NovelToon NovelToon
Bingkai Surga Untuk Ellana

Bingkai Surga Untuk Ellana

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:623.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

"Aku sudah menutup semua pandanganku untuk dunia yang sementara ini, Ellana. Aku sudah buta, buta akan keindahan yang tersaji di luar sana. Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang memang tidak ingin aku lakukan. Jangan paksa aku untuk menjadi seorang suami yang tidak pernah bisa mencium aroma surga karena tidak bisa berlaku adil."

***



Ketika Allah menunjukkan kasih sayangNya dengan menggubahkan segores ujian di dalam bahtera rumah tangga, mungkinkah cinta itu masih tetap terbingkai utuh? Sanggupkah sepasang suami istri menjalani ujian itu dengan penuh keikhlasan? Dengan selalu berpegang teguh pada janji Allah bahwa akan ada surga bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas?

Dan ketika sebuah janji telah terikrar untuk sehidup sesurga bersama seorang wanita yang telah ia pilih untuk ia jadikan pendamping hidup, mungkinkah janji itu akan tetap terjaga, meskipun pendampingnya kini sudah tidak lagi sempurna? Masihkah surga itu tetap terbingkai indah di dalam kehidupan mereka?


Rama Gilang Pradana bersama Ellana Alessia Safaraz Ismail akan memulai kisah mereka di sini. Sosok dua manusia yang mendamba surga dalam perjalanan cinta mereka.


Slow Update

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutang Budi?

Dua orang ibu dan anak itu terlihat sedang sibuk di dapur, mempersiapkan beberapa bahan makanan untuk mereka olah menjadi menu istimewa. Memiliki bakat yang menurun dari sang bunda, Nana wanita muda yang masih lajang itu memiliki kemampuan memasak yang begitu luar biasa. Kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Hampir semua jenis masakan bisa ia olah dan pasti rasanya akan sangat menggoyang lidah bagi siapapun yang mencicipinya. Kali ini, ia dan sang bunda berencana membuat fuyunghai untuk menjadi menu makan malam spesial bagi seluruh anggota keluarganya.

"Sayang, sampai kapan kamu betah melajang seperti ini, Nak? Apa kamu tidak memiliki niatan untuk bersegera menikah?"

Lintang, sibuk memecah beberapa butir telur untuk ia jadikan menu fuyunghai ini. Sedangkan Nana, yang tengah berkutat dengan saos tomat dan beberapa lembar daun bawang yang ia iris-iris, hanya mengulas sedikit senyumnya.

"Niat menikah sudah ada Bun, namun sepertinya Allah belum mempertemukan Nana dengan calon imam Nana."

"Apa selama ini kamu tidak pernah jatuh cinta kepada seorang laki-laki?"

Lintang semakin penasaran dengan apa yang terjadi dengan anak perempuannya ini. Pasalnya, sejak dulu sang anak tidak pernah bercerita apapun perihal laki-laki yang bisa menarik perhatiannya.

Nana terkekeh pelan. "Apakah menurut Bunda, Nana ini bukanlah wanita normal? Yang tidak bisa jatuh cinta kepada laki-laki?"

Lintang terkesiap, ia menutup mulutnya dengan jemarinya. "Nauzubillahi min dzalik... Kamu tidak seperti itu kan Sayang?"

Nana semakin tergelak. "Bunda, Nana ini wanita normal. Nana juga pernah jatuh cinta..... uppzzz..."

Seketika Nana memangkas ucapannya tatkala ia kelepasan mengucapkan sesuatu.

Lintang sedikit terkejut mendengar penuturan sang anak. "Kamu jatuh cinta? Sama siapa Sayang? Mengapa Bunda tidak pernah tahu?"

Nana tersenyum kikuk. "Bunda tidak tahu karena selama ini Nana hanya bisa menyimpan rasa itu di dalam hati, Bun!"

"Mashaallah... Lalu, siapa lelaki itu Sayang?"

Nana menghela nafas panjang kemudian perlahan ia hembuskan. Ia merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu sang bunda tentang siapa lelaki yang telah mencuri perhatiannya selama ini.

"Mas Rama, Bun!"

Lintang tersentak. "Rama? Rama putra tante Widya?"

Nana mengangguk pelan. "Iya Bun. Putra tante Widya yang sore tadi kita kunjungi."

"Sejak kapan Sayang? Apakah Bunda ini termasuk salah satu ibu yang tidak peka dengan apa yang dirasakan oleh putri Bunda sendiri?"

Nana tersenyum simpul. "Tidak Bunda. Mungkin Nana lah yang terlalu pandai menutupi semua perasaan Nana yang membuat Bunda tidak tahu akan hal itu." Nana menghembuskan nafas pelan. "Sudah sejak lima tahun yang lalu Bun. Pastinya sejak Nana sering bertemu mas Rama saat menjemput tante Widya setelah kajian rutin."

Lintang meletakkan adonan telurnya. Buru-buru ia memeluk tubuh putri sulungnya ini. "Doa Bunda akan selalu teruntai untukmu, Sayang. Semoga penantianmu selama ini berbuah manis ya Sayang."

"Aamiin... Terimakasih banyak Bunda."

"Loh, loh, loh, Bunda sama anak ayah ini mengapa berpelukan di dapur seperti ini?"

Suara bariton yang tiba-tiba terdengar di dapur, sontak membuat Nana dan Lintang mengurai pelukannya. Mereka menoleh ke arah sumber suara dan terlihat Hanan menghampiri mereka.

"Ayah!"

"Bunda sama Nana mengapa berpelukan di dapur seperti ini? Memang masak untuk makan malamnya sudah selesai?"

Nana terkekeh. "Hihihihi belum Yah. Sebentar ya, biar Nana lanjutkan kembali."

Nana kembali sibuk dengan aktivitasnya. Begitu juga Lintang. "Anak-anak kemana Mas? Kok tidak terdengar suaranya?"

"Rafif, Hasan, dan Husain ada di rumah pak RW Bun. Katanya sih ada agenda pertemuan karang taruna gitu." Hanan memperhatikan dengan lekat yang dilakukan oleh istri dan anaknya. "Masih lama ya Bun matangnya?"

Lintang tersenyum simpul. "Sebentar lagi selesai Mas. Inshaallah saat ketiga putra kita kembali dari rumah pak RW, kita sudah bisa langsung makan sama-sama."

"Hemmmmm... Aku keburu lapar Bun!"

"Sabar Mas, sabar."

Pada akhirnya dua wanita berbeda generasi itu sibuk dengan olahan fuyunghai mereka. Sedangkan Hanan, hanya bisa mensuport keduanya dengan doa. Doa semoga masakan istri dan anak perempuannya segera matang dan ia bisa segera mengisi perutnya yang sudah sangat keroncongan.

***

"Bunda?"

Widya yang tengah duduk di depan meja rias sambil mengoles minyak zaitun ke wajahnya sedikit terusik tatkala merasakan kehadiran sang suami yang tiba-tiba sudah ada di belakang punggungnya. Tidak hanya itu, Juna juga meletakkan kepalanya di ceruk leher Widya yang otomatis membuat bulu kuduk wanita paruh baya itu meremang seketika.

"Ya Mas? Ada apa, hemmm?"

"Sore tadi mengapa Bunda tidak mau aku ajak ke kafe? Bunda ada janji sama siapa sih?"

Masih sambil menguyel-uyel ceruk leher Widya, Juna mencoba ingin tahu dengan apa yang dilakukan oleh sang istri di sore tadi. Yang membuatnya enggan ikut pergi ke kafe.

"Tadi sore mbak Lintang datang kemari Mas."

Juna sedikit mengerutkan keningnya sambil mengingat-ingat siapa itu Lintang. "Lintang? Yang dulu satu kajian sama Bunda?"

Widya mengangguk masih sambil menatap wajahnya yang ada di dalam pantulan cermin. "Iya Mas. Dulu dia juga beberapa kali sempat berkunjung ke sini bukan? Masa kamu lupa?"

Juna terkekeh pelan. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan tangannya sepertinya sudah berada di salah satu bagian tubuh sang istri yang begitu ia sukai. "Jelas aku lupa, karena yang ada di dalam ingatanku hanya ada Bunda. Jadi aku tidak sempat memikirkan orang lain!"

Tubuh Widya sedikit menggeliat tatkala merasakan tangan sang suami sudah bermain nakal di area dadanya. "Mas... "

"Ya Bunda?"

"A-aku....aahhhh...."

Suara Widya seperti tercekat di dalam tenggorokannya dan berganti dengan lenguhan pendek yang lolos begitu saja dari bibirnya. Sedangkan Juna semakin menyeringai nakal tatkala melihat tubuh sang istri sudah mulai meliuk-liuk tiada beraturan.

"Bunda... Sekarang yuk! Aku sedang ingin!" Juna masih menghujani leher Widya dengan ciuman-ciuman sensualnya. Perlahan ia sentuh telinga Widya dengan lidahnya. "Ingin bercinta!"

Ucapan Juna yang to the point ini seolah ikut membakar gelora hasrat yang ada di dalam tubuh Widya. Ia memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya merasakan sentuhan sang suami yang terasa begitu memabukkan.

"Uuughhh... Mas... A-aku...."

Melihat tubuh sang istri yang sudah memberikan respon, buru-buru Juna menghentikan aktivitasnya. Setelah itu, ia raih tubuh Widya dan mulai membopongnya ala bridal style. Ia langkahkan kakinya menuju ranjang dan setelah itu ia rebahkan tubuh sang istri di atas ranjang milik mereka.

Saat Juna hendak membuka kancing piyama milik sang istri tiba-tiba...

Tok... Tok....Tok....

"Ayah! Ayah! Ayah!"

Tok.. Tok.. Tok...

Juna dan Widya saling menatap. Seolah menjadi sebuah isyarat jika suara ketukan pintu kamar dan teriakan seseorang di luar kamar miliknya menjadi pengganggu ritual ibadah yang akan mereka lakukan.

"Ya Sayang?"

Akhirnya Widya memilih menyahuti panggilan Raina dari dalam kamar.

"Bunda, ayah kemana? Itu di luar ada yang mencari ayah!"

Dahi Widya dan Juna sama-sama mengerut. "Siapa Sayang?"

"Pak RT, Bun. Katanya pak RT ingin ngajak ayah mengejar pencuri. Bapak-bapak komplek juga sudah berkumpul di depan rumah kita Bun!"

"Memang yang dicuri oleh pencuri itu apa sih Sayang, kok sampai heboh?"

"Burung, Bunda!"

Juna membuang nafas kasar. Hasratnya yang sudah memuncak di ubun-ubun, kini terpaksa harus ia hentikan tatkala ada kejadian pencurian burung di komplek perumahannya. Widya mendorong tubuh Juna yang seketika membuat tubuh sang suami dalam posisi berdiri.

Juna merapikan pakaiannya sembari mendengkus kesal. "Gara-gara burung tetangga nih, burungku tidak jadi masuk sangkar!"

Widya terbahak mendengar ocehan suaminya ini. Merasa gemas, ia pun hanya bisa melempar bantal ke arah sang suami. "Kamu ini Mas. Sana buruan keluar. Sudah ditunggu bapak-bapak komplek yang lain loh!"

Juna menatap sendu wajah sang istri. "Pulang dari mengejar pencuri, Bunda siap-siap ya!"

"Siap-siap apa Mas?"

"Siap-siap membuka pintu kandang, karena burung peliharaan Bunda ingin masuk kandang!"

"Mas Junaaaaa.......!!!"

***

"Ssshhhhh... Dingin..... Sssshhhh....."

Rama yang tengah larut dalam buaian mimpinya tiba-tiba terusik dengan suara seseorang yang sayup-sayup terdengar di dalam indera pendengarannya. Kesadarannya seolah ditarik paksa oleh suara wanita yang sepertinya sedang merintih.

Rama menoleh ke arah samping kanannya. Di sana terlihat Ellana sedang meringkuk sambil meletakkan kepalanya di atas pundaknya dengan mata yang masih terpejam.

"Ssshhhh... Dingin...."

Lagi, El merintih kedinginan meskipun matanya terpejam. Rama sedikit khawatir dengan kondisi tubuh El saat ini. Ia menggeser kepala Ellana untuk bersandar di sandaran bangku dan kemudian memegang pelipis wanita itu.

"Astaghfirullah hal'adziim... Kamu demam El!"

"Ram... Dingin... hhhzzzzzttttt....."

Selimut miliknya dan milik El sendiri sudah membalut tubuh wanita itu. Wanita itupun juga sudah memakai sweater, namun tetap saja ia merasakan kedinginan. AC pun juga sudah dalam keadaan off. Gegas, Rama membuka jaket yang ia kenakan kemudian mengulurkannya ke arah Ellana.

"El bangun lah sejenak. Pakai jaket ini dahulu agar kamu tidak kedinginan."

Ellana menurut. Ia sedikit menegakkan posisi duduknya kemudian menerima jaket dari Rama. Setelah itu, ia kembali meringkuk, menahan rasa dingin yang terasa menusuk tulang-tulang tubuhnya.

Rama beranjak. Ia ingin bertemu dengan crew armada bus ini. Pastinya untuk meminta sesuatu yang bisa untuk mengompres Ellana. Rama ingat ada salah satu produk anak berbentuk plester yang bisa digunakan untuk mengompres demam. Ia pun menyampaikan maksudnya, tak lama setelah itu sang crew memberikan satu boks kompres demam anak-anak kepada Rama.

"Ram... Yang kamu tempelkan ini apa?"

"Ini kompres demam El. Sementara pakai ini dulu ya. Meski ini produk untuk anak, namun semoga bisa bermanfaat untuk kamu. Setidaknya bisa sedikit menurunkan demam mu."

El mengangguk pelan. Entah apa yang harus ia lakukan untuk bisa membalas semua kebaikan seorang pemuda yang baru beberapa hari ia kenal ini.

"Ram... Aku berhutang budi sama kamu. Terimakasih banyak untuk semua kebaikan yang sudah kamu berikan untukku. Sampai di Jogja, aku akan membalas semua kebaikanmu ini."

Dahi Rama mengerut. "Memang dengan cara apa kamu akan membalas semua kebaikanku ini, El?"

"K-kamu boleh minta apapun dariku Ram. Asal itu tidak merugikan diriku ataupun merendahkan harga diriku sebagai seorang wanita."

Rama terlihat sejenak berpikir. Tiba-tiba seringai nakal terbit di bibir pemuda tampan itu. "Serius, kamu ingin membalas semua kebaikanku ini El?"

"Iya Ram. Kamu bisa mengatakannya."

Rama menghela nafas dalam. Pandangan matanya masih lurus ke depan. "Jika aku ingin mempersuntingmu, dan menjadikan kamu sebagai istriku, apakah kamu bersedia, Ellana Alessia Safaraz Ismail?"

Deg... deg... deg....

Entah jantung siapa yang berdetak cepat seolah tiada terkendali. Ellana hanya bisa mengatupkan bibirnya tatkala mendengarkan permintaan Rama. Sedangkan jantung Rama juga dibuat berdetak tiada beraturan, menanti jawaban apa yang akan dilontarkan oleh wanita di sampingnya ini.

.

.

. bersambung......

Karena hari ini sedang libur, author kasih double up untuk kakak-kakak semua ya...❤️❤️

Untuk yang masih bingung dengan keluarga Lintang, bisa sambil menengok novel Titik Balik. Itung-itung sekalian bernostalgia dengan novel pertama yang saya unggah di platform ini 😅😅

Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Bingkai Surga ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik bunga atau yang lainnya. jika punya tiket vote boleh juga jika ingin disumbangin ke author, hihiihii. dan jika menurut kakak-kakak cerita ini menginspirasi, boleh juga jika di share kepada teman-teman kakak semua..🤗🤗

Happy reading kakak..

Salam love, love, love❤️❤️❤️

🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca🌹

 

1
Heryta Herman
mantap nian ucapan Rama..langsung mengena di hati El,bahkan kita para pembaca kisahmu thor..
lanjut thor...
Heryta Herman
aku mampir lagi mba,ini novel ke 2 mu yg aku baca mba author...
Heryta Herman
Rama itu jodohmu yg sebenarnya El...bersabarlah...dan semangatlah meniti hari dpn mu...yg akan indah pada waktunya...
ika
cantik bgd...
Renesme
Bagus. Mengandung hikmah 👍👍👍
Muhammad Alfan
Alhamdulillah bahagianya yg mau punya baby ..bagus mba othor ceritanya amazing banget suka sekali..semangatt tp maaf ya mba othor itu yang sujud syukur bagusnya kan dirumah punya wudhu dulu terus ada niatnya jg ya mba othor bukan disembarang tempat ..bukan begitu kan mba othor sujud syukur itu kan tandanya kita bersyukur atas anugrah yg diberikan oleh Allah ..maaf ya mba othor ini mah cuma kasih masukan aja semoga ada msnfaatnya ya ...sehat selalu buat mba othor ..dari pertama baca part 1 jg aku sudah suka banget ..
Muhammad Alfan: ya mbak thor ga apa kita saling koreksi aja..maaf ya mbak othor
total 2 replies
Riska Wulandari
ketemu jodoh nih..
Lina Suwanti
🤣🤣🤣
Lina Suwanti
bikin ngiler doank🤤🤤🤤😁
Ka'Unna
semangat kak😍jangan lupa mampir y kak
Sriza Juniarti
lanjutkan rama💕
Diana Budhiarti
ha ha lucu m gemes deh
Diana Budhiarti
duhhh jangan lama lama El..
Diana Budhiarti
Allah pasti mengampuni semua dosa dan kekhilafan hambanya
Diana Budhiarti
mhmm...idaman banget ganteng n Sholeh ya si Rama
Sriza Juniarti
semngat kk,selalu berkarya...bagusss..aku suka💕🥰
Ainuria Maulida Pw
ceritanya bagus bgt 💖
Agus Niati
keren
Anonim
S😢
Renjana
Kerenlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!