Lanjutan dari novel: Wanita Cantik Tuan Muda Dingin.
__________
Setelah melewati banyak waktu dan masalah. Raka sang CEO termuda di perusahaan Welfin telah berhasil menemukan kekasihnya dan bahkan tak menyangka jika kekasihnya itu memberikan sepasang anak kembar yang cerdas dan menggemaskan.
Namun masalah kembali datang dari istri tercinta yang memiliki Kepribadian Ganda. Karena itulah Raka mencoba menyembuhkan Sovia dan mulai belajar untuk menjadi Suami idaman untuk sang istri.
Akan tetapi seseorang mulai meneror keluarga kecilnya dan bahkan mencoba menyingkirkan satu persatu keluarga dekatnya. Hal ini karena perebutan harta waris di masa lalu di keluarga Welfin. Dapatkah Raka melindungi sang Istri dan kedua anak kembarnya, serta menyembuhkan mental Sovia?
Yuk kita simak perjuangan Raka dalam menyembuhkan Sovia dan perjuangannya menyelesaikan masalah yang silih datang berganti di keluarga kecilnya Raka.
Baca sampai selesai ya ^^
Terima kasih~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Kunjungan Mira
...[Beri like dan komen]...
Seorang wanita muda cantik sedang berdiri di depan sebuah gedung sekolah yang terlihat kumuh dan sudah terbengkalai. Ia berambut coklat dengan dua bola mata berwarna merah dan tak lupa memakai sweater merah kesukaannya.
Ia mendongak melihat ke arah langit yang memancarkan sinar jingga yang menandakan hari mulai Sore menjelang Malam.
Perlahan ia berbalik membelakangi gedung sekolah itu sambil mengepal tangan kuat-kuat.
"Ternyata sudah rusak dan tak berguna lagi. Seperti diriku yang sekarang."
Itulah ucapan yang terdengar dari mulutnya. Terdengar begitu serius. Ia kini perlahan melangkah pergi meninggalkan gedung bekas sekolah di mana ia pernah bersekolah di sana dulu.
Hembusan angin perlahan menerpa rambut coklatnya diiringi kicauan burung-burung gereja.
"Ternyata aku benar-benar belum mati. Tapi bukan ini yang ku inginkan. Ini semua karena wanita sialan itu. Jika saja ia tak menempati tubuhku. Aku tak usah bersusah payah menjalani kehidupan yang meyusahkan ini lagi." gumamnya kini melihat tangan kirinya. Tangan yang dulu suka berbuat dosa.
"Tidak masalah juga sih. Selagi masih ada waktu, mungkin aku bisa bersenang-senang kembali. Penyesalanku waktu dulu kini tak ada artinya lagi bagiku."
Wanita itu mengingat dirinya di masa lalu di mana ia sendiri mengakhiri hidupnya. Namun kini ia telah kembali dan kini ia mulai mencoba menjalani hidup yang baru.
"Entah bagaimana aku bisa seperti ini, tapi sekarang tujuanku untuk menyingkirkanmu!" Ia menggertak merasa kesal. Ia merasa jika wanita yang bernama Sovia itu adalah arwah yang telah merasuki tubuhnya.
Ia bernama Mira Arelia. Wanita yang berumur 23 tahun lebih. Ia memiliki identitas yang masih misterius. Ia sebenarnya adalah wanita yang memiliki kepribadian ganda. Tapi ia menganggap Sovia adalah arwah yang tak sengaja menempati tubuhnya. Namun begitu, ingatan mereka tak sepenuhnya bersatu.
Mira memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Sovia. Ia tak begitu pandai dalam bersikap baik pada seseorang. Bisa dikatakan ia memiliki sedikit sifat jahat. Ia juga dulu memiliki sifat setengah psikopat. Tapi kini, kita tak tahu tindakan apa yang akan ia ambil sekarang.
Mira berjalan menyusuri jalan sepi. Pandangannya melihat ke segela arah. Ia seperti mencari sesuatu.
"Aku harus mencari seseorang yang bisa membantuku menyingkirkannya. Ia seperti benalu yang hinggap di dalam tubuhku. Tapi ...." gumam Mira berhenti sebentar. Ia seperti sedang berpikir.
"Tapi ... kenapa aku tak bisa mengingat ingatannya? Dan bagaimana ia bisa menempati tubuhku?" Mira kembali berjalan dan masih memikirkan soal Sovia. Ia masih mengira jika Sovia adalah arwah yang merasuki tubuhnya dan selama ini mengontrol dirinya. Padahal ia adalah kepribadian lain dari tubuhnya.
"Ck, terakhir kali aku ingat. Aku bersama dengan Willy dan aku malah terbangun di tempat yang sama. Di kamar yang sama yang tidak ku ketahui." ucap Mira memijit kepala yang mulai sakit memikirkan dirinya yang terbangun di sebuah kamar di rumah besar di mana ia pernah sadar sebelumnya.
"Cih, seharusnya aku tak pergi dari rumah itu. Seharusnya aku keliling dulu dan mencari sesuatu di sana. Dan sekarang, aku tidak tahu jalan pulang." Mira mendecak kesal telah pergi dari kota Byusan. Mira yang tak mau memikirkannya lagi, ia pun pergi ke suatu tempat yang sudah lama ia tinggalkan waktu kecil.
Langkah kaki Mira terhenti di depan sebuah rumah kecil. Raut wajahnya seketika murung dengan tatapan mulai telihat kosong.
"Di sinilah aku tinggal dulu. Di mana awal aku menghabisi nyawa teman-temanku sendiri. Semua rasa sakit dan penderitaanku muncul karena ulah mereka sendiri dan menjadikan aku seorang pembunuh."
Mira melangkah ke arah belakang rumah. Langkahnya terhenti di depan sebuah makam lama yang bertulis Arya Ratmajaya. Ia adalah Ayah kandung dari Mira Arelia yang sudah meninggal ketika ia masih berumur 10 tahun.
Mira menjongkok sambil membersihkan makam itu.
"Kau pasti kecewa padaku di atas sana. Aku tak bermaksud untuk membunuh mereka, aku hanya ingin mereka berhenti mencaciku, menyiksaku, menindasku sekaligus memanfaatkanku."
"Aku tak bisa menahannya lagi hingga akhirnya aku mengahibis mereka dengan tanganku sendiri."
Mira menyandarkan kepalanya ke makam ayahnya, ia ingin menangis tapi ia juga tak bisa.
"Sekarang, aku bisa seperti itu. Tapi semua ini malah menjadikan aku menyimpang dari keinginanmu. Aku minta maaf, Ayah."
"Dan juga, soal Ibu dan Andis. Ayah tak usah kuatir, aku pernah mendengar suaranya. Mereka hidup dengan baik, aku akan mencoba melindungi mereka. Tapi sekarang, saat aku terbangun aku tidak bertemu dengan mereka lagi."
"Mungkin Ibu dan Andis sudah tahu diriku yang sebenarnya lalu meninggalkanku."
"Aku tidak tahu mau berbuat apa lagi. Aku ingin mencoba untuk menjalani hidupku dengan baik lagi, Ayah."
"Tapi, aku takut. Aku takut aku malah menyakiti orang-orang di sekitarku."
Mira terhenyak di makan Ayahnya. Seketika hawa dingin mulai ia rasakan. Tentu kini langit mulai gelap. Mira pun mencium makam Ayahnya lalu berdiri.
"Ayah, tolong tetaplah bersamaku."
Mira memejamkan mata sejenak lalu mengepal tangan kuat-kuat. Ia pun dengan berat hati pergi meninggalkan tempatnya menuju ke tempat lain lagi.
Pukul 18.34 malam. Mira terlihat menyusuri jalan sepi di mana begitu banyak pepohonan di sampingnya. Mira tak kenal takut pada apa-pun. Hawa dingin yang mula menusuk kulit, ia hiraukan begitu saja. Ia tak peduli dengan sekitarnya.
Tiba-tiba, ia berhenti. Pandangannya tertuju pada satu jalan yang mengarah ke dalam hutan.
"Ck." Mira cuma mendecak kesal lalu kembali berjalan. Ia mencoba menghilangkan pikirannya pada jalan itu.
Jalan itu sebenarnya adalah jalan yang pernah menuntun dirinya bersama teman-teman masa kecilnya. Jalan menuntun dirinya ke jalan yang sesat. Awal dari ia menghabisi teman-teman SD-nya.
"Aku tak menyangka jika salah satu dari mereka memiliki saudara kembar. Dan lebih parahnya Rina belum mati pada waktu itu dan datang padaku untuk balas dendam, tapi kini ia pasti sudah berada di Nereka."
Mira memikirkan seorang teman yang bernama Rina yang pernah mencoba untuk membunuhnya. Tapi ia berhasil menghabisi nyawa Rina dengan sekali tembakan pada kepalanya.
"Tujuanku sekarang untuk menyingkirkan wanita itu." ucapan Mira tertuju pada Sovia.
Mira pun kini menaiki sebuah bus. Ia telah selesai berkunjung ke tempat masa lalunya. Masa yang suram dalam hidupnya. Di mana ia pernah melakukan kejahatan.
Mira memandang ke arah luar. Seketika satu gambaran terlihat di kepalanya. Terlihat ada pria bermata biru tersenyum padanya setiap saat.
"Argh ...." Mira meringis kesakitan pada kepalanya.
"Nak, apa kau baik-baik saja?" ucap seorang Nenek yang duduk di dekat Mira. Mira menoleh melihat Nenek itu dan tiba-tiba ia tersenyum.
"Tidak apa-apa, Nek." jawab Mira lalu kembali memandang ke arah luar jendela.
"Raka ... bagaimana kabarmu sekarang," gumam Mira kini memikirkan pemuda yang pernah ia cintai.
"Aku masih hidup sekarang. Apa kau masih mencintaiku seperti dulu lagi? Aku pikir setelah aku mati, kau bisa bahagia dengan perempuan lain. Tapi, entah kenapa aku berpikir tak mau melepaskanmu. Aku ... aku juga mencintaimu."
"Tapi, aku takut merusak masa depanmu. Kau tak pantas menikah dengan diriku yang pembunuh ini."
Mira diam-diam menangis, mengingat pemuda itu pernah menyatakan cinta dan berkeinginan untuk menikahi dirinya.
Seketika Nenek di dekatnya terkejut melihat Mira yang menangis.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Nenek itu. Mira langsung mengusap air matanya lalu melihat Nenek itu.
"Maaf, sudah mengganggu anda." Mira langsung meminta maaf.
"Tidak apa-apa. Jika kamu ada masalah, coba ceritakan padaku. Mungkin aku bisa menghiburmu." ucap Nenek itu tersenyum pada Mira. Mira tertegun melihatnya. Ia merasa senang melihat senyuman orang tua itu.
"Begini, menurut Nenek, aku orangnya seperti apa?" tanya Mira melihatnya.
"Hm, kau ini cantik, punya mata yang cantik, merah delima." jawab Nenek itu.
"Ahaha ... Nenek bisa saja." Mira tertawa kecil lalu menunduk. Bukan itu yang ingin ia dengarkan.
Perlahan Mira mulai mengantuk, tapi ia mencoba menahannya. Namun sama sekai rasa kantuknya tak bisa dilawan dan akhirnya ia tertidur. Entah kemana lagi ia kali ini pergi.