Kisah ini sekuel dari ABANG TENTARA, TEMBAK AKU!!!
Andra tumbuh bersama keluarga angkatnya yang tidak lain adalah sahabat dari mendiang bundanya. Andra juga memiliki seorang adik perempuan yang sangat manja bernama Lala.
Walaupun sering ditinggal tugas oleh ayah kandungnya, Andra tidak pernah kehilangan kasih sayang keluarga lengkap. Bersama orang tua angkatnya Andra dididik dengan kedisiplinan dari Andi sang papa angkat serta dari mama Rani, Andra didik dengan kejujuran serta berpikiran terbuka.
Andra besar dengan impian tinggi menjadi pengusaha dan berhasil mewujudkan impiannya setelah mewujudkan kuliah S2 di Singapura.
Akan tetapi huubungannya dengan sang adik tiba-tiba harus renggang karena status mereka tidak sedarah.
Bagaimana kisah Andra selanjutnya???
Happy Reading...🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zur Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awan Gelap...
Andra bersama ayahnya tiba di pemakaman umum tidak jauh dari asrama tempat tinggalnya waktu kecil.
"Assalamualikum Bunda." Andra duduk di dekat batu nisan Bundanya, diikuti Yogi yang duduk bersebelahan dengan Andra.
Mereka membaca doa dengan khusuk, "Bunda, bantu Andra untuk menyatukan kembali keluarga kita dengan Mama dan Papa." Ungkapan yang hanya bisa di dengar dengan hati oleh Andra sendiri.
Misinya pulang kali ini adalah untuk menyatukan memperbaiki hubungan ayah dengan mama dan papanya yang renggang gara-gara kesalahannya.
Selesai berdoa, mereka menabur bunga serta menyirami makam dengan air yang tadi dibeli di pintu masuk makam.
"Ayah ikut ke rumah Mama?" Tanya Andra saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Tidak, kamu saja, ayah sudah pergi kemaren." Ucap Yogi yang membuat Andra kembali penasaran juga merasa ada sesuatu yang terjadi.
Andra tidak bertanya lagi, dia menambah kecepatan mobilnya supaya cepat sampai ke rumah mama dan papanya.
Setelah mengantar ayahnya, dengan cepat Andra kembali menancap gas mobilnya agar cepat sampai ke rumah mamanya.
Andra mematung di tempat, kakinya serasa berat untuk melangkah, pemandangan di halaman rumah mamanya kali ini benar-benar membuatnya hancur.
Air matanya tidak terasa langsung terjun bebas disaat langkahnya semakin mendekat kepada tiga sosok yang sangat dirindukan selama ini. Andra berharap kedatangannya kali ini disambut pelukan hangat serta senyuman indah sang adik tapi ternyata, pelukan kesedihan serta air mata dari mamanya yang diterima.
"Kamu pulang Nak." Rani menghambur memeluk putra yang sangat dirindukan.
"Maafin Andra, Ma." Lirih Andra dalam pelukan mamanya.
Rani menggelengkan kepalanya, "Mama yang salah, maafin mama Nak, jangan pergi lagi kami membutuhkanmu saat ini!" Rani melepas pelukannya, menarik tangan Andra pelan.
"Maafin Andra Pa!" Andi langsung memeluk anaknya, mengusap menepuk punggung anaknya beberapa kali.
"Sayang, kakak kamu datang, apa kamu tidak mau menyapanya?" Ucap Rani disamping Lala yang terduduk di kursi roda dengan tatapan kosong.
Air mata Lala mengalir, tapi tidak ada suara tangis yang terdengar. "Ma, Pa." Andra hendak bertanya, tapi mamanya sudah menggelengkan kepala duluan.
Andra berjongkok didepan kursi roda yang diduduki adiknya. "Kamu gak mau meluk kakak? Gak kangen sama kakak?" Air mata Lala kembali keluar dengan deras, tapi hanya air mata tampa suara. Lala juga tidak memeluk kakaknya, tatapannya kosong tidak seperti biasanya, sementara Andra ingin sekali mendapat penjelasan atas semua ini.
"Ayo, kita masuk! Mataharinya sudah terasa panas." Andi mendorong kursi roda putrinya kedalam, diikuti Andra dan mamanya.
"Mau ke kemar kecil?" Tanya Andi lembut saat mengangkat putrinya dari kursi roda.
Lala hanya menggeleng, perlahan badannya dibaringkan diatas kasur. "Istirahat dulu ya! Papa keluar sebentar."
Andra melihat semua perlakuaan papanya, Andra semakin merasa bersalah pada orang tua angkatnya.
Kini mereka bertiga duduk dimeja makan. Tampa menunggu Andra bertanya, Rani langsung menceritakan semua yang terjadi. Peristiwa yang menjadi akhir dari rumah tangga putrinya yang baru dibangun beberapa hari.
Malam itu, Roni dan Lala mengalami kecelakaan saat pulang dari Balikpapan. Rencananya 2 hari lagi mereka akan pergi berbulan madu ke Bali. Mereka pergi dari siang, dan malamnya baru kembali ke Samarinda. Saat diperjalanan itulah mereka mengalami kecelakaan hebat, ketika mobil yang ditumpangi bertabarakan dengan sebuah truk dari arah berlawanan.
Roni dinyatakan meninggal ditempat, sedangkan Lala mengalami benturan dikepala serta tulang kaki sedikit retak. Beruntung, benturan dikepala Lala tidak sampai merusak otaknya, dia koma selama 4 hari. Roni langsung dimakamkan keesokan harinya, Roni, kata pertama yang Lala ucapkan saat dia sadar.
"Kami berusaha menutupi kenyataan, karena mengingat perkataan dokter, sampai beberapa hari setelah kondisinya mulai membaik, dia mulai curiga, akhirnya dengan segala rengekan kami memberitahukan kalo Roni sudah meninggal, saat itulah kondisinya langsung turun dan setelah sadar jadi pendiam seperti sekarang, bahkan kakinya seharusnya sudah bisa berjalan kalo dia terapi, tapi dia seakan tidak mau sembuh dan menerima keadaanya seperti sekarang, entahlah, mama dan papa sudah tidak tau harus bagaimana." Rani menghela nafasnya, semangatnya untuk mendampingi putrinya kadang-kadang hilang tidak tersisa.
"Biar Andra coba Ma, Pa, mungkin adik mau sedikit terbuka." Rani dan Andi hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka hampir meyerah, ketika anaknya hilang semangat, bahkan seperti ingin mati saat tau anaknya seakan sedang menyiksa dirinya.
"Apa adek udah diajak ke kuburan Roni Ma?" Tanya Andra. "Belum Nak, kami fokus ke pengobatannya, sampai belum sempat membawanya kesana, kami juga takut dia belum siap sampai disana." Jawab Andi.
"Ya udah, Andra coba bicara sama adek dulu pelan-pelan, siapa tau bisa membantu."
Andra membawa nampan berisi jus hangat serta semangkuk bubur berserat tinggi untuk adiknya dikamar.
Tok...tok...
"Kakak masuk ya!" Ucap Andra yang sengaja mengulang masa-masa mereka dulu serumah.
Andra tau, Lala tidak akan menjawabnya kali ini, jika dulu dia akan berteriak "Masuk Kakkkkk!".
"Hei, bangun! Kakak bawa jus sama bubur enak nih, gak bosen tidur terus nanti kayak putri tidur." Lala masih belum merespon, matanya masih tetap terpejam.
"Kakak, pulang jauh-jauh buat ketemu kamu, tapi sampai kemari cuma dicuekin sama kamu, padahal kakak pengen ngajak kamu ke suatu tempat, tapi karena kamu cuekin, terpaksa kakak pertimbangkan lagi." Lala masih belum merespon, matanya juga masih setia terpejam.
"Kalo kamu makan terus minum jus sampai habis, kakak mau bawa kamu ketemu Roni, kakak juga belum bertemu dengannya setelah kalian menikah." Mendengar ucapan Andra, mata Lala langsung terbuka mengarah ke Andra. Sebuah senyuman indah diberikan Andra pada adik yang selalu disayangi dan dirindukan itu.
"Mau ketemu Roni?" Lala mengangguk pelan dengan air mata yang sudah mengalir. "Tapi ada syaratnya, sekarang harus bangun buat makan biar ada tenaga." Ucap Andra sambil mengangkat badan adiknya untuk duduk dengan bantal sebagai sandaran.
Andra terus tersenyum sambil menyuapi bubur untuk adiknya, Lala juga terus menatapnya. "Sebelum kesana, janji dulu sama kakak ya! Sampai disana tidak boleh nangis, harus kuat, Roni juga gak suka kalo lihat istrinya nangis ya kan?" Lala hanya mengangguk pelan.
Dengan perlahan Andra membersihkan bibir adiknya dengan tisu, masih terus memberikan senyuman terbaik yang dimiliki. "Adik kakak anak yang kuat, mama dan papa orang yang kuat, anak-anaknya juga mesti kuat, kita tidak pernah tau takdir membawa kita kemana, pertemuan, jodoh, rezeki dan maut kan rahasia yang kuasa, kita hanya harus bersyukur dengan semua keadaan, dan berlapang hati dengan semua kesusahan. Ini memang berat, tapi kakak yakin adek mampu, karena sang pencipta tidak akan memberikan kita cobaan diluar kemampuan kita, mulai sekarang, belajar mengikhlaskan ya! Kakak selalu disamping adek."