Saat kamu datang, hatiku masih penuh bertahta nama Carissa. Gadis cantik impian setiap pria, punya karir mandiri dan pintar.
Awalnya aku melihatmu sebagai gadis yang urakan, pecicilan, cerewet dan sangat menyebalkan dan bukan kriteria ku.
Namun..kisah kita membawaku pada jiwa yang lain. Kamu adalah wanita yang berbeda dari apa yang aku lihat. Kamu hanya bersembunyi pada kesakitan dan keluguan diri.
Kamu dan Carissa sungguh sangat berbeda. Perlahan nama Carissa menghilang dan berganti dengan namamu. Teriring doa terucap namamu. Dalam detak nadiku, ada dirimu
Love by Lettu Arben and Nadira Anjani.
Bersama dalam cinta Abrian dan Ariela ( Lilan )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Mencari perhatian.
Awal tahun ini akan di awali dengan pernikahan Brian dan Shisi. Terpaksa Lilan harus mengalah dulu karena Hilman pun masih menunggu masa kerja pangkatnya siap untuk menikah sebentar lagi. Rival juga menyetujui hal itu.
Arben duduk di taman belakang mengipasi sate ayam. Mama Shila ingin berkumpul dan membuat pesta taman malam ini.
"Bang.. mau satenya" Dira menyambar sebatang sate yang masih di bakar Arben.
"Jangan dulu.. ini belum matang!! panas!!" Arben mengambil kembali sate di tangan Dira. Tangan Dira yang gesit mengambil lagi sate itu.
Dira tertawa berlari meledek Arben yang pastinya kesal dengan ulahnya.
"Jangan usil dek, ini malam. Liat jalannya!!" kata Arben mengingatkan.
Brian sedang duduk di pojok berdua dengan Shisi sedangkan Lilan asyik menggoda Hilman yang sedang menerima telepon littingnya.
"Lilan.. bantu aku! aku di kejar bang Arben"
Melihat keseruan itu, Lilan pun berniat membantu Dira, namun tak sengaja kakinya tersangkut selang taman dan ia menubruk Dira hingga Lilan dan Dira tercebur masuk ke dalam kolam.
byuuurr...
Hilman dan Brian hanya menggeleng melihat kelakuan dua wanita usil disana.
"Makanya jangan suka usil sama suami. Kena tulahnya khan?" ucap kesal Arben saat tau Lilan dan Dira akhirnya berenang malam hari.
Arben meninggalkan Lilan dan Dira yang masih menggapai ke pinggir kolam.
"Abang.. tolongin Lilan tarik Dira!!" teriak Lilan dari dalam kolam.
"Kenapa??" tanya Arben sambil berlalu malas.
"Dira nggak bisa berenang bang!!" teriak Lilan lagi.
Mendengar Lilan berteriak, Arben langsung menoleh dan benar saja Dira sudah gelagapan timbul tenggelam di dalam air.
"Astagfirullah.. Lilan.. tarik yang benar!!!" tak menunggu waktu lama, Arben ikut masuk ke dalam kolam dan menyelamatkan istrinya.
Hilman membantu Lilan untuk naik ke atas. Arben menaikan Dira di bantu Brian.
"Dek.. Dira! wes bengi kok aneh-aneh to dek!" Arben panik menggosok tangan Dira, wajah istrinya mulai membiru.
"Siapa yang bakar satenya??? gosong nih" tegur Rival yang melihat sate sudah gosong dalam panggangan. Imung dan Agata ikut heboh di belakang Rival.
Tak ada yang menyahut sampai Rival melihat keributan di sekitar kolam renang.
"Kenapa lagi ini Arben??" tanya Rival saat melihat Dira terbaring di tepi kolam.
Semua sudah panik terlebih saat melihat Dira di miringkan dan punggungnya di tepuk.
"Diraaaaa.." Lilan berteriak panik ingin menolong Dira tapi Hilman mencegahnya.
"Lama sekali bang! kasih nafas buatan!!" kata Brian yang gemas melihat Arben sangat lambat menangani Dira.
"Aku tau.. tapi....!!" Melihat Dira semakin melemah, Arben segera melakukan pertolongannya. Imung dan Agata tersenyum tak bisa di artikan.
"Iihh..Abang cium mbak Dira" celetuk Imung.
"Kalian berdua masuk ambil handuk!!" perintah Brian pada Gata dan Imung agar tidak melihat kejadian ++ lainnya.
Tak lama Dira memuntahkan air. Saat matanya terbuka, wajah Arben yang pertama di lihatnya dengan tatapan datar.
"Abang..!!" panggilnya takut.
"Di kolam renang anak saja bisa tenggelam. Bagaimana kalau berenang di belakang mu itu" tegur Arben.
Dira menangis dan menunduk menggigil kedinginan. Badannya gemetar.
"Bang, Shisi pusing"
"Ya sudah kita pindah ke ruang samping, kamu istirahat disana" ajak Brian.
#
Arben mengikat rambut Dira lalu memijat tengkuknya. istrinya itu masih saja muntah di wastafel karena efek tenggelam.
"Dira nggak kuat bang, rasanya sakit sekali" kata Dira saat tak ada yang bisa ia keluarkan lagi dari perutnya.
"Air kolamnya pahit sekali bang!"
"Namanya air kotor, kalau manis ya minum es cendol" ledek Arben.
-_-_-_-_-
Hari semakin malam, para anggota keluarga makan malam tanpa Dira dan Shisi karena keduanya sedang tidak enak badan. Shila merasa sangat bersalah karena menyebabkan kedua menantunya sakit.
"Bukan salah mama. Tadi memang Dira saja yang usil ma!" kata Arben sambil menghabiskan makan malamnya yang tidak begitu banyak. Selera makannya hilang karena memikirkan Dira.
"Alhamdulillah istrimu baik-baik saja Ben. Kamu jangan marah sama Dira ya! Mama rasa Dira hanya ingin mencari perhatian mu saja!" kata Shila.
"Papa rasa juga begitu, wajar kalau istri mencari perhatian. Mungkin kamu kurang memberi perhatian dan terlalu sibuk jadi waktunya Dira bermanja padamu jadi kurang. Mama saja kalau papa kurang perhatian juga pasti begitu" imbuh Rival.
Shila hanya tersenyum memandang wajah tampan suaminya, meskipun Rival telah berumur, tak menyurutkan ketampanan pria tersebut.
#
"Dek, makan dulu ya! Abang suapi"
Dira duduk bersandar di ranjangnya memalingkan wajahnya karena kesal Arben dari tadi bersikap dingin padanya.
Arben meletakan piring makan yang dibawanya di meja malas samping tempat tidur.
"Maaf kalau Abang marah terus. Suami mana yang nggak cemas saat istrinya dalam bahaya"
Air mata Dira jadi meleleh, entah mengapa hatinya lebih melow dari biasanya. Tanpa ia sadari, Arben mengecup kening dan kelopak matanya tak lupa mengecup bibir istrinya beberapa saat.
"Abang janji nggak akan kasar lagi, jangan nangis! karena hati Abang ikut nangis"
"Abang beneran cemas??" tanya Dira polos.
"Pura-pura, biar kamu senang" ketus Arben.
Dira kembali kesal dengan ucapan Arben. Bibirnya manyun dengan wajah cemberut.
"Makan nggak? Kalau nggak, mau Abang bawa ke belakang nih" ancam Arben.
"Nggak..!!" jawab Dira sambil menangis.
Arben mengambil nafasnya dalam sekali, lalu membuangnya perlahan. Arben mengambil piringnya.
"Abang suapi" Arben menyendok nasi untuk membujuk Dira dan menyuapkan ke istrinya.
"Nggak mau" tolak Dira dengan kesal hingga nasinya tumpah di celana pendek Arben.
Arben menatap wajah istrinya. Terlihat sedih dan tidak bersemangat.
"Istri Abang kenapa? Mau apa? Bilang biar Abang tau" tanya Arben lembut. Suami Dira itu memungut sisa nasi yang berantakan dan menaruhnya di atas tissue lalu bergegas naik ke atas ranjang bersama Dira.
"Maaf kalau selama ini kamu hanya jadi istri kedua Abang" ucapnya yang langsung membuat Dira marah dan ingin pergi.
"Temui saja Rissa nya Abang, si manis yang membuat Abang bahagia"
"Ya sudah, Abang pergi temui Rissa dulu ya. Abang juga lagi kangen" godanya juga akan beranjak dari ranjang.
Dira seketika menyambar bantal di sampingnya lalu memukulkan pada Arben dan menangis kesal. Melihat Dira sudah marah tentu saja Arben menjadi tidak tega.
"Abang pergi saja sekarang atau Dira yang pergi" ucap Dira ingin pergi.
Tangan Arben secepatnya merangkul pinggang Dira lalu menariknya kembali di ranjang. Arben pun langsung mengunci dan menindih nya.
"Maaf kalau Abang hanya tau memeluk senjata. Biarpun kamu menjadi yang kedua, tetap di hati Abang kamu yang pertama. Maaf Abang sudah lama mengabaikanmu, kurang memperhatikan mu"
Dira menatap mata Arben mencari kejujuran disana.
.
.
.
semangat Thor bkin kita jedag jedug trus 💪