk ke sekolah itu, ia selalu menjadi bahan bully dan pelampiasan emosi dari teman-temannya.

"Duh, padahal lagi seru, nih." Gadis yang duduk di atas meja itu mulai mengeluh perutnya sedikit sakit. Lalu ia mengajak beberapa temannya untuk pergi ke kamar mandi. Tentu mereka mau dan pergi meninggalkan Nisa untuk sementara. Bukan berarti Nisa akan dibebaskan hari ini.

Sampai ketiga gadis itu pergi, Nisa masih belum berubah posisi. Tapi pikirannya tetap berjalan. Ia sedang mencari cara agar dirinya tidak tersiksa terus di sekolah itu.

Sampai pada akhirnya, ia ingat dengan pesan Brian sebelum lelaki itu pergi. "Jangan takut dan jangan selalu memendam perasaanmu. Jika kau kesal, ya tidak apa-apa. Jika kau diperlakukan kasar lagi oleh mereka, tolong bangkit dan lawan saja seperti apa yang aku lakukan. Jika kau terus memendam emosimu, lama-lama perasaanmu akan meledak seperti gunung berapi."

"Bangkit dan lawan saja, Nisa!"

Setelah memikirkannya dan terdiam sejenak, Nisa sedikit menggeram. Tak lama ia mengepal tangan, lalu kembali berdiri sambil menundukkan kepala. Ia memungut roti itu, lalu mengambil pensil dari meja seseorang di dekatnya.

Semua orang masih menatapnya. Tapi wajahnya tidak terlihat jelas karena ia terus menunduk sehingga poni dan rambutnya menutupi setengah wajahnya.

Nisa pergi berjalan keluar kelas begitu saja. Beberapa anak mulai kepo. Mereka ingin tahu Nisa akan pergi ke mana dan Nisa sendiri menyadari kalau teman-teman sekelasnya mengikutinya dari belakang.

Tanpa mereka ketahui, wajah Nisa telah terukir senyuman yang keji. Dengan nada pelan, ia bergumam, "Aku akan membuat kalian menyesal telah mengolok-olok diriku. Akan kusebar teror di sekolah ini untuk orang yang berani menggangguku."

*

*

*

To be continued–

1
Apriyan_Claymore280401
Cahya sama natsuki malah sibuk sendiri, padahal keadaan nya sedang tegang malah adu bacot🤣🤣🤣
Apriyan_Claymore280401
Dian masih sempet sempetnya melawak,sok buat rencana tau nya peta yang di bawanya aja salah.bikin ngakak🤣🤣🤣
dunia cerita
yaampun Dennis anak mu itu ingin ku bejek bejek rasanya
Mpit
Luar biasa
Karci Deka
ya bagus
Anak Emak
udah update nih
Dark Black
novel baru bulan januari tanggal berapa thor?
Mpit: 15 Januari
total 1 replies
Rosi
novel nya ada di apk apa kak author, penasaran mo baca yang collab antara Dennis dan Derrel soalnya karakter favorku
Mpit: tetep di sini,, ga pindah ke mana",, cuma nanti January mulai liris
total 1 replies
Rita Rahimah Bintang
novel si anonim ap judul ny. biar baca
Mpit: cek aja ke profilnya yang [ Anonim ]
total 1 replies
Aulia Lia
novel baru yeey(≡^∇^≡)
Alinnn
cakep cakep banget yak😌
Hyuka
terus chara berambut putih siapa? rada lupa
Mpit: ooh Alex itu,, ga masuk dia :v
total 3 replies
Hyuka
Dennisnya kagak reinkarnasi
Hyuka: :| Si Alam
total 2 replies
.SAID.
End juga akhirnya, gak yangka kak dennis bakalan pergi 😭😭😭.

di tunggu novel selanjutnya nya kak pipit, tetap semangat 💪💪💪
bian: Tetap mengharapkan denis ber rengkarnasi dari awal😭😭
total 2 replies
nata
Uda end?
Mpit: iya...
total 1 replies
♛ɢɪɴᴢᴢ☠♛
anak kls 5 SD pacaran 🤦🏻‍♀️🤣🤣🤣🤣🤣
♛ɢɪɴᴢᴢ☠♛: dasar bocil 😭🤣
total 2 replies
Mr.XXX
Update lagi thor penaran selanjutnya.Tetap semagat ya bikin karya karyanya!
Mr.XXX: iya sama sama thor
total 2 replies
Lely
wah like pertama ternyata😁
Mpit: nice ~
total 1 replies
.SAID.
Bawang bertaburan, auah 😭😭😭. akhirnya tamat juga novel, saya harap cerita selanjutnya Brian jadi tokoh utamanya .


Kak Dennis kau ialah pelawan yang sebenarnya. kau bisa menyimpan rasa sakit di relung hatimu, kau kuat untuk menerima takdir. kau ialah pahlawan sebenarnya 😭😭😭😭


Hiks... hiks... hiks... 😭😭😭😭


biasa akhir cerita menyenangkan, kali ini berbeda 😭😭😭
Angel Poerba
sedih😭😭😭Dennis udh pergi untuk selamanya
Angel Poerba: masih lanjut kk ?
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!