Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
[ Garis yang Mulai Kabur ]
Keesokan paginya, Rhea terbangun dengan kepala yang masih dipenuhi bayangan Vincent dan kotak cincin yang belum pernah ia lihat. Entah mengapa, sejak malam itu hatinya terasa gelisah.
Ia segera membuka toko seperti biasa. Belum lama merangkai bunga, sebuah mobil hitam berhenti di depan toko.
Vincent turun sambil membawa dua cangkir kopi.
"Aku yang mentraktir hari ini," ucapnya.
Rhea tersenyum geli. "Tumben."
"Sesekali boleh, kan?"
Mereka duduk di bangku kayu depan toko. Matahari pagi terasa hangat, membuat suasana begitu damai.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," kata Vincent.
"Sekarang?"
"Iya."
Rhea sempat berpikir. Ia seharusnya melapor lebih dulu kepada Komandan. Namun melihat tatapan Vincent yang penuh harap, ia mengangguk pelan.
"Baik."
Mobil berhenti di sebuah bukit yang menghadap seluruh kota.
Angin berembus pelan. Hamparan bunga liar memenuhi lereng bukit, sementara langit biru terbentang luas tanpa awan.
"Indah sekali..." gumam Rhea.
"Dulu aku sering datang ke sini bersama ibuku."
Vincent berjalan perlahan hingga berdiri di tepi bukit.
"Setelah beliau meninggal, aku tidak pernah kembali."
"Lalu... kenapa sekarang?"
Vincent menoleh.
"Karena aku ingin membagikan tempat ini kepada seseorang."
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun yang berbicara.
Rhea buru-buru mengalihkan pandangan.
Ia mulai takut menatap mata Vincent terlalu lama.
Menjelang siang, mereka duduk di atas rerumputan sambil menikmati bekal sederhana yang dibawa Vincent.
Rhea tersenyum kecil.
"Aku kira bos mafia hanya makan di restoran mahal."
Vincent tertawa pelan.
"Aku juga manusia."
"Itu baru pertama kali aku mendengarmu tertawa."
"Benarkah?"
"Iya."
"Ternyata tidak seburuk itu."
"Tidak."
"Bahkan... menurutku lebih cocok."
Vincent memandang Rhea cukup lama hingga membuat gadis itu salah tingkah.
"Ada apa?"
"Tidak ada."
"Hanya saja..."
"...aku mulai lupa bagaimana rasanya sendirian."
Kalimat itu membuat senyum Rhea perlahan menghilang.
Ia tahu...
Perasaan Vincent kini bukan lagi sekadar rasa percaya.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Sore harinya, ponsel khusus operasi milik Rhea bergetar.
Ia menjauh beberapa langkah sebelum mengangkat panggilan.
"Zhava."
"Ya, Komandan."
"Tim menemukan gudang senjata Black Raven."
Rhea terdiam.
"Kami membutuhkan akses masuk."
"Aku mengerti."
"Vincent sudah cukup mempercayaimu."
"Manfaatkan kesempatan itu."
Suara Komandan terdengar tegas.
"Semakin lama kau menunda..."
"...semakin banyak korban yang berjatuhan."
Sambungan telepon berakhir.
Rhea menundukkan kepala.
Dadanya terasa sesak.
Ia sadar, misi ini tidak bisa terus ditunda.
Saat kembali, Vincent memperhatikan wajah Rhea yang berubah muram.
"Kau baik-baik saja?"
Rhea memaksakan senyum.
"Aku hanya sedikit pusing."
Vincent mengangguk pelan.
"Ayo, kita pulang."
Di sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan.
Rhea sibuk memandangi jendela, sementara pikirannya dipenuhi dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Sebagai polisi...
Ia harus menjalankan tugasnya.
Sebagai wanita...
Ia mulai takut kehilangan pria yang duduk di sampingnya.
Malam itu, setelah mengantar Rhea pulang, Vincent belum langsung kembali ke penthouse.
Ia justru berhenti di depan sebuah toko perhiasan yang masih buka.
Pemilik toko langsung menyambutnya.
"Tuan Vincent, cincin yang Anda pesan sudah selesai."
Vincent menerima sebuah kotak beludru berwarna hitam.
Saat membukanya, sepasang cincin berkilau memantulkan cahaya lampu.
Ia tersenyum tipis.
"Terima kasih."
"Semoga calon istri Anda menyukainya."
Vincent memandang cincin itu cukup lama.
"Aku harap begitu."
Tanpa ia sadari...
Di waktu yang sama, Rhea sedang menangis sendirian di apartemennya.
Ia menggenggam gantungan kunci mawar putih pemberian Vincent sambil memejamkan mata.
"Kenapa..." bisiknya lirih.
"Kenapa aku mulai berharap misi ini tidak pernah berakhir?"
Di luar jendela, langit malam tetap tenang.
Namun perlahan...
Garis tipis antara tugas dan cinta mulai menghilang, membawa mereka selangkah lebih dekat menuju takdir yang tak lagi bisa dihindari. 💔