Awal Judul Ada & Tiada
Berawal dari kesurupan massal di malam puncak penerimaan mahasiswa/i baru menjadi titik awal temu mereka. Saling menyadari bahwa mereka sama, sama-sama hidup diantara mereka yang tiada namun sebenarnya ada.
Kisah tentang perjalanan sekelompok anak muda yang memiliki kemampuan sixth sense, melihat apa yang semestinya tidak terlihat, dan merasakan kehadiran mereka yang tak tersentuh.
Akankah mereka bisa menjalani hidup normal seperti orang lain?
Kisah mereka akan hadir setiap hari pukul tujuh malam. Jangan baca sendiri, siapa tahu kau sedang tak sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Arin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trip To Djogja
Malam ini adalah malam keberangkatan mereka semua trip to Djogja, semua sudah berkumpul di cafe Evening Story milik Dewa. Rencananya mereka akan menggunakan mobil mini bus milik Dewa yang ia beli dan di renovasi oleh kawan-kawan bengkel Awan. Tak lama Ari dan Al yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang.
"Ah sorry banget nih, tadi kita ada jadwal tambahan jadi baru sempat datang." kata Al ke yang lain, Al dan Ari keduanya menggunakan topi dan masker seperti biasa untuk menghindari kerumunan orang saat tahu itu adalah mereka.
"It's okay Al, kita juga sambil ngopi di sini. Yuk berangkat, sudah jam setengah delapan." ujar Dewa, untuk malam ini Dewa yang mengendarai mobil tamasya kebanggannya itu.
"Wah, hasil akhirnya mantul Wa, mantap betul." puji Ari saat membuka pintu mobil tamasya milik Dewa. Pandangan Ari mengitari seisi mobil milik Dewa.
"Ini aku persembahkan buat kalian, kalau kalian suntuk mau bepergian kalian bisa pakai ini." ujar Dewa sambil tersenyum, dan memainkan kunci mobilnya.
"Wih, mantap. Kuy lah kita berangkat, nanti tengah malam baru gantian nyetir ya Wa." ujar Awan, ia dengan segera duduk di kursi belakang, lalu disusul oleh Al dan Aldi, si kembar dan Haura duduk di kursi tengah, disusul Ari yang duduk di kursi satu. Sedangkan Dewa dan Arindita di depan. Dewa sudah meminta ke Arindita untuk menemaninya di depan jika ia yang kebagian menyetir.
Mereka pun bergegas berangkat menuju Djogja. Kini sudah memasuki area tol trans jawa, menempuh jarak sekitar 580km.
Dua jam sudah berlalu, mereka yang ada di belakang sibuk sedang melakukan karaoke bersama, kecuali Dewa dan Arindita, walau begitu keduanya tetap bisa asyik walau hanya berdua saja.
Tak lama ada rest area tak jauh dari posisi mereka kini. Dewa lupa jika di mobilnya belum ada air mineral dan cemilan.
"Ada yang mau ke toilet? Aku mau beli air minum sebentar, aku lupa menyiapkannya di mobil. Kalau mau turun jangan sendirian." kata Dewa, Dewa tidak akan pernah lupa jika para sahabatnya adalah anak-anak dengan penglihatan spesial.
"Kau mau turun Ra?" tanya Ari ke Haura, Haura pun mengangguk setuju.
"Kalian temani Haura ya, kan tidak mungkin aku yang ikut masuk ke toilet perempuan. Aku akan menunggu kalian di depan toilet, aku mau ngerokok sebatang." ujar Ari ke si kembar, si kembar pun mengiyakan instruksi Ari.
Ternyata Al, Awan dan Aldi pun ikut turun, namun mereka menemani Arindita dan Dewa ke mini market di sekitaran rest area, disaat Dewa dan Arindita sedang berbelanja ria, Al, Awan dan Aldi pun merokok bersama di kursi yang tersedia di depan mini market tersebut.
"Wah, rest area nya ramai banget Al, sampai aku tidak bisa membedakan yang mana mereka yang mana kita." ujar Awan sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Yah, karena ini kan memang daerah mereka pada awalnya, dan sekarang mereka harus berbaur dengan kehadiran kita semua yang bukan dari kalangan mereka. Jadi, wajar saja jika suasananya ramai sekali." jelas Al ke Awan, Aldi yang sedang menyesap kopi pun hanya menyimak saja.
Tak lama Ari, Haura dan si kembar pun datang dan ikut bergabung di meja Al. Kebrtulan mini market yang kini mereka datangi gedungnya lebih tinggi dari gedung lainnya, sehingga mereka bisa mengedar pandangan mereka ke seluruh rest area.
"Kak Al ...." panggil Haura, tatapannya terkunci ke salah satu tempat makan rumahan yang ada di sebelah mini market yang kini mereka datangi.
"Ya Ra?" balas Al singkat, Al yang sadar bahwa Haura sedang melihat sesuatu yang sedikit mengusik dirinya pun mendekatkan dirinya ke Haura.
"Kak Al, kenapa pembeli yang sedang makan itu hanya melihat makanannya saja? Aku perhatikan dia hanya tertunduk menatap piring nya tapi tidak memakannya dari tadi." ujar Haura kebingungan, karena jarak ketinggian gedung membuat Al dan yang lainnya harus sedikit berusaha untuk bisa melihat ke arah yang Haura maksud.
Saat mereka semua mencoba melihat bersama ke arah rumah makan itu, tiba-tiba pengunjung aneh itu pun menatap ke arah mereka, matanya terbelalak dan mukanya sedikit rusak. Aura jahat tersirat dari tatapan makhluk itu. Seketika mereka secara bersamaan membuang tatapan mereka ke lain arah, dan mencoba membentengi diri mereka dengan membaca doa sesuai keyakinan masing-masing.
Lain hal dengan Haura, disaat yang lain membuang tatapan mereka, Haura masih terpaku menatap makhluk itu, seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan, makhluk itu mencoba untuk merasuki tubuh Haura. Ari yang menyadari itu pun langsung berdiri di depan Haura menghalangi pandangan Haura akan makhluk tersebut, ia memegang pundak Haura, sambil mencoba berdoa dalam diam.
"Ra? Bisa lihat Kakak? Ra? Lawan Ra jangan diikutin." ujar Ari yang masih berusaha memegang pundak Haura.
Air mata Haura menetes begitu saja, seperti meminta tolong namun tak bisa menggerakkan bibirnya, ia hanya menatap Ari dengan maksud agar Ari terus membantunya melawan makhluk tersebut. Ari terus saja berdoa untuk membantu Haura, dan akhirnya tubuh Haura melemah, nafasnya terengah-engah. Dewa dan Arindita yang baru saja keluar dari mini market tersebut bingung melihat kerumunan teman-temannya.
"Ada apa dengan Haura?" tanya Arindita ke si kembar, namun tak dijawab karena pantang bagi mereka membahas makhluk dengan aura tidak baik di tempat yang mereka tempati, karena mereka bisa mendengar dan terpanggil jika kita membahas 'mereka'.
"Tidak apa-apa Ar, hanya sedikit sesak nafas. Kalian sudah selesai berbelanja? Sini biarkan aku membantu mu." kata Ocha mencoba menampakkan senyuman di bibirnya agar Dewa dan Arindita tidak ikut panik.
Arindita yang paham pun lebih memilih untuk tidak memaksakan ke ingin tahuannya akan apa yang terjadi dengan Haura, dan memilih untuk memberikan satu kantong belanjaan yang ada di tangannya ke Ocha.
"Kau bisa berjalan? Atau ingin aku gendong di belakang?" tanya Ari memastikan, Ari benar-benar khawatir jika Haura masih lemah.
"Apa tidak masalah Kakak menggendong ku?" tanya Haura ragu, Ari pun membalasnya dengan senyuman, ia memberikan punggungnga untuk Haura.
Haura mencoba berdiri dibantu oleh Ochi dan Aldi, kini Haura sudah di gendong Ari untuk kembali ke mobil mereka. Mereka semua pun ikut bergegas ke mobil. Aldi sengaja berjalan di belakang Ari, ia ingin memastikan, melindungi, dan menjadi tameng untuk Haura.
Aldi menatap punggung Haura dengan tatapan sendu dan rindu, rindu akan sosok Anita yang selama ini pergi meninggalkannya. Haura tiba-tiba menoleh ke arah Aldi, tatapan mereka pun bertemu, saling mengunci pandangan masing-masing, yang satu menatap dengan penuh cinta yang satunya lagi menatap dengan tatapan bingung, bingung dengan sikap Aldi yang seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
Aldi yang lebih dulu sadar pun akhirnya membuang tatapannya ke arah lain, ia berusaha menetralkan deguban jantungnya yang berdegub kencang saat Haura menatapnya, kini mereka pun sudah tiba di mobil, dan melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Bersambung ....
semangat Kaka Arin...lanjuttt yaaa
kalo Ari suka Haura Krn sbg adik saja kan
TPI aku terharu Aldi bisa juga mengikhlaskan Anita dan TDK menganggap Haura bayangan nya Anita...