Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Empat Tahun Kemudian
Empat tahun kemudian.
Nada piano yang dulu tersendat kini mengalir lancar dari ruang keluarga Puri Cendana.
Aku menekan tuts terakhir, lalu melihat jam. Pukul tujuh. Kalau tidak berangkat sekarang, aku akan terlambat mengikuti kelas pagi di Universitas Indonesia.
“Non Sekar, sarapan dulu,” panggil Mbok Nah.
“Aku bungkus saja, Mbok.”
Aku berlari ke meja makan dengan tas kuliah di bahu. Usia dua puluh tahun ternyata tidak membuatku lebih pandai bangun pagi. Bedanya, sekarang aku tidak takut sarapan akan habis sebelum sampai ke meja.
Mbok Nah memasukkan roti dan telur ke kotak makan. “Mobil sudah menunggu.”
“Aku naik ojol saja. Habis kelas mau ke perpustakaan sama Dinda.”
“Den Bram nanti tanya.”
“Bilang aku tidak mau terjebak macet di dalam mobil.”
Suara langkah muncul dari lorong. Om Bram masuk dengan setelan gelap dan ponsel di tangan. Pada usia empat puluh tahun, rambut di dekat pelipisnya mulai memiliki dua atau tiga helai putih. Selain itu, dia hampir tidak berubah.
“Siapa yang tidak mau terjebak macet?”
“Aku.”
“Pengemudi bisa mengantarmu sampai stasiun.”
“Kalau naik ojol lebih cepat.”
Om Bram melihat helm yang sudah kubawa. “Kirim lokasi sepanjang perjalanan.”
“Iya, Om.”
Dia tidak lagi melarang semua pilihanku. Empat tahun mengajarinya bahwa aku bisa menjaga diri. Empat tahun juga mengajariku bahwa memberi kabar bukan berarti kehilangan kebebasan.
Penetapan pengadilan tentang pengangkatan anak selesai beberapa bulan setelah aku masuk SMA. Namaku tetap Sekar Ayu Pramesti, tetapi dalam dokumen keluarga, Om Bram resmi menjadi orang tua angkatku. Ketika usiaku melewati batas dewasa, kewenangan wali atas keputusan harianku berakhir. Aku tetap keluarganya, hanya bukan lagi anak yang membutuhkan tanda tangan untuk setiap langkah.
Aku kuliah, memiliki rekening sendiri, dan kadang membantu Mbok Nah membayar belanja melalui aplikasi. Aku juga masih tinggal di kamar yang sama di Puri Cendana. Om Bram tidak pernah memintaku pergi.
Dinda menjadi teman terdekatku sejak hari orientasi kampus. Dia tahu aku anak angkat Om Bram, tahu tentang masa lalu di Bekasi, tetapi tidak pernah memperkenalkanku melalui penderitaan itu. Bersamanya aku belajar naik angkot yang salah, makan mi instan di kos teman, mengeluh tentang tugas kelompok, dan tertawa tanpa lebih dulu memeriksa apakah suara kami mengganggu orang.
Aku masih pergi ke konseling ketika membutuhkan. Latihan silat tetap kulanjutkan, meski sekarang Pak Bara lebih sering menyuruhku membantu murid baru belajar jatuh dengan aman. Hidupku tidak berubah menjadi sempurna. Aku hanya tidak lagi mengukur setiap hari berdasarkan seberapa sedikit rasa sakit yang berhasil kulewati.
Adiwangsa Group semakin sibuk. Om Bram sering pulang setelah malam, terbang ke Surabaya atau Singapura untuk rapat, lalu kembali sebelum sarapan seolah tubuhnya tidak membutuhkan istirahat. Di majalah bisnis, namanya beberapa kali dipasangkan dengan perempuan dari keluarga pengusaha lain. Tidak satu pun benar.
Setahuku, selama empat tahun itu tidak pernah ada perempuan yang dibawanya pulang atau diperkenalkan sebagai pasangan.
Aku tidak tahu kenapa fakta tersebut selalu mudah kuingat.
Malam Jumat, Gunawan datang untuk makan bersama. Dia masih menganggap kursi di sebelahku sebagai miliknya dan mengeluh karena aku lebih sering membalas pesannya dengan stiker daripada kata-kata.
“Sekar sudah dua puluh, Bram,” katanya sambil mengambil sambal. “Jangan masih diperlakukan seperti anak kelas satu SMA.”
Om Bram menatapnya. “Saya tidak melakukan itu.”
“Kemarin dia pergi ke toko buku, lo suruh dua orang mengecek lokasi.”
“Satu orang. Deni kebetulan di sekitar sana.”
Aku menahan tawa. “Om Gun datang untuk makan atau mengaudit Om Bram?”
“Dua-duanya.” Gunawan menunjukku dengan sendok. “Secara hukum kamu sudah dewasa. Kewenangan wali selesai setelah usia dewasa, apalagi kamu sudah lewat sembilan belas.”
Mbok Nah membawa sayur dari dapur. “Tetap saja Non Sekar anaknya Den Bram.”
“Anak angkat, Mbok. Dalam hukum keluarga iya, tapi dalam agama tidak otomatis jadi mahram seperti anak kandung.” Gunawan menoleh kepada Om Bram. “Makanya perlakukan dia sebagai perempuan dewasa yang bisa memutuskan hidupnya sendiri.”
Om Bram meletakkan gelas. “Saya tahu aturan itu.”
“Wajah lo tidak kelihatan tahu.”
“Om Gun,” tegurku sambil tertawa.
Saat itu pembicaraan tersebut terasa seperti salah satu cara Gunawan mengganggu sahabatnya. Aku tidak memikirkan kata `bukan mahram` lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan makan malam.
Beberapa hari kemudian, kelas soreku selesai menjelang magrib. Dinda mengajakku membeli kopi, tetapi aku menolak karena Mbok Nah mengirim pesan bahwa makan malam sudah siap.
Aku berjalan keluar gerbang bersama arus mahasiswa. Biasanya mobil rumah menunggu di sisi jalan dengan petugas yang kukenal. Sore itu, mobil hitam Om Bram terparkir di tempat biasa, tetapi dia sendiri berdiri di samping pintu pengemudi.
Kemejanya berwarna biru muda, dua kancing atas terbuka, tanpa jas dan dasi. Ketika melihatku, dia mengangkat satu tangan.
“Sekar.”
Teman perempuan di belakangku berbisik, “Itu siapa? Ganteng banget.”
“Om-ku,” jawabku otomatis.
Aku melangkah mendekat.
Om Bram tersenyum. Bukan senyum tipis untuk rekan bisnis atau ekspresi lega seorang wali yang menemukan anak hilang. Senyum itu hangat, akrab, dan entah mengapa membuat wajah yang sudah kukenal selama empat tahun tampak berbeda.
Langkahku berhenti.
Jantungku seperti lupa berdetak satu kali.