Danu gemar berorganisasi, dari SMA hingga masa kuliah, Danu selalu asyik jika menyangkut Organisasi, saat SMA Danu memiliki hubungan khusus dengan Juli, karena kedekatan dan kisah indah masa lalu kedua orang tua mereka, Danu dan Juli tunangan saat mereka selesai SMA. Walau demikian, Danu dan Juli kuliah di PT berbeda, bahkan kost yang jauh jaraknya, Danu yang aktifis meneruskan kegemarannya berorganisasi di Kampus, Juli tak bisa melarang, keingintahuannya dengan kegiatan Danu membawa Juli menerima tawaran menjadi Wartawati Kampus.
Fokus Danu dalam kegiatan Organisasi sering membuatnya lupa, termasuk janji dengan Juli, fokus inilah yang kemudian membawa Danu menjadi begitu terpuruk, waktunya yang banyak tersita untuk organisasi membuat Danu harus menerima kenyataan pahit, kehilangan Juli. Bahkan untuk prosesi terakhir pun Danu melewatkannya.
Fahmi teman Danu sejak SMA memaksa Danu meninggalkan Medan menuju kampung halaman ibunya, Apakah Danu bisa menemukan kembali kembali kata Bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Anak SMP
Semua yang ada disana agak terkejut dengan ungkapan ayah Juli. Tak hanya Danu, Juli hingga kerutkan keningnya dalam-dalam, begitu juga dengan ibu Juli, semua merasa ungkapan Ayah Juli cukup mengejutkan. Adik Juli Hari yang masih SMP juga letakkan buku yang ia baca dan menatap ayahnya.
“ Janji apaan sih Yah ?”. Ibu Juli jadi heran.
“ Ah.. itu cerita lama aja Kok “.
“ Cerita lama gimana Yah ?”.
Ayah Juli tertawa kecil. Ayah Juli pandangi Danu, Juli, kemudian istrinya, berulang-ulang hingga tiga kali, dan kembali tertawa dan geleng geleng kepala, bahkan sampai pakai tepuk kening segala, jelas semua makin heran.
“ Kenapa sih Yah ?”.
Ayah Juli buang nafas berat. Ambil rokok dan menyulutnya perlahan. Ayah Juli malah pasang gaya lain, tangan kirinya membentang disandaran kursi, tangan kanannya jepit rokok yang filternya ada dibibir, belakang kepalanya disandarkan disandaran kursi dan menatap langit-langit. Hisap rokoknya kuat dan buang kuat juga, jelas buat yang ada disana makin heran
“ Aku dan Firman dulu teman SD hingga SMP, kami teman sejati, dimana-mana kami selalu sama, tak bisa dipisahkan, di Asrama kami satu pondok, kadang harus makan 1 kali sehari, kadang tok puasa, pokoknya sakitlah “.
“ Udah itu ?”. Ibu Juli mulai tak sabar.
“ Waktu tamat SMP kami ngga’ bisa sama lagi karena aku harus ke Medan, sedang Firman dibawa Pamannya ke Sibolga. Itu adalah saat yang paling sedih bagi kami, kami akan berpisah jauh, padahal kami ingin sekali tetap bersama, ayah akui waktu itu ayah amat terluka, Firman juga sama, dibelakang sekolah dimalam hari yang waktu kebetulan bulan purnama kami hanya duduk berdua dan merenung “.
“ Lantas ?”.
“ Waktu malam perpisahan itu kami janji “.
“ Janji apaan ?”.
Ayah Juli buang nafas lumayan berat. Pandangan tertuju ke Danu. Tertangkap sekali aroma haru dimata orang tua itu. Ayah Juli tak bisa menutup rasa haru yang ada didadanya.
“ Kami berjanji dengan ikrar yang sama. Sekuat tenaga kami akan kembali ke Negeri Lama satu saat nanti “.
“ Janji apaan itu ?”.
“ Ya.. hanya Janji anak yang baru tamat SMP. Janji yang terpatri amat kuat dalam hati “.
Ayah Juli tertawa kecil. “ Bukan hanya itu janji kami “.
“ Apaan lagi Yah “.
Ayah juli kembali tertawa kecil. “ Kami juga sepakat. Jika pada saatnya kami bisa berumah tangga, untuk kata persahabatan kami yang sejati dan tak akan pernah pupus, kami akan buat nama anak kami dengan nama belakang kami masing-masing “.
“ Maksudnya ?”.
“ Ya.. begitu aja. Nama anaknya harus menggunakan nama belakangku, dan nama anakku menggunakan nama belakangnya. Itu aja “.
“ Lucu juga janjinya “.
“ Namanya juga janji anak SMP. Tapi kami ternyata tak lupa “.
“ Maksud ayah ?”.
“ Nama saya Riswan Haris, makanya namamu Danu Haris Setiawan, Setiawan itu kan nama kakekmu“.
Danu anggukkan kepala, nama Kakeknya memang Setiawan, dan karena itulah makanya nama Danu dibelakang pake Setiawan. Ayah Juli tepuk bahu Danu tiga kali dengan pelan.
“ Nama Ayahmu Firman Julianda, makanya nama anak Saya Esti Juliana “.
Ayah Juli malah langsung terjatuh haru, ia tak kuat menahan harunya, tanpa sadar orang tua itu meneteskan air mata, jelas jari telunjuk dan Ibu jarinya hapus butiran bening yang keluar dari sudut matanya. Ibu Juli, Juli, maupun Danu hanya terpaku mendengar cerita ayah Juli.
“ Itu luar biasa, Ternyata janji itu tidak kami lupakan, persabahatan itu memang amat manis. Manis sekali, puluhan tahun sudah berlalu, puluhan tahun kami tidak bertemu, aku rindu padanya “.
Semuanya jadi terdiam. Ibu Juli merasakan apa yang dirasakan suaminya. Pertemanan yang luar biasa seperti itu amat jarang ditemukan, itu hal yang amat sulit didapatkan.
“ Bagaimana ayahmu sekarang ?”.
“ Sehat aja Pak “.
“ Ibumu bagaimana ?”.
“ Alhamdulillah Pak “.
Ayah Juli anggukkan kepala berkali-kali, dan kembali menepuk-nepuk bahu Danu berulang kali, Danu hanya bisa tundukkan kepala dan ikut terharu dengar cerita Ayah Juli dengan ayahnya yang hebat sekali bagi Danu.
“ Aku tak sangka kami kukuh dengan janji itu, aku tak sangka itu “.
Danu amat sumringah. “ Danu baru ingat. Ayah pernah cerita punya teman Orang Ajamu, Ayahnya guru, Ibunya Perawat Rumah Sakit, makanya kalau Ayah sakit, ayah tak pernah bayar untuk berobat “.
Ayah Juli tertawa. “ Ayahmu suka demam, dan kalau demam rewelnya minta ampun “.
Dada Danu amat lapang. Ia malah sudah bisa sama-sama ketawa ngakak dengan keluarga Juli. Danu jadi amat bahagia dengan ini semua. Danu maupun Juli ngga’ nyangka orang tua mereka punya sejarah semanis itu.
“ Berapa adikmu ?”.
“ Kami ada tiga Pak. Adikku dua-duanya perempuan. Cuma ada Kakak yang tinggal dengan kami sekarang “.
“ Kakak angkatmu ?”.
“ Anak Wawak Pak “.
“ Wawakmu yang mana, Bang Taufik, Bang Aidil, atau Kak Delina ?”.
“ Wak Aidil Pak “.
Ayah Juli hanya mengangguk-angguk. Tapi ayah Juli amat bahagia, semua kenangan dengan ayah Danu mengisi pikirannya, tangan ayah Danu menghusap bahu Danu dengan penuh kasih sayang. Danu menerima dengan perasaan yang amat senang dan bahagia.
Pikiran Danu udah jauh menerawang, Danu kini punya niatan yang jauh lebih besar dari yang ada semula. Danu merasa dapat angin untuk lebih dekat dengan Juli, mata Danu mengarah ke Juli yang dari tadi hanya diam aja. Danu harus akui Juli amat cantik memang, rasa cinta yang ada didalam hati Danu kini makin bergelora membakar dadanya. Danu lirik jam, pukul 22.00 WIB.
“ Danu pulang dulu Pak, Bu “.
Ayah Juli anggukkan kepala. “ Ya.. ya.. udah jam 10, besok harus sekolah lagi kan, ngga’ boleh tidur terlalu malam “.
Danu hanya anggukkan kepala, habiskan minumnya dan berdiri. Danu merasa bagai orang yang sangat istimewa, apa tidak, seisi rumah Juli ikut antar dia hingga kepintu.
“ Permisi Pak “.
“ Jangan lupa. Suruh ayahmu besok datang kesini ya..“.
“ Okey Pak, pasti “.
“ Jangan lupa Ya “.
Danu salami ayah dan Ibu Juli, bahkan kedua orang tua itu dengan penuh kasih sayang memeluk Danu erat. Danu akhirnya merasa terharu, Juli yang jadi terpaku dengan pandangan itu. Juli tak sangka ayahnya begitu terharu menatap Danu, Juli belum pernah melihat ayahnya seharu itu. Itu baru anaknya, Juli ngga’ bisa bayangkan bagaimana pula nanti kalau ketemu dengan ayah Danu, pasti akan ada keharuan yang maha tinggi. Danu berjalan setengah berlari agar lebih cepat sampai kerumah. Danu udah ngga’ tahan
"Salahkah Cinta?" atau tinggal klik profil aku aja ya